
Riani melihat ke arah smartphone yang ada dalam genggaman tangannya, lantas melihat ke arah papan nama yang ada di atas pintu ruangan.
"Benar di sini," lirih Riani, ia lantas memasukkan smartphone itu kembali ke dalam tas.
Tangan kanannya memegang gagang pintu, lantas mendorong pintu tersebut hingga terbuka.
Tak ada siapapun di dalam ruangan itu, namun Riani melihat sebuah balon berbentuk hati berwarna merah muda di atas ranjang pasien.
"I love you," ujar Riani membaca tulisan itu.
Beberapa detik berlalu, terdengar suara langkah kaki. Bayu keluar dari ruang di sebelahnya yang hanya disekitar dengan terai.
Laki-laki itu lantas berlutut di hadapan Riani dengan buket mawar berukuran sedang dalam genggaman tangannya. "Riani, sejak pertama bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu, kurasa kamu juga begitu. Maukah kamu menjadi kekasihku?"
Deg!
Riani tak bisa berkata-kata, ia melihat ke sekitar dan sudah ada beberapa orang yang berdiri di sana. Beberapa dari mereka ada yang merekam momen ini.
"Mau ... mau ... mau ...," ujar mereka, salah seorang laki-laki mendahaului untuk melakukan itu sembari menepuk tangan.
Seulas senyum tipis tercipta pada bibir gadis itu, jantungnya masih terus berdegup kencang, menghalang mulutnya untuk berkata ya.
Riani merasa Bayu merupakan laki-laki yang cukup baik. Beberapa kali berada di dekatnya, Riani juga merasa nyaman. Riani tidak menyangka jika Bayu akan menyatakan perasaan dalam waktu yang secepat ini. Bahkan ia juga belum merasa siap.
Tak ada sau katapun yang mampu keluar dari mulut Riani, ia memilih untuk menganggukkan kepala. Seketika sorak-sorai kegembiraan terdengar dalam ruangan itu.
"Terima buket mawar ini sebagai tanda kamu menerimaku, Ri," ujar Bayu kemudian.
Riani menurut, ia menerima bunga mawar itu.
Tangan Bayu lantas menggandeng Riani, membawa perempuan itu mendekat ke arah balon dengan kotak kado yang berukuran cukup besar di bawahnya, terikat dengan balon itu.
Kedua mata Riani terbuka seketika, ia sama sekali tidak menyangka.
"Ka--kamu ...." Riani tak mampu melanjutkan kalimatnya.
Sementara Bayu hanya menganggukkan kepala.
Kotak kado berukuran besar itu hanya berisi benda kecil, sebesar jari telunjuk orang dewasa, namun itu cukup berharga dan sudah dinanti oleh Riani sejak lama.
"Kan mahal, Bay," ujar Riani, mengambil kontak sepeda motor keluaran terbaru itu.
"Apapun untukmu, Ri."
Riani menatap ke arah Bayu yang kini sudah menjadi kekasihnya. "Tapi aku jadi nggak enak sama kamu, Bay."
"Nggak papa, lah, Ri."
"Makasih ya, Bay."
Bayu merentangkan kedua tangannya sembari tersenyum. Sementar Riani menoleh ke sekitar.
__ADS_1
"Jangan di sini, Bay, malu, banyak orang," tolak Riani.
"Kan kita udah pacaran, Ri," ujar Bayu dengan mudahnya.
Lagi-lagi Riani menoleh ke arah beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu juga. Beberapa dari mereka lagi-lagi mengangkat smartphone, mungkin memang ditugaskan oleh Bayu untuk mengambil dokumentasi.
"Peluk ... peluk ... peluk ...," ujar orang yang sama mempelopori.
Merasa tidak enak, Riani mendekatkan tubuhnya ke arah Bayu. Ia memeluk tubuh laki-laki itu.
***
Hari ini mall cukup ramai, Riani juga cukup sibuk melayani orang-orang yang datang.
"Ri, gantian," ujar salah satu pegawai lain, ia hendak menggantikan Riani bekerja.
Riani mengusap pelipis dan mendapati wajah yang cukup berminyak. Ia lantas segera menuju ke ruang karyawan.
Belum ada satupun pegawai di dalam sana, Riani menjadi orang pertama yang sampai di ruangan tersebut.
Seperti biasa, ia mengambil ponsel di dalam loker. Namun seketika dari sudut matanya, Riani melihat hal yang sudah ia rindukan sejak awal. Saat menoleh ke arah tersebut, ia tak lagi melihanya.
"Fella ...," panggil Riani, berusaha dia muncul lagi. Riani menoleh, ia mendapati Fella di dekat pintu. "Fella, maafkan aku."
Pintu ruangan tersebut terbuka, memperlihatkan Tri bersama dua temannya. Mereka berdua terdiam sejenak melihat ke arah Riani. Salah satu dari mereka berkata, "Dasar gila!"
Riani merasakan dadanya seketika menjadi sesak, tenggorokannya sakit dan pandangan matanya sedikit buram. Tidak ingin mereka melihat dirinya menangis, Riani segera keluar.
"Riani, kamu kenapa?"
Langkah kakinya terus bergerak, Riani tak memperdulikam orang-orang yang perduli kepadanya.
Di bagian belakang mall, pandangan mata Riani memandang jauh ke depan.
"Maaf," ujar Fella, ia berada tepat di sebelah Riani.
Dari sudut matanya, Riani bisa melihat sosok Fella lagi. Namun Riani lagi-lagi merasa kesal dengan kedatangannya.
"Aku memang selalu menjadi masalah untukmu," lanjutnya. "Maaf, aku benar-benar tidak tahu kalau mereka mau datang."
Riani tak mengatakan apapun.
"Kalau kamu nggak mau maafin aku juga nggak papa, ini juga kesalahan aku. Sekali lagi aku minta maaf, Ri, aku tidak akan muncul lagi di hadapan kamu."
"Kenapa kamu tiba-tiba muncul? Kemana kamu dari kemarin-kemarin?" tanya Riani, meskipun kekesalannya masih ada.
"Aku menenangkan diri."
Riani memandang ke arah Fella. "Emang hantu bisa menenangkan diri?"
"Perkataan kamu kemarin bikin aku sadar kalau aku hanya menjadi biang masalah buat kamu, Ri, itu kenapa aku pergi. Tapi aku selalu dengar kamu manggil aku, aku nggak yakin buat datang ke kamu lagi sampai akhirnya aku beranikan diri untuk itu."
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari Fella, Riani terdiam beberapa saat. "Aku juga minta maaf."
Fella terkekeh. "Nggak perlu, kok, Ri, itu emang salah aku. Tapi aku seneng kamu ngomong gitu, berarti kita bisa berteman lagi, kan?"
Riani mengangguk, ia kembali membuang pandangan matanya jauh ke depan.
"Kalau aku ikut sama kamu gimana?"
"Riani."
Mendengar namanya dipanggil, Riani menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat Nindira dan Difki yang berlari ke arahnya.
"Kamu kenapa, Ri?" tanya Nindira yang sudah berjarak cukup dekat.
"Tri yang ngatain kamu gila, kan?"
"Bukan kok, Dif," ujar Riani, ia beralih melihat ke arah Nindira. "Nggak papa kok, Ra, aku baik-baik aja."
"Kalau ada apa-apa cerita, Ri," ujar Nindira, ia nampak khawatir.
Riani mengangguk. "Makasih ya, Ra, aku beruntung punya temen kaya kamu." Riani beralih ke arah Difki. "Makasih juga, Dif. Aku juga beruntung punya temen kaya kamu."
"Kalau mereka yang ngatain itu, aku bisa laporin ke atasan kok, Ri, aku bersedia jadi saksi," ujar Difki.
"Bukan kok, Dif." Riani menggelengkan kepala. "Tadi aku nangis juga bukan karena itu."
"Teru?" tanya Nindira.
"Fella balik," jawab Riani dengan tersenyum.
"Kamu lihat Fella lagi?"
Riani mengangguk dengan cepat.
Dering smartphone membuat Riani segera mengambil benda pipih itu di dalam saku. Ia melihat ke arah layar, terdapat nama Bayu di sana.
"Sebentar ya, Ra, Dif." Ia beranjak dari duduknya.
"Hmm, pasti mau diajak makan siang bareng tuh," celutuk Nindira menebak apa yang akan dibicarakan oleh Bayu kepada Riani.
"Sama siapa, Ra?" tanya Difki, penasaran.
"Bayu," jawab Nindira. "Pacarnya Riani."
"Hah? Cowok yang ke danau sama kita itu kan?"
Nindira mengangguk. "Iya, sekarang udah jadi pacaranya Riani," jelas Nindira.
"Kapan merek jadiannya?"
"Udah beberapa hari yang lalu, kenapa emangnya?"
__ADS_1