
Riani terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal. Melihat ke sekitar, hari masih sore, belum berganti menjadi malam seperti di mimpinya tadi.
"Kamu kenapa, Ri?" tanya Nindira yang juga turut terbangun.
Riani masih shock dan belum bisa menjawab pertanyaan Nindira dengan benar.
"Aku ambilin kamu minum ya, sebentar," ujar Nindira yang lantas beranjak dari tidurnya.
Segelas air putih diteguk oleh Riani sampai habis. Ia merasa sedikit lebih tenang kali ini meskipun nafasnya masih tersengal-sengal, namun sudah tak sehebat tadi.
"Aku tadi mimpi buruk, Ra, buruk banget," ujar Riani memulai cerita. "Pas aku lihat ke ayahku, aku udah berkalung rantai gede banget, lehernya, tangannya, nggak tahu kalau kakinya, soalnya ketutupan meja. Aku lihat wajahnya udah rusak parah. Aku ...." Riani terisak, ia tak dapat melanjutkan kalimatnya.
Sementara Nindira mengusap bahu Riani lembut, berusaha menenangkan perempuan itu. "Jangan terlalu dipikirin, Ri, kan cuma mimpi."
"Aku yakin ini bukan sekedar mimpi, Ri, ini pertanda."
"Pertanda apa emangnya?"
"Aku inget pernah mimpi kaya gini juga, aku lihat ayahku dirantai kedua tangannya. Aku yakin seratus persen kalau ini pertanda." Riani menggeleng pelan. "Tapi aku nggak tahu ini pertanda apa."
Terdengar hembusan nafas dari Nindira yang cukup berat, sepertinya cerita dari Riani juga berhasil membuatnya kepikiran. "Semoga aja nggak terjadi apa-apa ya, Ri."
Riani mengangguk. Seketika ia teringat hendak memberikan CV serta persyaratan lain untuk melamar kerja. "Ini jam berapa, Ra?"
"Jam ...." Nindira menoleh ke arah jam dinding. "Setengah empat. Kamu mau ke restoran sekarang?"
Riani hanya menganggukkan kepala.
"Ya udah deh kalau gitu aku beresin ini dulu bentar ya, Ri."
Kedua mangkuk dan gelas dibawa ke area dapur, tidak lama kemudian Nindira kembali dan mulai bersiap.
Sepeda motor Nindira mulai dinyalakan dan bergerak perlahan.
"Motor kamu ke mana, Ri? Kok tadi kamu jalan?"
"Motor itu punya Bayu."
"Oh ya, kamu udah nggak pacaran lagi sama Bayu?"
"Iya, nanti deh aku ceritain, Ra."
Nindira menganggukkan kepala.
Sepuluh menit berkendara, Riani telah tiba di restoran yang sama yang tadi siang ia datangi.
"Halo, mau pesan apa?" tanya penjaga kasir yang kini telah berganti laki-laki.
"Nggak mau pesan, Kak," jawab Riani sembari mengambil amplop coklat di dalam tasnya. "Aku mau lamar kerjaan."
"Oh, iya silahkan. Ini sudah lengkap semua dokumennya?"
__ADS_1
Riani mengangguk pasti. "Makasih ya."
Ia kembali kepada Nindira yang menunggu di atas motornya.
"Kita ke taman dulu gimana, Ra?"
***
"Serem juga ya itu Bayu sama keluarganya."
Riani mengangguk. "Untungnya Fella ngikutin aku diam-diam, kalau nggak gimana caranya aku bisa kabur dari sana. Fella juga bantuin aku."
"Baik juga dia, aku jadi pengin punya temen tak kasat mata."
"Tapi ada resikonya, Ra, kamu juga bakal lihat makhluk-makhluk lain yang serem. Penampilan Fella juga serem menurutku."
"Iya juga ya, untung dia pakai seragam kerja, coba kalau pakai daster putih, hahaha."
"Mungkin aku nggak berani temenan sama dia." Riani turut tertawa. "Tapi setelah kejadian itu aku jadi nggak pernah lihat dia lagi."
"Iyakah?"
Riani mengangguk.
"Oh ya, ada yang mau aku sampein ke kamu," ujar Nindira dengan serius. "Tri and the gang juga dipecat tadi siang."
"Hah? Serius?" tanya Riani, kedua matanya terbelalak. "Emangnya kenapa? Kok mereka dipecat?"
"Kesurupan gimana?" Riani merasa sangat penasaran.
"Ya kesurupan gt, Ri. Ngga tahu juga sih seharian penuh dia teriak-teriak, nangis-nangis sampe bikin bingung atasan juga."
Mendengar cerita dari Nindira, Riani terdiam.
'Apa ini ulah Fella ya?' pikir Riani.
***
Hari sudah berganti malam dan Riani berdiri di depan pintu gerbang rumahnya. Pandangan matanya menatap ke arah rumah yang terlihat sangat sepi.
Mimpi tadi siang membuat Riani merasa ketakutan sendiri. Ia tidak berani masuk ke dalam rumah.
"Riani," panggil Rita.
Menoleh ke arah sumber suara, Riani mendapati ibunya yang sedang berjalan dari arah rumah Pak Abdul.
"Ibu dari rumah Pak Abdul lagi?" tanya Riani.
Rita mengangguk sembari tersenyum. "Biasa, urusan bisnis, urusan orang tua, Ni."
"Ibu ... Ibu nggak lagi pendekatan sama Pak Abdul, kan?" tanya Riani langsung pada poinnya.
__ADS_1
"Hus!" Rita menepuk pundak anak perempuannya. "Nggak lah, Ni, walaupun Ibu udah jadi janda ditinggal mati, tapi Ibu mah masih pengin setia."
Riani mengangguk malas. "Aku nggak mau malah jadi saudaraan sama Sella."
"Iya nggak bakalan, Riani Sayang." Rita tersenyum. "Ayo masuk, kamu kenapa berdiri di luar?"
"Nggak papa kok, Bu," ujar Riani sembari menggelengkan kepala.
Masuk ke dalam rumah, aroma wangi masakan tercium begitu harum.
"Masak apa kamu, Dwi?" tanya Rita.
"Sayur sup, Nyonya, tadi pagi kan Nyonya Rita minta dibikinin sayur sup."
"Oh iya," ujar Rita tersenyum. "Maklumlah, udah tua, udah mulai lupa." Ia mendudukkan tubuhnya di kursi makan, begitu juga dengan Riani yang memilih duduk di sebelah dirinya. "Kamu makan yang banyak nanti, Ni."
"Asalkan Ibu nggak manggil Bayu, aku makan juga bakal nafsu makan, kok."
"Emangnya kenapa sih kalau Ibu panggil Bayu? Kan biar tambah rame, Ni, yah anggap saja sebagai pengganti ayah."
Riani beranjak dari duduknya. "Apa Ibu bilang? Ayah nggak bisa tergantikan oleh siapapun, Bu, apalagi sama orang kaya dia!"
"Kamu kenapa sih sama Bayu, Ni? Dia itu baik loh, dia ke sini tiap hari buat lihat kamu tapi kamunya masih kaya gini aja ke dia."
"Ya karena sikap dia dan keluarganya, Bu. Ibu percaya dong sama aku."
"Udah, udah, kamu tenangin diri kamu dulu, Ri. Kamu bersih-bersih, gih."
Riani menghentakkan kedua kakinya. Dalam hati ia merasa sangat kesal dengan ibu yang justru mempercayai orang lain yang sudah membuat anaknya semarah ini.
Di dalam kamar Riani melakukan rutinitas seperti biasanya. Usai membasuh wajah, tangan dan kaki, perempuan itu duduk di depan meja rias memandangi dirinya sendiri.
"Cantik juga aku," ujar Riani tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin.
Satu-persatu produk kecantikan mulai diaplikasikan di wajahnya. Ia merasa lebih tenang dengan aroma-aroma lembut dari berbagai produk kecantikan itu.
Tangan dan wajah sudah mendapatkan nutrisi yang sempurna. Riani bertumpu pada salah satu tangan, memandangi wajahnya sendiri yang nampak lebih segar.
Semakin lama ditatap, Riani merasa aneh dengan pantulan dirinya di cermin. Ia merasa tidak lagi melihat pantulan dirinya melainkan seseorang yang lain. Menatap kedua mata pantulannya di cermin pun membuat Riani semakin merasa ketakutan.
Riani beranjak dari duduknya dan segera keluar dari kamar. Ia menuruni anak tangga dengan cepat karena sudah lapar dan ingin segera menyantap makan malam.
Pintu utama terdengar diketuk, lantas terbuka perlahan.
Riani yang masih berada di atas salah satu anal tangga menghentikan langkah kakinya. Ia memperhatikan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.
"Bayu?" lirih Riani.
Suasana hati yang ceria kini berubah menjadi sangat buruk.
Riani merubah haluan, ia kembali menaiki anak tangga. "Kenapa sih Ibu masih ngundang dia lagi?!"
__ADS_1