PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Aneh


__ADS_3

Difki menggelengkan kepala, laki-laki itu lantas tersenyum kaku. "Nggak papa kok." Pandangan matanya melihat ke arah Riani yang berdiri membelakangi keduanya. "Aku balik dulu ya, Ra."


"Loh, nggak nanti aja biar bareng?" tanya Nindira yang melihat Difki beranjak dari duduknya.


Laki-laki itu menggelengkan kepala. "Nggak ah, aku mau balik duluan. Lagian Riani juga udah ada temannya." Ia memberikan senyuman.


"Aneh," ucap Nindira yang memandang kepergian Difki dari hadapannya.


Riani berjalan mendekat usai mengangkat panggilan telepon dari kekasihnya. Ia mendapati hanya ada Nindira yang masih duduk di sana.


"Difki mana, Ra?" tanya Riani sembari mendudukkan tubuh di dekat perempuan itu.


"Udah balik," jawab Nindira singkat, pandangan matanya fokus melihat ke arah smartphone yang ada dalam genggaman tangannya.


Waktu sudah mendekati pukul satu siang. Riani membereskan sampah bekas makan dia dan Nindira.


"Ayo masuk, lima menit lagi udah jam satu." Riani beranjak sembari dengan sampah-sampah itu di ganggaman tangan, ia lantas memasukkannya ke dalam tong sampah yang ada di sekitar tempat ini.


Keduanya kembali masuk ke dalam area mall. Tepat jam satu siang, Riani sudah kembali bekerja.


"Yang ini dibungkusin pakai plastik," jelas seorang pegawai.


Riani menganggukkan kepala. Ia lantas melakukan apa yang sudah dijelaskan oleh rekan kerjanya.


Hingga sore hari, pekerjaan itu belum juga selesai. Riani beranjak, pinggulnya terasa pegal karena terlalu lama duduk.


"Pulang nanti kamu mau kemana, Ri?" tanya Nindira kala keduanya sedang berjalan menuju ke ruang karyawan.


"Rumah sakit," jawab Riani dengan singkat.


"Hah? Ibu kamu sakit lagi?" Nindira menghentikan langkah kakinya.


Hal itu juga membuat Riani turut berhenti melangkah. "Bukanlah, Ra, masa sakit terus. Kan cowok aku kerja di rumah sakit."


"Oh ... mau ketemuan," ujar Nindira dengan nada meledek.


Riani tersipu malu. "Eh, enaknya bawain apa ya buat dia?"


"Ehm, udah sore gini mending yang anget-anget aka, Ri."


"Bakso?"


"Iya kaya gitu, tapi takut susah juga ya makannya."


"Nah iya kuah-kuah gitu, jangan yang kuah apaan ya, Ra?"


"Ehm." Nindira tampak berpikir. "Martabak atau roti bakar?"


"Coba deh nanti aku cari-cari di jalan, thanks ya, Ra." Riani tersenyum, mereka berdua lantas melanjutkan langkah kakinya. "Eh, kamu ikut nggak?"


"Boleh, sampai tempat biasa ya."


Sepeda motor berwarna hitam itu melaju perlahan dengan Riani yang mengendarainya. Keduanya berhenti di tempat penjual roti bakar sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan hingga ke depan sebuah gang dan sepeda motor itu kembali berhenti.


"Makasih, Ri, kamu hati-hati ya." Nindira tersenyum, ia mengambil roti bakar miliknya sendiri.


"Oke, Ra. Kamu nggak mau nemenin aku ke rumah sakit?"


"Males ah jadi obat nyamuk."

__ADS_1


Riani terkekeh. "Ya udah deh, aku jalan sekarang ya. Bye, Ra."


Di rumah sakit, Bayu sudah menunggu kedatangan Riani di kafetaria. Ia memesan segelas kopi untuk menemaninya.


"Halo?" ujar Bayu usai mengangkat panggilan suara yang masuk ke dalam smartphone-nya. "Kamu di mana?" Bayu terdiam sejenak. "Aku di kantin, kamu ke sini aja."


Panggilan suara terputus dan Bayu meletakkan smartphone-nya di atas meja. Beberapa menit berlalu, terlihat seorang perempuan dengan cardigan putih yang mendekat dengan bungkusan di tangannya.


"Kamu bawa apa, Sayang?" tanya Bayu, tersenyum mengambut kedatangan kekasihnya.


"Roti bakar coklat keju, nih, suka nggak?"


"Suka, kok."


Riani membuka bungkusan plastik tersebut. Ia mendorong kotak berisi roti bakar ke dekat Bayu. "Nih, makan. Kamu udah makan siang?"


"Udah, kok, di sini juga tadi siang. Kamu udah kan?"


Riani menganggukkan kepala, ia menyantap sepotong roti bakar dalam genggaman tangannya.


"Ri, aku mau tanya."


"Tanya apa?" Riani masih menanggapinya dengan santai.


"Kita kan udah pacaran ...."


"Hem, terus?"


"Ya walaupun belum lama sih, aku juga tahu itu. Tapi kenapa kamu nggak panggil aku sayang, baby atau apa gitu?"


Riani menghentikan gerakan mulutnya yang sedang mengunyah. "Emang harus banget ya, Bay?"


"Iyalah, secara kita kan udah pacaran, Babe."


Bayu mengangguk pelan. "Aku ngerti kok, Sayang, tapi kalau kamu mau pelan-pelan juga bisa kok."


"Iya nanti aku coba." Riani tersenyum kaku.


"Aku juga mau ngomong sama kamu, Ri."


Riani menanggapinya dengan sedikit serius kali ini. "Ngomong aja, Bay."


"Orang tuaku mau ketemu sama kamu."


Seketika kedua mata Riani terbelalak. Ia tersedak.


"Minum dulu," ujar Bayu memberikan kopi yang dia pesan.


Tanpa pikir panjang, Riani segera meminum kopi yang tersisa setengah itu. "Kamu udah cerita kalau aku sama kamu pacaran?"


Bayu mengangguk polos. "Iya, emangnya kamu nggak?"


"Be--belum, sih ... aku--aku malu." Riani menundukkan kepala.


"Iya nggak papa, Sayang. Nanti lama-lama juga kamu berani."


Riani mengangguk. "Oh, kenapa orang tua kamu mau ketemu sama aku, Bay?"


"Nggak tahu deh." Bayu mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Pengin ketemu sama calon mantunya kali."

__ADS_1


"Bay, jangan gitu ah!"


"Cie ... salting."


Riani menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Tapi nanti aku bilang ke ibu gimana?"


"Bilang aja mau ke rumah aku."


"Aku nggak berani, Bay," ujar Riani, ia terdiam.


"Mau aku yang izin?"


Riani mengangguk.


Menurutnya ini lebih baik dari pada ia yang bicara langsung kepada ibunya. Setidaknya jika tidak diizinkan, Riani tidak begitu malu.


"Oke deh, nanti aku yang bilang langsung ke Tante Rita."


"Emangnya kapan kita mau ke sana?"


"Secepatnya sih, Ri, kalau minggu ini gimana?"


"Serius, Bay!" kesal Riani.


"Aku serius, Ri."


"Ini aja udah hari kamis, Bay, kalau minggu ini berarti dua hari lagi dong?"


Bayu mengangguk santai. "Bisa nggak?"


Dengan segera Riani menggelengkan kepala. "Nggak lah, Bay, gila apa. Aku gimana izinnya, kamu juga gimana?"


"Iya juga harus ngajuin cuti."


"Paling bulan depan, Bay, gimana?"


"Kelamaan, Ri, nggak bisa lebih cepat?"


***


"Bay, kamu gimana kabarnya?" tanya Rita.


Dwi meletakkan secangkir teh di atas meja, ia lantas kembali ke dapur usai melakukan tugasnya.


"Baik kok, Tante Rita."


"Setelah nge-kost, kamu jadi jarang ke sini."


"Iya, sibuk kerja juga, Tan."


"Duh, sibuk banget yang jadi apoteker."


Bayu terkekeh. "Ya gitu lah, Tan, lumayan." Ia terdiam sejenak. "Ehm, Tante, ada yang ingin aku bicarakan sama Tante Rita."


"Bicara apa emangnya, Bay?"


"Gini, Tan, aku sama Riani kan udah pacara--"

__ADS_1


"Hah? Kalian jadian kapan?" potong Rita, ia melihat le arah Riani dan Bayu secara bergantian.


"Belum lama, sih, Tan. Tapi ... orangtuaku udah mau ketemu sama Riani, apa boleh aku bawa Riani ke kampung, Tan?"


__ADS_2