
Seketika Riani dibuat bingung dengan keberadaan laki-laki di hadapannya, tubuhnya terasa kaku dan bahkan hendak tersenyum pun sangat sulit sekali.
"E--enggak," ujar Riani begitu saja.
Jawaban dari Riani justru membuat laki-laki tersebut mengerngitkan dahi, ia lantas melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Jam berwarna hitam secara keseluruhan tersebut menunjukkan pukul delapan kurang lima menit. "Bukannya restoran itu buka jam delapan? Kalau kamu jalan apa naik angkutan umum bakal lama banget loh." Ia menatap ke arah Riani sekejap. "Tapi ya kalau kamu nggak mau nebeng juga nggak masalah sih."
Sepeda motor berwarna merah dan hitam itu melaju dengan gagahnya. Pada saat yang sama, Riani membenarkan perkataan laki-laki itu barusan.
Hanya tersisa lima menit dan waktu terus berjalan, bisa-bisa Riani akan terlambat dan ia baru menyadarinya saat laki-laki itu sudah pergi.
"Tu--tunggu!" teriak Riani dengan sedikit ragu. Kedua kakinya terayun mengejar sepeda motor yang terus melaju perlahan itu. "Tunggu aku ... ehm ...." Riani terdiam sejenak. "Siapa lagi namanya?" lirihnya. "Tunggu aku!" Riani kembali berteriak, tangannya melambai-lambai berharap bisa terlihat dari pantulan kaca spion. "Tunggu aku, e ... anu ... Kakaknya Ira, tunggu ... aku ikut denganmu ... Mas Ira, Mas Ira, tunggu aku!"
Sepeda motor berhenti dalam jarak sekitar dua puluh meter dari tempat Riani saat ini. Kedua kakinya berlari menghampiri. Saat berada di sebelah sepeda motor itu, nafas Riani sudah tak beraturan dan kedua lututnya terasa sangat lemas seakan tak mampu untuk menopang tubuhnya lagi.
"Naik," ujarnya dingin.
Tanpa menunggu lama, Riani segera naik ke atas sepeda motornya.
Beberapa menit berlalu sepeda motor itu sudah sampai di depan restoran. Riani turun dari sepeda motor tersebut dan belum juga mengatakan apapun, laki-laki itu sudah melajukan kembali sepeda motornya.
"Belum juga bilang makasih, udah main pergi aja!" kesal Riani melihat ke arah perginya laki-laki itu.
Punggunh Riani ditepuk oleh seseorang, saat menoleh, Riani mendapati pandangan matanya juga melihat ke arah perginya laki-laki itu.
"Pacar baru, Ri?" tanya Gendhis sembari menggerakkan dagunya ke depan.
"Bukan lah, yakali cepet banget."
"Kali aja kamu bisa move on cepet."
"Ya move on sih cepet, Ndhis, tapi rasa nggak mau punya hubungan sama lawan jenis lagi itu masih ada, masih trauma." Riani berbalik badan dan mendapati restoran yang masih tertutup. "Eh, atasan belum ke sini?"
"Bukannya tadi udah ngirim pesan di grup ya kayanya telat soalnya kena macet."
"Iyakah?"
__ADS_1
Gendhis menganggukkan kepala. "Iya, kamu belum cek?"
"Belum, tapi ya syukurlah aku nggak terlambat jadinya, hehe."
"Beruntung banget kamu, Ri."
Riani terkekeh pelan, keduanya berjalan menghampiri restoran dan duduk di salah satu bangku yang ada di bagian depan.
Sekitar lima belas menit berlalu, sebuah mobil memasuki tempat parkir restoran. Semua pegawai yang sudah datang beranjak dari duduknya dan beberapa detik kemudian seorang perempuan pemilik restoran berjalan ke arah pintu.
"Maaf ya, tadi macet banget di sana beneran." Tangannya terburu-buru membuka gembok pintu.
Kedatangannya membuat semua pegawai mulai bekerja. Seperti hari-hari sebelumnya, pekerjaan diawali dengan membersihkan restoran sebelum akhirnya mulai menempati posisi masing-masing.
Hari ini restoran baru dibuka pukul sembilan pagi. Riani duduk di tempat biasa dengan sebuah smartphone dalam genggaman tangannya.
Belum ada orderan yang dilakukam secara online saat ini, biasanya orderan akan muncul saat hampir menjelang makan siang.
Sembari menunggu pesan masuk, Riani biasanya membantu Gendhis. Ia ikut menyiapkan makanan yang akan diantarkan oleh para pelayan ke meja para tamu.
Usai semuanya siap, seperti biasa Riani segera memasukkannya ke dalam kotak dan mengantarkannya satu persatu kepada para pelanggan yang sudah memesan.
Riani sangat menyukai pekerjaan ini, ia menjadi dikenal oleh beberapa orang yang memesan makanan di restoran. Beberapa Riani bertemu dengan orang-orang yang tidak ramah, namun kebanyakan dari para pelanggan adalah orang-orang yang ramah yang bahkan memberikan tips yang tidak sedikit untuk Riani.
"Bayu?" Riani segera menundukkan kepala, ia tidak ingin keberadaannya dilihat oleh laki-laki itu.
Namun sialnya, Bayu justru sudah melihat Riani. Ia menempatkan dirinya tidak jauh dari hadapan perempuan itu.
"Ma--maaf," ucap Riani saat tidak sengaja menabrak seseorang, padahal seseorang yang baru saja ia tabrak adalah Bayu.
Tangan Riani digenggam erat oleh Bayu, sama sekali Riani tak bisa melepaskannya.
"Lepasin, Bay!" ujar Riani sesaat setelah menyadari siapa yang kini ada di hadapannya.
Riani tak henti-hentinya terus berusaha untuk melepaskan diri, sementara itu Bayu justru diam saja dan bahkan semakin menggenggam tangan Riani dengan erat.
"Bayu, sakit ... lepasin, Bay!" Riani terus meminta.
__ADS_1
Namun Bayu sama sekali tak bergeming, ia terus mencengkram tangan Riani bahkan semakin erat.
"Bay, please ... lepasin, Bay!" Riani mulai merintih kesakitan.
Sebuah tendangan mengenai bagian belakang tubuh Bayu membuatnya terdorong ke depan dan melepaskan cengkramannya pada tangan Riani. Seketika itu Riani segera menghindar, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
"KAMU SIAPA? HAH!"
"Nggak perduli siapa aku, tapi kasar sama perempuan itu sama sekali nggak boleh!"
"NGGAK TAHU SIAPA, DARI MANA, DATANG-DATANG LANGSUNG IKUT CAMPUR MASALAH ORANG. PERGI!"
Laki-laki itu diam, ia terlihat tenang. Lirikan matanya melihat ke arah Riani sejenak.
Pada saat ini, Riani menggelengkan kepala. "Nggak, jangan, please, bantu aku, please tolongin aku." Riani berkata tanpa suara.
Namun yang terjadi justru laki-laki tersebut pergi menghindar.
Kepergian laki-laki itu membuat Bayu kembali melihat ke arah Riani. Jantung Riani berdegup kencang, bukan lagi karena cinta tapi karena takut. Apalagi Bayu semakin mendekat ke arahnya.
"Nggak, Bayu. Jangan!" Riani bersikap tegas kali ini.
Ia menegakkan tubuhnya menghadapi laki-laki itu, entah kekuatan dari mana ia bisa menjadi seperti ini.
"PERGI KAMU!" lanjut Riani, membentak Bayu tepat di hadapan wajahnya.
"Aku belum selesai sama kamu, Riani. Kamu udah sakitin hati aku, uda kecewain aku, kamu harus tanggung akibatnya!" Suara Bayu memang lirih, namun penuh penekanan dan ancaman.
"AKU NGGAK TAKUT!" bentak Riani dengan tegas dan percaya diri.
Bayu tersenyum remeh, pandangan matanya begitu merendahkan Riani. "Lihat saja nanti, kamu pasti akan mohon-mohon sama aku. Aku bakal bikin kamu sujud di kakiku!"
"NGGAK AKAN!"
Sesaat setelah mengatakan itu, sebuah tamparan mendarat pada pipi kiri Riani. Panas, perih dan takut menyelimuti dirinya saat ini.
Sementara Bayu semakin mendekat, kedua matanya terbuka lebar seakan dua bola mata itu hendak keluar dari sarangnya. "DENGARKAN AKU BAIK-BAIK, KAMU PASTI AKAN MENYESAL. AKAN KUBUAT HIDUPMU BERANTAKAN, KARIRMU HANCUR, PERCINTAANMU GAGAL DAN AKAN KUBUAT KAMU MEMOHON KEPADAKU UNTUK MENGHENTIKAN SEMUANYA!!!"
__ADS_1