
Bibir Riani terasa kelu, ia juga tak bisa beranjak dari situ.
Riani hanya bisa diam, tatapam matanya terpaku pada sosok menyeramkan di hadapannya yang ia kenali sebagai ayah.
Beberapa detik selanjutnya, Riani tak bisa melihat dan mengingat apapun lagi.
"Kenapa aku di sini?" lirih Riani sembari beranjak.
Ia mendapati dirinya sedang berada di dalam ruang kerja ayahnya. Ruangan ini masih sama seperti sebelum-sebelumnya, tidak banyak hal yang berubah.
Riani keluar dari ruangan itu, langkah kedua kakinya menuruni tangga untuk menuju dapur.
Di bawah suasananya begitu senyap, namun di tengah kesenyapan itu Riani mendengar sebuah suara yang aneh dari arah ruang santai.
Langkah kedua kaki Riani berubah menjadi begitu pelan, rasa penasaran menuntunnya untuk mendekat.
Hanya ada sedikit cahaya yang berasal dari dapur menerangi ruangan itu, bahkan tidak secara keseluruhan. Dalam kegelapan, Riani bisa melihat meja tenis di tengah ruangan. Ia juga melihat ada lemari kecil di sudut sebelah kiri.
Semakin dekat, suara tetesan air itu semakin terdengar jelas. Pandangan mata Riani melihat ke sekitar, mencari di mana sumber suara itu berasal.
Hingga tiba-tiba Riani melihat ada sosok yang dibungkus kain putih. Kain itu penuh dengan darah dan tanah. Pada bagian wajah, Riani bisa melihat wajah itu hancur dengan belatung yang berjatuhan, kedua matanya besar keluar dari tempatnya.
Anehnya, Riani tak merasa kaget maupun takut. Justru Riani mengernyitkan dahi.
"A--ayah," panggilnya ragu.
"Bawa pergi ... bawa pergi ...." Sosok yang terlihat seperti ayah itu terus mengatakan hal yang sama, entah apa maksudnya.
Air liur bercampur darah menetes dari mulutnya yang robek. Suaranya terdengar bergetar dan berat.
"Siapa yang dibawa pergi, Yah?" tanya Riani kembali.
"Bawa pergi ... bawa pergi ... bawa pergi ...."
Tidak ada kalimat lain yang dikatakan olehnya selain itu.
Kedua mata Riani terbuka sempurna, ia melihat langit-langit putih di atasnya.
Dengan segera Riani beranjak, ia mendapati Sella dan Pak Abdul, hanya mereka berdua.
"A--ayah ... ayah," ujar Riani yang masih gugup.
"Tenang dulu, Ri."
"Ta--tapi ayah--"
"Kamu tenang dulu, ini minum teh angetnya." Sella memberikan segelas teh hangat yang entah kapan dia buat. "Kamu kenapa, Ri? Tadi kita nunggu kamu di atas lama banget, pas ke bawah kamu udah pingsan deket dapur."
__ADS_1
Riani terdiam sejenak, ia tak segera menjawab pertanyaan Sella. Hal yang pertama terlintas di kepalanya adalah kalimat bawa pergi yang diucapkan oleh sosok pocong yang menyerupai ayahnya.
"Ta--tadi aku lihat ayah."
"Ayah?" Nindira mengerngitkan dahi. "Kamu--"
"Iya, aku tahu ayah udah nggak ada, tapi ini ... ini nyata banget, Sel."
Nindira melihat ke arah ayahnya. Kemudian, Pak Abdul bertanya, "Apa Pak Agus mengatakan sesuatu?"
"Iya." Riani mengangguk pasti. "Katanya bawa pergi, tapi aku nggak tahu bawa pergi ke mana."
Hening, tak ada siapapun yang berbicara. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing begitu pula dengan Riani.
***
Riani berada di dalam kamarnya. Ia kembali membuka smartphone ibunya dengan cara yang sama seperti kemarin malam.
Masuk ke dalam aplikasi perpesanan, Riani melihat ruang obrolan ibunya dengan Dwi. Ada banyak pesan yang dikirimkan oleh Dwi yang isinya hampir sama seperti yang dikirimkan kepada Riani.
Berlanjut membuka isi percakapan dalam ruang obrolan ibunya dengan Pak Abdul, Riani melihat banyak video yang dikirimkan oleh ibunya.
"Video apa ini?" Riani mencoba memutar salah satunya.
Terlihat pada video tersebut Rita yang sedang duduk saling berhadapan dengan Pak Abdul. Tatapan mata Rita terlihat kosong, sementara Pak Abdul menatapnya lekat-lekat.
Rita terlihat tersenyum. "Aku juga, udah lama kita nggak bertemu."
Riani yang menonton itu merasa terkejut sekaligus mengernyitkan dahi.
"Kamu ... tunggu aku di sana ya."
"Pasti, Mas, aku nunggu kamu."
Riani semakin mengernyitkan dahi. "Mas?"
"Anak kita udah gede sekarang, cantik, pekerja keras juga kaya kamu."
Rita terkekeh. "Masa sih? Kenapa nggak dia nggak ikut ke sini juga?"
"Aku takut dia marah."
Video tersebut terhenti, Riani yang semakin penasaran memutuskan untuk menonton video yang lain.
Setelah menonton tiga video, Riani baru memahami jika ibunya bukanlah ibunya pada video itu, melainkan sedang dirasuki oleh sosok Wenda -- ibunya Sella.
Riani memutuskan untuk masuk ke galeri dalam smartphone itu. Ada banyak video serupa di mana Pak Abdul dan Rita duduk berdua saling berhadapan, terlihat juga background dalam video yang berbeda-beda.
__ADS_1
"Mas Agus, akhirnya kita bisa ngobrol lagi." Rita terlihat tersenyum sumringah.
"Kurasa kamu harus segera memutus perjanjian itu."
"Mas ... ayolah, jangan bahas itu dulu. Aku pengin kangen-kangenan juga sama kamu."
"Tapi udah nggak bisa lagi ditunda, Rita. Biar Mas aja yang kaya gini, kamu apalagi Riani jangan sampai ngalamin ini juga. Kamu harus segera ke daerah timur, putus perjanjian ini dengan Nyi Kembar."
Riani menekan tombol pause, mulutnya terbuka membentuk huruf o kecil. "Ja--jadi apa yang dikatakan Bhanu bener?" Sama sekali Riani tidak menyangka jika ini benar-benar terjadi pada keluarganya. "Apa Pak Abdul juga pake pesugihan ini juga? Jika iya, kenapa dia tenang-tenang aja?"
Keluar dari rumah, Riani sudah tak perduli apakah ada tetangga yang akan melihatnya atau bagaimana. Tujuannya kali ini hanya terpisah beberapa rumah saja.
Tangan kanan Riani terangkat menekan bel rumah. Tidak lama kemudian pintu dibuka dan Pak Abdul keluar dari dalam rumah tersebut.
"Eh, Riani ... Sellanya belum pul--"
"Aku mau tanya sesuatu, Pak." Riani memotong kalimat Pak Abdul begitu saja.
"Nanya apa, Ri?" Melihat Riani yang sedang gugup, ia melebarkan pintu rumahnya. "Ayo masuk dulu." Riani menurut. "Duduk, Ri."
"Jadi gini, Pak Abdul. Maaf, tapi tadi aku baru ngecek HP ibu."
Pak Abdul terlihat terkejut. "Te--terus?"
"Terus aku lihat video Pak Abdul sama ibu. Aku lihat semuanya. Apa Pak Abdul tahu kalau ibu pake pesugihan Nyi Kembar? Soalnya ibu nggak mau ngaku."
Pak Abdul tak segera menjawab, ia justru terdiam dan menundukkan kepala.
Sementara itu terlihat Sella yang memasuki gerbang rumahnya. "Riani, kamu ngapain?"
"Kayanya aku tahu deh, Sel, apa maksud kalimat bawa pergi itu."
"Emangnya apa?" Sella turut mendudukkan tubuhnya.
Riani kembali melihat ke arah Pak Abdul. "Bener kan, Pak, kalau ayah sama ibu pake pesugihan Nyi Kembar?"
"Hah, apa?" Sella terkejut mendengarnya. "Om Agus sama Tante Rita pake pesugihan Nyi Kembar?!"
Riani dan Sella saling berpandangan, keduanya lantas melihat ke arah Pak Abdul menanti jawaban dari laki-laki itu.
Pak Abdul menganggukkan kepala. "Benar," jawabnya lirih dan singkat.
"Pak Abdul tahu tapi kenapa nggak melarang, Pak? Apa Pak Abdul juga pake pesugihan itu juga?!"
Hening, Pak Abdul masih menundukkan kepalanya.
"Jawab, Yah! Ayah pake juga?!"
__ADS_1