PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Toko Dekat Persimpangan


__ADS_3

Rolling door berwarna merah itu berbungi keras saat kuncinya dibuka. Pintu tersebut tergulung ke atas dengan sendirinya.


Sella mencari sesuatu di dalam tas selempangnya. "Ini udah modal hari ini ya." Ia memberikannya kepada seorang laki-laki yang bertugas menjaga toko.


Penjaga toko yang sebelumnya sudah pernah bertemu dengan Riani itu hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Ia masuk ke area kasir dan mulai menata uang tersebut di tempat penyimpanan.


"Ayo, Ri," ujar Sella yang kembali berjalan menuju sepeda motornya.


"Aku baru tahu kalau ini toko punya keluargamu." Riani berkata usai keduanya berada di atas motor yang sama.


Terdengar Sella yang sejenak terkekeh. "Iya emang nggak ada acara launching juga, Ri."


"Jadi kamu selama ini kerja di situ?"


"Nggak juga, sih, aku cuma bantu-bantu aja kalau lagi nggak males." Sella terkekeh lagi. "Eh, gimana kalau kita pergi ke pesawahan?"


"Boleh, tuh, lagi ada sunday morning ya?"


"Iya, ya udah kita ke sana ya."


Lima belas menit perjalanan, sepeda motor yang ditunggangi oleh mereka berdua akhirnya sampai di tempat parkir dekat pesawahan.


Terlihat beberapa petani yang hendak pergi ke sawah melewati beberapa pedagang yang berjualan di sekitar area ini. Sinar matahari masih belum terlalu menyengat, beberapa ibu-ibu yang telah selesai melakukan senam terlihat tengah beristirahat.


"Hm, beli apa ya?" Sella berkata lirih sembari melihat-lihat ke sekitar.


Ada banyak penjual makanan dan minuman di sini, semuanya ramai oleh pembeli.


"Aku pengin beli waffle," ujar Riani sesaat setelah ia melihat sepeda motor dengan gerobak kecil berwarna merah muda di atasnya. "Kamu mau beli juga nggak?"


"Hm, gimana kalau kita beli makanan yang beda-beda? Nanti pas makan kita saling bagi aja."


"Bagus juga tuh," ujar Riani seraya menganggukkan kepala, ia setuju dengan ide yang diberikan oleh Sella.


Dua puluh menit berlalu, keduanya kini tengah duduk menunggu menu terakhir yang mereka pesan.


Dua orang perempuan sibuk membolak-balikan sosis, bakso dan olahan seafood di atas panggangan. Sembarangan Riani dan Sella hanya memperhatikan mereka.


"Terima kasih," ujar Sella menerima bungkusan plastik berwarna putih, ia juga menyerahkan uang yang sudah dia siapkan. Sella beralih ke arah Riani. "Kita mau makan di mana, Ri?"

__ADS_1


"Ehm ...." Tak ada tempat seru yang terlintas dalam pikiran Riani.


"Apa kita makan di sini aja?" tanya Sella memberikan saran.


Melihat ke arah beberapa bungkus plastik yang ada dalam genggamannya dan genggaman Sella, Riani tidak yakin jika ia harus menikmati makanan di sini.


"Ehm, di rumah kamu aja gimana, Sel?"


Sella mengangguk setuju. "Ya udah brarti kita pulang nih ya sekarang?"


Keduanya kembali ke tempat parkir di mana sepeda motor Sella berada. Jalanan sudah lebih ramai dari pada tadi. Hari minggu ini, banyak terlihat orang-orang yang berlari ataupun bersepeda, namun tidak jarang juga angkutan umum dan kendaraan pribadi yang melintas seperti hari-hari biasanya.


"Kok cepet banget?" tanya Pak Abdul saat sepeda motor Sella kembali masuk ke halaman rumah. Laki-laki yang mengenakan sarung berwarna hijau itu masih melakukan hal yang sama.


"Beli jajan doang," jawab Sella yang lantas memarkir sepeda motornya. "Lagian mau kemana lagi ya, Ri."


Riani mengangguk. "Iya, ini aja udah bikin seneng."


Keduanya lantas masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga dengan duduk lesehan di atas karpet sembari menonton film kartun di televisi, keduanya menikmati jajan yang sudah mereka beli.


"Pedes nggak?" tanya Sella, mengambil sosis bakar di depan Riani.


"Kelihatannya juga gitu." Sella melihat ke bungkusan plastik bening dengan kuah yang merah merekah. "Aku ambil mangkuk ya." Sella beranjak dari duduknya.


Riani hanya mengangguk, ia kembali menikmati scallop yang masih tersisa dua biji.


"Silahkan masuk." Suara Pak Abdul terdengar jelas. "Gimana ... gimana?"


"Jadi gini ... rencananya saya dan teman saya mau kost di sini."


"Kalian asalnya dari mana?"


Riani melongok sedikit, di ruang tamu ia melihat Pak Abdul yang sedang berbicara dengan dua perempuan. Dilihat dari wajahnya, perempuan itu mungkin berusia dua tahun lebih muda dari pada dirinya.


"Siapa, Ri?" tanya Sella yang sudah kembali.


Riani mengangkat kedua bahunya bersamaan. "Nggak tahu, kayanya mau kost di sini."


"Oh," gumam Sella, menganggukkan kepala. "Kost-an kamu gimana, Ri?"

__ADS_1


"Lumayan, sih, dulu pas Ayah nggak ada emang turun drastis, tapi sekarang udah biasa lagi. Kamar-kamar yang kosong juga udah ditempati lagi. Paling ya ... masing-masing cuma ada satu kamar lah yang kosong. Malahan kalau rumah udah dikontrak semua."


Sella hanya menganggukkan kepalanya sepanjang Riani menjelaskan.


Kedua orang tua mereka memang memiliki usaha yang sama. Keduanya hidup dari hasil uang yang sama.


"Kalau kamu ... gimana?" tanya Riani, ada keraguan dalam hatinya.


"Ya gitu lah, Ri, semenjak Gendhis ditemukan juga banyak yang pindah kost. Beberapa kan juga pindah ke kost-an kamu. Terus makin ke sini berita itu udah makin hilang ya jadi makin banyak lagi yang ke sini buat kost. Ya bersyukur aja sih, Ri, sedikit banyak masih ada lah buat pemasukan mah."


"Iya ya, aku juga niatnya mau ambil motor atau mobil gitu biar aku nggak keterusan naik kendaraan umum. Cuma aku masih ragu."


"Kenapa? Kan kamu udah punya penghasilan juga dari mall."


Riani menghembuskan nafasnya. "Kayanya aku pengin resign, Sel."


"Loh, kenapa, Ri?" Sella terlihat terkejut. "Kamu udah sampai sini loh, cari kerjaan itu susah, Ri."


"Iya, aku tahu, tapi aku nggak nyaman di situ, Sel. Temen yang bener-bener deket sama aku cuma Ira, Tri sekarang gabung geng yang ngatain aku gila."


"Mereka masih ngatain kamu kaya gitu?"


Riani mengangguk lemah. "Padahal aku juga udah suruh Fella pergi, akhir-akhir ini juga dia nggak pernah muncul lagi. Tapi ... aku merasa kehilangan dia, Sel. Seenggaknya kalau aku nggak lagi sama Ira, masih ada Fella yang nemenin aku kan walaupun orang lain nggak bisa lihat dia."


"Emangnya nggak serem, Ri?"


"Wujud dia juga kaya kita, Sel, cuma wajahnya nggak kelihatan, ketutupan sama rambut panjang dia."


"Kamu nggak berusaha panggil dua lagi?"


"Aku nggak tahu gimana caranya."


"Coba datangi tempat yang biasa dia muncul."


Riani terdiam, ia lantas beranjak. "Aku boleh numpang ke toilet nggak sih, Sel? Kebelet nih."


"Boleh, kok, ke sana aja. Kamu udah tahu, kan?"


Riani mengangguk, ia melangkahkan kakinya dengan cepat ke belakang.

__ADS_1


"Yah, apa ini?" Riani melihat ke bawah, ia tak sengaja menginjak sesuatu. "Ini abu apa?"


__ADS_2