PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Sang Penyelamat


__ADS_3

Kalimat-kalimat yang dilontarkan olehnya begitu membantu Riani, ia merasa sadar jika apa yang dia lakukan adalah hal yang salah dan justru membuat masalah akan semakin bertambah.


Seketika tubuh Riani merasa lemas seperti kehilangan seluruh kekuatan, Riani ambruk dalam pelukannya, menangis tersedu-sedu melupakan segala emosi yang ada dalam dirinya.


"Kamu bisa cerita sama aku, Ri, aku siap bantu kamu," ujarnya sembari mengusap punggung Riani, berusaha untuk menenangkan perempuan itu. "Kita udah temenan dari lama, dari dulu juga kita selalu saling bantu, kan? Aku juga pasti akan bantu kamu sekarang, Ri. Jangan pernah ngerasa kamu sendirian, kamu punya aku."


Beberapa menit berlalu, Riani sudah bisa kembali menguasai diri. Hatinya sudah cukup tenang kali ini.


"Makasih ya, Sel."


Sella menganggukkan kepala, ia merasa cukup senang karena Riani bisa kembali tenang.


"Kalau kamu ada masalah, cerita, Ri. Nggak harus sama aku juga, kamu bisa kok cerita ke orang lain yang kamu percayai. Ke keluarga terdekat kamu, ke temen kerja kamu."


"Maafin aku, Sel."


Sella terdiam sejenak. "Kamu nggak salah apa-apa, Ri. Mengakhiri hidup itu bukan hal yang baik, agama manapun juga melarang itu."


"Aku nyesel, Sel." Riani menunduk. "Aku putus asa, nggak tahu harus apa. Tadi yang ada di pikiran aku cuma mati dan mati. Aku ngerasa udah nggak berguna lagi hidup di dunia ini, Sel."


"Emangnya apa yang udah terjadi, Ri?" tanya Sella dengan sedikit berhati-hati. "Kalau kamu masih belum mau cerita ya it's okay, nggak papa, Ri."


"Aku hamil, Sel."


"Hah?! Apa?!" Riani sedikit mundur. "Serius, Ri?"


Riani mengangguk lemah.


"Kamu udah coba ke dokter?"


"Baru tadi pagi aku ke sana."


"K--kok bisa gitu, Ri?" Sella sedikit teebata-bata. "Si--siapa yang udah ngehamilin kamu?"

__ADS_1


"Dia."


Pikiran Sella tertuju pada Bayu, hanya laki-laki itu yang dia ketahui sedang dekat dengan Riani. Entahlah, Sella juga tidak tahu bagaimana kabar hubungan di antara keduanya.


Sella kembali mendekatkan tubuhnya kepada Riani, ia memeluk kembali perempuan itu.


"Apa dia tidak mau bertanggung-jawab?"


Riani menggelengkan kepala, tubuhnya menjauh dari Sella yang membuat pelukan itu juga akhirnya merenggang. "Aku nggak mau kalau harus nikah sama dia, dia itu jahat banget, Sel. Dia ngedeketin aku pake cara yang salah, aku nggak suka itu, apalagi sekarang dia juga udah bikin aku hamil kaya gini dan posisinya saat itu aku dibuat nggak sadar. Aku nggak mau nikah sama orang yang udah jahat sama aku kaya gitu, aku nggak sudi."


Mendengar semua hal yang telah diceritakan oleh Riani, Sella hanya bisa diam. Ia tidak menyangka jika sahabatnya sendiri akan mengalami hal yang semenyakitkan ini.


Dalam hatinya, Sella juga merasa bersalah. Kabar semenyedihkan ini bahkan tidak ia ketahui dari awal. Beberapa minggu ini ia terlalu sibuk dengan usaha minuman yang dia bangun bersama dengan kekasih barunya yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya.


"Maafin aku ya, Ri." Sella merasa bersalah.


"Kamu nggak salah apa-apa kok, Sel. Mungkin ini emang udah jalan hidup aku kaya gini."


"Terus kamu maunya gimana setelah ini, Ri?"


"Kamu masih muda, Ri. Coba kamu pikir lagi, kamu ingat-ingat hal yang bisa membuat kamu merasa bahagia di dunia ini, orang-orang yang sayang dan baik sama kamu. Ehm ... a--apa kamu udah cerita juga sama Tante Rita?"


Riani mengangguk lemah. "Aku udah cerita semuanya, dia minta aku buat nikah secepatnya sama Bayu."


"Ka--kamu udah coba bilang kalau kamu nggak mau nikah sama dia?'


"Udah," ujar Riani sembari mengangguk lemah. "Akutuh nggak tahu kenapa ibuku lebih bela Bayu, dia juga malah dukung Bayu untuk melakukan semuanya ke aku. Rasanya aku udah muak sama ibuku sendiri, Sel. Padahal yang jadi anaknya tuh aku, tapi yang selalu dibela malah Bayu."


Sella mengusap bahu Riani, mencoba memberikannya ketenangan. "Coba kamu ngobrol lagi sama ibu kamu. Ngomong baiik-baik sama ibu kamu, semoga aja kali ini ibumu lebih ngerti dan lebih dengerin kamu."


"Aku bakal coba nanti kalau dah agak tenang."


"Lebih baik gitu sih. Kamu coba dulu kuasai diri kamu, jangan mudah emosi biar nanti kalau ibu kamu lagi emosi kamu bisa tetap tenang nanggepinnya."

__ADS_1


Riani menganggukkan kepala, ia tidak mengatakan apapun lagi kepada Sella yang masih terus mengusap bahunya.


"Oh ya, ini aku bawain kamu sup ayam. Nggak banyak sih, maaf ya, soalnya aku kira kamu masih kabur."


"Kamu tahu kalau aku kabur?!"


"Tahulah, Ri, hampir satu komplek perumahan ini tahu."


"Serius?!" Kedua mata Riani yang sembab dan basah itu terbuka lebih lebar merasa tidak percaya.


"Bener lah, Ri, masa aku bohongan sih? Mana selama kamu kabur nomor kamu juga nggak bisa dihubungi. Kan aku yang dipanggil sama Tante Rita buat bantu ngerawat dia." Sella mulai bercerita. "Kamu tahu nggak sih, Mba Dwi itu udah pergi dari rumah ini beberapa hari setelah kamu kabur juga. Katanya sih ibu kamu nggak sanggup buat bayar dia lagi makannya diberhentikan kerja."


"Aku udah denger itu dari Mba Dwi sendiri kok, dia juga ngancem-ngencem aku kalau sampai seminggu ini dia nggak balik kerja di sini."


'"Hah? Kapan?"


"Tadi."


"Kok bisa gitu sih, Ri? Seharusnya kan Mba Dwi ngerasa kasihan sama atasannya, mana sekarang juga lagi sakit." Sella mengernyitkan dahi. "Dia nggak mikir apa gimana sih?!"


Riani terdiam dalam pikirannya, mungkin sebaiknya apa yang dia ketahui tentang ibunya tidak perlu ia ceritakan kepada Sella.


Riani menggerakkan kedua bahunya secara bersamaan. "Nggak tahu juga." Langkah kedua kaki Riani membawanya mendekat ke meja makan. Pandangan matanya memperhatikan semangkuk sup ayam yang terlihat sangat menggoda selera. "Jadi setelah Mba Dwi pergi, kamu yang selalu ke sini buat kasih makan ibuku?"


"Iya," jawab Sella sembari mengangguk pasti. "Kadang juga ayah aku, ya nggak pasti sih, yang pasti mah itu masakan aku, hehehe." Sella terkekeh. "Cobain deh."


Seketika pikiran Riani teringat saat bertemu denggan ibunya, ia melihat keadaan ibunya masih sehat dan segar. "Ehm, Sel, boleh aku tanya sesuatu?"


"Tanya aja, kalau aku bisa jawab aku pasti jawab kok." Sella tersenyum memberikan senyuman terbaiknya.


"Ehm ... kamu tahu nggak sih kalau ibu aku sama ayah kamu itu kayanya deket banget, kamu tahu nggak sih mereka ada hubungan apa?"


"Setahu aku sih Tante Rita ngajakin ayah aku buat bikin usaha kost bareng, itu aja sih. Emangnya mereka sedekat apa?"

__ADS_1


"Aku pernah lihat ibuku sama Pak Abdul lagi jalan keluar minimarket, terus aku denger ibuku sendiri bilang nanti lagi ya. Aku nggak tahu sih lagi ngomongin apa tapi kaya gimana gitu."


__ADS_2