PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Rumah Tua


__ADS_3

Keempatnya sudah duduk di kursi ruang tamu. Nindira duduk di kursi yang sama dengan Riani, Difki berada di sebuah kursi yang ada di sebelah kiri Nindira dan Bhanu di kursi yang ada di sebelah kanan Riani. Semua pasang mata melihat ke arah Bhanu, begitu juga Difki yang ikut merasa penasaran.


"Sebenarnya rumah itu sudah lama kosong, terakhir rumah itu ditinggali sama nenek-nenek. Kata orang-orang sini sih dia suka sanggulan, terus masih kelihatan sehat gitu, hidungnya pesek terus bibirnya tipis."


"Bener!" celutuk Nindira saat Bhanu menghentikan kalimatnya sejenak.


"Iya, persis sama yang dibilang kakak kamu." Riani menambahi.


"Ibu itu siapa, Ri?" tanya Nindira.


Seketika Riani terdiam, bahkan semenjak pertama kali bertemu dia tidak pernah tahu nama pemilik kostnya sendiri. Entah siapa namanya, Riani sama sekali tidak mengetahuinya.


"Bu Ningsih," jawab Bhanu singkat, mendengarnya Riani dan Nindira kembali menoleh ke arahnya. "Kata orang sini sih gitu." Bhanu menghentikan kalimatnya sejenak. "Sebenarnya ada beberapa yang pernah tanyain tentang kost itu juga ke warga perumahan, tapi mereka nggak sampai ke rumah itu soalnya warga sini langsung kasih tahu ke mereka kalau rumah itu udah kosong dan iklan itu penipuan aja."


Riani dan Nindira saling memandang.


"Harusnya kita juga nanya-nanya dulu ya, Ri."


Riani menganggukkan kepala. Ada perasaan menyesal dalam dirinya. "Tapi kenapa iklan itu ada ya? Emang nggak ada yang blokir akunnya apa?"


"Tapi tadi aku cari nggak ada kok, Ri."


"Nggak tahu juga sih, iklan yang paling pertama yang diketahui oleh salah satu warga sebenarnya udah coba dilaporkan, kabarnya juga udah dihapus. Tapi emang ada juga yang ke sini bukan karena iklan tapi karena bertemu langsung sama Bu Ningsih," jelas Bhanu. "Sebenarnya dia kasihan juga sih."


"Emang kenapa, Bang?" tanya Nindira, air mukanya terlihat begitu penasaran.


"Dia emang dari semenjak hidup udah kaya gitu, sebenarnya dia ramah terus baik juga. Sayang banget anak-anaknya pergi, ada yang merantau, nikah sama orang luar pulau atau luar negeri, jadi pas tua dia sendirian di rumahnya nggak ada yang ngurus. Sampai-sampai pas sekitar sebulanan nggak kelihatan dia ditemukan udah meninggal di atas tempat tidurnya."


"Oh ... pantesan," celutuk Riani mengingat sesuatu.


"Kenapa, Ri?"


"Kan pas semalem juga lampu kamar ada nyala mati gitu terus aku kaya lihat ada yang rebahan di tempat tidur, terus juga aku lihat ibu itu tuh jadi kurus banget kulitnya udah hitam gitu deh pokokny serem." Riani bergidik ngeri.

__ADS_1


"Kamarnya yang di pojok bukan?" tanya Bhanu.


Riani mengangguk pasti. "Iya, iya, bener banget. Itu kamar dia?"


"Katanya sih jenazahnya ditemuin di situ."


"Ya ampun ...." Riani mengusap wajahnya. "Berarti aku tidur di atas tempat tidur bekas mayat dong."


Nindira bergidik. "Serem banget sih, Ri. Menurut aku lebih baik kamu tutup aja deh mata batin kamu biar kamu nggak lihat yang aneh-aneh lagi, biar kamu juga nggak digangguin terus sama mereka."


"Aku pengin juga sih, tapi gimana caranya?"


Pandangan mata Nindira melirik ke arah Bhanu. "Dia bisa?"


"Beneran? Kok nggak bilang?"


"Untuk saat ini nggak bisa," jawabnya dingin.


"Kenapa emang, Bang? Kasus Nyi Kembar itu belum selesai?"


Mendengar jawaban itu, kedua mata Riani terbuka lebar. "Nyi Kembar?"


"Iya, kakakku lagi berusaha bikin dia nggak ganggu manusia lagi. Kamu tahu nggak sih, Ri, korban pesugihannya udah banyak banget. Dia tuh kaya pinjol tahu nggak, semakin menghindar buat bayar semakin banyak ngasih teror. Serem deh pokoknya."


"Makannya nggak usah pinjol-pinjol." Bhanu berkata dingin.


"Eh, aku nggak main pinjol ya. Mending ngutang sama Riani, iya nggak, Ri," ujar Nindira sembari menggerakkan dagunya.


"Iya, kalau aku ada pasti aku kasih." Riani tersenyum, ia sudah banyak merepotkan Nindira tapi dirinya sama sekali belum pernah direpotkan oleh perempuan itu. "Eh." Riani teringat sesuatu. "Barang-barang aku di kost-an gimana ya? Masih ada di sana semua soalnya, HP aku juga ketinggalan di sana."


"Gampang, nanti biar abangku yang ngambil sama Difki. Oke, Bang, Dif?" Pandangan mata Nindira melihat ke arah dua laki-laki itu bergantian.


Bhanu menganggukkan kepala dengan lemah, dari raut wajahnya terkesan tidak ikhlas. Sementara Difki mengangguk saja, ia memberikan senyum terpaksanya.

__ADS_1


Keempatnya berjalan menuju ke tempat rumah tua itu berada. Bhanu berjalan terlebih dahulu bersama Difki sementara Riani dan Nindira menyusul langkah mereka sembari berbincang sepanjang perjalanan.


"Loh, kok kaya gitu ya, Ri. Perasaan dulu rumahnya nggak serusak ini deh," ujar Nindira saat sudah hampir sampai di depan rumah tersebut.


"Lah, iya juga ya beda banget." Pandangan mata Riani terpaku ke arah rumah tua itu.


Dari tempat keduanya berdiri, bangunan rumah sudah sangat tidak layak huni. Pintunya miring, mungkin karena efek ditendang oleh Riani juga semalam, beberapa genteng sudah tidak ada dan atapnya ada yang runtuh, teras rumah sangat kotor dan beberapa jendela terbuka begitu saja.


"Pandangan mata kalian ditutupi waktu itu," ujar Bhanu dengan air muka dinginnya.


Masih dalam posisi yang sama, Bhanu dan Difki masuk ke dalam rumah itu terlebih dahulu. Sementara Riani dan Nindira menyusul tidak jauh di belakang mereka.


Detak jantung Riani lebih cepat dari biasanya, masih ada rasa takut dalam hatinya apalagi saat melihat rumah tua ini ia kembali teringat dengan kejadian malam tadi.


Langkah kaki Riani mulai memasuki rumah, namun seketika ....


Kedua tangan Riani menutupi wajah, ia tak mau melihat ke dalam. Riani berlari keluar tanpa kendali sembari berteriak kencang.


"Kamu kenapa, Ri?!" tanya Nindira yang panik usai berhasil mengejar Riani yang berlari.


Riani menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau masuk ke sana lagi, mereka semua masih ada di dalam," ucap Riani dengan kedua tangan yang masih terus menutupi wajahnya.


"Kenapa, Ra?" tanya Difki yang berlari keluar dari rumah disusul oleh Bhanu.


Nindira sempat terdiam sejenak, ia melirik ke arah Riani. "Nggak papa, kata Riani mereka semua masih ada di dalam, jadi dia nggak mau ikut masuk ke dalam."


"Ya udah kalau gitu biar aku sama Kak Bhanu aja yang masuk, kamu jagain Riani di sini ya."


"Iya, ambilin aja semua barang yang ada di kamar." Nindira beralih kepada Riani. "Semuanya ada di kamar kan, Ri?"


Riani menganggukkan kepala, kedua tangannya masih terus menutup wajah. Meskipun sebenarnya semakin ia memejamkan mata, bayangan mereka dalam pikiran Riani semakin terlihat jelas.


Beberapa menit berlalu, Bhanu dan Difki kembali keluar dengan membawa koper dsn tas ransel milik Riani. Sepertinya semua barang-barang Riani sudah ada di dalamnya.

__ADS_1


"Terus sekarang aku gimana ya? Kira-kira ada kost lain nggak ya yang masih ada kamar kosongnya? Masa aku mau pulang ke rumah sekarang?"


__ADS_2