PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Rumah Pak Abdul


__ADS_3

Akun perpesann milik Sella terlihat sedang aktif. Riani menunggu pesan balasan dengan sabar.


Satu menit ... dua menit ... tiga menit ....


"Argh! Ngartis banget sih ini si Sella."


Kesal tidak kunjung mendapat pesan balasan dan pesan singkatnya juga tak kunjung dibaca, Riani memutuskan untuk melakukan panggilan suara.


"Maaf, sedang berada dalam panggilan lain."


Kalimat tersebut tertera di layar smartphone Riani.


"Rupa-rupanya ...," ujar Riani sembari menekan ikon telepon berwarna merah untuk memutuskan panggilan suara yang dia lakukan.


Saat kembali ke aplikasi perpesanan, Riani melihat pesan singkat yang dia kirimkan sudah dibaca. Tidak lama kemudian, di bagian bawah nama Sella terlihat statusnya sedang mengetik.


Sella: Iya nih, kenapa?


Sella: Maaf ya, Ri, biasa.


Riani: Lagi apa sih emangnya?


Riani: Iya yang udah punya cowok.


Sella: Kamu kapan punya cowok, Ri? Nggak tahu deh lagi apa, di luar soalnya.


Riani: Kok mama aku akhir-akhir ini jadi sering ke rumah kamu, Sel?


Sella: Kayanya sih mau kerja sama deh, Ri, soalnya pas aku denger kemarin-kemarin tuh lagi ngobrolin masalah kost-an. Tapi nggak tahu juga sih, Ri.


Riani: Bilangin suruh pulang sama aku gitu, Sel, ini ayam kecapnya udah mateng.


Suara langkah kaki Dwi terdengar mendekat, beberapa detik kemudian semangkuk ayam kecap sudah dihidangkan di meja makan.


"Woah, enak banget nih kayanya," ujar Riani memandangi ayam kecap yang masih panas.


Dwi tersenyum. "Iyalah buatan saya pasti enak, Non."


"Alah." Riani menyalakan kembali smartphone-nya, ia mengambil gambar ayam kecap tersebut dan mempostingnya di story.


"Mau makan duluan, Non?" tanya Dwi.


Riani menggeleng. "Nanti aja nunggu ibu biar bareng-bareng."


Saat sedang menuliskan caption untuk foto ayam kecap itu, Riani mendengar suara pintu rumah yang dibuka.


"Cepetan sini kita makan bareng-bareng, lihat tuh Mba Dwi udah masak ayam kecap kesukaan aku." Riani berkata tanpa melihat ke arah seseorang yang datang. Pandangan matanya terpaku pada smartphone karena ia belum selesai mengetikkan captionnya.


"Iya nih, aku juga udah lapar."

__ADS_1


Mendengar suara itu milik seorang laki-laki, Riani menghentikan aktifitasnya sejenak. Sepersekian detik kemudian, ia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Bayu yang sedang melangkah sampai di bawah tangga.


Melihat kedatangannya, Riani segera beranjak dari duduknya. "Bayu? Kamu ngapain di sini?!"


"Diundang makan malam sama Tante Rita." Bayu menjawabnya dengan enteng.


"Ibu ini gimana sih?!" kesal Riani, berbisik lirih.


Pintu rumah kembali terbuka.


"Wih, udah pada ngumpul semua ternyata. Ayo, ayo makan malam bareng."


"Ibu ngapain ngajak Bayu juga, Bu?"


"Ya biar tambah rame lah, Ri, lagian kenapa emangnya?"


"Kenapa? Ibu nanya kenapa?" Nada suara Riani meninggi. "Udahlah, Bu, Riani capek mau istirahat." Riani melangkah pergi dari ruang makan. "Ibu nggak ngerti-ngerti!"


"Loh, Ri, tadi kamu manggil Ibu buat makan malam bareng. Lagian ini ayam kecap loh, kesukaan kamu."


"Nggak nafsu!" bentak Riani sembari menaiki tangga menuju kamarnya.


Sampai di dalam kamar, Riani segera melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Wajahnya dibenamkan ke dalam bantal dalam-dalam. Riani menangis dalam keheningan.


Saat membuka mata kembali, Riani hanya mendapati kegelapan. Rupanya ia masih membenamkan wajahnya dalam bantal.


Air mata yang menetes ke atas bantal sudah kering. Riani melihat ke arah jam dinding yang memperlihatkan waktu saat ini pukul satu dini hari.


Tangan Riani memegangi perutnya yang terasa keroncongan.


"Ayam kecapnya masih ada nggak ya?" lirih Riani.


Ia lantas beranjak dari tempat tidur. Saat membuka pintu, Riani menoleh ke arah kanan dan kiri, sepi.


Riani menutup pintu kamarnya lagi dengan sangat hati-hati. Dari sudut matanya, Riani melihat seseorang yang melintas ke arah ruang makan di lantai bawah.


"Jangan-jangan masih ada yang bangun lagi," lirih Riani.


Berhati-hati dan waspada.


Riani melangkah menuruni setiap anak tangga dengan sangat pelan hingga tak ada sedikitpun suara yang ditimbulkan. Sampai di lantai bawah, Riani melihat ke kanan dan ke kiri.


Lampu-lampu sudah dimatikan, hanya ada cahaya dari luar rumah dan lampu kamar mandi yang menyala menerangi dapur dan ruang makan dengan cahaya yang remang.


Hening, sunyi, sepi, tidak ada siapapun yang terlihat di lantai satu ini.


Riani menyalakan lampu dapur. Ia melihat ke arah ruang kamar Dwi dengan pintu yang tertutup rapat.


"Kayanya Mba Dwi udah tidur lagi deh." Riani terdiam sejenak. "Bagus deh."

__ADS_1


Kompor dinyalakan, panci kecil diambil dari dalam rak dan diisi air sedikit. Semuanya dilakukan oleh Riani dengan perlahan.


Semangkuk mie instan dengan kuah yang hampir penuh sudah ada di atas meja makan. Rasa lapar membuat Riani menyantapnya dengan lahap dan penuh kenikmatan.


Saat mie kuah disuapkan ke dalam mulut, Riani terdiam sejenak. Ia mendengar suara dari arah kamar mandi. Tetes-tetes air yang jatuh ke lantai terdengar kelas, meskipun Riani sangat yakin jika tidak ada kebocoran dari keran atau shower di dalam sana.


Merasa penasaran, Riani meninggalkan semangkuk mie instan begitu saja di atas meja. Langkah kakinya menuju ke kamar mandi, namun tak menemukan ada sedikitpun kebocoran air di dalamnya.


"Aneh," lirih Riani, seketika sekujur tubuhnya merinding.


Mie kuah yang ia buat masih tersisa, mungkin sekitar tiga suapan lagi. Riani kembali ke meja makan untuk menghabiskannya.


"Apa ini?" lirih Riani saat ia melihat tetesan berwarna merah di atas meja dekat dengan mangkuk mie instan miliknya. "Perasaan aku tadi makan nggak berantakan deh."


Riani melanjutkan menyantap mie kuah meskipun perasaan sudah tak karuan. Semakin lama, rasa takut itu semakin jelas terasa.


Usai menghabiska mie kuah, Riani segera meninggalkan mangkuk kotor itu begitu saja di atas meja.


Suara sesuatu yang digeser menghentikan langkah Riani. Pandangan matanya melihat ke arah meja makan, tidak ada apapun yang telah terjadi.


Baru saja Riani hendak melanjutkan langkah kakinyal lagi, kursi makan yang tadi diduduki Riani bergerak mundur.


Kedua mata Riani terbelalak, mulutnya membentuk huruf O kecil.


Tubuh Riani terpaku selama beberapa saat. Ketika sudah tersadar Riani segera melanjutkan menaiki anak tangga.


Namun suara mangkuk pecah mengejutkannya. Riani tidak mempunyai cukup keberanian untuk melihat ke arah ruang makan lagi.


"Ada apa, Ni?" tanya Rita yang baru saja keluar dari kamarnya.


"E--e ... a-anu ... i--itu ...." Riani menunjuk-nunjuk ke bawah.


"Kenapa, Ni? Kamu yang tenang, biar ngomongnya juga jelas. Kenapa? Ada apa di sana?"


Riani menggelengkan kepala, dia ingin berbicara sejelas-jelasnya, namun entah kenapa bibirnya kelu, ia tak bisa bicara dengan jelas.


Rita yang merasa penasaran akhirnya memutuskan untuk turun dan melihatnya sendiri. "Ya ampun, Riani, kamu mecahin mangkuk kesayangan Ibu?!"


Sementara Riani hanya diam saja ketika melihat ibunya berjalan ke arah dapur. Beberapa detik berikutnya, terdengar suara benda yang bergeser.


"Riani ... Riani, ya ampun, Riani ...."


Dari atas anak tangga, Riani melihat ibunya yang kembali menaiki anak tangga.


"Cepat, cepat masuk ke kamar, Ri," ujar Rita dengan sedikit mendorong tubuh anaknya.


Keduanya masuk ke dalam kamar Riani.


"Kenapa jadi kaya gini sih, Bu, sekarang?" tanya Riani.

__ADS_1


Rita hanya menggelengkan kepala, lantas meringkuk di bawah selimut di atas tempat tidur Riani.


__ADS_2