PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Menginap


__ADS_3

"Ehm, kayanya besok lagi aja deh kita ke sini lagi, Bu. Soalnya juga barang-barangnya belum di bawa ke sini," jelas Riani dengan ramah.


Wanita tua tersebut pun membalas dengan menganggukkan kepalanya ramah. "Ya sudah kalau begitu, saya tunggu kedatangan kalian besok ya."


***


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam saat Riani dan Nindira sudah berada di dalam kamar kost kembali. Keduanya baru saja sampai, Riani memutuskan untuk langsung merebahkan diri di atas satu-satunya tempat tidur sementara Nindira mengganti pakaian menjadi lebih santai.


"Emang kamu yakin mau kost di rumah itu?"


Riani mengangguk pelan sembari mematikan smartphone-nya yang lantas diletakkan begitu saja di atas permukaan tempat tidur.


"Cari tempat kost yang lain juga susah, Ra. Kebanyakan punya ibu atau Pak Abdul. Aku nggak mau kalau sampai mereka tahu."


Terdengar suara Nindira yang menghembuskan nafasnya dengan berat. "Kamu di sini aja udah aman, aku tinggal bilang kalah nggak tahu kamu di mana."


"Nggak ah, Ra," ujar Riani sembari menggelengkan kepala. "Aku nggak mua ngerepotin kamu." Ia memberikan senyuk terbaiknya. "Makasih banyak loh kamu udah mau aku repotin dua hari ini, bahkan tiga hari sama besok."


"Aku sih nggak masalah, Ri, malah aku seneng jadi ada temennya."


Riani menanggapi hal tersebut dengan tersenyum. "Kaya kamu di sini nggak ada temen aja, Ra."


"Ada sih, tapikan nggak sedeket sama kamu." Nindira terdiam sejenak. "Tapi emang kamu udah yakin mau kost di situ?"


"Yakinlah, emang kenapa?"


"Kaya horor banget nggak sih, Ri, tempatnya?"


"Nggak juga sih menurut akumah, apalagi rumah aku juga sama, peninggalan kaya gitu, kan, cuma direnovasi di beberapa bagian aja, itupun masih kelihatan rumah jadulnya. Kita berdoa aja lah semoga nggak ada apa-apa. Aku lihat ibu tadi juga baik kok, malah aku ngerasa bakal betah tinggal di situ."


Percakapan mereka terhenti, Nindira tak lagi mengungkapkan pendapatnya. Ia tahu jika Riani sudah menginginkan sesuatu, maka sesuatu itu akan terus dia kejar. Tak ada seorang pun yang bisa menghentikan Riani untuk mewujudkan apa yang dia inginkan.


Besok harinya di sore hari, Riani sudah mengemasi pakaiannya kembali ke dalam koper. Sementara Nindira sedang menyantap makanan tidak jauh dari tempat Riani.


Lima belas menit berkutat dengan baju-baju dan perlengkapannya, akhirnya koper kecil itu kini sudah ditutup rapat.


"Selesai," ujar Riani sembari berbalik badan melihat ke arah Nindira. "Kamu udah selesai makan belum, Ra?"


"Bentar lagi," jawab Nindira dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Sepuluh menit berlalu, keduanya sudah berada di atas sepeda motor. Nindira mengenarai sepeda motor tersebut dengan koper kecil di depannya, senentara Riani membawa ransel yang dia gendong. Sepeda motor yang dikendarai oleh Nindira lantas melaju dengan perlahan.


"Ra," panggil Riani, ia memajukan sedikit kepalanya. "Selama aku nginep di kost-an kamu, nggak ada yang nanya-nanya tentang aku ke kamu, kan?"

__ADS_1


"Tante Rita," jawab Nindira sedikit berteriak.


"Kok kamu nggak bilang?"


"Baru juga tadi siang nanyanya, terus pas balik tadi lupa mau cerita sama kamu."


"Emangnya ibuku tanya apa ke kamu?"


"Ya nanyain kamu lagi sama aku nggak gitu."


"Ke mall?"


Nindira menggelengkan kepala. "Nggak, lewat pesan. Nggak tahu juga deh Tante Rita tahu nomor aku dari siapa."


"Terus kamu jawab apa?"


"Aku bilang nggak tahu. Lagipula kan kalau Tante Rita ke kost-an aku juga sore ini kamu pindah kan, jadi nggak bakal ketemu sama kamu juga. Aku juga nggak bohong ke Tante Rita, kondisinya kan aku lagi di mall, bener kan aku lagi nggak sama kamu?"


Riani terkekeh mendengar penjelasan itu. "Untung aja aku udah nemuin tempat kost yang baru."


Keduanya terus berbincang sepanjang perjalanan, seakan-akan mereka berdua tidak akan lagi berbicara panjang seperti sore hari ini.


Rumah tua yang berada tepat di belakang sebuah komplek perumahan itu masih tampak terlihat bagus dari luar, meskipun ada beberapa cat tembok yang sudah mengelupas dan tanaman liar yang tumbuh di halaman depanya. Namun hal itu wajar, mengingat pemiliknya hanyalah seorang perempuan yang sudah tua.


Beberapa kali pintu rumah diketuk, Riani masih belum mendapatkan jawaban.


"Permisi ... Ibu ...."


"Lagi pergi kali, Ni," celetuk Nindira.


Riani mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Nggak tahu juga deh."


Pintu rumah itu kembali diketuk. "Permisi."


"Sebentar," ucap seseorang dari dalam.


Riani tersenyum mendengarnya, ia lantas melihat ke arah Nindira. "Ada nih orangnya," ujar Riani dengan berbisik.


Tidak lama kemudian pintu rumah terbuka dan memperlihatkan seorang wanita tua yanh sama seperti kemarin saat Riani dan Nindira datang pertama kali. Kedatangan Riani dan Nindira disambut dengan baik dan ramah.


"Masuk, Nak. Maaf ya, tadi Ibu lagi ada di dalam, jadi nggak denger deh."


Riani terkekeh pelan. "Nggak papa kok, Bu."

__ADS_1


"Jadi kamu udah mutusin buat kost di sini?"


"Iya, Bu." Riani mengangguk pasti. "Oh ya, ini--"


"Jangan dulu," potong wanita tua itu.


"Kenapa, Bu? Inikan uang mukanya dulu, biar nanti akhir bulan saya bayar sisanya."


"Nggak usah, nanti kamu bayar langsung aja di akhir bulan, ya?"


"Oh, gitu ya, Bu," ujar Riani yang kemudian memasukkan kembali amplop berisi uang tunai ke dalam tas. "Tapi emang nggak papa, Bu?"


"Nggak, nggak papa kok." Wanita tua itu tersenyum dengan anggun. "Oh ya, itu kunci kamarmu yang gantung di ujung kiri ya, kalau kunci rumahnya yang di bagian atas itu. Nanti kalau kamu mau pergi atau keluar, kunci aja dua-duanya. Pintu kamar kamu, kamu kunci, pintu rumah juga kamu kunci."


"Loh, nanti Ibu jadi kekunci di dalam dong?"


Dia terkekeh beberapa saat. "Kan saya punya kunci masternya."


Mendengar jawaban itu, Riani dan Nindira turut terkekeh. Sepertinya pemilik rumah ini lucu dan cukup asyik juga.


Ketiganya berbincang di ruang tamu selama beberapa saat hingga matahari semakin bergerak ke arah barat. Nindira yang menyadari hari sudah semakin sore mencolek lengan Riani.


"Kenapa?"


"Udah sore, aku pulang ya," bisik Nindira.


"Oh, ya udah," ujar Riani yang lantas beranjak dari duduknya. Pandangan matanya beralih ke arah pemilik kost yang sedang memperhatikan dirinya. "Sebentar ya, Bu, saya anterin temen saya dulu, katanya mau pulang."


Langkah kaki Riani dan Nindira berjalan menuju ke luar. Tidak segera naik ke atas sepeda motornya dan pergi, Nindira terlebih dahulu menghentikan langkah kakinya.


"Kamu hati-hati ya, Ri, betah-betah di sini."


Riani mengangguk. "Pasti, Ra. Kamu juga hati-hati."


"Oke siap, kalau ada apa-apa telpon aku aja ya, jangan sungkan."


"Makasih banyak loh udah mau direpotin terus."


"Nggak kok, kamu sama sekali nggak ngerepotin, lagian aku juga suka bantu kamu." Nindira naik ke atas sepeda motornya. "Aku balik dulu ya, Ri."


Lambaian tangan Riani mengiringi kepergian Nindira. Setelah beberapa saat, Riani berbalik badan dan masuk ke dalam rumah.


Ruang tamu sudah sepi, pemilik kost sudah tidak lagi duduk di sana. Gelas-gelas berisi teh sisa mereka tadi masih tergeletak di atas meja.

__ADS_1


"Ehm, aku beresin, ah ... itung-itung bantuin ibu, kasihan juga udah tua begitu."


__ADS_2