
Kedua mata dengan manik berwarna hitam legam itu menyipit, berharap penglihatannya akan semakin jelas dan laki-laki yang sedang melambai ke arahnya itu semakin terlihat wajahnya.
"E--enggak," ujar Riani yang masih terus menyipitkan matanya.
"Tapi dia kaya manggil kita tahu, kamu kenal kali?" Nindira kembali meyakinkan. "Tuh, lihat, dia lambai-lambai ke kita, kan?" tanya Nindira lagi, ia menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada siapapun di belakangnya.
Para pegawai mall yang sudah gilirannya untuk pulang meninggalkan kawasan. Beberapa dari mereka mungkin pulang langsung ke rumah atau tempat kost, beberapa yang lain mungkin akan pergi ke suatu tempat terlebih dahulu atau menyelesaikan tujuan mereka yang lain. Tapi tidak ada dari mereka yang melihat ke arah laki-laki dengan sepeda motor tua yang dikendarainya.
"Eh, bentar. Kayanya iya deh dia manggil kita, Ra," ujar Riani, ia memajukan sedikit kepalanya.
"Ya udah kita samperin aja."
"Ayo," ujar Riani sembari menganggukkan kepala.
Langkah kaki mereka berdua mendekat ke arah jalanan yang cukup sibuk sore ini. Semakin dekat semakin terlihat jelas siapa laki-laki yang duduk di atas sepeda motor keluaran lama itu.
"Bayu?!" Riani terkejut melihat kedatangannya. "Kamu pake motor siapa, Bay?"
Bayu menyeringai. "Nyewa."
"Nyewa di mana?" Riani memperhatikan motor butut dengan tangki berwarna merah di bagian depan. Bayu terlihat keren menggunakan motor tua itu, tapi sekaliguz terlihat culun karena helm putih tanpa kaca yang dia kenakan. Hal tersebut membuat Riani terkekeh. "Ini helm siapa lagi?"
"Dipinjemin juga sama tukang sewanya, katanya harus pakai helm biar selamat. Kamu tahu nggak selamat dari apa?"
"Apa?"
"Selamat dari tilangan polisi."
Riani dan Nindira terkekeh mendengar candaan yang dilontarkan oleh Bayu.
"Tapi kan emang harus pakai helm kalau mau berkendara biar lebih aman." Nindira menambahi.
"Iya, aku juga selalu pakai helm kok. Di kampung pas naik sepeda ontel juga pake helm, kamu tahu nggak helm apa?"
Nindira menggelengkan kepala.
"Helm bola."
"Helm bola?" Nindira mengernyitkan dahi.
"Iya, kita nggak punya uang buat beli helm, tapi ya juga buat gaya-gayaan aja sih. Jadi kita beli bola plastik yang murah terus dipotong jadi dua, udah deh buat dipake kalo sepedaan bareng temen-temen."
Nindira terkekeh, ia menutupi mulutnya.
Sementara itu Riani hanya tersenyum, ia merasa bercandaan Bayu kali ini tidak lucu. Apa mungkin itu karena dirinya yang sedang merasa cemburu?
"Eh, Ira, kamu belum kenal, kan? Kenalin dia Bayu, saudaranya Mba Dwi."
Mulut Nindira membentuk bulatan sempurna. Ia menganggukkan kepala beberapa kali. Tak hanya itu, Nindira lantas menjulurkan tangan kanannya. "Nindira, panggil aja Ira biar lebih singkat." Tersenyum.
__ADS_1
Tanpa ragu Bayu menerima uluran tangan Nindira. Kedua pasang mata mereka saling memandang. Bibir Bayu juga tertarik ke dua arah berbeda. "Bayu, Bayu Kencana."
'Yaelah, Bay, ngapain segala kasih tahu nama lengkap, sih?!' batin Riani.
Sementara Riani hanya tersenyum kaku. "Kamu ngapain di sini, Bay? Terus, kok kamu tahu aku kerja di sini?"
"Sekarang mah canggih, Ri, aku tinggal ketik nama tempatnya aja udah muncul di HP." Bayu menunjukkan smartphone keluaran lama dengan satu kamera dan satu senter pada bagian belakangnya.
"Nggak, kan kamu cuma tahu aku kerja di mall, kan?"
Bayu mengangguk. "Iya, tadi aku tanya-tanya ke Tante Rita."
"Kamu nanya apa aja tentang aku sama Ibu?"
Bayu mengibaskan tangan. "Itu rahasia."
"Tapi aku berhak tahu."
"Untuk apa? Emangnya kamu siapa?"
"Anaknya ibu, aku berhak tahu lag. Apalagi yang kamu tanyakan ke ibu itu tentang aku."
"Nanti aja deh, keburu sore. Katanya kamu mau ajakin aku jalan-jalan?"
Riani menoleh ke arah Nindira. "Kan nanti malam, Bay?"
Sebenarnya Riani juga berpikiran hal yang sama. Namun ia tidak enak hati karena sudah terlanjur mengiyakan ajakan Nindira untuk pulang bersama dan pergi ke danau terlebih dahulu. Sayangnya hanya Bayu yang membawa sepeda motor, jika ia bersama Bayu lalu bagaimana dengan Nindira?
"Difki," panggil Riani, ia merasa laki-laki itu datang dalam waktu yang tepat.
Laki-laki dengan hoodie hitam itu menoleh dan memperlambat laju sepeda motornya. Riani yang melihat hal itu segera mendekat.
"Kenapa, Ri?" tanya Difki usai sepeda motornya benar-benar berhenti.
"Sibuk nggak sekarang?"
Difki menggelengkan kepala. "Nggak, emang kenapa?"
"Ehm, maaf, tapi mau nggak ke danau sama aku, Nindira dan Bayu?" Riani ragu, ia takut jika Difki menolak ajakannya.
Pandangan mata Difki melihat ke arah dua orang lain yang berdiri tidak jauh di belakang Riani. "Boleh."
Jawaban Difki benar-benar membuat hati Riani merasa lega. Ia menghembuskan nafas perlahan. "Oke, sebentar."
"Kamu ikut sama Difki ya, Ra, kita ke danau berempat. Biar aku sama Bayu."
Riani menganggukkan kepala, senyumnya terlihat begitu ceria.
"Ayo, Dif," ujarnya yang langsung naik ke belakang sepeda motor matic yang ditunggangi Difki.
__ADS_1
Dua sepeda motor melaju beriringan. Difki dan Riani berada di depan sementara Bayu yang membonceng Riani mengikutinya dari belakang.
"Mereka temen kamu, Ri?"
Terpaan angin dan suara kendaraan membuat Riani tak dapat mendengar ucapan Bayu dengan jelas. Perempuan itu mendekatkan tubuhnya. "Apa?"
"Itu temen kamu?" tanya Bayu mengulangi pertanyaannya dengan memalingkan wajah dan suara yang lebih keras.
"Iya."
Riani menyadari ada yang aneh, ia tak pernah sedekat ini dengan laki-laki sebelumnya. Seketika Riani kembali mengundurkan tubuhnya.
"Ma--maaf," ujar Riani berteriak agar suaranya bisa terdengar jelas oleh Bayu tanpa ia harus mendekatkantubuh.
Namun Bayu tak memberikan respon apapun.
Sore itu area pinggiran danau sudah banyak didatangi pengunjung. Orang-orang yang berjualan makanan kaki lima juga banyak berderet. Lampu-lampu mereka menghiasi area danau menjadi lebih terang dan berwarna.
"Rame juga ya di sini," ujar Bayu yang terus melangkahkan kaki.
Sementara perhatian Riani menuju ke salah satu gerobak yang menjual es krim roll. Ia menoleh ke arah Bayu, namun laki-laki itu sudah jauh darinya dan menghilang di balik kerumunan bersama dengan Nindira.
"Kamu mau beli?"
Riani segera menoleh ke sisi yang lain, ia mendapati Difki yang masih ada di sebelahnya. "I--iya, ta--tapi Ba--"
"Udah, dia aman sama Ira. Kamu mau beli rasa apa?"
Pandangan mata Riani sesekali melihat ke arah Bayu menghilang. Ia merasa khawatir karena laki-laki itu baru beberapa hari di sini dan Riani takut jika Nindira tidak bisa menjaganya dengan baik.
"Ehm, stroberi." Riani menjawab asal.
Beberapa menit kemudian akhirnya apa yang dia inginkan sudah ada dalam genggaman. Tak hanya Riani, Difki juga membeli es krim roll dengan varian rasa yang sama.
"Kita duduk di sana, yuk," ujar Difki dengan menunjuk ke suatu tempat yang kosong.
Sebenarnya Riani masih merasa khawatir dengan Bayu, namun ia juga merasa tidak enak dengan Difki.
Riani menganggukkan kepala. "Ayo."
Rasa manis dan dingin menciptakan sensasi tersendiri di dalam mulut. Es krim roll itu sangat enak, apalagi dinikmati sembari melihat matahari terbenam ujung barat seakan hendak tenggelam ke dalam danau.
"Ka--kamu ... siapa?"
Perempuan yang duduk di sebelah Riani tersenyum. Ia tak mengatakan sepatah katapun dan hanya menunjuk ke sebuah arah.
Tentu saja hal itu membuat Riani mengernyitkan dahi. Namun ia tak melihat jawaban apapun dari arah yang ditunjukkan perempuan itu.
"Kamu ngomong sama siapa, Ri?"
__ADS_1