PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Sesuatu di Dalam Kolam


__ADS_3

Gelembung dalam air menghilang menyisakan keheningan. Riani bergerak perlahan. Ia masih belum berani untuk menyentuh air di dalam kolam, namun tidak ada air lain yang bisa dia gunakan.


"Kamu lagi apa di dalam, Nduk?"


"Oh ... e ... i--ini, lagi ambil sabun, Bu."


Riani segera mengambil sabun seperti yang sudah ia katakan. Busa sabun mulai ia ratakan pada kedua kaki dan tangannya.


Dengan menggunakan gayung yang sudah berlubang di bagian bawah, Riani mulai mengambil air di dalam kolam.


Tidak ada suatu apapun terjadi, padahal sebelumnya Riani sudah sangat ketakutan.


Meyakini tidak ada apa-apa di dalam kolam, Riani mulai berani untuk mengambil air dari dalam kolam tersebut dengan cepat.


"Udah?" tanya Utari sesaat setelah Riani keluar dari bilik kamar mandi.


Riani hanya menganggukkan kepala.


"Ya udah, ayo cepetan, jangan lama-lama."


Langkah kaki Utari terlebih dahulu berjalan menuju ke pintu belakang rumah, kemudian disusul oleh Riani yang masih membawa senter di tangan kanannya.


Terdengar pintu belakang yang dikunci oleh Utari saat Riani melepas sandal dan meletakkan senter di dalam plastik hitam yang menggantung di atas sebuah kandang ayam.


"Tidur, istirahat, kamu pasti capek, kan? Kalau nanti dengar apa-apa diam aja."


Riani mengangguk, ia lantas masuk ke dalam kamar.


Ia mengambil skincare yang sudah ia susun rapih di atas meja dan mulai mengaplikasikannya.


"Bayu kok nggak kelihatan lagi, ya? Apa dia langsung tidur nggak bersih-bersih dulu?" lirih Riani bermonolog dengan dirinya sendiri.


Ia mengambil smartphone dengan daya yang masih tersisa tiga puluh persen. Masuk ke dalam aplikasi perpesanan, Riani mengirimkan sebuah pesan untuk kekasihnya.


Riani: Bay.


Namun pesan tersebut tidak kunjung terkirim. Kedua mata Riani masih terus memperhatikan tanda yang menunjukkan bahwa pesan tersebut masih belum terkirim.


Beberapa detik berlalu, pandangan mata Riani beralih ke bagian atas layar. Terlihat di sana tidak ada signal sama sekali.


"Huh, pantas aja."


Tak ada yang bisa dilakukan oleh Riani dengan ponselnya karena tidak ada satupun signal di sini. Riani membuka aplikasi pemutar video, setidaknya agar ada suara yang akan menemaninya tidur, namun ia lupa, ia tak pernah mengunduh video apapun yang bisa diputar secara offline.


"Argh ... bodoh! Bayu juga kenapa nggak bilang kalau di sini nggak ada signal sama sekali sih?!" kesal Riani, ia melempar smartphone-nya ke sisi ranjang.


Kedua lututnya ditekuk hingga hampir menyentuh dada. Ia menutup tubuhnya dengan kain tipis yang sudah disediakan, meskipun rasa dingin itu masih saja terasa.


Beberapa saat memejamkan kedua mata, Riani masih belum juga bisa tertidur.


Suasana semakin sepi, hanya ada keheningan dengan hewan malam ataupun kambing di belakang rumah yang sesekali terdengar bersuara.


"Bosen banget, ngapain ya?" Riani beranjak dari tidur, ia kini setengah duduk di atas kasur busa yang menjadi tempat tidurnya.


Pandangan matanya beredar ke sekeliling ruangan. Lampu yang menyinari ruangan ini tidak begitu terang. Pada saat ini Riani baru menyadari jika ruang kamar yang ditempatinya sangat tertutup.


Beberapa pakaian yang mungkin milik Utari ataupun Suwiryo tergantung di bagian belakang pintu. Jam dinding juga terlihat menggantung di sisi dinding yang sejajar dengan pintu. Setelah itu, tidak ada apapun lagi selain meja dan kasur busa yang kini sedang digunakan oleh Riani.


Tak ada yang mungkin bisa dilakukan, Riani memutuskan untuk kembali merebahkan diri. Ia memejamkan mata dan terus memejamkannya selama mungkin, hingga ia tertidur.


Masih sembari terpejam, Riani menepuk lengannya yang terasa gatal. Setelah itu terdengar suara dengung nyamuk yang sangat keras karena suasana sedang sepi.


Alih-alih merasa kesal, Riani justru merasa kasihan. Sejak kecil Bayu hidup di sini, mengalami semua ini. Sangat berbeda jauh dengan dirinya yang penuh kenyamanan.

__ADS_1


Dalam hati ia merasa syukur atas apa yang sudah orang tua berikan kepadanya. Ia merasa bersyukur, terlahir di keluarga yang serba berkecukupan.


Suara burung-burung membangunkan Rian dari istirahat yang singkat. Suaranya sangat dekat, mungkin burung-burung itu asyik bernyanyi tepat di atas kamar.


Merasa sudah tidak lagi lelah dan ngantuk, Riani berniat untuk keluar melihat keadaan desa.


Pada saat membuka pintu kamar, Riani tak mendapati siapa-siapa. Sepi, hening, sepertinya semua orang belum bangun.


Namun tiba-tiba saja, Riani mendengar suara dari dapur. Perlahan langkah kakinya mendekat, mengenakan sandal yang disediakan dan semakin mendekat ke arah dapur yang masih sangat tradisional.


Bau wangi masakan tercium saat Riani sudah hampir mencapai ambang pintu dapur.


"Ibu," panggil Riani, mendapati ibunya yang tengah sibuk di atas tungku.


Perempuan itu menoleh. "Eh, Riani, udah bangun, Nduk?"


"Udah, Bu," jawab Riani sembari mengangguk dan tersenyum. "Apa ada yang bisa aku bantu?"


Perempuan yang kembali sibuk dengan kuali besar di atas tungku itu menoleh untuk yang kedua kali. Ia melihat ke arah Riani, mengusap kepalanya dengan lembut sembari tersenyum. "Cah ayu kaya kamu masa masaknya di dapur yang kaya gini."


"Ya nggak papa kan, Bu? Emang apa salahnya?"


"Ya nggak salah juga, sih ... ya udah, kalau kamu bantuin, kamu cuci muka dulu gih."


Riani mengangguk.


"Udah tahu kan di mana kamar mandinya?"


"Udah, Bu," ujar Riani yang kembali mengangguk. "Kalau gitu aku ke kamar kecil dulu."


Riani melangkahkan kedua kaki pergi menjauh dari dapur diiringi dengan suara Utari yang terkekeh.


Kamar kecil itu tak semenyeramkan semalam. Bahkan di sana sudah ada dia wanita dengan rentang usia yang sangat jelas terlihat.


"Nggak tahu," ujar si perempuan dengan usai sekitar dua puluh tahunan itu mengangkat kedua bahunya.


Seulas senyum tercipta pada bibir Riani saat ia semakin melangkah mendekat. "Nyuci, Bu?" sapa Riani, basa-basi.


Keduanya tertawa terpaksa.


"Iya ini, kamu ... siapa ya?"


"Oh, saya Riani, pacarnya Bayu."


"Oh ... pacarnya Bayu ternyata," ujar perempuan yang nampak tua dengan tubuh yang berisi.


"Cantik kamu, Mba, pinter juga Bayu pilih pasangan," ujar perempuan yang lebih muda, ia lantas melurik ke arah perempuan di sebelahnya dan mereka berdua bermain mata.


Riani terkekeh. "Terima kasih."


Tak ingin terlalu lama bersama dua perempuan itu, Riani segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan membersihkan sebagian tubuhnya.


"Kamu disuruh merantau biar dapat laki-laki yang lebih ganteng, lebih tajir, lebih mapan nggak mau."


"Yah, udah jodoh sama yang ini, Bu."


"Fira ... Fira, kamu main terima aja lamaran orang, nggak dilihat dulu bibit, bebet, bobotnya."


"Udahlah, Bu, lagian aku juga cinta kok sama Mas Tarno."


"Tarno itu jelek, miskin, nggak punya apa-apa, kamu masih cinta? Mikir dong, Fir, kamu hidup butuh biaya, butuh makan, butuh ini, butuh itu, dikira semua bisa dibeli pakai cinta?!"


"Tapi dengan cinta kan bisa dihadapi bersama-sama, Bu."

__ADS_1


"Susah ngomong sama orang yang udah buta sama cinta kaya kamu, Fir."


Riani mendengar percakapan itu dari dalam kamar mandi. Sebenarnya ia sudah selesai membasuh muka, tangan dan kakinya, tapi ia enggan keluar. Bukan, bukan karena ia ingin menguping pembicaraan antara ibu dan anak tersebut, namun karena ia tidak enak hati jika harus keluar dan memotong perbincangan yang lebih tepatnya perdebatan mereka berdua.


Beberapa menit berlalu akhirnya mereka menghentikan perdebatan kecil itu. Riani keluar dari kamar kecil dengan wajah yang masih basah. Ia kembali tersenyum ke arah dua perempuan yang sedang mencuci pakaian itu, lantas segera masuk ke dalam rumah.


Dapur sudah kosong, Utari tak lagi berada di dalam. Rupanya, ia sedang menata makanan di meja makan yang sekaligus merangkap sebagai meja tamu. Ya, tidak akan ruang makan di rumah ini.


"Maaf, Bu, lama, jadi nggak jadi bantuin deh."


"Nggak papa, Nduk, kamu kan tamu. Udah, duduk, kita makan bareng-bareng. Biar Ibu panggil bapak, Bayu sama adik-adiknya dulu."


Riani mengangguk. Pandangan matanya mengikuti arah Utari pergi.


Suwiryo keluar dari kamar dengan berjalan sedikit sempoyongan, sepertinya rasa kantuk masih menyerang dirinya.


Sementara Bayu keluar dengan mengusap kedua matanya. Ia juga terlihat masih sangat mengantuk dengan kedua mata yang memerah.


Disusul oleh dua anak kecil berusia sekitar sepuluh dan tujuh tahun. Mereka justru berlari ke arah ruang tamu yang pagi ini digunakan sebagai ruang makan.


"Kamu udah bangun, Ri?" tanya Bayu yang baru saja mendudukan tubuhnya.


Riani mengangguk. "Kamu susah banget dibangunin."


"Iya, masih ngantuk banget," ujar Bayu yang lantas menguap. "Gimana tidur semalam, Ri? Nyaman?"


"Nyaman aja sih, Bay," ujar Riani berbohong.


"Syukur deh, semog betah ya, Ri."


"Udah ngobrolnya dilanjut nanti, sekarang makan dulu."


Di ruang tamu yang kini menjadi ruang makan, semua orang yang ada di rumah melangsungkan sarapan. Tidak ada yang berbicara, hanya ada suara sendok dan piring yang saling beradu. Ada juga suara adik-adik Bayu yang berisik saat makan. Tapi Riani memaklumi hal itu.


Selesai menyantap sarapan, Suwiryo segera keluar dari rumah sembari membawa cangkul, Utari kembali ke dapur, Bayu duduk di kursi luar dan kedua adiknya pergi entah ke mana.


"Mau dibantu, Bu?" tanya Riani, menghampiri Utari yang sedang mencuci piring kotor bekas makan tadi.


"Boleh," ujarnya, lantas beranjak dari kursi kecil sebagai tempat ia duduk. "Kamu lanjutin cuci piring ya, nanti Ibu mau siapin bekal buat bapak."


"Iya, Bu."


Riani duduk di kursi kecil itu sementara Utari masuk ke dalam rumah.


Dua perempuan yang tadi ditemuinya sudah selesai mencuci pakaian. Kini di kamar mandi hanya ada Riani.


Meskipun jarang mencuci piring, tapi setidaknya ia mengetahui bagaimana caranya.


Piring-piring yang sudah bersih dimasukkan ke dalam keranjang. Riani berdiri untuk mengangkatnya masuk ke dalam rumah. Namun ia mendengar suara gelembung dari dalam kamar mandi.


Riani beralih, ia yang masih penasaran mendekat ke arah ambang pintu dengan korden yang terbuka.


Gelembung-gelembung itu ada di bagian tengah kolam. Setidaknya, sekarang tidak seseram tadi malam.


"Apa itu?" lirih Riani saat melihat gelembung-gelembung itu semakin banyak bermunculan. "Ikan?"


Kedua matanya menyipit, ia sekarang sudah berada di dekat kolam, bahkan tangannya memegangi pinggiran kolam itu.


Ada sesuatu di tengah kolam, Riani bisa melihatnya meskipun samar. Seperti alga hitam yang tumbuh besar di tengah kolam. Tapi mungkinkah ganggang tubuh selebat itu di bagian tengah kolam dan tidak ada yang membersihkannya? Jika iya pun, bukannya alga tak memunculkan gelembung?


Saat sedang mengamatinya lebih dekat, Riani melihat sesuatu seperti alga itu bergerak mendekat, cepat.


"AAAA!!!"

__ADS_1


__ADS_2