PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Hati-hati


__ADS_3

"Hati-hati ya ... semoga selamat sampai tujuan."


Kepergian Riani, Bayu dan Manda diiringi oleh lambaian tangan dari perempuan itu.


Jam sudah menunjukkan pukul liam sore. Matahari sudah berada di ujung barat dan hampir tenggelam.


Hari ini angin berhembus kencang dan kesempatan ini digunakan oleh anak-anak untuk bermain layangan. Terlihat di atas langit yang memutuh karena awan, beberapa layangan terbang dengan indah dikemudian oleh anak-anak yang berkumpul di lapangan.


Rasanya damai, sekaligus takjub. Entah sudah berapa tahun Riani tak melihat pemandangan seperti ini.


Tanpa terasa, ia jatuh tertidur karena lelah yang membuatnya mengantuk.


Tubuhnya bergoyang mengikuti mobil yang mulai memasuki jalanan tak beraspal. Goyangan yang hampir terjadi sepanjang sisa perjalaann itu membuat Riani membuka mata.


Gelap, tidak ada lampu di sisi jalan.


Riani menoleh ke arah Bayu, laki-laki itu juga tertidur. Nampaknya ia sangat lelap dan Riani enggan untuk membangunkannya.


"Kita di mana, Man?" tanya Riani, memberanikan diri bertanya pada laki-laki yang masih terlalu asing baginya.


"Udah hampir sampai, kok," jawab Manda dengan pandangan mata yang terus melihat ke depan.


Terlihat jalanan yang tersorot lampu mobil itu tak beraspal, melainkan hanya batu-batu yang ditata sedemikian rupa. Tidak heran jika saat mobil ini melintas, goyangannya akan selalu ada.


Pandangan mata Riani melihat ke arah jam yang ada di dashboard. Waktu menunjukkan pukul 13.32, tentu saja jam itu salah.


"Kok jamnya nggak dibenerin, Man?" tanya Riani kemudian.


Manda sedikit melirik ke arah penunjuk waktu dengan angka yang menyala merah. "Iya, hehehe, nggak sempat."


Tak memiliki ide pembicaraan lain, Riani memilih untuk diam. Ia merasakan perutnya lapar dan memutuskan untuk memakan roti yang ia bawa dari kota dan baru dimakan setengah saat perjalanan di kereta.


Sepanjang jalan masih sama, tidak ada yang bisa dilihat. Kanan kiri merupakan hutan belantara, tanpa ada satupun rumah.


"Itu gapura desa?" tanya Riani saat melihat sebuah gapura yang cukup bagus.


Dibuat dari bambu dan blarak (daun kelapa yang sudah kering), ada juga anyaman penampi yang diwarnai untuk menghias di bagian atas dan sisi kanan serta kiri gapura tersebut.


"Iya, kita sudah memasuki kawasan desa," jawab Manda, ia terus mengemudikan mobil.


Namun setelah melewati gapura desa itu pun, Riani masih belum bisa melihat adanya rumah-rumah penduduk. Jalanan juga masih dari batu-batu yang ditata sedemikian rupa.


'Apa kampung tempat tinggal Bayu sepelosok ini!' batin Riani, ia menyesap air mineral sembari terus mengamati sekitar.


Riani tak menyadari jika ia kembali terlelap, tiba-tiba saja ia merasakan pipinya ditepuk oleh seseorang berulang-ulang kali.


Perlahan Riani membuat mata, ia mendapati Bayu yang nampak sibuk untuk merapikan barang bawaan.

__ADS_1


"Ri, ba--" Bayu menghentikan kalimatnya saat ia mendapati Riani yang sudah membuka mata.


"Kita udah sampai?" tanya Riani dengan suara yang berat karena baru saja terbangun dari tidur.


Bayu mengangguk. "Ayu turun, kita istirhsat di rumah saja."


Riani menurut.


Bayu terlebih dahulu keluar dari mobil dengan membawa serta barang bawaan pada kedua tangannya.


Mengerti jika Bayu masih kerepotan, Riani memutuskan untuk membuka pintu mobil sendiri.


Ia menginjakkan kedua kakinya di jalanan berbatu itu. Pandangan matanya melihat ke arah rumah yang terbuat dari anyaman bambu dengan penerangan oren hangat di dalamnya.


Di bagian ambang pintu sudah terlihat seorang laki-laki dan perempuan dalam usia sekitar empat puluh tahunan.


"Kenalin, Ri, ini bapak sama ibuku." Bayu memperkenalkan diri.


"Riani," ujar Riani sembari menjabat tangan laki-laki yang terasa kasar itu, kemudian baru menjabat tangan perempuan yang berdiri di sebelah si laki-laki. "Riani." Ternyata tangan mereka berdua sama-sama kasar.


"Masuk, Nduk," ujar sang ibu dengan lembutnya.


Keempatnya duduk di ruang tamu dengan meja dan kursi dari kayu. Sangat berbeda dengan yang ada di rumah Riani.


Di atas meja itu sudah ada empat gelas berisi teh manis panas yang baru saja dihidangkan oleh si perempuan. Riani menyesapnya, rasa teh yang pekat dengan aroma melati yang menenangkan.


"Rumah Bayu ya kaya gini, Nduk. Saya, Suwiryo, bapaknya Bayu cuma kerja di sawah. Ini istri saya, Utari, ibu tirinya Bayu, dia juga cuma bekerja di kebun," jelas laki-laki yang rupanya bernama Suwiryo itu.


"Nggak mungkin sama lah, Nduk. Kamu di kota pasti rumahnya lebih bagus, lebih rapih, nggak kaya di sini."


Tak ada yang bisa Riani lakukan selain mengangguk dan memaksa diri untuk tersenyum. Ia merasa tidak nyaman jika dibanding-bandingkan seperti ini.


"Udah malam, Pak, Buk, kami capek mau istirahat." Bayu beranjak dari duduknya.


"Oh, iya, biat Ibu kasih tahu di mana kamar Riani," ujar Utari yang lantas beranjak dari duduknya. "Ayo, Nduk."


Riani turut beranjak dari duduknya. Mereka bertiga meninggalkan ruang tamu dengan Suwiryo yang masih duduk di tempat yang sama, menikmati teh yang masih hangat.


"Nah, ini kamar kamu di sini, Nduk," ujar Utari, ia membukakan pintu kamar yang sederhana dari kayu dan tidak mendapat sedikitpun polesan cat. "Maaf ya, Nduk, kaya gini kamarnya."


"Iya, nggak papa, Bu," ujar Riani, ia memperhatikan bilik kecil berukuran dua meter persegi dengan sebuah kasur busa yang tergeletak begitu saja di atas lantai.


Kasur busa itu berukuran single dengan satu bantal tidur dan satu bantal guling. Ada sebuah kain bermotif batik yang bisa digunakan sebagai selimut, meskipun terlalu tipis.


"Ibi tinggal ya, Nduk, kalau butuh sesuatu tengah malam panggil aja." Ia beralih ke belakang. "Ini kamar Ibu."


Riani mengangguk. "Terima kasih, Bu. Kalau gitu aku mau ganti baju dan bersihin muka dulu."

__ADS_1


"Ya udah, kalau butuh apa-apa Ibu di ruang tamu, Ibu belum ngantuk, jadi Ibu mau nemenin bapaknya Bayu dulu." Ia terkekeh untuk mengakhiri kalimatnya.


Sementara Utari berjalan kembali ke ruang keluarga, Riani berjalan masuk ke dalam kamar. Ia mengunci pintu kayu dengan kunci zaman dulu yang masih digunakan di bagian belakang pintu tersebut. Kayu kecil yang ada di bagian belakang pintu diputar hingga posisinya horizontal.


Tas berisi pakaian yang akan digunakan selama satu minggu di sini diletakkan begitu saja di atas lantai kamar. Riani tak melihat adanya kaca atau meja kecil yang bisa dia gunakan untuk menyimpan skincare dan juha produk kecantikannya, tidak ada juga lemari untuk menyimpan pakaian di dalam sini. Hanya ada sebuah meja yang berada tepat di sebelah kasur busa.


Riani mulai mengeluarkan barang-barangnya, ia menata pakaian di atas meja itu, begitu juga dengan barang-barang yang lain.


Usai membersihkan make up yang sebenarnya sudah hilang sejak dalam perjalanan, Riani keluar dari kamar.


Suara pintu kamar yang berdecit sepertinya terdengar oleh Utari. Ia kembali mendekat ke arah Riani yang kini berdiri di depan pintu kamar.


"Aku mau ke kamar kecil, Bu, di mana ya?"


"Oh, mau ke kamar kecil ya? Ayo sini ikutin Ibu," ujarnya yang kemudian melangkah melewati Riani.


Di tangan Riani sudah ada sabun mandi, sikat gigi dan sabun cair serta handuk kecil. Ia tidak akan mandi karena udara di sini terasa cukup dingin, tapi hanya ingin mencuci tangan, kaki, wajah dan menyikat gigi.


"Di pakai dulu sandalnya," ujar Utari menghentikan langkah kakinya.


Ada tiga sandal jepit dengan ukuran besar dan Riani memakai salah satunya. Ia memasuki ruangan dengan kandang kambing dan ayam, hanya ada satu lampu yang menerangi dan lantai ruangan ini juga masih berupa tanah yang membuat Riani harus memakai sandal agar telapak kakinya tetap bersih.


Saat sedang memakai sandal jepit itu, Riani menyadari jika Utari mengambil sesuatu di dalam plastik hitam yang menggantung di dinding, namun Riani tak begitu perduli.


Keduanya kembali melanjutkan langkah. Rupanya kamar mandi itu tidak berada di dalam ruangan ini, melainkan Utari membuka sebuah pintu yang terkunci.


Merasa bahwa ada kamar kecil di balik pintu itu, tebakan Riani salah.


Pintu tersebut justru mengarah ke bagian belakang. Riani keluar dari rumah bersama dengan Utari. Gelap, tidak ada pencahayaan di sekitar sini.


Utari menyalakan senter yang menyala tak terlalu terang. Saat ini Riani baru sadar jika tadi Utari mengambil senter untuk penerangan.


Langkah kaki Riani mengikuti Utari dengan mengandalkan cahaya bulan karena Utari yang memegang senter justru berjalan di depan.


"Nah, kamu masuklah."


Riani melihat ke arah kamar kecil dengan kolam yang berukuran besar di dalamnya, menyeramkan.


"Ini senternya," lanjut Utari memberikan senter yanh menyala tak begitu terang itu kepada Riani.


"Ibu pakai apa?"


"Udah, masih ada cahaya bulan."


Riani menurut, ia masuk ke dalam kamar kecil dengan membawa senter sebagai penerangan.


Ia memperhatikan kolam yang besar dan sepertinya juga dalam, atau mungkin karena cahaya senter yang tidak terlalu terang sehingga tak bisa menembus ke bagian bawah kolam. Riani menutup korden yang digunakan untuk menuntup ambang pintu tanpa pintu. Ia meletkkan sabun-sabun dan handuk kecil yang dia bawa di dekat kolam.

__ADS_1


Dalam keheningan, terdengar suara air dan terlihat bagian tengah kolam seperti ada gelembung yang keluar dari dalam air.


"Apa itu? Nggak mungkin ikan, kan?"


__ADS_2