PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Jawaban Pak Abdul


__ADS_3

Pak Abdul mengangkat kepalanya, ia melihat ke arah Sella dan juga Riani, memandang ke arah keduanya secara bergantian.


Beberapa saat kemudian, ia lantas menggelengkan kepala. "Ayah sudah coba ngomong sama Om Agus dan Tante Rita. Tapi saat itu, keadaan ekonomi mereka memang sedang sangat hancur, begitu juga dengan Ayah sehingga Ayah nggak bisa bantu mereka."


"Emangnya ayah dan ibu sejak kapan pake pesugihan itu?" tanya Riani.


"Sudah sejak lama, Ri, sejak kamu masih bayi, sekitar dua atau tiga bulan," jelas Pak Abdul. "Maaf," lanjutnya yang kemudian kembali menundukkan kepala.


Sepertinya ia juga cukup menyesal.


"Apa Pak Abdul udah tahu kalau sekarang ibu sakit gara-gara ini?"


Pak Abdul mengangguk pelan. "Maaf, Ri," ujarnya, ia semakin menundukkan kepala.


"Nggak papa kok, Pak."


Tangan Sella berada pada bahu Riani, mengusapnya pelan.


"Ehm ... boleh nggak kalau Riani minta tolong lagi?"


"Kamu mau minta tolong apa, Ri? Kalau Pak Abdul sama Sella bisa bantu, pasti dibantu, kok." Pak Abdul menatap Riani dengan serius.


Sella mengangguk setuju. "Bener kaya Ayah, apalagi keluarga kita kan juga udah kenal lama dan deket banget."


"Pak Abdul tahu di mana tempat pesugihan itu berada?"


"Tahu, tahu," ujarnya mengangguk beberapa kali. "Bapak pernah diajak ke sana sama ayah kamu sekali."


"Masih ingat jalannya kan, Pak?"


"Masih kayanya. Kapan kita ke sana? Nanti biar Bapak sewa mobilnya."


"Ehm ... malam ini, bisa?"


"Coba Bapak telepon pemilik mobilnya dulu."


Pak Abdul beranjak dari kursi, ia merogoh saku untuk mengambil smartphone-nya dan berjalan keluar rumah.


"Semoga setelah ini semuanya jadi lebih baik ya, Ri." Sella kembali mengusap bahu Riani.


"Makasih, Sel." Riani tersenyum. "Kamu nanti bisa ikut temenin aku?"


Sella mengangguk pelan. "Pasti, Ri."


Tidak lama kemudian, Pak Abdul kembali masuk ke dalam rumah.


"Gimana, Yah?" tanya Sella segera.


Pak Abdul mengangguk pelan. "Bisa, tapi kita berangkat jam sepuluh malam, gimana?"

__ADS_1


Keduanya melihat ke arah Riani, sementara Riani menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Boleh, tapi jangan bilang Ibu kita mau ke sana ya."


Baik Pak Abdul maupun Sella, keduanya menganggukkan kepala.


***


Langkah kedua kaki Riani berjalan menaiki anak tangga, sementara kedua tangannya membawa nampan yang berisi satu mangkuk kecil sayur asem, sepiring nasi dan satu gelas teh manis hanget serta vitamin.


"Bu," panggil Riani sembari memasuki kamar ibunya. "Makan malam dulu sama minum vitamin."


Rita nampak sedang terduduk sembari membaca sebuah buku, entah apa itu. Kedatangan Riani membuat Rita menutup buku itu.


"Mana HP Ibu?!" tanyanya, tatapan matanya tajam melihat ke arah Riani.


"Oh, e ... itu." Riani tersenyum kaku. "Kemarin HP itu baterainya habis."


"Terus?" tanya Rita penuh selidik.


"Terus aku charger di kamar."


"Kan di sini juga ada tempat charger."


"E ... i--itu, u--udah co--cob di--di sini ta--tapi nggak bi--bisa." Riani mencoba mencari alasan.


"Bohong!" Tatapan matanya menusuk. "Cepetan bawa sini!"


Riani meletakkan nampan itu di atas meja, lantas keluar dari kamar untuk mengambil smartphone ibunya.


Tidak ingin mendapat omelan dari ibunya, Riani segera keluar dari kamar. Ia masuk ke dalam kamar dan kemudian menyiapkan kepergiannya malam ini.


Pukul setengah sepuluh malam, Riani keluar dari kamar. Tidak ada banyak barang yang dia bawa, hanya membawa satu ransel kecil berisi jaket, baju ganti cadangan, ponsel, charger dan beberapa lembar uang.


Pintu kamar ditutup dengan hati-hati, Riani berjalan menuruni tangga tanpa menciptakan suara apapun.


"Kunci aja deh pintunya, lagian selama di sini juga ibu nggak pernah kemana-mana."


Menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapapun yang berada di luar. Riani keluar dari gerbang dan mengunci pintu gerbang juga dari luar.


"Eh, Riani ... kamu udah balik?"


Riani menoleh, ia mendapati petugas keamanan komplek perumahan yang sedang berjalan ke arah dirinya.


"Eh, i--iya ... anu--"


"Kemarin Ibu Rita sampe nyariin kemana-mana, loh, saya juga bantu cari." Wajahnya terlihat tersenyum sumringah. "Kabur ke mana emangnya?"


Riani tersenyum kaku, ia merasa sangat tidak nyaman dalam posisi ini. "E--enggak, u--udah ya, Pak, saya mau ke situ dulu." Riani menunjuk ke arah rumah Sella.


Tanpa menunggu jawaban dari petugas keamanan itu, Riani segera berjalan menjauh.

__ADS_1


Selama empat puluh lima menit menunggu, mobil yang akan membawa Riani, Sella serta Pak Abdul masih belum datang.


"Udah lagi jalan belum sih, Yah?" tanya Sella, ia merasa sudah tidak sabar.


"Udah, bilang udah jalan dari jam setengah sepuluh, makannya tadi langsung nyuruh kamu kirim pesan ke Riani."


"Tapi kok belum dateng juga lama banget." Sella mendekat ke arah ayahnya yang berdiri di dekat pintu. Belum melihat kedatangan mobil tersebut, Sella kembali ke dalam rumah menemui Riani.


Sementara Riani masih duduk di ruang tamu, ia masih cukup sabar menunggu. "Bentar lagi kali, Sel."


"Aih, bentar lagi bentar lagi terus masa, Ri, keburu ngantuk."


"Kalo gitu kamu tidur aja dulu, nanti kalau mobilnya udah dateng aku bangunin."


Sella mendudukkan tubuhnya di atas sofa dengan kasar, hatinya merasa kesal.


"Eh, itu udang dateng," ujar Pak Abdul setengah berteriak, ia masuk ke dalam rumah untuk mengambil jaket dan tas selempangnya.


Mendengar hal tersebut, Riani dan Sella turut beranjak. Keduanya keluar dari rumah sebelum akhirnya pintu rumah dikunci oleh Pak Abdul.


"Kok lama banget sih, Pak?!" tanya Sella ketus, ia cukup berani untuk mengatakan hal tersebut.


"Iya tadi antri beli bensin dulu," jawab supir mobil itu dengan santai.


Laki-laki yang akan menyetir mobil kali ini adalah teman Pak Abdul, mungkin usianya sekitar empat puluh tahunan. Kumis tebal di bawah hidung membuatnya tampak garang, apalagi ia juga mengenakan kalung rantai dan terdapat sebuah tato ular di lengannya.


Melihat laki-laki itu, Riani sebenarnya merasa takut. Apalagi jika ia melihatnya saat sedang sendirian.


"Kita mau ke sana lagi, Dul?" tanyanya saat Pak Abdul masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya.


"Iya, anak almarhum Agus mau ke sana."


"Loh," ujarnya kaget, melihat ke arah Riani beberapa saat sebelum akhirnya kembali ke Pak Abdul. "Dia anakanya Agus?"


Pak Abdul mengangguk santai. "Iya, kenapa?"


"Udah gede ya, cantik."


Riani tersenyum mendengarnya, padahal dalam hatinya merasa risih sekaligus takut.


"Kan sepantaran sama anakku juga."


"Iya, sama anakku juga."


Perbincangan antara kedua bapak-bapak itu masih berlanjut sementara Riani dan Sella sudah jatuh tertidur.


***


"Ehm ... sudah sampai mana ini?" Riani mengusap kedua matanya, ia melihat ke arah jalanan yang ada di depan. Jalanan yang terlihat tak begitu asing baginya. "Loh, bukannya ini--"

__ADS_1


"Udah hampir sampe nih bentar lagi, udah masuk Desa Sepi."


__ADS_2