PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Kemungkinan


__ADS_3

Sebuah bangunan dari kayu dengan chatt merah maroon ada di depan mata, lampu-lampu menghiasi meskipun sinar matahari masih bersinar terik siang ini.


Meja-meja tampak ada di dalam, depan, samping dan bahkan bagian belakang gedung itu yang langsung menghadap ke sebuah danau.


Langkah kedua kaki Bhanu memasuki bangunan tersebut, disusul oleh Riani yang berjalan tidak jauh di belakangnya.


"Kak Bhanu pesan apa tadi?" tanya Riani penasaran karena ia tidak dengar apa yang dikatakan Bhanu kepada seseorang yang berjaga di meja kasir.


Tapi seperti sebelumnya Bhanu tak memberikan respon apapun kepada Riani. Langakh kedua kakinya terus bergerak hingga sampai di bagian belakang bangunan itu.


Seketika hamparan danau yang luas terlihat di depan mata, indah. Bhanu mendudukkan tubuhnya pada salah satu kursi, begitu juga dengan Riani.


"Silahkan pesanannya, Kak."


'Cepet juga pelayanan di sini, baru aja duduk langsung dapat pesananan,' batin Riani.


Sama seperti kepada Riani, Bhanu juga tidak merespon perkataan pelayan tadi.


"Jadi itu rumah kamu?" tanya Bhanu, tatapan matanya melihat serius ke arah Riani.


"Ehm ... i--iya, emangnya kenapa, Kak?" Riani mengernyitkan dahi.


Terdengar hembusan nafas yang berat dari Bhanu. "Rumah itu ...." Bhanu tak kunjung melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa, Kak?"


Bhanu menggelengkan kepala. "Kurasa belum waktunya kamu tahu."


"Kak," panggil Riani, ia sudah sangat penasaran. "Kenapa emangnya dengan rumah aku?"


"Apa ... orangtua kamu pakai pesugihan itu juga?"


"Pesugihan apa?" tanya Riani, dahinya semakin mengernyit.


"Nyi Kembar."


Riani terdiam sejenak, rasanya tidak mungkin jika kedua orangtuanya menggunakan pesugihan Nyi Kembar. Apalagi sedari Riani kecil kondisi ekonomi keluarganya sudah cukup baik, untuk apa juga kedua orangtuanya harus melakukan pesugihan itu?


Seketika Riani teringat dengan abu dupa yang ia temukan di bawah meja dalam rumah Sella. Kedua mata Riani melihat ke arah Bhanu.


"Nggak mungkin ayah sama ibuku pake pesuihan kaya gitu, Kak, tapi aku curiga sama salah satu tetanggaku."


"Siapa?"


"Pak Abdul, aku pernah lihat ada bekas dupa di rumahnya, orang lain juga curiga kalau Pak Abdul pakai pesugihan itu."


"Serius?" Bhanu tampak ragu.


Sementara Riani menganggukkan kepalanya pasti. "Aku juga pernah nemuin uang seratus ribu depan tokonya, pas baru buka juha toko dia langsung ramai. Bukannya kata orang-orang kalau nemuin uang nominal gede itu bahaya ya? Bisa-bisa kita jadi tumbal pesugihannya."


"Ehm ...." Bhanu menganggukkan kepala beberapakali, ia mencoba mencerna penjelasan dari Riani. "Tapi kenapa aku lebih yakin di rumah itu ya?"


"Emangnya ada bukti?"


"Nggak ada juga, tapi aku bisa ngerasain."

__ADS_1


"Kenapa aku nggak bisa?"


Bhanu mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Aku ada rencana buat ngalahin mereka."


"Gimana caranya?"


"Nanti juga ada caranya."


"Aku boleh ikut?"


"Boleh aja, kamu mungkin bisa mulai di rumah kamu sendiri."


Riani terdiam. "Tapi sama sekali nggak mungkin mereka pakai pesugihan ini, ayah ibu punya usaha kost yang cukup sukses, kenapa juga harus pakai pesugihan?"


"Make sense, tapi--"


Sebuah panggilan suara memotong pembicaraan mereka. Bhanu beranjak dari duduknya untuk mengangkat panggilan suara itu.


Beberapa menit berlalu, laki-laki itu kembali berjalan ke arah Riani.


"Kenapa?"


Bhanu menggelengkan kepala. "Aku harus pergi sekarang."


Bahkan minuman yang dipesan saja hanya disesap satu kali, Riani yang merasa sayang dengan minuman yang berupa jus mangga itu segera menyesapnya kuat-kuat.


"Tunggu aku ... tunggu, Kak Bhanu!"


Riani terburu-buru berjalan keluar mengejar langkah Bhanu. Saat sudah sampai kembali di tempat parkir, Bhanu sudah mengenakan helmnya.


"Naik."


Riani tersenyum, setidaknya ia tidak ditinggal begitu saja oleh Bhanu.


***


Beranjak dari tempat tidur, Riani segera menuju ke kamar mandi. Pintu kamar mandi yang tertutup diketuk dengan keras oleh Riani.


"Ra ... Ra, tolong buka dulu," ujar Riani, suaranya tidak begitu jelas karena ia menutup mulutnya dengan tangan.


"Kenapa, Ri?" teriak Nindira dari dalam.


"Buka dulu pintunya," ujar Riani yang terus mengetuk pintu tersebut.


Beberapa detik kemudian pintu terbuka dan Nindira keluar dengan badan yang hanya dililit handuk saja. Riani tidak perduli di sekitarnya, ia segera menyeruak masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan semua isi dalam lambungnya.


Perutnya terasa mual, pandangan mata buram oleh air mata. Riani membasuh wajahnya, membersihkan semuanya sebelum keluar dari kamar mandi.


"Kamu kenapa, Ri? Sakit?"


Riani menggelengkan kepala. "Nggak tahu, tiba-tiba aja kaya gini."


"Ya udah kamu nggak usah kerja dulu, kamu istirahat aja di sini."


"Nggak," ujar Riani sembari menggelengkan kepala. "Ini udah baikan kok."

__ADS_1


"Tapi mukamu masih pucet banget, Ri."


Riani tersenyum. "Nggak papa, aku udah ngerasa lebih baik. Maaf ya ganggu kamu lagi mandi."


"Iya, nggak papa." Nindira menganggukkan kepala. "Kalau gitu aku lanjut lagi dulu."


Lima belas menit digunakan Riani hanya untuk rebahan dan beristirahat sejenak. Tubuhnya terasa lemas tak ada sedikitpun semangat.


"Kamu jadi mau berangkat, Ri?"


Riani menganggukkan kepala sembari membuat alis.


"Emangnya nggak papa?" tanya Nindira lagi.


"Iya nggak papa lah, lagian aku juga udah lebih baik, cuma lemes dikit aja."


"Ya udah deh, nanti kabar-kabar aja."


Keduanya berangkat seperti biasa, Nindira mengantarkan Riani terlebih dahulu ke restoran sebelum ia berangkat ke mall.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi sudah ada banyak pelanggan yang pesan makanan secara online. Riani membalas pesan-pesan yang masuk itu satu-persatu. Sementara Gendhis mulai mencatat pesanan apa saja yang akan dikirim.


"Tiati ya, Ri."


Riani tersenyum. "Thanks, Ndhis." Ia mengenakan helm dan menyalakan sepeda motor matic yang akan dia gunakan.


Pesanan makanan di antar ke alamat terdekat terlebih dahulu. Riani berusaha untuk tetap terlihat kuat meskipun ia merasa cukup lemas hari ini.


Baru tiga pesanan yang diantar, pandangan mata Riani sudah mulai berkunang-kunang. Langkah kedua kaki Riani berjalan menuju ke salah satu rumah yang menjadi tujuannya.


Bel rumah ditekan satu kali, tidak ada jawaban. Riani menekan bel rumah tersebut untuk kedua kali dan terdengar teriakan seorang perempuan dari dalam.


"Duh, lama banget lagi," ujar Riani lirih.


Kedua matanya dikerjapkan beberapa kali, namun tak membuat pandangan matanya berubah menjadi lebih jernih.


Riani merasa tidak bisa bertahan lebih lama lagi, lututnya terasa lemas menopang beban tubuhnya.


Hingga pada saat pintu terbuka, Riani sudah hilang keseimbangan. Pandangan matanya kini sudah sepenuhnya gelap, ia tak bisa lagi melihat apapun selain kegelapan yang ada di sekitarnya.


Meskipun begitu indra pendengarannya masih bisa mendengar dengan jelas.


"Eh, kamu kenapa?"


"Kak, kamu kenapa? Bangun, Kak."


"Loh, pingsan ya?"


"Aduh, gimana ini? Mana aku cuma sendirian lagi di sini."


"Coba deh aku bawa dia ke dalam, barangkali kuat."


"Aduh, duh, duh, berat juga."


"Gimana ya?" Riani bisa merasakan pipinya ditepuk beberapa kali. "Kak, bangun, Kak."

__ADS_1


__ADS_2