PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Berlanjut


__ADS_3

"Selamat kamu diterima kerja di sini, mulai hari ini juga kamu bisa menjalani training sampai tiga hari ke depan."


Riani tersenyum puas mendengar kalimat yang dilontarkan oleh perempuan di depannya. "Terima kasih banyak."


Perempuan itu mengangguk. "Kamu bisa pergi ke kasir dan minta dia untuk mengajarimu."


"Baik, terima kasih," ujar Riani seraya beranjak dari duduknya.


Sebelum berbalik badan, Riani menjabat tangan perempuan itu.


Hatinya merasa sangat senang, ia tidak menyangka bisa mendapat ganti pekerjaan yang semudah ini.


Sesuai arahan dari perempuan itu, Riani berjalan menuju ke kasir. Ia menemui seorang perempuan yang sedang sibuk menghitung total menu makanan yang harus dibayar oleh laki-laki di hadapannya.


Dalam jarak sekitar dua meter darinya, Riani menunggu dengan sabar.


"Maaf, Kak, kata Bu Sekar tadi saya disuruh nemuin kamu."


"Oh, iya. Kamu keterima kerja di sini?"


Riani mengangguk.


"Nama kamu siapa?" tanyanya dengan sangat ramah.


Riani juga membalas keramahannya, ia tersenyum lebar. "Riani, namamu siapa, Kak?"


"Aku Gendhis, panggil Gendhis aja nggak usah pakai kak segala."


Gendhis, nama itu sangat tidak asing dalam kehidupan Riani. Seketika Riani teringat dengan Gendhis, perempuan muda yang cantik yang memilih untuk mengakhiri hidupnya.


'Semoga kamu selalu tenang di sana, Ndhis.'


"Riani ... helo," ujar Gendhis, tangannya melambai-lambai di depan muka Riani.


"Eh, ehm ... i--iya," ujar Riani gugup. "Ke--kenapa? Gi--gimana? A--apa yang bisa aku bantu?"


Sementara itu Gendhis juga terkekeh, tangannya menepuk bahu Riani sementara tangan yang lainnya menutupi mulutnya.


"Baru hari pertama training udah ngelamun aja kamu, Ri, hati-hati loh ...." Gendhis mendekat dan menutupi mulutnya dengan satu tangan dari samping. "Restoran ini serem."


"Iyakah?"


Gendhis mengangguk pasti. "Banyak kok di sini yang sering dilihatin penampakan. Makannya jangan kebanyakan ngelamun."


Riani mengangguk. "Makasih ya, Ndhis."


"Santai aja, emang kamu mikirin apa sih kalau boleh tahu?"


Riani terkekeh. "Nggak koh, cuma aku keinget sama temanku aja, namanya sama kaya nama kamu."

__ADS_1


"Teman dari kerjaan yang lama? Eh, ngomong-ngomong kamu sebelumnya kerja di mana sih?"


"Ehm, di mall." Riani terdiam sejenak. "Oh, ya, apa aja nih yang harus aku kerjain buat bantu kamu?" tanya Riani berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Oh, ini HP khusus pemesan online. Kamu lihat kan udah banyak pesan di situ, nah kamu balesin tuh, format balasannya udah ada kok di situ kamu tinggal pilih aja yang sesuai buat balesin pesan dari pelanggan. Paham kan?"


Riani mengangguk.


"Nah, kamu duduk di sini," lanjut Gendhis. "Kamu balesin tuh semuanya."


Pandangan mata Riani fokus ke dalam smartphone yang ada dalam genggaman tangannya. Sudah ada lima pesan masuk yang harus ia balas satu-persatu.


"Ada nih, pesan ayam bakar istimewa satu porsi."


"Pilih format balasan yang tanyain alamat," ujar Gendhis. "Jangan lupa buat konfirmasi pesananannya juga, formatnya udah ada di situ tinggal isi aja nama pesanan sama alamatnya."


Riani mengangguk, ia melakukan semua yang diajarkan oleh Gendhis.


Setelah berkutat dengan smartphone selama lima belas menit, Riani akhirnya mendapatkan orderan pertamanya.


"Udah nih, udah konfirmasi."


"Oke," ujar Gendhis, ia mulai membuat struk. "Ayam bakar istimewa satu porsi, delivery," ujarnya berbicara dekat dengan mikrofon.


"Ada lagi nih, paket ayam lima porsi," ujar Riani yang kembali mendapatkan pesan konfirmasi.


Gendhis melakukan hal serupa.


"Nah, kemungkinan bentar lagi pesananannya selesai. Kamu siap-siap gih, ini rompinya harus kamu pakai."


Sebuah rompi berwarna hijau tua dikenakan oleh Riani, rompi itu sangat pas dengan ukuran tubuhnya, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.


Gendhis memberikan dua jempol sembari tersenyum. "Cakep," ujarnya tanpa mengeluarkan suara.


Riani yang awalnya merasa kurang percaya diri menjadi lebih percaya diri daripada sebelumnya. Ia melihat ke arah dirinya sendiri, melihat rompi yang sangat pas saat ia kenakan.


Seorang laki-laki berjalan mendekat dengan membawa beberapa kantong plastik putih berisi makanan. "Ini mau diantar, Ndhis?" tanyanya.


"Oh, iya," ujar Gendhis membantu laki-laki itu untuk menatanya sementara di atas meja kasir. "Dia yang nganter."


"Oh," ujarnya mengangguk sembari melihat ke arah Riani. "Selamat bergabung, aku Doni."


"Riani."


Keduanya berjabat tangan dalam beberapa saat.


"Ini kontak motornya, Ri, kamu tadi sebelum masuk lihat kan motor yang ada kotak di atasnya?"


Riani mengangguk. "Oh, motor matic yang paling ujung?"

__ADS_1


"Iya, ayo biar aku bantu kamu bawa ini ke parkiran." Gendhis beranjak dari duduknya.


Makanan yang akan diantar itu sudah masuk ke dalam kotak yang ada di bagian belakang motor, hanya tersisa satu bungkus saja yang masih ada di atas meja kasir.


"HP-nya jangan lupa dibawa, nanti kamu bingung lagi nggak tahu alamatnya."


Riani terkekeh. "Paling balik lagi."


"Hem, kan jadi nggak efesien."


Gendhis memperhatikan Riani yang bersiap mengenakan helm serta sarung tangan. Seorang driver harus safety dan ini merupakan aturan dari restoran, semua yang dikenakan oleh Riani juga dari restoran.


"Aku pergi dulu ya, Ndhis."


"Hati-hati di jalan, Ri," ujar Gendhis setengah berteriak. "Baru sekarang restoran ini punya delivery perempuan, biasanya selalu laki-laki. Semoga kamu selamat dan selalu dilindungi ya, Ri."


Sepeda motor matic itu mulai dinyalakan mesinnya dan melaju dengan perlahan.


Riani merasakan mengendarai sepeda motor dengan membawa sebuah kotak di belakangnya cukup menyulitkan juga. Ia harus mengira-ngira apakah kotaknya tidak akan menabrak sesuatu dan sebagainya.


Meskipun begitu, Riani tetap meyakinkan diri untuk bisa membawa sepeda motor ini. Apalagi ini adalah hari pertamanya bekerja.


Selama mengantar makanan, sudah ada beberapa akun yang mengirim pesan pada Riani. Ia merasa sedikit kewalahan.


"Sisa satu pesanan lagi, habis itu balik ke restoran buat siapin pesanan selanjutnya."


Riani mengambil bungkusan plastik putih terakhir yang ada di dalam kotak. Ia berjalan menuju ke sebuah gedung kampus sesuai dengan yang tertera dalam smartphone restoran.


"Mas, maaf mau tanya," ujar Riani kepada salah seorang laki-laki yang ia temui. Riani melihat ke layar smartphone. "Tahu ruangannya Ibu Firda Sari nggak?"


"Siapa?"


"Ibu Firda Sari."


"Emang kenapa nyari beliau?"


"Pesan makanan," ujar Riani sembari mengangkat bungkusan plastik di tangannya.


"Beneran?!" tanya laki-laki itu membuat Riani kebingungan.


Riani mengangguk. "Iya, emangnya kenapa sih?"


"Pak satpam," panggil laki-laki itu dengan suara yang keras. "Pak satpam!" panggilnya lagi sembari melambaikan tangan.


Seorang laki-laki dengan tubuh berisi dan perut sedikit buncit mendekat. Pandangan matanya melihat ke arah Riani dan juga seorang laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya.


"Kenapa?" tanyanya.


Laki-laki tersebut melihat ke arah Riani. "Ehm, i--itu tanya aja sama dia ya, Mba."

__ADS_1


Usai mengatakan hal tersebut, laki-laki itu segera berlari pergi meninggalkan Riani dan satpam yang memperhatikan kepergiannya.


"Ini, Pak, saya mau tanya di mana ruangannya Ibu Firda Sari, dia pesan makanan di restoran tempatku kerja, Pak. Dia ngasih alamatnya ke sini kok, Pak."


__ADS_2