
Alih-alih pergi seperti yang sudah dikatakan oleh wanita tua itu, justru sosok Bayu perlahan merangkak untuk berdiri. Dia berteriak dan membuka mulutnya lebar-lebar hingga hampir menyentuh telinga.
Kedua matanya seperti hendak terlepas dari sarangnya, ia kemudian berlari mendekat ke arah Riani seakan hendak memangsanya.
Sontak Riani menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berteriak keras. "AAA!!!"
Bersamaan dengan itu, Riani juga terbangun. Ia merasa bingung karena matahari berada di atas kepalanya sedikit bergeser ke barat. Riani menyadari jika hari masih siang.
Tangannya merasakan rumput-rumput yang tidak sengaja ia pegang. Seketika Riani teringat dengan hal terakhir yang ia alami yaitu, sedang berada di tempat pemakaman umum.
Riani segera beranjak dari posisinya dan melihat ke sekitar, namun ternyata ia tidak sedang berada di pemakaman lagi melainkan di halaman depan rumahnya, di tempat yang sama seperti yang ada di dalam mimpinya.
Ini sangat aneh, tak bisa dicerna dalam pikiran.
Riani beranjak dari duduknya dan mengusap beberapa bagian baju yang kotor karena tanah.
"Kenapa aku ada di sini? Perasaan tadi aku di makam ayah. Ya ampun, motor resto masih diparkir di pemakaman lagi."
Langkah kaki Riani segera bergerak menuju ke luar untuk kembali ke pemakaman, namun tiba-tiba smartphone-nya berdering.
Riani mendapati tas selempang sudah menggantung pada salah satu bahunya, ia juga mengenakan jaket jeans abu-abu dan tidak lagi mengenakan rompi restoran yang biasanya dia pakai untuk mengantar makanan.
Apa yang ditemukan oleh Riani tentu saja semakin membuat perempuan itu mengernyitkan dahi. Rasa bingung menyerang pikiran Riani, ini sangat tidak masuk akal.
Terakhir kali Riani mengenakan rompi restoran dan baru pulang dari rumah kakaknya Nindira yang menjadi tujuan terakhir saat pengantaran tadi pagi sebelum mengambil makanan yang akan dia antar selanjutnya, ia juga berada di makam ayahnya dan menemukan sebuah gulungan kertas berisi nama lengkapnya dan juga nama lengkap ayahnya.
"Bayu," tebak Riani lirih, ia curiga pada laki-laki itu.
Saat melihat ke arah smartphone yang menyala dengan sebuah notifikasi pesan singkat dari Bayu, Riani segera membukanya. Alih-alih menjawab pesan singkat dari Bayu, Riani justru langsung melakukan panggilan suara dengan laki-laki itu.
"Halo, Sayang. Aku udah sampai, nih, kamu nggak bales-bales pesan aku."
"STOP PANGGIL AKU SAYANG!" tegas Riani.
"Kamu kenapa tiba-tiba kaya gini, Sayang? Tadi pas di jalan juga iya kamu diemin aku. Emangnya aku salah apa sama kamu, Sayang? Kalau aku ada salah itu bilang lah, jelasin, jangan kaya gini. Kamu tuh kaya anak kecil tahu nggak!"
Bentakan dari Bayu membuat Riani semakinn tak terkendali.
"Aku udah tahu apa aja yang kamu lakuin ke aku, Bay! Bungkusan di makam ayah itu ulah kamu, kan?!" kesal Riani berbicara dalam satu tarikan nafas. "AKU BENCI KAMU, BAY! SELAMANYA!"
__ADS_1
Panggilan suara dimatikan begitu saja oleh Riani, ia lantas masuk ke dalam rumah untuk menenangkan diri dari hal-hal yang sangat tidak masuk akal yang terjadi hari ini.
Pukul tujuh malam Riani terbangun dengan mata yang sembab dan bengkak, ia menangis sampai ketiduran sore tadi.
Usai membersihkan diri, Riani turun ke bawah untuk makan malam. Namun langkah kedua kaki Riani terhenti saat mendengar ibunya yang sedang telepon dengan seseorang di ruang keluarga.
"Kok bisa Riani tahu, Bay?"
"Duh, padahal Tante udah setuju banget kamu sama dia loh, Bay."
Mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut ibunya sendiri, emosi Riani menjadi tersulut. Ternyata bukan hanya Bayu, tapi Rita juga jahat terhadap dirinya.
"Setuju kalau aku dipelet sama dia, Bu?"
Rita menoleh dan menyimpan smartphone-nya di dalam saku, entahlah panggilan suaranya dengan Bayu sudah dimatikan atau belum, Riani juga tidak begitu perduli.
"Riani, kamu--" Belum sempat Rita melanjutkan kalimatnya, Riani sudah beranjak lagi masuk ke dalam kamar. "Riani, Ibu bisa jelasin, Ni. Riani, tunggu!"
Pintu ditutup dengan keras tepat di hadapan Rita dan Riani mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Air mata yang sudah menumpuk di balik pelopak mata sudah tak bisa dibendung lebih lama, Riani menangis sejadinya. Namun tidak begitu lama, Riani beranjak dari atas tempat tidur. Ia mengambil koper kecil yang dibelikan Bayu sebelum mereka pergi liburan. Beberapa setel pakaian dimasukkan ke dalam koper tersebut.
"Riani, Ibu bisa jelasin, Nak."
"Ini nggak seperti yang kamu pikir, Ni."
"Riani, Ibu melakukan ini juga demi kebaikan kamu juga. Ibu sudah sangat setuju jika kamu bisa bersama dengan Bayu, kalian berdua sangat cocok dan serasi, Ni. Kamu jangan egosi, dong, kamu tega bikin Ibu nangis kaya gini?" suara Rita bergetar. "Ibu hanya pengin bahagia sebelum mati, Ni. Ibu pengin lihat kamu menikah, menimang cucu, kalau bukan dari kamu dari siapa lagi? Anak Ibu cuma satu."
Rita masih belum juga beranjak dari depan pintu kamar Riani. Kata-kata menyedihkan terus terlontar dari mulutnya dan seperti tak pernah ada hentinya.
Sementara di dalam kamar, Riani hanya bisa terdiam mendengarkan semuanya. Ia mencoba memahami dan mencerna semuanya meskipun kesalahan tetap berada pada ibunya.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi, Riani beranjak dari tidurnya. Ternyata selama enam jam setengah Riani kembali ketiduran.
Tangan Riani meraba permukaan kasur untuk mengambil smartphone yang tergeletak di sana. Usai menemukannya, Riani segera masuk ke dalam aplikasi perpesanan dan menelepon seseorang.
"Halo, Ri?" suara itu terdengar berat.
"Ma--maaf aku ganggu kamu malam-malam gini, ta--tapi aku mau minta tolong. Aku bingung mau minta tolong ke siapa lagi."
__ADS_1
"Emangnya kamu kenapa? Kamu di mana sekarang?"
"Aku masih di rumah, sih, aku boleh nginep di kost-an kamu nggak? Malam ini aja."
"Sekarang?"
Riani mengangguk meskipun ia tahu anggukkankepalanya tak akan berarti apa-apa karena lawan bicaranya juga tak bisa melihat hal ini. "Iya, aku mau keluar dari rumah sekarang."
"Emangnya ada apa sih, Ri? Kamu kenapa?"
"Nanti aku ceritain pas udah di kost-an kamu aja, ceritanya panjang. Sekarang yang penting kamu nggak papa kan kalau aku nginep di situ?"
"Ya aku sih nggak masalah, Ri, tapi sekarang udah jam setengah dua, kamu mau ke sini pakai apa coba?"
"Duh, iya juga ya," ujar Riani yang baru menyadarinya.
"Aku jemput kamu aja deh, kamu tunggu aja, nanti kalau aku udah sampai depan aku miss call kamu."
"Tapi emang nggak papa? Aku jadi ngerepotin kamu dobel-dobel dong."
"Santai aja, aku ke situ sekarang."
Pangggilan suara terputus begitu saja dan Riani menjauhkan smartphone-nya dari salah satu telinga. Ia tersenyum melihat nama yang tertera di layar smartphone-nya. "Makasih ... dan maaf."
Lima belas menit berlalu, Riani kembali mendapatkan panggilan suara dari nomor yang sama. Sesaat setelah mengangkatnya, panggilan suara itu kembali terputus.
Riani memasukkan smartphone-nya ke dalam tas, ia mengangkat kopernya keluar dari kamar.
Gerakan yang dilakukan oleh Riani sangat perlahan, Riani tidak ingin membuat suara berisik yang kemungkinan bisa membangunkan ibunya atau asisten rumah tangga dalam rumahnya.
Riani membuka kunci pintu dan bersamaan dengan itu ....
"Nona Riani, Nona Riani mau ke mana, Non?!"
Tentu saja Riani segera berlari ke arah sepeda motor yang sudah berada di depan rumahnya. "Cepetan jalan."
Bersamaan dengan sepeda motor yang perlahan menjauh dari rumah, Riani bisa mendengar suara Dwi yang memanggil-manggil Rita dan memberitahukan jika Riani telah pergi.
"Nyonya Rita ... Nona Riani kabur dari rumah. Itu ... Nona Riani ... ka--kabur."
__ADS_1
"RIANI ... KAMU MAU KEMANA, NAK?! RIANI ...!"