PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Korban Kecelakaan


__ADS_3

Dahi Riani mengernyit, ia merasa ada yang aneh dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Bayu tadi. "Dia pakai ... kemeja putih?"


"Iya, kan kamu juga lihat sendiri bajunya berlumuran darah gitu?" Bayu menganggukkan kepala.


Sementara itu Riani justru menggelengkan kepala. "Aku nggak lihat pas lagi kejadian, aku lihat pas udah mau diangkat ke ambulan, itu juga kan udah ditutup pake kain putih."


Hening, hanya ada suara sayup-sayup air yang tersapu angin.


"Eh, Ri," ujar Difki yang juga sepertinya menyadari sesuatu. "Kok mirip sama yang kamu omongin ya?"


"Jadi itu dia?" tanya Riani dengan dahi yang masih mengernyit.


"Kayanya sih, soalnya mirip banget. Kemeja putih kerudung krem, kan?"


Riani menganggukkan kepala. Ia terdiam berkutat dengan pikirannya yang merasa tidak menyangka jika bisa melihat seseorang yang baru saja telah kehilangan nyawanya.


"Apa sih?" tanya Nindira yang tiba-tiba ikut berbicara, padahal sedari tadi perempuan itu menutup telinga dengan rapat-rapat agar tidak mendengar kata-kata yang mungkin akan membuatnya tidak bernafsu untuk menyantap makanan.


"Tadi aku didatengin sama korban," jawab Riani.


"Serius?!" Kedua mata Nindira terbuka lebar.


Sementara Riani hanya menganggukkan kepala.


"Mana ada orang udah meninggal bisa datangin kamu, Ri," celutuk Bayu yang tak percaya.


"Aku saksinya," ujar Difki yang turut bersuara.


"Emang kamu juga lihat?" tanya Bayu.


Difki menggelengkan kepala. Pandangan matanya melihat ke arah Riani. "Tapi aku lihat dia lagi ngomong sendirian, pas aku nanya Riani bilang dia tadi lagi ngomong sama cewek pake kerudung warna krem terus baju kemeja putih. Dan korban pake baju itu juga, kan? Padahal aku sama Riani belum tahu kalau ada orang kecelakaan di situ."


Tiba-tiba saja terdengar suara tepuk tangan dan keheningan sore itu. "Wah, keren kamu, Ri, bisa lihat orang yang udah mati." Bayu meneruskan tepuk tangannya.


"Biasa aja," jawab Riani enteng. "Malah aku nggak mau kaya gini sebenarnya."


"Tapi Bayu bener kok, Ri, kamu keren banget. Kamu bisa melakukan apa yang nggak bisa kita lakukan." Difki menambahi.


"Hahahaha." Nindira terkekeh. "Aku jadi ingat sesuatu," ujarnya yang masih tersenyum. "Dulu aku punya temen yang pura-pura bisa lihat hantu biar dikira keren."

__ADS_1


"Tapi aku percaya kalau Riani nggak pura-pura. Iya kan, Ran?" tanya Difki, ia membela Riani.


Riani menganggukkan kepala. "Untuk apa juga aku pura-pura, tidak ada gunanya. Justru kemampuan aneh ini bikin aku dicap gila."


"Siapa yang bilang kamu gila, Ri?" tanya Bayu, Ia begitu serius. "Aku juga percaya kok kalau kamu nggak bohongan."


"Alah, tadi juga nggak percaya," celutuk Difki yang lantas menyilangkan kedua tangan dan membuang pandangan.


Bayu melirik ke arah Difki, terlihat jelas jika ia tidak suka dengan Difki meskipun belum jelas apa alasannya.


"Aku juga percaya kok, Ri. Aku ngomong kaya tadi bukannya aku mau samain kamu sama temen aku yang bohong itu, tapi aku cuma inget kejadian lucu itu aja."


"Terus pas ketahuan gimana?" tanya Riani penasaran.


"Dia dimusuhi satu kelas."


Baik Riani maupun Nindira sama-sama tertawa, tapi tidak dengan Bayu dan Difki.


Lampu-lampu kota terlihat indah menghiasi malam dari kejauhan. Semilir angin menerpa membuat beberapa helai rambut turut terbawa angin malam.


"Gimana keadaan ibu, Mba?" tanya Riani sembari melangkah menyusuri lorong menuju kamar tempat ibunya dirawat.


"Syukur deh kalau gitu," ujar Riani, ia semakin mempercepat langkah kakinya karena tidak sabar untuk bertemu dengan ibunya.


Pintu ruangan terbuka dan terlihat seorang perempuan yang setengah terduduk di atas ranjang. Pandangan matanya tengah fokus melihat ke arah televisi yang menyala dengan remot yang berada dalam genggaman tangan.


"Ibu ...." Riani berhambur mendekat, ia memeluk tubuh ibunya dengan erat. "Gimana kondisi Ibu sekarang?"


Rita mengangguk lemah, bibir pucatnya tersenyum. "Udah baikan kok, Ni."


"Ibu tahu nggak aku bawa apa?" tanya Riani, ia lantas beralih ke arah Dwi.


Rita menggelengkan kepala. "Bawa apa kamu emangnya?"


"Ta ... ra ...." Riani mengangkat plastik putih dengan semerbak aroma yang membuat perut terasa lapar. "Sate ayam kesukaan ibu."


"Wah, kamu tahu banget. Udah lama juga nggak makan sate ayam. Terakhir kayanya sebelum ayah nggak ada deh."


"Iya, makannya aku beli sate ayam, Bu. Kita makan malam bareng-bareng ya."

__ADS_1


Tak hanya Riani, Dwi juga turut membantu Riani menyiapkan makan malam.


Keduanya mengeluarkan kotak berisi nasi, mereka juga menggunakan salah satu kotak sebagai tatakan untuk meletakkan sate ayam tersebut agar lebih mudah untuk diambil.


Di tangan kanan Riani sudah ada sekotak nasi, sementara di tangan kirinya ada satu kotak dengan sate ayam yang masih utuh.


"Nih ... sate ayamnya," ujar Riani yang kembali mendekat ke arah ranjang. "Ibu duluan yang ambil karena ini spesial buat Ibu."


Satu kotak nasi telah berada dalam tangan Rita, ia juga mengambil lima tusuk sate dan meletakkan bumbu kacang yang cukup banyak hingga nasi putih dalam kotak itu tidak lagi terlihat karena tertutup oleh banyaknya bumbu kacang.


"Lima aja, Bu?" tanya Riani. "Nggak kurang?"


Rita menggelengkan kepala. "Cukup kok, Ni, sisanya buat kamu, Dwi sama Bayu biar kebagian semua."


"Oke deh."


Tak ingin mengganggu ibunya yang hendak menyantap makan malam, Riani beralih mendekat ke arah sofa. Di sana Dwi terlihat sedang menggelar tikar plastik dibantu oleh Bayu. Keduanya lantas duduk di atasnya dengan dua kotak berisi nasi yang berada di dekat mereka.


Riani turut duduk bersama keduanya. Ia lantas meletakkan kotak berisi sate ayam di tengah-tengah.


"Loh, Nona Riani duduk di sofa aja," ujar Dwi yang terkejut melihat majikannya turut duduk di bawah.


"Nggak papa kok, biar rame kita makan bareng aja di sini." Riani tersenyum. "Silahkan diambil satenya Mba Dwi." Pandangan mata Riani beralih kepada Bayu. Ia merasa ragu untuk mengucapkan nama laki-laki itu mengingat pelukan yang terjadi sore tadi, hal itu membuat Riani hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya satu kali.


Makan malam berlangsung dengan keheningan, tak ada satupun yang berusara saat sedang menyantap makan malam masing-masing hingga beberapa menit berlalu. Hanya ada suara dari televisi, itupun lirih karena Rita fokus menyantap makan malam alih-alih sembari menonton sesuatu di televisi.


"Udah selesai, Bu?" tanya Riani yang menoleh dan mendapati Rita tengah meletakkan kotak bekas nasi di atas nakas dekat tempat tidur pasien.


Perempuan itu menggangukkan kepala. "Udah."


Selanjutnya disusul oleh Bayu yang lantas beranjak dari duduknya, setelah itu Dwi yang juga lantas beranjak dari tikar plastik menyisakan Riani dengan beberapa suap makanan yang masih tersisa.


"Gimana kamu, Bay?"


"Alhamdulillah keterima, Tante."


"Cepet juga ya, tadi siang gimana?"


Mendengar percakapan antara ibunya dan Bayu, Riani menjadi penasaran. "Kamu udah dapat kerjaan, Bay? Di mana?"

__ADS_1


__ADS_2