
"Emang kenapa sih, Ra? Emang nggak boleh ya kalau aku udah bisa panggil sayang ke Bayu? Kayanya kamu nggak setuju banget aku sama dia, kamu iri sama aku?"
"Nggak gitu, Ri, tapikan kamu sendiri yang bilang kaya gitu."
"Kamu mikir dong, aku ngomong kaya gitu kan udah lama. Sekarang kalau aku udah bisa manggil sayang ke Bayu ya wajar, malah harusnya kamu seneng denger itu. Kamu tuh kaya nggak seneng banget lihat temen kamu sendiri seneng, kalau iri bilang, Ra."
Perdebatan tersebut terjadi di pinggir jalan. Nindira sebenarnya sudah merasa sangat tidak nyaman karena beberapa orang menatap ke arah mereka. Ia berusaha menenangkan Riani.
"Buka kaya gitu maksud aku, Ri, kamu salah paham." Nindira berusaha menggenggam tangan Riani.
Namun yang terjadi justru Riani segera menampik tangan Nindira. "Ah udahlah, Ra, aku males sama kamu."
Menaiki sepeda motor milik restoran, Riani segera pergi meninggalkan Nindira.
Emosi dalam diri Riani memuncak, dadanya terasa sesak.
Tangan kanannya memutar gas hingga hampir penuh, matanya fokus ke depan menghindari kendaraan-kendaraan yang ada di sana.
Keadaan karetaria sedang ramai-ramainya. Dua orang sejoli duduk berhadapan di antara banyaknya orang di sana.
Bayu mengambil selembar tissue dari dalam kotak. "Usap air mata kamu, Sayang, kamu nggak boleh nangis karena orang kaya dia."
"Tapi omongannya itu nyakitin hati aku, Sayang, baru aja aku mau manggil kamu sayang tapi dia udah nggak suka aja."
"Tapi aku suka kok."
Riani menatap Bayu tajam, ia tak mengatakan apapun dan kembali mengusap air mata yang terus-menerus mengalir dari ujung matanya.
"Dia kayanya nggak suka banget deh sama hubungan kita."
"Emang dia udah sering ngomong kaya gitu ke kamu?"
Riani mengangguk. "Nggak sering banget sih tapi ya pernah, pas aku baru balikan sama kamu juga dia bilang kaya emang aku yakin balikan sama kamu gitu, intinya dia kaya nggak suka banget sama hubungan kita."
"Kamu yang sabar, Sayang." Bayu mengusap bahu Riani dengan lembut. "Kita hidup di dunia ini pasti ada aja yang nggak suka."
"Kamu bener, Bay."
Riani sedikit lebih tenang, ia tak bisa berlama-lama di sini bersama dengan kekasihnya karena smartphone dalam saku celana sedari tadi sudah berbunyi menandakan pesan singkat yang masuk seakan tak pernah berhenti.
"Kamu jangan dengerin omongan dia, Sayang, pokoknya semua omongan orang-orang yang sekiranya nyakitin hati kamu."
"Iya, Bay." Riani menganggukkan kepala, lantas beranjak. "Aku harus nganter makanan lagi, Sayang, maaf ya cuma sebentar."
Bayu turut beranjak dari duduknya. "Iya nggak papa, Sayang, sebentar juga aku seneng kok. Kamu semangat ya kerjanya!" Bayu tersenyum, ia mendekatkan tubuhnyake arah Riani. "Besok aku pesan makanan di restoran kamu lagi."
"Biar kita ketemu lagi?" tanya Riani, tersipu.
"Iya dong."
__ADS_1
Tangan kanan Riani reflek menepuk dada Bayu. "Pinter banget akalnya."
"Iya dong, pacaranya siapa dulu," ujar Bayu dengan bangganya.
"Emang pacarnya siapa?"
"Riani dong."
"Riani siapa?"
"Riani yang paling cantik sedunia."
Lagi-lagi tangan Riani reflek menepuk dada Bayu membuat laki-laki itu sedikit terkejut dan tersentak ke belakang. Riani tersipu malu, rasanya sangat bahagia bisa bertemu Bayu setelah mendengar kata-kata mengecewakan dari Nindira.
"Oh ya, Ri, bulan depan kamu bisa ambil cuti lagi nggak?"
"Eum, nggak tahu juga ya, aku baru banget kerja soalnya. Emang kenapa, Bay? Kamu mau bawa aku ke rumah kamu lagi?"
"Oh, ya kalau nggak juga pas kamu libur aja nggak papa. Aku mau ngajak kamu liburan, mau"
"Liburan kemana?"
"Nanti deh aku pikirin, yang penting kamu hubungin aku dulu kapan kamu bisa ambil libur. Syukur-syukur kalau bisa ambil cuti semingguan, kalau nggak bisa ya minimal dua hari lah."
"Emangnya kita mau ke mana sih? Aku kepo tahu!"
"Nanti juga kamu tahu." Bayu terkekeh melihat eskpresi ingin tahu Riani. "Udah sana nanti lama lagi kamu anterin makamnya."
"Nggak, aku juga belum mikirin kita mau kemana." Bayu sedikit mendorong tubuh Riani. "Buruan nanti kelamaan pelanggan kamu dapat makanannya. Tukang delivery-nya malah mampir di sini."
"Emang nggak boleh? Kan ini juga lagi nganterin makanan."
"Masa sih? Nganterin makannya sambil nangis gitu?"
Kali ini tidak hanya tangan kanan, namun kedua tangan Riani maju bersamaan memukul dada Bayu. "Apaan sih kamu, Bay!"
Sementara Bayu justru terkekeh melihat tingkah menggemaskan Riani. Tangannya melingkar ke belakang, merangkul leher Riani. "Ayo aku anterin kamu ke parkiran."
Sudah tidak ada lagi tangisan pada wajah Riani, kini kesedihan itu telah berganti kebahagian.
Riani mengantarkan pesanan yang tersisa dan kemudian kembali ke restoran untuk mengambil pesanan yang baru, begitu seterusnya hingga jam menunjukkan pukul tiga sore.
Dengan jaket jeans berwarna abu-abu yang sudah kembali dikenakan, Riani menunggu kekasihnya menjemput di depan restoran.
Suara klakson sepeda motor membuat Riani menoleh. Terlihat Gendhis yang berada di atas sepeda motor matic berwarna merah yang menjadi teman setianya.
"Kamu mau nebeng nggak, Ri?"
Riani menggeleng dengan senyum ramah. "Aku dijemput, Ndhis."
__ADS_1
"Oh." Gendhis mengangguk. Sedetik kemudian ia melihat kekasih Riani mendekat ke arah mereka. "Tuh udah dateng, aku duluan ya, Ri."
Sedetik setelah kepergian Gendhis, Bayu datang dengan senyuman.
"Dia temen kamu?" Pandangan mata Bayu melihat ke arah perginya Gendhis. "Yang tadi siang bikin kamu nangis?"
"Bukan, yang itumah Ira."
"Ira yang kaya gimana?"
"Ituloh yang dulu kita ke danau bareng, masa kamu lupa."
"Oh ... dia ...."
Riani mengangguk. "Iya, kamu inget kan?"
"Inget kok, dia masih kerja di mall?"
"Masih." Riani mengangguk, ia lantas menaiki sepeda motor Bayu yang dulu sempat menjadi miliknya.
"Kita mau mampir ke mana dulu nih? Apa mau langsung pulang?"
"Ehm, aku laper," jawab Riani segera.
"Kalau gitu kita ke angkringan dulu, gimana?"
Riani mengangguk dengan segera. "Ayo!"
Sore itu disaksikan oleh matahari yang hendak tenggelam, dua sejoli saling bercanda di sebuah lesehan dengan meja berukuran satu meter di hadapan mereka.
Di atas meja tersebut terdapat nasi kucing, gorengan tempe, bakwan, sate telur puyuh, sate ayam dan dua gelas es jeruk manis.
Semakin matahari membenamkan diri, angkringan tersebut semakin ramai. Sebagian kecil pengunjung angkringan pergi digantikan banyak pelanggan yang baru datang.
"Makin malem makin rame aja ya, Sayang."
Riani yang sedang menyesap es jeruk manis hanya menganggukkan kepala. "Iya, tapi kayanya emang lebih enak ke sini pas malem sih."
"Kamu mau?"
"Mau aja."
"Oh, aku jadi inget, kamu udah bilang ke atasan kamu?"
Riani menggelengkan kepala. "Belum, sih, emang mau cepet-cepet?"
"Kan lebih cepat lebih baik, Sayang."
"Emang kamu udah tahu kita mau ke mana?"
__ADS_1
Bayu tersenyum. "Tahu dong, udah aku pikirin tadi siang."
"Kemana emangnya?" Riani bertanya dengan cepat. "Kasih tahu aku dulu baru abis itu aku ngomong ke atasan."