
Suasana dalam ruang rawat inap itu seketika hening. Nindira terdiam cukup lama menghabiskan makanan yang ada dalam mulutnya. Sementara Riani, menunggu-nunggu jawaban dari perempuan itu.
"Ehm, maaf ya, Ra." Riani menundukkan kepalanya.
"Kamu apaan sih, Ri?!" ujar Nindira menoleh ke arah Riani, dari raut wajahnya ia nampak sedikit kesal. "Kenapa kamu terus-terusan ngomong kaya gitu sih?!"
"Ya karena--" Riani menghentikan kalimatnya beberapa saat. "Karena aku lihat kamu, Tri sama Difki kaya kecewa banget dengan perjalanan kemarin."
Terdengar dengan jelas suara hembusan nafas Nindira. "Mungkin Tri sama Difki emang kecewa, Ri, aku juga lihatnya begitu. Tapi aku nggak kok."
Dalam hati Riani berdecih, ia memperhatikan Nindira yang kembali menyendok nasi dalam kotak makan di atas pangkuannya. "Jujur aja sih, Ra, nggak perlu ada yang ditutupin gini."
"Aku emang nggak ngarep banget kok bisa ke puncak, Ri," kesal Nindira, nada suaranya meninggi. "Atas dasar apa kamu bilang kaya tadi? Aku nggak ada nyembunyiin apapun dari kamu juga kok."
"Terus apa yang kamu lihat tadi siang?" Riani memberanikan diri bertanya.
Pertanyaan tersebut sontak membuat Nindira mengernyitkan dahi. "Tadi siang? Lihat dimana?"
"Nggak usah pura-pura nggak tahu gitu lah, Ra," ujar Riani. "Aku lihat sendiri kok pas ada notifikasi masuk ke HP kamu terus nggak sengaja layarnya nyala, aku lihat kamu lagi lihat foto puncak, kamu pengin ke sana kan? Kamu pengin bisa sampai di puncak itu, kan?"
"Ya ampun, Ri, kamu lihat foto yang ada di HP aku?"
Riani hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku mau ke sana sama teman-teman pecinta alamku bulan depan, Ri, aku lagi lihat-lihat aka tentang gunung itu. Lagipula itu puncak gunung yang beda," jelas Nindira yang disusul dengan kekehan tawanya. Ia lantas mengambil smartphone yang disimpan di dalam tas selempang. "Nih, coba kamu lihat. Ini kan foto puncak yang tadi kamu lihat?"
Riani terdiam, ia lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepala.
"Beda banget, Ri. Lagipula kalah gunung yang kemarin itu aku udah pernah sampe ke puncaknya. Sebentar aku cari fotonya," ujar Nindira yang kembali sibuk dengan smartphone-nya. "E ... sebentar, udah lumayan lama." Nindira terdiam beberapa saat. "Nah." Smartphone di tangannya diarahkan kepada Riani. "Ini puncak gunung kemarin, aku udah pernah kesana pas bulan ... Juli kemarin."
Riani terdiam seribu bahasa, ia telah salah paham dengan apa yang sudah dilihat oleh kedua matanya. Rasa malu, sedih, kesal, marah dan kecewa terhadap diri sendiri berkecamuk dalam dadanya.
Kekehan Nindira juga masih terus terdengar. Ia merasa lucu dengan apa yang telah dipikirkan oleh Riani.
"Maaf," ujar Riani lirih, ia menundukkan kepala.
__ADS_1
Nindira menyelesaikan tawanya. "Santai aja."
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Suasana rumah sakit sudah sangat sepi.
"Aku pulang dulu ya, Ri, kamu nggak papa kan di sini sendirian?" ujar Nindira berpamitan.
"Iya nggak papa kok, Ra, besok pagi juga Mba Dwi udah balik ke sini jadi aku bisa berangkat kerja."
"Iya, aku capek banget nih pengin cepet-cepet istirahat."
"Ya lagian kamu sih, Ra. Bukannya gunain waktu buat istirahat malah ke sini, pakai repot-repot bawain makan segala lagi." Riani merasa tidak enak hati. "Tapi makasih banyaknya, Ra."
"Nggak papa kok, Ri, lagian kan juga nggak setiap hari. Dari dulu juga nggak pernah begini kan?"
"Iya juga sih, tapikan tetap aja aku nggak enak sama kamu."
"Santai, Ri, santai ...." Nindira tersenyum. "Kalau gitu aku cabut dulu ya."
Riani mengangguk dengan tersenyum simpul. "Hati-hati, Ra."
"Sepi banget ya, Ri," ujar Nindira menggosok kedua lengannya sendiri. "Kamu ... berani?"
"Beranilah." Riani sedikit memukul lengan Nindira. "Katanya pecinta alam, sering ke hutan, masa takut?" Sebenarnya Riani juga merasa bulu kuduknya berdiri, namun ia gengsi.
"Tapi mending di hutan lah rame, daripada di sini sepi banget kaya gini mana cuma kita berdua lagi di sini." Menoleh ke arah kanan dan kiri, Nindira seakan mencari sesuatu. "Ini nggak ada perawat yang jaga apa? Terus ini juga, semua ruangan di sini kosong semua ya nggak ada pasiennya?"
"Bagus dong, berarti orang-orang lagi pada sehat." Riani tetap berusaha positif.
"Iya juga sih, tapi rumah sakit jadi sepi banget kaya gini, mana luas banget juga lagi."
Jalanan malam itu cukup ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang, tidak seperti saat berada di dalam gedung rumah sakit.
"Ojek kamu belum dateng ya, Ra?"
"Belum deh kayanya, kok nggak ada, ya?"
__ADS_1
Dari arah utara, sebuah sepeda motor mendekat. "Atas nama Nindira?"
"Oh, iya, iya, Mas Dani?"
"Iya, ini helmnya, Mba." Laki-laki dengan jaket berwarna hitam hijau itu memberikan helm dengan warna senada.
Pengendara ojek online itu terlihat masih cukup muda, mungkin baru berusia dua puluh tahunan. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, seperti tinggi rata-rata laki-laki Indonesia pada umumnya. Kumis tipis yang ada di bawah hidungnya menambah kesan manis pada wajah dengan kulit sawo matang.
Nindira beralih kepada Riani usai menerima helm. "Aku pulang dulu ya, Ri. Kamu berani kan balik ke kamarnya sendirian?"
"Beranilah, kalau nggak berani juga emang kamu mau nganterin?"
"Ya itu." Nindira menggerakkan dagunya ke arah pos keamanan. "Minta dianterin pak satpam."
"Duh, makasih banyak, takutnya baper gimana."
"Bagus, dong, bisa bikin FTV pake judul Cintaku Diantar Pak Satpam."
Gelak tawa tercipta di antara Nindira dan Riani, namun tidak dengan pengemudi ojek online yang masih muda itu. Ia hanya sedikit tersenyum, mungkin tingkat humorisnya berbeda dan tidak se-frekuensi.
Kondisi lorong semakin terasa sepi saat Riani kembali melintasi. Ia berjalan perlahan dengan detak jantung yang cepat. Pandangan matanya terus melihat ke bawah, ia takut untuk memandang ke sekitar.
"Ehm, maaf." Riani bergeser ke kanan saat ia melihat ada sepasang kaki berada tepat di depannya, namun sepasang kaki itu mengikuti arahnya bergeser. Riani kembali bergeser, namun sepasang kaki itu turut bergeser. Merasa kesal seperti sedang dipermainkan, Riani juga penasaran dengan siapa yang kini ada di hadapannya. "Kamu ngapain ikut--"
"AAAAA!!!"
Teriakan Riani begitu histeris sesaat setelah melihat seseorang yang ada di hadapannya. Bukan, itu bukan seseorang melainkan sesosok. Sosok itu menyeringaindengan mulut lebar yang berdarah.
Kedua lutut yang menopang tubuh seketika terasa lemas, sepertinya Riani akan pingsan sekarang juga. Apalagi sedari tadi tidak ada orang yang mendekat ke arahnya, entah mereka tidak mendengar teriakan Riani atau merekam juga merasa takut.
"TOOOLLOOONNNGGG!!!"
Usai mendapatkan kembali kekuatannya, Riani segera berlari dan masuk ke dalam ruang rawat inap dengan ibunya yang dirawat di dalam sana.
Belum sempat mengatur nafasnya, ia mendapati ibunya kembali tersadar dengan keadaan yang sama. Rita masih terbaring dengan tubuh yang kaku, ia melihat ke arah yang sama dengan bibir yang sudah kering dan sedikit terbuka.
__ADS_1
"U--usir di--dia ... u--usir!"