PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Berbicara dengan Ayah


__ADS_3

Jantung Riani berdegup kencang, rasanya berbalik badan saja membutuhkan waktu yang lama. Ada perasaan untuk mengurungkan niat melihat ke belakang, tapi Riani juga merasa penasaran.


Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya. Riani memejamkan mata, ia takut jika melihat ayahnya dalam wujud yang menyeramkan, tapi ia juga penasaran dan rindu dengan ayahnya.


Tidak ada siapapun di belakang, bulu kuduk Riani berdiri, ia merinding ketakutan.


Ditambah lagi suasana rumah menjadi sangat sepi, lirikan mata Riani melihat ke kanan dan ke kiri, waspada jika mungkin akan ada sesuatu yang terjadi.


"A--ayah," panggil Riani, suaranya sedikit bergetar antara takut dan haru. Jelas ia berbicara dengan ayahnya tadi, Riani juga mendengar suaranya dengan jelas. "A--ayah tadi bicara sama Riani, kan?"


Bulir-bulir air mata mulai membasahi pipi, Riani tak kuasa menahan tangisannya. Langkah kedua kakinya berjalan perlahan mendekat ke sebuah kursi makan yang biasa diduduki oleh ayahnya.


Tangis Riani semakin tak terkira, tangannya mengusap bagian belakang kursi itu.


"A--ayah, Ri--Riani kangen," ujar Riani di sela-sela tangisannya.


Tubuhnya terasa lemah, Riani mendudukkan tubuhnya begitu saja di atas permukaan lantai dapur. Pikirannya terus memutar saat-saat kebersamaan dengan ayahnya meskipun itu tidak banyak.


Riani tersungkur di balik kursi, ia berusaha menahan tangisannya agar tidak lagi keluar namun tak berhasil.


Setengah jam berlalu, Riani mengusap sisa-sisa air mata yang ada di pipi dan matanya. Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri capcay yang belum matang sempurna.


Kompor kembali dinyalakan, masih sesekali sesenggukan, Riani mulai menyiapkan makan malam.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Riani terlebih dahulu menyantap makan malamnya sendirian.


Ruang makan kini menjadi sepi, bahkan tidak hanya ruang makan saja, tapi semua ruangan yang ada di dalam rumah ini.


Kejadian tadi masih terus terngiang di kepalanya, Riani kembali menangis. Meskipun begitu ia tetap melanjutkan makan malamnya agar bayi di dalam kandungannya tetap mendapatkan nutrisi yang baik.


Usai makan malam selesai, Riani menyiapkan makan malam untuk ibunya. Langkah kedua kakinya menaiki anak tangga dengan sebuah nampan pada kedua tangan.


"Bu," panggil Riani sembari membuka pintu kamar. "Makan malam dulu, Bu."


Rita sama sekali tidak bergeming. Melihat ke arah wajahnya, ia nampak tertidur pulas.


Enggan membangunkan ibunya yang tengah sakit beberapa hari ini membuat Riani memutuskan untuk membiarkannya tidur. Namun Riani mendapatkan sebuah ide.


"Ini saat yang tepat," ujar Riani lirih.


Ia masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk mengambil smartphone. Pintu kamar Rita yang sengaja belum ia tutup memudahkannya.

__ADS_1


Smartphone tersebut diarahkan pada wajah Rita, kebetulan juga ia berbaring dalam posisi telentang.


Smartphone tersebut berhasil dinyalakan, jari telunjuk Riani menahan layar agar tidak mati. Ia lantas meninggalkan ibunya sendirian di kamar dan menutup pintunya kembali.


"Mungkin ada sesuatu yang bisa aku dapatkan dari sini."


Sambungan Wi-Fi mulai terhubung. Ada banyak notifikasi masuk yang terdengar cukup berisik karena smartphone itu dalam mode dering. Cepat-cepat Riani mengubah ke mode hening, beruntungnya Riani sudah ada di dalam kamarnya sendiri sehingga tidak mungkin bisa didengar oleh Rita.


Pesan-pesan singkat mulai masuk, kebanyakan dari grup, tapi ada juga dari akun pribadi.


Riani membuka akun perpesanan milik ibunya. Satu ruang obrolan yang menyita perhatian Riani adalah Bayu, Dwi dan juga Abdul.


Riani membuka satu-persatu dari ketiga ruang obrolan itu. Riani memilih untuk membuka ruang obrolan ibunya dengan Bayu terlebih dahulu.


Ada beberapa percakapan yang terjadi di antara mereka.


Bayu: Jangan percaya sama apa yang diomongin Riani, Tan, kaya yang udah aku bilanh, dia sedikit gila.


Rita: Iya, Bay. Tante juga lihatnya begitu. Kasihan banget.


Bayu: Tante Rita tenang aja, nanti Bayu bantu bikin Riani jadi kaya sebelumnya.


Rita: Makasih ya, Nak Bayu. Kamu emang baik banget, makasih juga sudah mau sama anak Tante.


Rita: Nak Bayu, kamu tahu di mana Riani?


Bayu: Saya nggak perduli lagi sama dia, Tan.


Rita: Tolong bantu carikan Riani, Nak.


Beberapa hari kemudian.


Bayu: Tadi saya ketemu dia.


Rita: Di mana, Bay?


Bayu: Gang pinggir jalan, dia selingkuh.


Riani yang membaca itu hanya bisa mengernyitkan dahi. Jelas bahwa Bayu hanya mengarang cerita saja.


Pesan-pesan berikutnya dikirim oleh Rita sendiri yang meminta Bayu untuk membantu mencari Riani. Bahkan Rita juga mengatakan akan menikahkan Riani dengan Bayu jika berhasil menemukan Riani kembali.

__ADS_1


"Jadi ini alasan ibu--"


PRANG!!!


Suara benda jatuh terdengar dari arah kamar, Riani segera beranjak dari tempat tidurnya. Langkah kedua kakinya dengan cepat keluar dari kamar dan masuk ke kamar yang berada tepat di depan kamarnya.


Riani mendapati ibunya yang tengah melayang, bukan lagi terbaring namun melayang di atas ranjangnya sendiri.


"IBU ...!!!" teriak Riani yang segera menghampiri ibunya.


Beberapa langkah tersisa untuk sampai di tempat ibunya, tubuh perempuan itu terhempas ke atas permukaan tempat tidur. Tentu saja Riani sangat shock melihat hal tersebut.


"Ibu ... apa yang terjadi, Bu?" tanya Riani dengan tangannya yang menepuk-nepuk pipi ibunya. "Bu ... bangun, Bu."


Riani benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Ia mengambil smartphone-nya di dalam kamar dan menghubungi Sella.


"Sella, tolongin ibuku." Riani berkata cepat sesaat setelah panggilan suara itu terhubung.


"Oh, iya ya."


Panggilan suara itu terputus. Riani berlari ke arah kotak obat, ia mengambil minyak aroma terapi dan mulai menggunakannya di depan hidung ibunya dengan harapan ibunya akan bangun.


Suara pintu rumah yang dibuka terdengar dari atas, Riani keluar kamar dan mendapati Sella yang sedang berjalan masuk ke dalam kamar. Tidak hanya Sella, tapi Riani juga melihat keberadaan Pak Abdul.


"Tutup lagi pintunya," ujar Riani setengah berteriak saat melihat Pak Abdul masuk begitu saja tanpa menutup pintu.


Ketiganya masuk ke dalam kamar.


"Kenapa ini berantakan banget kaya gini sih, Ri?"


"Tadi kan aku bawain makan malam terus aku lihat ibu lagi tidur jadi ya udah aku biarin, aku masuk ke kamar. Terus nggak lama aku denger ada yang jatuh, pas aku ke sini lagi aku udah lihat ibuku ngambang. Itu bener-bener ngambang di atas tempat tidur." Riani mengangkat kedua tangan dengan jari telunjuk dari jari tengah yang tetap mengacung. "Sumpah aku nggak bohong."


"Kamu bikin teh hangat aja buat ibu, biar Bapak yang bantu ibu kamu."


Riani menurut, ia menganggukkan kepala.


Langkah kedua kakinya berjalan menuruni tangga menuju ke dapur. Suasananya seketika berubah menjadi hening, namun ada suara aneh dari arah ruang bersantai. Seperti suara tetesan air yang terdengar jelas.


"Tidak mungkin air, kan? Lagian malam ini sama sekali nggak hujan."


Semakin mendekat, suara itu sekakin jelas terdengar. Pandangan mata Riani menyusuri ruangan dengan lampu yang masih padam. Di ujung ruangan yang gelap ini, terlihat sesuatu dengan hitam yang lebíh pekat.

__ADS_1


Riani mengalakan lampu ruangan, ia melihat sosok yang dibalut kain putih. Wajahnya hancur dan penuh luka serta belatung yang beberapa jatuh ke lantai, bola matanya menyeruak keluar. Kain putih itu penuh darah dan tanah. Ada sebuah tali yang mengikatnya dan sosok itu tampak berusaha untuk melepaskan diri.


Di balik wajahnya yang menyeramkan, Riani merasa mengenali wajah yang sangat tidak asing itu. Riani bisa melihat jika itu adalah ayahnya.


__ADS_2