
Membuka kedua mata, Riani terbangun di atas tempat tidurnya.
Baru saja bangun, ia sudah bingung saja. Pasalnya hal yang diingat oleh Riani adalah saat ibunya yang berubah wujud dan hendak mencekik lehernya.
"Apa ibu yang mindahin aku ke sini ya?" lirih Riani.
Rasa penasaran yang kembali memuncak membuat Riani segera turun dari atas tempat tidur. Langkah kakinya dengan cepat menuruni anak tangga.
"Pelan-pelan dong, Ni, kalau kamu sampai jatuh gimana?"
"Ibu tadi malam tidur di mana?" tanya Riani segera bertanya.
"Semalem ketiduran di depan TV, emangnya kenapa?"
Mendengar jawaban itu, Riani mengernyitkan dahi. "Depan TV?"
"Iya," jawab Rita sembari menganggukkan kepala.
Sementara itu Dwi datang dan membawa piring berisi pisang goreng yang baru matang. Ia meletakkannya di atas meja dan kembali lagi ke dapur.
Rita mengambil pisang goreng tersebut, membaginya menjadi dua dan asap putih keluar dari sana.
"Terus Ibu ke kamar jam berapa?"
"Nggak ke kamar." Rita menggelengkan kepala. "Sampai pagi di ruang tengah, bangun-bangun tadi di bangunin Mba Dwi. Yah, sekitar setengah jam yang lalu lah."
Riani melihat ke arah Dwi yang nampak sedang menumis bumbu. "Beneran, Mba Dwi?"
Mendengar namanya disebut, Dwi menoleh. Namun aroma wangi bumbu membuatnya bersin selama beberapakali.
"Kenapa, Nona Riani?" tanya Dwi usai tidak lagi bersin-bersin.
"Lagian kamu kenapa nggak percaya banget sih, Ni?" tanya Rita, ia merasa anak perempuannya tidak seperti biasanya.
Sementara Dwi yang masih berdiri di depan kompor mengangguk. "Iya, emangnya kenapa, Non?"
Mendengar semua jawaban tersebut, Riani menghembuskan nafasnya dengam kasar.
"Apa aku mimpi ya?" lirih Riani, meskipun ia sangat yakin jika yang terjadi semalam adalah nyata.
Tadi malam Riani tak melihat keberadaan Rita di ruang tengah saat ia berdiri di anak tangga paling atas, hal ini pula yang meyakinkan Riani jika apa yang terjadi semalam hanyalah sebuah mimpi.
"Kamu mimpi buruk lagi, Ni?"
"Eh, tapi kalau misalkan Ibu ketiduran di depan TV, emangnya Ibu nggak lihat Bayu yang tengah malam masuk ke kamar aku?"
Mendengar pertanyaan dari anak perempuannya, Rita tampak mengernyitkan dahi. "Kamu mimpi apa sih emangnya semalam, Ni? Mana ada Bayu masuk ke kamar kamu, lagian nggak bakalan Ibu izinin. Bayu juga pulang jam setengah sembilan malam, kok, pas makan malam selesai, nggak lama dia langsung pamit," jelasnya.
Riani terdiam mendengar penjelasa itu. Semua ini aneh, sangat aneh.
"Bu," panggil Riani dan Rita melihat ke depan. "Kenapa nggak coba panggil ustadz aja sih, Bu?"
__ADS_1
"Buat apa, Ni?"
"Ya buat bersihin rumah kita lah, Bu. Ibu kemarin masih ingat kan yang di sini?"
"Paling juga suara tikus," jawab Rita dengan mudahnya.
"Kalau gitu kenapa Ibu juga ketakutan? Tidur di kamar Riani segala lagi," ujar Riani yang lantas memgambil satu pisang goreng di dalam piring.
"Nggak takut, sih, cuma lebih ke kaget aja. Oh ya." Rita menghentikan ucapanannya sejenak, ia menyesap cappucino dari dalam cangkir. "Apa bener kamu udah keluar dari kerjaan kamu?"
Riani terdiam sejenak. "Ibu kata siapa?"
"Jadi bener?"
Riani menggeleng. "Emangnya Ibu denger dari mana soal ini?"
"Kata Bayu lihat kamu lagi di jalan."
'Sialan si Bayu,' batin Riani.
Buru-buru Riani menggelengkan kepalanya. "Masih kok, masih kerja."
"Ini udah jam tujuh loh, Ni, kamu nggak siap-siap? Kamu berangkat pagi kan?"
"Ehm ...." Bersiap dalam waktu setengah jam saja tidak akan cukup. Riani menggelengkan kepala. "Berangkat siang."
"Oh."
"Kamu makan di sini bareng sama kita aja, Dwi."
"Tapi--"
"Udah, nggak papa. Sana kamu ambil piring," ujar Rita.
Dwi menuruti perintah majikannya, ia mengambil piring dari dalam rak dan turut mendudukkan tubuhnya di kursi makan.
Demi menjaga jarak dengan atasannya, Dwi mendudukkan tubuhnya dengan jarak satu kursi dari Riani.
Sarapan pagi berjalan dengan baik. Dwi kembali ke dapur membereskan makanan, Rita masuk ke dalam kamar dan Riani memilih untuk menyalakan televisi dan melihat sebuah kartun.
Rasanya sudah belasan tahun yang lalu sejak ia terakhir kali menonton sebuah acara kartun. Riani duduk di atas sofa, sesekali terkekeh saat ada sesuatu yang.
Satu jam berlalu dan acara tersebut berakhir, remot TV yang ada dalam genggaman tangan Riani terus dipencet untuk mencari siaran yang menurutnya bagus. Namun beberapa saat mencari, Riani tak kunjung menemukan acara yang ingin dia tonton.
Pada akhirnya televisi ia matikan.
Dari ruang keluarga, Riani melihat Dwi yang sedang menjemur pakaian di halaman samping rumah.
Merasa bingung ingin melakukan apa, Riani memilih untuk kembali ke kamar. Namun belum juga menaiki anak tangga, ia melihat ibunya yang sudah rapih dengan baju kerja berwarna abu dan hitam.
"Cantik banget Ibu mau ke mana?"
__ADS_1
"Mau ke rumah Pak Abdul, ada hal yang harus dibahas, setelah itu mau lihat rumah yang mau dijadikan kost-kostan juga," jelas Rita yang tak sedikitpun menghentikan langkah kakinya.
Riani mengangguk meskipun ia merasa aneh karena ibunya berpenampilan terlalu cantik. Tapi mungkin memang Rita ingin berdandan seperti masih muda lagi, Riani mencoba untuk mengerti. "Hati-hati, Bu."
Setelah membersihkan diri dan melakukan skincare routine, Riani merebahkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur.
Hari ini karena ia beralasan berangkat siang, Riani hendak bersantai sembari menonton video dalam smartphone-nya.
Namun baru saja hendak memutar sebuah video terbaru, smartphone itu berdering. Sebuah panggilan suara masuk ke dalam smartphone tersebut dari Nindira.
"Ha--"
"Riani, cepetan ke sini, Ri, kita semua butuh bantuan kamu. Ini kayanya Fella lagi ngamuk-ngamuk deh, banyak banget yang kesurupan, Ri, tolongin kita, barang-barang juga terbang-terbang, argh ...! Riani, please ke sini sekarang."
"Ke mana--"
Panggilan suara dimatikan.
"Halo, halo ... Ra?"
Seketika Riani merasa sangat khawatir, dia melompat dari atas tempat tidur, mengambil cardigan dan pergi ke rumah Sella.
Pintu rumah Pak Abdul terbuka dengan dua orang yang tidak lain adalah Rita dan pemilik rumah sedang berbincang.
"Permisi, Pak, Sellanya ada?" tanya Riani dengan cepat.
"Ada, ada, sebentar Pak Abdul panggilkan."
Riani mengangguk.
"Kamu kenapa, Ri? Kok cemas gitu?" tanya Rita yang beranjak dari tempat duduknya.
"Ada sesuatu terjadi di kerjaan aku, Bu," jawab Riani cepat.
"Sesuatu apa?"
Riani melihat Sella yang mendekat disusul dengan Pak Abdul.
"Kamu mau nggak anterin aku ke kerjaan? Kalau nggak aku pinjem motornya deh."
"Yah, aku ada janji sejam lagi, Ri. Paling aku pinjemin kamu motor aja ya, maaf nggak bisa anterin kamu." Sella beralih ke balik pintu. "Ini kuncinya."
"Makasih ya, Sel."
Riani segera menunggangi sepeda motor Sella. Ketiga orang itu berada di ambang pintu, melihat ke arah Riani yang mulai pergi.
"Kira-kira ada apa ya sama Riani? Kenapa dia kaya buru-buru gitu?" Rita berkata lirih sembari menggigit jari.
"Emangnya Tante Rita nggak nanya tadi sama dia?"
Rita menggelengkan kepala. "Aku jadi khawatir, aku mau nyusul dia deh, Pak Abdul, Sella. Aku pamit dulu ya."
__ADS_1