PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Dia Tahu


__ADS_3

Mendengar hal tersebut, Riani mengangkat pandangannya dan melihat ke arah Suwiryo. Entah kenapa saat ini Riani merasa sangat ketakutan melihat ke arah laki-laki itu, tidak seperti sebelumnya.


'Dari mana dia tahu?' tanya Riani dalam hatinya.


Mulutnya seperti terkunci oleh rasa takut dan marah, ia hanya bisa menganggukkan kepala.


Sementara Suwiryo justru terlihat tersenyum sumringah, sepertinya ia merasa sangat senang entah karena apa.


"Bukankah ini akan menjadi lebih mudah seribu persen? Nikahkan saja dia dengan anak saya, akan saya jamin perjanjian itu terputus."


Pak Abdul membisu, ia menatap ke arah Riani menunggu jawaban.


Kebingungan merundung hatinya, Riani merasa lebih putus asa daripada sebelumnya.


"Aku ingin pulang," lirih Riani sembari beranjak dari duduknya.


Melihat Riani yang berdiri, Pak Abdul buru-buru berpamitan kepada Suwiryo. "Mohon maaf ya, Mbah. Saya pamit."


Tidak ada yang mengantar kepergian Riani, Sella dan Pak Abdul ke dalam mobil. Suwiryo dan Utari masih tetap berada di dalam rumah, mungkin mereka hanya memandangi tamunya pergi dari dalam saja.


Ketiganya kembali kasuk ke dalam mobil, kehadiran mereka membuat sang supir yang sedang tertidur akhirnya terbangun.


"Loh, kok udah masuk mobil lagi?" tanyanya terkejut melihat kehadiran Pak Abdul, Riani dan juga Sella.


Pak Abdul tak menjawab, ia sibuk memasang slingbelt. "Kita pulang sekarang."


"Hah? Udah mau pulang aja, kok cepet banget?"


"Udah, supir nurut aja." Pak Abdul seperti tak ingin membahasnya.


Mobil putih tersebut perlahan bergerak menjauh dari halaman depan rumah Suwiryo dan juga Utari.


Di dalam mobil, Riani menangis dalam diam. Tidak ada suara sesenggukan yang terdengar, akan tetapi air mata sibuk keluar dari kedua ujung mata.


Riani menatap ke arah luar, melihat ke hutan-hutan yang mobil tersebut lewati.


"Kita berhenti di sini dulu ya, Dul." Perlahan mobil menepi ke arah kiri jalan. "Lapar aku, belum makan kan dari semalam. Kamu nggak lapar apa?"


"Ya udah, aku juga agak lapar."


"Kamu mau turun nggak, Ri?"


Riani menoleh ke arah Sella, sedari tadi menangis Riani tak fokus ke arah jalanan yang ada di sekitarnya. Baru saat Sella berbicara kepadanya, Riani menyadari di mana dirinya saat ini.


Sebuah bangunan kecil dari kayu ada di sebelah kiri mobil. Pak Abdul dan sang supir sudah terlebih dahulu keluar meninggalkan Riani dan juga Sella yang masih tetap berada di dalam.

__ADS_1


"Aku mau sarapan, laper juga, terus mumpung pada turun." Sella melanjutkan kalimatnya karena Riani tak kunjung menjawab. "Mau ikut nggak?"


Riani menganggukkan kepala, ia merasa perutnya keroncongan juga karena sedari malan belum diisi apa-apa.


'Ini bukannya warung Bu Sopirah ya?' ujar Riani di dalam hati, ia merasa tidak asing dengan apa yang dilihatnya.


Riani dan Sella berjalan beriringan mendekat ke arah bangunan yang tidak lain adalah sebuah warung. Pak Abdul dan temannya sudah duduk di satu-satunya bangku panjang yang ada di depan warung tersebut.


"Sini, kalian mau makan apa?" tanya Pak Abdul.


Keduanya mendekat dan mulai melihat ada makanan apa saja yang tersedia. Gorengan, ketupat dan lontong, tahu aci, sambal kacang, sambal ijo, dan beberapa sayuran terlihat ditata rapih di dalam etalase kaca.


"Ehm, aku mau sama telur balado terus sayur ceriwis sama mendoannya satu," ujar Sella dengan lancar sembari menunjuk ke arah makanan yang ada di dalam etalase.


Bukan lagi Bu Sopirah, melainkan seorang perempuan muda yang melayani mereka. Ia memili rambut panjang yang sedikit kecoklatan, kulitnya putih mulus dan bibir yang menjadi daya tarik itu terlihat tipis dan berwarna pink.


"Kamu mau makan apa, Ri?" tanya Sella usai menerima piring berisi makanan yang dia pesan.


"Oh, ehm ...." Terlalu fokus memperhatikan perempuan itu membuat Riani merasa gugup. "Samain aja," ujar Riani kemudian.


Keempatnya menikmati sarapan pagi masing-masing, tidak ada yang berbicara, hanya ada suara alat makan yang saling berdentang.


Pandangan mata Riani selalu saja mencuri pandang ke arah perempuan yang ada di dalam warung itu, ia sangat cantik dan Riani juga tak pernah bertemu dengannya saat pertama kali datang ke sini.


Tak ada henti-hentinya Riani melihat ke arah perempuan yang tengah sibuk menghitung total makanan itu. Di sisi lain, ia juga merasa penasaran dengan siapa dia.


"Udah semua kan?" tanya Pak Abdul.


Sella menganggukkan kepala, sementara supir mobil beranjak dari duduknya.


"Aku ke mobil dulu," ujarnya sembari menepuk bahu Pak Abdul yang hanya dibalas dengan anggukkan kepala.


"Ayo, Ri." Sella turut beranjak dari duduknya.


Kini tersisa Riani yang masih duduk di kursi panjang itu, ia juga beranjak.


"Ehm ... ma--maaf, Mba," ujar Riani dengan ragu. Ada rasa menyesal setelah mengatakan itu, seharunya ia simpan saja rasa penasarannya. Namun semuanya sudah terlanjur, ia sudah berbicara kepada perempuan cantik itu.


Seulas senyum tercipta pada bibir tipis berwarna merah muda itu, sangat cantik. "Iya, kenapa ya?"


"Ehm ... ma--maaf ta--tapi ... Mba siapanya Bu Sopirah ya?"


"Oh ... itu," ujarnya sembari tersenyum. "Saya menantunya."


Riani mengangguk pelan, ia merasa canggung. "Oh, maaf ya, Mba, saya kepo."

__ADS_1


"Nggak papa kok."


"Riani," panggil Sella yang sudah berdiri dekat mobil. "Sini," lanjutnya sembari melambaikan tangan. "Cepetan."


"Terima kasih ya, Mba." Riani berusaha untuk tetap menjunjung tinggi sopan santun.


Perjalanan ditempuh selama hampir sepuluh jam menggunakan mobil, itupun tanpa beristirahat lama.


Beberapa bagian tubuh terasa pegal, terutama punggung dan pinggul karena terlalu lama duduk di dalam mobil.


"Argh, akhirnya sampe juga," ujar Sella sembari keluar dari mobil.


Riani menyusul keluar, ia melihat ke arah pagar rumahnya. "Aku langsung balik ya, Sel, kasihan ibu aku belum makan."


"Nggak papa, aku juga mau istirahat." Sella menganggukkan kepala. "Capek juga."


"Maaf ya, Sel."


Sella tersenyum, ia menepuk bahu Riani pelan. "Santai aja lagi." Ia lantas terkekeh. "Kamu juga jangan lupa istirahat ya, Ri."


"Pasti," ujar Riani sembari menganggukkan kepala. "Aku juga ngerasa capek banget." Riani memijat tengkuknya sembari menguap. "Aku balik dulu ya, Sel."


"Tiati, Ri."


"Tiati timbang berapa rumah aja."


"Kan tetep aja, takut nginjek semut, tiati."


Keduanya terkekeh.


"Pak Abdul," panggil Riani pada laki-laki yang masih sedang berbincang dengan temannya. "Aku pulang dulu ya."


"Nggak mau istirahat dulu di rumah Sella, Ri?"


Riani menggelengkan kepala. "Aku mau ngasih makan juga, kasihan ibuku belum makan."


"Oke deh, siap."


Berjalan masuk ke dalam rumah, Riani segera masuk ke dalam kamar. Ia mengganti pakaian menjadi lebih santai agar ibunya tidak curiga.


Sebuah nampan ada di atas kedua tangannya, berisi sepiring makanan dan segelas minuman.


"Bu--"


"Kamu habis ketemu Mbah Wir ya?"

__ADS_1


__ADS_2