PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Mengantar Makanan


__ADS_3

"Emang pesan makanan apa, Mba?"


"Ini, ayam tiga aroma," ujar Riani sembari mengangkat bungkusan plastik di tangannya.


"Udah bayar?"


Riani menggelengkan kepala. "Katanya mau bayar di tempat."


"Boleh nggak saya lihat pesan dia?"


Riani mengangguk, ia merasa tidak masalah untuk menunjukkan hal tersebut. Hanya dengan satu tangannya saja, Riani bersusah-payah mengambil smartphone dari restoran yang dia bawa.


Percakapan antara Ibu Firda Sari dengan Riani diperlihatkan kepada satpam tersebut. Beberapa detik berlalu, laki-laki berbadan berisi dan perut buncit itu mengangguk.


"Ruangannya ada di pojok itu, Mba."


Pandangan mata Riani mengikuti arah tangan satpam tersebut menunjuk. "Pintu coklat itu ya?"


"Benar, Mba." Satpam tersebut mengangguk. "Hati-hati ya, Mba."


Riani menganggukkan kepala, ia merasa aneh dengan orang-orang yang dia temui di sini. "Padahal ruangannya jelas, kenapa harus susah banget nunjukinnya?"


Langkah kaki Riani berjalan menyusuri koridor, pintu berwarba coklat yang ada di ujung sana adalah tujuan utamanya.


Dua kali tangan Riani mengetuk pintu tersebut, namun tak ada jawaban. Saat Riani hendak mengetuknya lagi, pintu itu seketika terbuka perlahan dan memperlihatkan seorang perempuan dengan kulit putih tersenyum.


Riani bisa melihat urat-urat yang terlihat jelas pada wajahnya. Kesan pertama melihat perempuan itu, jujur saja Riani merasa kaget. Ia tak pernah melihat manusia dengan kulit lebih putih dari ini sebelumnya.


'Mungkin saja dia salah memakai produk kecantikan,' pikir Riani.


"Ini pesanan Anda, Bu. Satu porsi ayam tiga aroma." Riani menyerahkan bungkusan plastik tersebut.


Perempuan itu menerimanya, lantas tanpa berkata apa-apa masuk kembali ke dalam ruangan dengan pintu yang hanya terbuka setengah.


Di depan pintu Riani menunggu perempuan itu untuk kembali lagi, namun semakin ditunggu, Riani justru merasa ruangan itu semakin sepi seperti tak ada orang di dalamnya.


Riani merasa ragu untuk mengetik pintu di hadapannya kembali, apalagi membukanya menjadi lebih lebar. Ia takut dianggap tidak sabar atau tidak sopan.


Selama lima menit berlalu, Riani yang sudah merasa tidak sabar lagi ditambah dengan pesanan makanan yang mulai berdatangan membuat Riani memutuskan untuk mengetuk pintu itu kembali.


Beberapa kali Riani mengetuknya, tidak ada jawaban di dalam. Riani memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan itu.

__ADS_1


Seluruh jendela yang ada di dalam ruangan ditutup dengan korden merah, menambah kesan pengap. Apalagi ada banyak debu dalam ruangan ini di antara tumpukan buku-buku.


"Ini ruang kerja apa gudang sih?" tanya Riani lirih.


Hal pertama Riani lihat adalah sebuah meja yang sudah diselimuti debu tebal. Di atasnya terdapat beberapa bungkusan termasuk bungkusan yang tadi dia bawa.


"Ruangan ini berhantu."


"Hantu pemesan makanan."


"Kami sedang bekerja, tolong jangan ganggu kami."


"Tolong jangan membuat kami rugi."


Riani membaca tulisan-tulisan yang ada di kardus, hard cover atau bahkan runtuhan kayu yang tergeletak di sekitar meja. Dahinya mengernyit, tak mengerti dengan semua yang sudah ia baca.


Pandangan mata Riani terangkat melihat ke sekitar ruangan. Di ujung ruangan sebelah kanan, sebuah tempat yang gelap dan pengap terdapat sebuah korden yang menggantung dari atas ruangan. Korden merah yang terlihat sangat aneh.


Rasa penasaran yang memuncak membuat Riani menyusuri korden tersebut ke bawah. Ia melihat seorang perempuan yang tidak lain perempuan yang sama sedang menggantung di sana.


Rambutnya acak-acakan, kepalanya miring ke arah kanan dan kakinya mengambang tak menyentuh tanah.


Saat manik mata Riani bertemu dengan manik mata perempuan itu, ia tersenyum, lebar, sangat lebar menunjukkan gigi-giginya yang sudah tidak lagi putih dan berbentuk seperti gigi manusia pada umumnya, gigi-gigi itu berbentuk mirip segitiga, tajam ke bawah.


"Kamu bisa lihat aku ya?"


Meskipun sudah berusaha sekeras mungkin untuk berteriak, namun tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya. Justru Riani merasa nafasnya terasa sesak se--seperti ia hampir kehabisan oksigen.


Bahkan tangan Riani yang hendak memegangi lehernya sendiri pun terasa sangat susah untuk digerakkan. Pandangan mata Riani tak bisa dialihkan dari sosok yang terus tersenyum sembari mengucapkan kalimat yang serupa.


"Kamu bisa lihat aku ya?"


Tiba-tiba saja Riani merasa ada yang menarik tangannya. Baru saat ini Riani bisa berlari mengikuti langkah laki-laki yang membawanya pergi itu.


Entah apa yang dibacakan olehnya, tapi Riani merasa lebih baik sekarang. Lehernya sudah tak lagi merasa sakit, ia juga bisa menggerakkan tubuhnya tidak seperti sebelumnya.


"Makasih," ujar Riani berbalik badan, memandang ke arah laki-laki yang sudah menolongnya.


Laki-laki yang memiliki wajah teduh itu mengangguk. "Kamu sudah lama bisa lihat makhluk-makhluk seperti itu?"


"Baru beberapa bulan lalu," ujar Riani sembari menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Oh," ujar laki-laki itu mengangguk. "Lain kali hati-hati, kalau perlu tutup saja mata batinmu biar nggak diganggu mereka lagi." Laki-laki dengan baju koko berwarna putih dan celana hitam itu beranjak. "Aku harus pergi."


Sementara Riani masih terdiam di tempat yang sama. Ia tak bergerak sedikitpun. Pandangan matanya melihat ke arah laki-laki yang sedang berlalu pergi.


***


Hari ini cukup melelahkan, hari pertama bekerja sudah mendapatkan gangguan. Belum lagi, dia juga kerja lintas sift sehingga berangkat dari jam sembilan sampai jam sembilan lagi.


Masuk ke dalam rumah, Riani segera menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


"Eh, anak perempuan baru pulang kerja kok langsung kaya gitu. Bangun, bersih-bersih dulu, Ni."


"Bentar lagi," jawab Riani dengan bada suara yang lemas.


"Gimana kerjanya hari ini?"


"Capek," jawab Riani singkat.


"Ibu minta Mba Dwi buat masak ayam kecap kesukaan kamu lagi loh."


Mendengar menu makanan tersebut, Riani langsung beranjak dari duduknya. "Udah matang?"


"Bentar lagi deh kayanya. Cepetan kamu bersih-bersih dulu biar pas kamu udah selesai ayam kecapnya juga udah matang."


Riani mengangguk, semangatnya sudah kembali dalam dirinya.


Dua puluh menit berlalu, langkah kaki Riani menuruni anak tangga dengan cepat. Ia segera menuju ke ruang makan. Di sana Rita sudah duduk di kursinya sementara Dwi sedang menyiapkan makan malam yang memang diundur dari biasanya.


"Makasih, Bu," ujar Riani dengan ceria, ia duduk di kursinya bersiap untuk menyantap makan malam yang menurutnya sangat istimewa.


"Sama-sama, Ibu sampai nahan lapar tahu biar bisa tetap makan malam sama kamu."


Riani tersenyum. "Makasih, Bu, besok gini lagi nggak?"


"Kalau kamu senang, apa sih yang nggak?"


Mendengar jawaban itu, Riani terkekeh.


Keduanya lantas sibuk menyantap makan malam masing-masing.


Ada perasaan yang mengganjal dalam hati Riani. Entah perasaan apa, tapi sangat mengganggu kenyamanannya.

__ADS_1


"Ehm, Bu." Riani menghentikan kalimatnya sejenak, ia menyesap air putih dalam gelas untuk melegakan tenggorokannya. "Ibu nggak manggil Bayu buat makan malam bareng kita lagi?"


__ADS_2