PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Dia Lagi


__ADS_3

Demi meredam rasa lapar karena tidak makan malam, Riani memutuskan untuk tidur.


Di tengah malam ia terbangun, ia tak bisa melanjutkan tidur lagi.


Tangannya mengusap perut yang keroncongan. Rasanya ingin turun ke bawah lagi untuk membuat mie atau menyantap makanan yang mungkin masih tersisa saat makan malam tadi. Namun Riani masih merasa takut dengan kejadian kemarin.


Ia beranjak dari duduknya, dalam remang cahaya kamar, Riani melihat Bayu yang berdiri tepat di depannya.


"Ba--Bayu, ka--kamu ngapain di sini?" tanya Riani menarik tubuhnya sehingga lebih rapat ke tembok.


Tak ada respon dari laki-laki yang Riani yakini sebagai Bayu itu. Dia masih berdiri di sana dengan tubuh yang terlihat samar dalam kegelapan.


Tangan Riani mencari-cari saklar lampu tidur, namun tak kunjung menemukannya. Hal itu membuat Riani yang tadinya hendak terus melihat ke arah Bayu akhirnya menoleh ke arah lampu tidur untuk menemukan saklarnya.


Kali ini lampu tidur sudah menyala sedikit lebih terang daripada sebelumnya. Namun pada saat Riani kembali melihat ke arah Bayu berdiri, laki-laki itu sudah tidak ada di situ lagi.


"Bayu," panggil Riani dengan setengah berteriak.


Jelas sekali Riani mendengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga. Tak ingin kehilangan Bayu, Riani segera menyibakkan selimutnya dan berjalan keluar dari kamar.


Hening, sunyi, sepi.


Suasananya sama seperti kemarin.


Riani melihat ke lantai bawah, tapi ia tidak melihat siapapun di ruang tamu dan ruang tengah. Apa mungkin Bayu ke ruang makan?


Tapi Riani tidak merasa cukup berani untuk turun ke bawah. Selama beberapa saat, Riani hanya memperhatikan lantai satu dari atas untuk mengetahui kemana Bayu pergi.


Tiba-tiba saja suara alunan musik terdengar dalam indra pendengaran Riani. Tidak terlalu berisik, hanya sayup-sayup saja.


Riani menoleh ke arah pintu yang ada di belakangnya. Sebuah pintu tinggi berwarna coklat dengan ukiran bergambar bunga di permukaanya.


Suara alunan musik yang lembut itu berasal dari dalam sana, Riani sangat yakin itu.


"Siapa yang putar lagu malam-malam? Apa jangan-jangan ini kerjaan Ibu?" tanya Riani lirih kepada dirinya sendiri.


Perlahan tapi pasti langkah kakinya mendekat ke arah ruangan itu. Dia mendekatkan telinganya di permukaan pintu, mencoba memastikan bahwa suara alunan musik yang lembut dan menenangkan itu memang berasal dari dalam ruangan ini.

__ADS_1


Pintu didorong dan rupanya terbuka, tidak terkunci seperti biasanya.


Riani melongok ke dalam, ia mendapati ibunya yang sedang duduk dengan setengah tubuhnya tergeletak di meja kerja. Posisiny membelakanginya Riani.


"Bu," panggil Riani, namun Rita masih saja dalam posisi yang sama.


Pandangan mata Riani beredar ke seluruh ruangan. Ada banyak barang-barang unik yang ditata dengan rapih di dalam ruangan ini.


Beberapa detik kemudian, kedua mata Riani tertuju pada sebuah radio yang ada di atas meja kecil. Suara alunan musik itu berasal dari sana.


Sebenarnya Riani merasa ragu untuk masuk ke dalam ruangan ini. Sejal kecil, Riani tak diperkenankan masuk ke dalam ruang kerja ini dengan alasan takut mengganggu fokus ayahnya dan juga ada banyak barang unik di sini yang mungkin akan rusak karena tersenggol atau sengaja dimainkan oleh Riani.


Namun sekarang keadaannya berbeda, mau tidak mau Riani harus membangunkan ibunya yang tertidur di kursi itu.


Riani mulai memantapkan hati, ia melangkahkan kaki dengan pelan dan mendekat ke tempat ibunya berada.


"Bu," panggil Riani lirih. "Bangun, Bu."


Rita sama sekali tidak bangun, ia hanya menggeliat sembari mengubah posisi.


Riani merasakan hal ini tidak asing, namun ia sendiri tidak ingat kapan dia melakukan ini.


"JANGAN!"


Belum sempat tombol pada radio lama itu dipencet, Riani tersentak karena mendengar suaranya ibunya yang berteriak.


Tubuh Rita kembali ambruk ke atas meja. Ia tidur dengan posisi duduk.


"Ya udah deh, Bu," ujar Riani lirih.


Mungkin memang ini yang ingin dilakukan oleh ibunya. Riani keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintunya kembali.


Entah jam berapa malam ini, tapi semua lampu sudah dimatikan kecuali lampu tidur yang ada di dalam kamar dan lampu kamar mandi yang memang tidak boleh dimatikan.


Usai menutup kembali pintu ruangan itu, Riani mendengar suara pintu lain yang terbuka. Suaranya tidak jauh, seperti berada di sebelahnya.


"Loh, Ibu bukannya--" Riani tak mampu melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


Sementara itu, Rita berdiri tepat di sebelah Riani. Ia mengusap kedua matanya yang terasa gatal.


"Apa sih, Ni? Kamu kenapa keluar kamar malam-malam gini?" tanya Rita, suaranya berat, khas suara orang bangun tidur.


Sementara Riani merasa aneh dengan apa yang terjadi kali ini. Bibirnya kelu untuk berkata-kata. Rasa takut dan bingung menyelimuti pikirannya.


'Yang mana ibuku? Yang ini? Atau yang di dalam?' pikir Riani.


Seluruh tubuhnya merinding, Riani masih memilih untuk tak mengatakan apapun.


"Riani, jawab dong pertanyaan Ibu."


Riani masih diam, ia berusaha sebisa mungkin untuk membuka pintu ruang kerja ayahnya kembali untuk memastikan, namun tubuhnya terasa sulit untuk digerakkan.


Hingga akhirnya setelah perjuangan yang diliputi dengan rasa takut dan penasaran, Riani berhasil membuka pintu ruang kerja itu kembali.


Ia mendorong pintu tersebut kuat-kuat tanpa sepengetahuan ibu yang ada di hadapannya. Pintu kamar terbuka dan Riani segera menoleh ke dalam ruangan tersebut.


Rita masih terlihat di dalam ruangan itu dan juga di hadapan Riani. Rasa takut dalam diri Riani semakin menggila.


Pandangan matanya melihat ke arah ibunya yang ada di dalam ruang kerja dan di hadapannya secara bergantian. Ekspresi wajah Riani semakin menunjukkan bahwa dia sangat ketakutan.


Beberapa detik berlalu, ibu yang ada di hadapan Riani tersenyum, menyeringai menunjukkan barisan gigi-giginya yang terlihat sedikit merah.


Riani tak mampu berteriak, ia hanya bisa memundurkan diri hingga terpojok di pintu kamarnya sendiri.


"Kamu sudah tahu ya?" tanya Rita dengan berbisik.


Kepala Riani tak henti-hentinya menggeleng saat Rita mendekat. Semakin dekat Rita semakin berubah menjadi sosok yang menyeramkan.


Matanya memutih begitu juga dengan wajahnya. Dua gigi taring perlahan terbentuk dan mulutnya meneteskan darah. Bau busuk tercium dari tubuh Rita dan saat ia mengangkat kedua tangannya, terlihat kuku-kuku panjang yang hitam.


Keringat mengucur deras dari pelipis Riani, ia ingin berteriak namun sangat sulit sekali. Teriakan itu hanya bisa dilakukan dalam hati.


Sosok itu kian mendekat dengan kedua tangan yang mulai menempel pada leher Riani. Kuku-kuku panjangnya terasa menggores kulit leher Riani. Perih dan Riani merasa cairan merah mulai mengucur dari sana.


"JANGAN ... TOLONG LEPASKAN AKU ... TOLONG JANGAN GANGGU AKU, KUMOHON ...!"

__ADS_1


__ADS_2