
"Mereka udah keluar, Ri," ujar Nindira.
Tapi Riani masih menggelengkan kepalanya kuat. "Kita pergi dulu dari sini, Ra."
Keempatnya berjalan beriringan, kali ini Riani dan Nindira melangkah terlebih dahulu di depan sementara Difki dan Bhanu yang membawa koper dan tas ransel Riani menyusul di belakang.
Riani mulai membuka tangan dan matanya, ia melihat lurus ke depan tanpa mau menoleh ke belakang.
Sekian menit berjalan akhirnya keempatnya sudah kembali berada di kediaman Bhanu. Koper dan ras ransel milik Riani diletakkan begitu saja di ruang tamu. Bhanu masuk ke dalam rumah begitu pula dengan Nindira, hingga tersisa Difki dan Riani saja yang berada di ruang tamu.
"Kamu kenapa bisa sampai di situ sih, Ra?" tanya Difki membuka pembicaraan.
Sebenarnya Riani masih sedikit kesal dengan Difki karena saat-saat terakhir kerja, ia juga melihat Difki yang menghinanya bersama Tri dan ketiga gengnya.
Riani melirik sinis ke arah Dikfi. "Nggak papa," jawab Riani seperlunya saja.
"Tehnya, Ri, diminum dulu," ujar Nindira yang baru saja kembali dengan membawa secangkir teh di tangannya.
Kedatangan Nindira membuat Riani merasa lega karena ia tak perlu menanggapi perkataan Difki lebih lama lagi.
"Makasih, Ra," ujar Riani tersenyum, ia segera menyesap teh hangat pemberian Nindira.
Dari dalam rumah, Bhanu keluar dengan hoodie oversize berwarna hitam. Tangannya tampak menata rambut bagian depan, tampan.
Melihat hal tersebut, Riani terpana.
"Ehm, kita mau berangkat sekarang, Kak?" tanya Difki yang seketika membuat lamunan Riani buyar.
"Boleh," ujar Bhanu dengan singkat. "Kalau mau pergi dikunci, taruh di tempat biasa."
Nindira mengangguk menanggapi perkataan kakaknya. Dua lakih-laki tersebut melangkah keluar dari rumah dan pergi.
"Mereka mau ke mana?"
"Ngampus," jawab Nindira singkat sembari mendudukkan tubuhnya. "Kamu nginep di kost aku aja dulu, Ri."
Tidak segera menjawab, Riani terlebih dahulu terdiam selama beberapa saat. "Kalau di kost kamu aku takut ibuku nyamperin, Ra, tahu sendiri kost kamu nggak jauh-jauh banget juga dari rumah aku terus juga kost kamu punya Pak Abdul aku takut ada yang kenal aku terus ngelaporin."
"Tapi kayanya nggak gitu deh, Ri, buktinya nggak ada tuh yang ke kost aku buat cariin kamu."
"Aku nggak enak sama kamu, Ra." Riani berkata lirih sembari menundukkan kepalanya.
Sementara Nindira menempatkan tangannya di atas paha Riani, ia memberikan senyum terbaiknya. "Nggak usah gitu, kaya sama siapa aja."
__ADS_1
"Makasih ya, Ra." Riani masih tersenyum.
Nindira menganggukkan kepala, keduanya berpelukan selama beberapa saat.
Begitu senang Riani mendapatkan teman baik seperti Nindira yang selalu mau membantu, yang selalu ada saat Riani membutuhkannya. Rasanya jarang sekali ada teman seperti itu di dunia ini.
"Nanti sore kita pulang ke kost, sekarang aku mau main PS punya kakak aku dulu. Mau ikutan nggak?"
"Emang ada? Boleh, boleh."
"Ada dong, dia mah kaya. Mahasiswa kaya gitu juga udah ngehasilin duit puluhan juta, jadi apa aja dia punya."
"Hah? Serius?" Kedua mata Riani memancarkan rasa takjub.
Nindira mengangguk. "Iya, dia jadi salah satu staff di perusahaan luar, kerjanya dari rumah. Enak banget kan? Tapi pelit, aku minta diajarin malah nggak mau dia."
"Hahaha, serius?"
"Iya, ngeselin kan?"
Riani mengangguk, meskipun ia tidak tahu pasti bagaimana rasanya. Dalam hati kecil Riani berteriak, andai saja ia bukan anak tunggal, andai saja ia punya kakak atau adik yang bisa ia jadikan teman paling dipercaya dalam hidupnya.
"Kamu udah sering main ke sini?"
"Sendirian?"
"Kadang sama dia tapi dia mageran kalau main sama aku, jadi ya sendirian sama bot, hahaha." Nindira terkekeh.
Selama hampir dua jam Riani dan Nindira bermain PS, keduanya mencoba semua permainan yang ada.
"Bentar, Ri, aku pengin ke belakang," ujar Nindira yang segera beranjak dari duduknya.
Riani hanya menganggukkan kepala saja, pandangan matanya tetap fokus melihat ke depan melanjutkan permainan.
Beberapa menit berlalu, Nindira kembali dan turut melanjutkan permainan.
"Kayanya ini harus diarahin ke kiri dulu deh, Ra." Riani berkata tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. "Ra?" Nindira tak kunjung memberikan jawaban atau mengarahkan ke kiri sesuai intruksi Riani. Merasa aneh, Riani menoleh ke sebelah, tapi ia tak melihat Nindira berada di sampingnya.
"Kenapa, Ri?"
Riani melihat ke arah kamar mandi, ia mendapati Nindira yang masih berada di atas kamar mandi sembari mengeringkan kakinya.
"Loh, bukannya tadi kamu udah duduk di sini?"
__ADS_1
Nindira menggelengkan kepala. "Nggak, orang aku baru keluar."
"Tapi tadi aku lihat ada yang duduk di samping aku, Ra."
"Jangan gitu ah, Ri, kita berdua doang tahu!" Nindia memperingati. "Lagian dari dulu aku sering di sini sendirian juga nggak ada apa-apa."
"Ehm, iya kali mungkin perasaan aku doang."
Keduanya kembali melanjutkan permainan.
***
Perlahan Riani membuka kedua matanya saat ia mendengar ada suara yang memanggil-manggil namanya. Saat pertama kali matanya terbuka, Riani melihat wajah Nindira tepat berada di atasnya.
"Udah jam empat tahu," ujar Nindira yang lantas beranjak dari duduknya.
Riani terbangun, ia melihat ke sekitar dan mendapati Bhanu yang sedang berjalan menuju dapur. Dengan segera Riani mengusap wajahnya, ia merasa malu jika saja Bhanu melihat dirinya saat tidur tadi.
Riani merapikan barang-barang di sekitarnya, apapun itu agar ia terlihat sibuk.
"Ayo pulang sekarang, Ri," ujar Nindira yang sudah siap.
"Oh, i--iya," ujar Riani yang segera beranjak dari duduknya.
Kedua matanya masih terasa berat mungkin karena belum mendapatkan istirahat yang cukup. Riani berjalan menyusul Nindira yang sudah terlebih dahulu keluar.
"Pulang dulu, Bang!" teriak Nindira dari luar, tak ada jawaban dari dalam.
Ras ransel yang tergeletak di atas koper digendong di belakang, kedua tangannya mengangkat koper yang cukup berat itu, apalagi isinya sudah bertambah banyak.
"Ayo, Ri," ujar Nindira yang sudah siap di atas sepeda motornya.
Riani menganggukkan kepala, ia juga naik ke atas sepeda motor itu usai menempatkan koper pada bagian depan.
Keduanya sampai di tempat kost sekitar setengah lima, sesampainya di kamar kost keduanya segera membuat mie instan karena sudah merasa kelaparan.
Aroma wangi yang dihasilkan oleh mie instan begitu menggoda selera, Riani segera menyantapnya mengingat ia belum menyantap makanan berat apapun sedari tadi pagi.
Selama beberapa saat tidak ada perbincangan di antara mereka berdua, keduanya tetap fokus dengan mie dalam mangkuk masing-masing.
Setelah beberapa menit berlalu, Nindira berkata, "Ri, ada yang mau aku bicarain sama kamu, serius."
Riani yang mendengarnya mengernyitkan dahi, sejenak ia melirik ke arah teman baiknya itu. "Ada apa emang, Ra? Kayanya serius banget."
__ADS_1