PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Penyelidikan


__ADS_3

Tepat pukul dua belas dini hari, Riani berjalan keluar perlahan-lahan dari dalam ruangan.


Tidak hanya dirinya sendirian, Bayu juga berjalan di belakangnya dengan ponsel yang sudah diisi daya hingga penuh.


"Cepetan!" pekik Riani sedikit tertahan.


"Sebentar," jawab Bayu dengan bisikan.


Ia keluar dari ruang rawat inap dengan pelan-pelan untuk tidak membangunkan Rita ataupun Dwi yang sedang beristirahat di dalam. Pintu ruangan kembali ditutup dengan perlahan agar tidak mengganggu mereka yang tengah tertidur lelap.


"Udah?" bisik Riani tatkala melihat Bayu yang perlahan berjalan mendekat.


Bayu menganggukkan kepala.


Keduanya berjalan perlahan-lahan menuju ke toilet perempuan. Menoleh ke arah kanan dan kiri, Riani tak mendapati seorang pun selain dirinya dan Bayu.


Sepi, hening, sunyi, senyap adalah kata yang mampu menggambarkan apa yang dirasakan Riani saat ini.


"Pelan-pelan," bisik Riani saat ia hendak melewati sebuah ruangan dengan beberapa perawat yang berjaga.


Untungnya perawat itu juga nampak sedang terlelap.


Kedua kaki keduanya kini sudah berdiri tepat di depan toilet perempuan. Pandangan mata mereka berdua melihat ke arah yang sama, ke arah toilet dengan lampu yang menyala.


Keduanya sama-sama menoleh hingga pandangan mata mereka bertemu beberapa saat. Mereka berdua menganggukkan kepala tanda keduanya telah siap.


Tidak terdapat CCTV di sekitar toilet membuat Riani dan Bayu merasa aman. Apalagi setelah penemuan mayat perempuan itu juga tidak ada tindakan apapun dan toilet masih tetap digunakan.


"Kamu jangan ninggalin aku ya, Bay," ujar Riani mewanti-wanti.


Bayu yang berjalan di belakang Riani menganggukkan kepala. "Santai aja, Ri, aku bakal terus ada di dekat kamu."


Langkah kaki keduanya berjalan memasuki toilet. Lampu toilet meremang, tapi tidak sampai padam.


Hal itu sudah membuat bulu kuduk mereka berdiri. Apalagi saat semilir angin menerpa wajah mereka menambah ketakutan dalam diri.


"Kita yakin mau masuk ke sana, Bay?" tanya Riani, ia merasa ragu.


"Iyalah, Ri, nanggung juga udah sampai sini masa mau balik lagi?"


Riani memantapkan diri. Ia kembali melangkahkan kaki namun tiba-tiba saja ia merasakan ada sesuatu yang memegang salah satu pergelangan kakinya.


"AAA!!!"

__ADS_1


Riani yang terkejut lantas berteriak, ia berbalik badan dan menabrak Bayu yang ada di belakangnya.


Pada saat yang sama lampu toilet padam sepenuhnya dan suara berisik terdengar.


"Bayu ... Bayu," ujar Riani dengan suara yang bergetar, ia sangat katakutan apalagi dengan kondisi ruangan yang benar-benar gelap.


Suara gemericik air terdengar sayup-sayup dan perlahan semakin jelas.


Baik Riani maupun Bayu keduanya sama-sama panik. Bayu berlari menuju pintu toilet namun ia mendapati pintu yang tertutup rapat.


"Nyalakan senternya, Bay!" perintah Riani karena Bayu tak kunjung berhasil membuka pintu.


"Tapi ini kekunci, Ri," ujar Bayu masih terus berusaha untuk membuka pintu tersebut.


Kedua tangan Bayu merogoh saku celana untuk mengambil smartphone yang ia simpan di dalam sana. Pergerakannya terbatas karena Riani berdiri sangat dekat dengannya.


Nafas mereka beradu dalam toilet yang hening. Tak ada suara apapun sehingga nafas mereka yang seakan bersahutan terdengar begitu jelas.


Benda pipih itu sudah ada dalam genggaman tangan Bayu. Secercah cahaya menyinari wajah laki-laki itu tatkala smartphone dinyalakan.


Bayu mengaktifkan senter dan mulai mengarahkannya ke pintu.


Ia kembali berusaha untuk membuka pintu tersebut, berkali-kali dengan sekuat tenaga namun pintu itu tetap tak bisa terbuka.


"Coba sama aku," ujar Riani, ia merasa geram dengan usaha Bayu yang tak kunjung berhasil.


Riani menghiraukan ucapan laki-laki itu. Ia merasa yakin jika bisa melakukannya.


Kedua tangan Riani sudah menggenggam gagang pintu. Ia memutar ke bawah dan menariknya dengan sekuat tenaga.


Terbuka!


Pintu toilet yang semula sangat sulit dibuka itu kini telah terbuka.


"Tuh kan, emang tenaga kamu aja yang nggak ada!" kesal Riani karena Bayu telah menyepelekannya. "Udahlah kita balik ke kamar ibu aja."


Riani melangkah keluar, namun seketika kulit tubuhnya merasakan hawa yang berbeda.


Pandangan mata Riani menyapu ke sekitar. Ia menghentikan langkah kakinya.


"Aduh!" protes Bayu yang tak sengaja menabrak Riani yang tiba-tiba berhenti. "Ada apa sih, Ri?! Cepetan jalan."


"Kamu nggak lihat, Bay?"

__ADS_1


Pertanyaan Riani membuat pandangan Bayu yang semula melihat ke smartphone-nya kini mulai melihat ke sekeliling.


Mereka berdua tidak lagi berada dalam rumah sakít yang sama.


"Ki--kita di mana, Ri?" tanya Bayu dengan suara yang bergetar, ia melihat ke sekitar dengan bantuan cahaya senter dari smartphone-nya karena pencahayaan cukup buruk.


Riani mengangkat kedua bahu. "Kita masuk ke toilet aja lagi."


"Nggak mau ah serem! Nanti kekunci lagi di dalam gimana?" tolak Bayu.


"Tapi di luar sini lebih serem, Bay, kita nggak tahu lagi ada di mana," ujar Riani. "Kayanya kita masuk ke dimensi lain deh."


Sayup-sayup terdengar suara troli yang didorong. Dalam gelap dan senyap, Bayu dan Riani terdiam menanti suara itu mendekat.


Semakin lama semakin jelas suara itu mendekat ke arah mereka. Riani bisa melihat di ujung lorong gelap dengan hanya satu lampu redup yang menyala, seorang perawat berseragam serba putih berjalan sembari membawa troli yang biasanya digunakan untuk membawa makanan bagi pasien.


Keduanya membisu saat perawat itu mendekat. Decitan roda pada trolinya terdengar semakin keras dalam heningnya malam yang pekat.


"Ma--maaf, pi--pintu keluar di mana ya?" Bayu bersuara.


Mendengar Bayu bertanya, Riani meremas lengan laki-laki itu. Baginya mengajak perawat itu berbicara adalah sebuah ide yang buruk.


Dalam hati Riani sudah cukup yakin jika ia tidak lagi berada dalam dunia manusia. Ia sudah masuk ke dalam dunia makhluk lain dan entah bagaimana caranya agar bisa terbebas dari sini.


Suara roda troli yang berdecit tak lagi terdengar. Perawat itu menghentikan langkah kakinya tepat di depan Bayu dan Riani.


Kepalanya berputar menghadap ke arah Bayu dan Riani, sementara tubuhnya tetap menghadap ke depan.


"AAAA!!!"


Perawat perempuan dengan rambut sebahu itu menyeringai, kulit wajahnya kusam, ada lingkaran hitam di sekitar matanya dan beberapa luka lebam. Seram.


Riani segera menarik tangan Bayu untuk menjauh. Sementara itu terdengar suara kekehan dari perawat dengan kepala yang telah berputar 180° dan terus memperhatikan dua manusia yang berlari tunggang-langgang karena ketakutan.


"Tunggu ... tunggu, Ri," ujar Bayu berusaha menghentikan Riani.


"Ada apa lagi sih?!" kesal Riani di sela deru nafasnya.


Tangan Bayu telah terlepas dari Riani. Ia menekuk tubuhnya dengan tangan yang bertumpu pada lutut. Nafasnya yang terengah-engah dan tubuhnya terasa begitu lemah.


"HP ... HP." Nafasnya tak beraturan. Ia menunjuk ke belakang.


"HP kamu jatuh?!"

__ADS_1


Bayu mengangguk dalam ketidakberdayaan. Nafasnya masih tersengal-sengal, ia memejamkan mata sesekali dengan peluh yang mengalir deras dari pelipis.


"Jatuh di mana, Bay?!"


__ADS_2