PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Halusinasi


__ADS_3

Tri dan dua temannya itu sudah berdiri di sebelah Riani. Tidak jauh dari mereka, Difki yang tadi baru saja berkata demikian juga masih ada di sana. Pandangan mata mereka memandang remeh ke arah Riani.


"Maksud kamu apa, Dif? Kenapa bawa-bawa Bayu segala? Semua ini nggak ada hubungannya sama Bayu."


"Jelas ada lah, Ri, kemarin kan kamu cuti buat pergi sama Bayu. Dia cerita sendiri ke aku kalau kamu jadi gila gara-gara hilang di hutan. Kamu jadi sering ngomong sendirian."


Riani mengernyitkan dahi. "Bukannya sebelum aku cuti juga aku udah bisa ngomong sama mereka yang tak kasat mata ya? Kamu juga percaya kan, Dif? Kenapa sekarang jadi kaya gini sih?!"


"Karena kamu nggak bisa buktiinnya, Ri!" tegas Tri. "Coba kamu bisa pegang Fella nggak?"


"Bisa," jawab Riani dengan percaya diri.


"Kalau bisa, buktiin sekarang juga." Tri menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Keempat pasang mata itu memperhatikan Riani dengan seksama.


Perlahan kedua tangan Riani terangkat, ia hendak menggenggam tangan Fella seperti saat mereka berdua bertemu di hutan hingga kembali ke kota. Namun sekarang, Riani tak bisa melakukannya.


Tangan Riani selalu saja menembus Fella saat ia berusaha untuk menggenggam tangan itu.


"Fella, kenapa nggak bisa?" tanya Riani dengan suara yang lirih.


"Ya karena kita beda dimensi, Ri. Pas itu kamu bisa pegang aku ya karena kita berada di dimensi yang sama."


"Tapi, Fel--"


"Heh, cepetan buktiin!" bentak Difki.


Riani melihat ke arah Fella dengan cemas, dalam hatinya merasa belum siap jika harus menanggung malu di hadpaan mereka berempat.


"Hahahaha, kelihatan banget halunya," celutuk Tri yang diikuti dengan kekehan tawa dari dua perempuan yang ada di sebelah kanan dan kirinya. "Halu mah halu aja."


Difki turut terkekeh. "Bener kata, Tri, halu mah halu aja. Nggak usah mau buktiin segala, hahaha."


"Fel," panggil Riani lirih. "Lakukan sesuatu."


Fella justru menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa, Ri."


"Kenapa nggak bisa coba?! Tadi kamu bisa."


"Hahaha, mulai tuh gilanya," ujar Tri, tawanya terdengar sangat puas.


"Hahaha, gila mah gila aja kali."

__ADS_1


"Halu mah halu aja."


Kedua perempuan itu turut berbicara.


"Bener, jangan sok pembelaan mau buktiin, ujung-ujungnya makin kelihatan. Apanya?" Difki menambahi


"Halunya ... gilanya ... hahahaha." Respon ketiga perempuan itu termasuk Tri.


Riani benar-benar tak habis pikir dengan mereka yang terus saja mengolok-oloknya. Padahal Riani juga tak pernah menyenggol mereka sedikitpun.


Tak hanya itu, dia juga merasa kecewa dengan Fella yang sama sekali tak berguna di saat-saat seperti ini yang hanya bisa membuatnya semakin malu saja.


"Ih ... ih ... malu dong masa udah gede nangis," ujar Difki.


"Iya ih, nggak malu apa sama umur?"


"Kasihan banget jadi Bayu, udah dapat cewek sok cantik, gila, aneh, tukang halu, cengeng juga." Tri terus mengatakan hal-hal buruk itu. "Bayu ... bayu, mending cari cewek laijnaja deh dari pada pertahanin Riani yang gila."


Air mata Riani terus keluar tanpa diminta. Tangisan itu benar-benar tak bisa ditahan sedikitpun. Justru yang ada dada Riani terasa semakin sesak dan tenggorokannya sakit karena menahan kesakitan dalam hatinya.


"Heh, ngapain kalian?!"


"Widih, pahlawannya datang," ucap Difki yang kemudian disusul dengan tepukan tangan. "Udah dapat perhargaan apa aja jadi pahlawannya Riani, Ra?"


"Siapa juga yang bilang lucu?" Tri menimpali. "Kamu mau tahu yang lucu? Noh, temenmu lucu banget. Ngaku bisa buktiin ke kota kalau Fella beneran ada di sini, tapi ujungnya malu sendiri."


Tawa keempatnya kembali terdengar.


"Ya emang Fella ada di sini," tegas Nindira.


"Emang kamu pernah lihat langsung?" tanya Difki.


Seketika Nindira terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Difki. Ia memang tak pernah melihat Fella ada di sini. Selama ia bekerja pun, ia tak pernah diganggu sosok apapun termasuk sosok Fella.


"Nggak bisa jawab kan?" ujar Difki kemudian. "Udah deh, mendingan kamu jangan terlalu belain dia. Dia tuh udah gila, halu juga tahu nggak?"


Tak tahan mendengar kata-kata buruk yang dilontarkan mereka, Riani beranjak dari duduknya. Dengan sengaja ia menabrakkan tubuhnya ke Tri dan perempuan di sebelahnya.


"Eh ... eh ... santai aja dong," ujar Tri.


"Riani, kamu mau ke mana? Tunggu aku, Ri," ujar Nindira yang berusaha untuk mengejar Riani.


Suara tawa mereka berempat masih terus terdengar selama beberapa saat, bahkan bergema di dalam indra pendengaran Riani.

__ADS_1


Kedua tangan Riani berusaha untuk menutup telinga, namun tawa yang merendahkan dirinya itu masih terus terdengar jelas, bahkan semakin jelas.


Hari ini Riani tidak bekerja meskipun sudah berangkat ke tempat kerja. Langkah kedua kakinya berjalan menyusuri kota tanpa arah dan tujuan.


Saat merasa lelah, Riani akan duduk di bangku pinggir jalan atau emperan toko yang tutup. Menatap jalanan yang sibuk dengan kendaraan yang terus berlalu-lalang.


Di keramaian ini, Riani merasa kesepian. Ia merasa sendirian, tak ada teman, tak ada tempat yang nyaman.


Masuk ke sebuah tempat ibadah, Riani masih belum mendapatkan kedamaian. Mencoba untuk datang ke taman, Riani justru mendapat kekesalah. Pergi ke sebuah pusat permainan, namun Riani tak kunjung mendapatkan keceriannya kembali.


Lagi-lagi yang dilakukan oleh Riani hanya duduk di sebuah bangku pinggir jalan, memandangi kendaraan yang tak ada hentinya berlalu-lalang. Pikirannya terlalu berisik, hingga suara klakson yang beberapa kali terdengar pun tak bisa terdengar oleh telinganya.


"WOI, NENG, KALAU MAU DUDUK JANGAN DI SINI!"


Mendengar suara itu, Riani tersentak kaget. Ia menoleh ke arah laki-laki yang terlihat sangat emosi. Pada saat melihat kembali ke arah tempatnya duduk ternyata itu bukan bangku taman, melainkan sebuah becak dengan seorang laki-laki yang sudah bersiap di belakang untuk membawa Riani ke tujuan tertentu.


"Ma--maaf," ujar Riani dengan kedua tangan yang mengatup di depan dada.


Sebelum pergi, Riani bisa melihat laki-laki dengan kulit yang terbakar sinar matahari menggelengkan kepala dengan cepat.


"Mabuk ya kamu?!" tanyanya dengan sedikit berteriak.


Riani menghiraukan pertanyaan itu, ia terus melangkah menjauh dari sana.


Atas kejadian tadi, Riani jadi menyadari jika ia benar-benar sudah gila. Bisa-bisanya menyangka sebuah becak sebagai bangku taman?


Tak hanya hari ini saja, hari-hari selanjutnya Riani juga hanya berangkat bekerja namun tidak berkerja. Seharian penuh ia habiskan dengan berjalan-jalan menyusuri kota, melihat orang-orang yang sedang melakukan aktifitas dan hal-hal baru yang bisa ditemui di jalanan.


Rasanya setiap hari Riani semakin gila saja. Belum lagi saat ia harus berteriak ketakutan karena melihat sosok-sosok menyeramkam korban kecelakaan lalu lintas. Ditambah kata-kata dari orang-orang asing yang semakin membuat luka dalam hatinya kian menganga.


"Kasihan mana masih muda."


"Ya ampun, Neng, cantik-cantik gini kok gila sih?"


"Masa depan masih panjang, tapi mentalnya udah nggak kuat aja."


"Muda, cantik, tapi sayang ... gila."


Sebuah notifikasi masuk ke dalam smartphone Riani kala ia duduk.


Atasan: Selama siang, Riani. Mohon maaf sebelumnya. Saya mendapat laporan dari beberapa orang yang mengatakan jika sekarang kamu sering berjalan-jalan di sekitar kota sendirian, kamu juga berbicara sendiri, berteriak-teriak dan juga sudah lebih dari lima hari tidak berangkat bekerja tanpa alasan yang jelas. Sebenarnya kamu adalah pegawai yang baik, kerja keras dan disiplin. Sayang sekali saya harus memberhentikan pegawai yang sebaik kamu, tapi ini juga karena perilakumu sendiri. Saya anggap ini juga keinginanmu sendiri untuk keluar dari pekerjaan. Segeralah pergi ke psikolog, Ri, jangan anggap enteng masalah mental. Saya tahu kamu kuat. Terima kasih atas kerja samanya selama ini.


"Sudah kuduga, semua orang sudah menganggapku gila. Dan aku ... tidak bisa mengendalikan ini semua."

__ADS_1


__ADS_2