
Kedua pipi Riani memerah, ia tersipu malu seraya menganggukkan kepalanya. Kedua sejoli itu kembali tersenyum setelah sempat terpisah beberapa hari yang lalu.
Sementara itu, seorang perempuan melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan tak percaya.
***
Kebahagian sepertinya masih menyelimuti hati Riani hingga sore ini.
Tepat di hadapan dua perempuan yang duduk saling berhadapan, terdapat sepiring kentang goreng lengkap dengan saus tomat dan saus sambal, pizza telur pedas, serta sekotak martabak manis dan dua cup milkshake.
"Kamu kok mau sih diajak balikan sama Bayu?" tanya Nindira sembari mengambil satu potong kentang goreng.
Riani tersipu. "Ternyata aku sayang sama dia."
Sementara itu Nindira yang tengah menyantap kentang goreng merasa ada yang aneh dengan teman baiknya. "Kan kamu juga yang kemarin lalu cerita semua yang dilakukan Bayu sama kamu."
"Seperti yang udah aku bilang, Ra, aku yakin Bayu dan keluarganya melakukan ini untuk kebahagiaan aku dan Bayu juga. Lagipula ternyata tujuannya baik, kok, agar hubungan kita langgeng. Kalaupun aku harus ngelakuin ritual itu lagi aku mau, kalau aku harus minum darah ayam pun mau, seember sekalian biar aku sama Bayu langgeng selamanya juga mau," jelas Riani tanpa melihat ke arah Nindira.
Tentu saja mendengar jawaban dari Riani, Nindira semakin mengernyitkan dahi. "Kan darah haram, Ri."
"Hm, iya juga, tapi kan ini buat kebaikan kita juga."
"Aku masih nggak ngerti sama kamu, Ri."
"Nggak ngerti gimana sih, Ra?"
"Ya, gitu, kamu nggak curiga apa sama Bayu? Lagian hubungan mau langgeng atau nggak ya tergantung yang ngejalanin lah bukan tergantung darah ayam yang kalian minum."
Seketika Riani yang sedari tadi tidak melihat ke arah Nindira kini menatap ke arah perempuan itu dengan tatapan yang tajam. "Kenapa sih, Ra? Kamu iri kalau aku bisa balikan lagi sama Bayu? Iya?! Lagian aku juga kok yang jalanin, aku juga yang mau minum darah ayam, kenalan kamu yang repot?"
"Maaf ya, Ri, aku nggak maksud gitu." Nindira menundukkan kepala, memilih untuk mengalah.
"Udahlah." Riani meletakkan potongan pizza yang baru ia ambil di atas kotak kembali. "Aku jadi nggak mood gara-gara ngomong sama kamu, aku mau pulang aja."
Riani beranjak dari duduknya, mengambil cardigan dan tas selempang, lantas berjalan keluar dari kamar kost Nindira. Kejadian ini terjadi dengan begitu cepat.
"Riani, tunggu!" ujar Nindira yang segera beranjak dari duduknya untuk mengejar Riani.
__ADS_1
Saat sampai di depan kamar, Riani sudah keluar dari gerbang kost. Langkah kakinya berjalan cepat hingga Nindira tak bisa mengejarnya.
"Maaf kalau omonganku nggak sengaja menyinggung perasaan kamu, Ri." Nindira berkata lirih sembari menatap kepergian Riani.
Sementara itu dada Riani merasa begitu sesak setelah mendengar ucapan dari Nindira. Teman baiknya itu sudah tidak lagi mau mendukungnya. Padahal seharusnya Nindira juga merasa senang karena Riani sudah berhasil kembali baikan dengan Bayu.
"Nggak Sella, nggak Nindira, sekarang nggak ada lagi teman yang mau dukung aku." Riani menendang kerikil jalanan. "Sella sibuk sama pacarnya, Nindira sibuk ngoreksi aku. Padahal apa coba yang salah sama aku?"
Suara klakson sepeda motor membuat Riani menoleh, ia mendapati sepeda motor yang dulu sempat ia gunakan.
"Bayu?" Riani tersenyum melihat keberadaan laki-laki itu.
"Naik." Kepala Bayu sedikit menoleh ke belakang.
Riani segera naik ke sepeda motor dan sepeda motor perlahan melaju menembus jalanan sore itu.
Angin menerpa wajah keduanya, rambut Riani berterbangan terkena hembusan angin.
"Dingin ya, Ri," ujar Bayu.
"Iya," jawab Riani singkat sembari mendekatkan tubuhnya ke depan.
Jantung Riani berdegup kencang, namun ia tetap memeluk Bayu dengan erat. Lama-kelamaan ada rasa nyaman yang terus muncul dan membesar dalam dirinya.
Setelah lima belas menit berkendara, sepeda motor tersebut berhenti di depan rumah Riani. Dari dalam Rita sudah menyambut kedatangan keduanya.
"Riani, kamu udah pulang?" Rita beralih kepada Bayu. "Duh ... akhirnya kamu ke sini lagi, Bay."
Riani menganggukkan kepala, begitu juga dengan Bayu.
"Iya nih, Tante Rita. Oh, gimana kabarnya, Tan?"
"Baik, kok, Bay, kaya yang kamu lihat sekarang. Kabar kamu gimana?"
"Ya sama, Tan, sama kaya yang Tante Rita lihat." Bayu tersenyum. "Oh ya." Tangannya merangkul bahu Riani. "Aku mau kasih kabar gembira buat Tante Rita."
Melihat gelagat laki-laki itu, sebenarnya Rita sudah tahu apa yang akan diberitahukan oleh Bayu. "Apa emangnya, Bay?" Tapi ia berpura-pura untuk tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Rangkulan tangan Bayu pada bahu Riani semakin erat, bahkan hingga Riani harus menggeser tubuhnya untuk semakin dekat dengan laki-laki itu.
"Aku sama Riani udah balik."
"Woah." Kedua mata Rita terbelalak senang. "Mulai kapan?"
"Tadi siang," jawab Bayu singkat.
Rita memberikan dua jempol ke arah Bayu. "Kamu emang top, Bay!" ujarnya yang kemudian terkekeh. "Kalau gitu, untuk merayakannya Tante Rita bakal minta Dwi masak makanan kesukaan kalian buat makan malam nanti, gimana?"
Makan malam berlangsung dengan cukup seru. Ada banyak hal yang dibicarakan di ruang makan. Sesekali mereka akan terkekeh, bahkan tertawa keras.
Bayu juga menceritakan saat Riani datang ke rumah sakit tadi siang. Tentu saja Riani merasa malu, tapi ibunya terus meminta Bayu untuk melanjutkan cerita.
Hingga tidak terasa mereka bertiga sudah duduk di ruang makan selama satu jam lamanya. Namun perbincangan di antara ketiganya, terutama Bayu dan Rita masih terus ada.
Riani menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Semakin lama mendengar perbincangan Bayu dan ibunya, Riani merasa mengantuk.
Sesaat setelah menyelesaikan kalimatnya, Bayu menoleh ke arah Riani. "Kamu kenapa, sayang?" tanyanya sembari mengusap rambut Riani. "Ngantuk?"
Riani menganggukkan kepalanya.
"Aw ... so sweet banget sih kalian berdua," ujar Rita yang kemudian menyeka kedua matanya. "Jadi keinget almarhum ayah."
"Ibu jangan ngomong gitu dong kan Riani juga ikutan inget ayah." Riani beranjak dari sandarannya.
Pada saat itu juga Bayu memeluk tubuh Riani. Tentu saja Riani merasa terkejut. Setelah sekian lama ia baru dipeluk seorang laki-laki kecuali ayahnya. Apalagi saat Bayu mulai mengusap-usap bagian belakang tubuhnya. Riani merasa ada kenyamanan teramat-sangat yang sebeluknya tak pernah ia rasakan.
Rasa ini aneh, sangat aneh.
'Aku benar-benar tak bisa hidup tanpa Bayu.'
Riani tersenyum dan mencari posisi yang lebih nyaman dalam pelukan laki-laki itu. Rasanya ingin waktu berhenti sejenak agar bisa menikmati kenyamanan ini lebih lama.
"I love you, Ri."
Mendengar kalimat tersebut terlontar dari mulut Bayu padahal Rita masih ada di dekat mereka berdua, Riani cukup terkejut. Sama sekali tak ada keberanian dalam diri Riani untuk membalas kalimat itu.
__ADS_1
'Aku juga mencintaimu, Bay.'
"Jawab dong, Ri, jangan diam aja."