
Pintu gudang yang digunakan untuk menyimpan barang-barang yang sudah tak terpakai telah terbuka. Seketika hawa pengap yang ada di dalam ruangan itu menyeruak keluar. Riani bisa mencium bau khas barang lama yang disimpan di dalam sana dan membuatnya terbatuk beberapa saat.
Kedua tangan Riani dikibas-kibaskan tepat di depan wajah untuk menghalau debu yang mungkin berterbangan dan mengenai wajahnya.
"Bay ... Bayu?!" Riani memanggil nama laki-laki itu entah sudah berapa kali.
Namun seperti sebelum-sebelumnya, Riani hanya mendapatkan keheningan. Ia tak melihat siapapun di dalam gudang itu selain barang-barang yang sudah tak terpakai, berdebu dan beberapa terselimuti sarang laba-laba yang begitu tebal.
Bahkan di dalam ruangan itu juga ada banyak sarang laba-laba yang menghalangi jalan seseorang untuk semakin masuk ke dalam ruangan.
Pandangan mata Riani melihat ke balik lemari kayu tua peninggalan nenek dulu. Ia memadangi lemari dengan cermin yang sudah tida bisa memperlihatkan pantulan tubuh Riani lagi karena sudah tertutup dengan debu.
Ada suara gesekan yang terdengar dari balik lemari itu. Melihat jalan menuju ke balik lemari kayu tersebut juga Riani tak menemukan sarang laba-laba yang menghalangi.
Sebuah senyum tersirat pada bibir Riani, ia merasa senang karena sudah menemukan keberadaan laki-laki yang sedang ia cari.
"Aku tahu kamu di mana, Bay, kamu nggak akan bisa lari dariku lagi, akan kupastikan itu," ujar Riani dengan suara yang lirih.
Perlahan langkah kedua kaki Riani berjalan mendekati ke arah lemari kayu peninggalan nenek. Ia berusaha semaksimal mungkin agar langkah kakinya tak bersuara dan ia juga bernafas melalui mulut agar hidungnya tak banyak menghirup debu yang kemungkinan besar akan membuatnya bersin-bersin selama beberapa saat.
Semakin dekat Riani semakin percaya diri dengan langkah kakinya. Ia memang sengaja ingin mengagetkan Bayu yang masih bersembunyi di sana.
"DORR!!! A--"
Riani tak melanjutkan kalimatnya. Tangannya yang diangkat setinggi dada ia turunkan. Tidak ada siapapun di balik lemari seperti yang sudah ia yakini sebelumnya.
Hening, sepi, sunyi, pengap dan gelap karena cahaya hanya berasal dari ruang bersantai saja. Di dalam gudang tersebut, lampu sudah mati cukup lama dan tida lagi diganti karena memang ruangan itu jarang dimasuki dan jarang pula dinyalakan lampunya sehingga dibiarkan begitu saja.
Suara engsel pintu yang berdecit membuat Riani segera menoleh ke arah sumber suara. Terlihat jelas pintu tersebut menutup dengan perlahan-lahan.
"Bayu, ini nggak lucu!" teriak Riani yang lantas berlari ke arah pintu.
Namun sayangnya pintu sudah terlebih dahulu tertutup dengan keras sebelum Riani sampai untuk menahannya agar tidak tertutup.
__ADS_1
"BAYU!!!" teriak Riani sekeras mungkin dengan kedua tangan yang terus berusaha untuk membuka pintu. "BAYU BUKA PINTUNYA!!!"
Gelap dan pengap dirasakan oleh Riani di dalam ruangan itu. Ia tak bisa bernafas dengan bebas karena debu yang begitu tebal di dalam ruangan ini.
"BAYU!!!"
Riani terus berusaha untuk membuka pintu gudang. Air matanya mengalir deras dan bersamaan dengan itu debu-debu mulai menempel di wajahnya.
Setelah berkali-kali percobaan akhirnya pintu gudang berhasil terbuka. Riani berlari keluar tanpa menutup pintu itu lagi. Ia mengambil tas kerja dan cardigan yang menggantung di sisi salah satu kursi makan.
Dengan wajah yang penuh dengan air mata, Riani berjalan keluar dari rumahnya. Ia mengunci pintu rumah meskipun sedikit kesulitan karena kedua tangan yang masih terus bergetar ketakutan.
Tak perduli apakah Bayu memang masih ada di dalam rumah atau tidak. Langkah kedua kaki Riani berjalan cepat menuju ke halte terdekat.
Malam ini masih cukup banyak kendaraan yang berlalu-lalang, sebagian pertokoan juga masih buka meskipun ada beberapa yang sedang bersiap untuk tutup.
Riani mengambil smartphone di dalam tas selempangnya. Daya baterai smartphone tersebut hanya tersisa tiga persen karena memang Riani belum mengisi daya dari kemarin.
"Semoga aja bisa buat pesan ojek," lirih Riani.
Pandangan mata Riani melihat ke arah langit, gelap, tak ada bintang atau bulan yang menghiasi langit malam.
Riani beranjak dari duduknya. Ia berjalan gontai tanpa ada gairah. Melihat ke persimpangan jalan menuju rumah, Riani menggelengkan kepala. "Sebaiknya aku ke rumah sakit aja."
Jarak dari rumah menuju ke rumah sakit tidak terlalu jauh, namun juga tidak begitu dekat jika ditempuh dengan berjalan kaki.
Lima belas menit berjalan, pandangan mata Riani sudah bisa melihat cahaya terang rumah sakit di bagian kanan jalan. Meskipun ia merasakan tubuh yang lelah, kaki yang pegal dan mulut yang kering kehausan, Riani tetap melangkah perlahan.
Lorong rumah sakit begitu lengang, tak ada siapapun yang berjalan di situ selain Riani. Tas selempang itu ia tenteng bersama dengan cardigan, Riani melangkahkan kedua kakinya dengan begitu pelan.
"Riani," panggil seseorang dari belakang.
Tangan Riani menutupi mulutnya yang terbuka lebar, ia menguap sembari menoleh ke belakang. Pada jarak sekitar sepuluh meter di belakangnya, Riani melihat laki-laki yang tadi sudah mengerjainya. Seketika muncul rasa benci dalam diri Riani saat melihat Bayu.
__ADS_1
Pandangan mata Riani menatap laki-laki itu dengan sinis. Riani tak merespon panggilannya dengan kata-kata. Ia kembali melihat ke depan dan melanjutkan langkah kedua kakinya.
"Riani ... Ri, tunggu!"
Riani benar-benar tidak perduli dengan laki-laki itu. Ia terus melangkah meskipun perlahan.
Tentu saja Bayu bisa menyejajarkan langkah dengan begitu mudah.
"Riani, kok kamu di sini?"
Riani diam.
"Katanya kamu capek nggak mau ke rumah sakit?"
Riani diam.
"Kamu tadi ke sini pake apa? Jam segini udah nggak ada bus, kan? Tadi juga bus yang aku tumpangi kayanya bus terakhir."
Riani masih tetap diam.
"Kamu kelihatan capek banget, Ri, kalau kamu capek kenapa kamu nggak istirahat aja di rumah? Kan udah ada aku sama Mba Dwi yang jagain Tante Rita."
Riani menoleh ke sebelah kanan tempat laki-laki itu berada. Ia juga menghentikan langkah kakinya.
Beberapa detik berlalu dengan tatapan Riani yang tajam melihat ke arah Bayu yang kini berada di hadapannya. Laki-laki itu nampak mengernyitkan dahi. Hingga kemudian tangan Riani terangkat dan memberikan tamparan pada pipi kiri laki-laki itu.
Tamparan yang cukup keras membuat kepala Bayu menoleh mengikuti arah tamparan. Bekas tangan berwarna merah juga tercipta jelas pada pipi dengan kulit berwarna sawo matang milik laki-laki itu.
Hening, tidak ada suara apapun selain suara tamparan yang cukup keras dari Riani.
"Riani, kenapa kamu tampar aku? Emangnya aku salah apa?" Bayu mengernyitkan dahi.
Tangan kirinya terangkat memegangi pipi yang masih merasakan panas dan perih akibat tamparan kuat dari Riani.
__ADS_1
Sementara Riani menatap ke arah Bayu dengan penuh kebencian. Rasa benci dalam dadanya terhadap laki-laki itu kian bertambah, tatapan mata itu bahkan tak mampu lagi menggambarkan seberapa benci Riani terhadap laki-laki di hadapannya.
"NGGAK USAH PURA-PURA, BAY!" Air mata Riani kembali mengalir dari kedua ujung matanya. "KAMU KAN YANG TADI NGERJAIN AKU?! NGAKU, BAY!"