PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Malam Pertama


__ADS_3

Suara jangkrik terdengar cukup jelas seperti berada tepat di sebelah kamar, padahal rumah ini terletak masih di pinggiran kota.


Meskipun begitu suara serangga malam itu cukup untuk menemani Riani. Sejak kepulangan Nindira, rumah ini terasa begitu sepi.


Riani tak lagi melihat pemilik kost atau penghuni kamar kost yang lain, mungkin saja mereka masih berada di luar dan pemilik kost memilih untuk berada di dalam kamar.


"Lapar juga," lirih Riani.


Untungnya ia sempat membawa beberapa mie instan untuk persediaan makanan jika ia merasa lapar tiba-tiba. Setidaknya ia tidak akan merasa kelaparan malam ini dan tidak kebingungan karena bisa menyantap mie instan.


Melirik ke arah jam dinding yang ada di dalam kamar, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.


Kedua kakinya melangkah keluar kamar, saat baru membuka pintu, Riani mendapati pintu kamar yang berada tepat di hadapannya baru saja tertutup.


"Ehm, penghuni kamar ini baru pulang deh kayanya." Riani mengangguk pasti.


Langkah kedua kakinya kembali berjalan ke dapur. Di dapur yang cukup luas sekitar tiga setengah meter persegi ini terdapat kitchen set model lama dengan peralatan yang lengkap. Di ruang selanjutnya terdapat sebuah meja makan yang cukup besar dengan banyak kursi yang mengelilinya.


Sebuah panci kecil diisi sedikit air, lantas kompor gas dinyalakan dengan api yang besar. Riani ingin air dalam panci itu segera matang agar ia bisa cepat memasukkan mie instan.


Sembari menunggu, Riani memasukkan bumbu-bumbu ke dalam mangkuk. Di waktu yang bersamaan, ia mendengar suara piring dan sendok yang saling berdentang.


Riani tersenyum. 'Bisa nih aku makan malam nggak sendirian,' pikirnya. Ia lantas mempercepat membuay mie instan tersebut.


Satu mangkuk mie instan sudah ada di dekat kompor, Riani meletakkan panci yang sudah kotor itu di atas westafel.


Tidak ingin terlalu lama membuang waktu di dalam dapur, Riani segera menuju ruang makan, ia juga tidak ingin makan malam sendirian. Setidaknya ia bisa berkenalan dengan salah satu penghuni kost di sini.

__ADS_1


"Makan ma--" Riani tak melanjutkan kalimatnya.


Pandangan mata Riani menoleh ke kanan dan ke kiri, sepi. Tidak ada seorang pun di ruang makan, padahal sebelumnya suara piring dan sendok yang saling bertemu terdengar sangat jelas dari dapur.


Riani mendekat ke arah pintu yang menuju ke lorong panjang yang nantinya sampai di ruang tamu, namun ia tak mendapati siapa-siapa.


Masih belum berputus asa, Riani mendekat ke arah pintu yang menuju ke deretan toilet..


"Kak ... apa ada orang di sini?" Riani mencoba menajamkan pendengarannya dengan seksama. "Kak ...?" Tidak ada jawaban.


Semangkuk mie instan masih ada di tangannya, semakin lama rasa panas dari mie instan yang baru matang itu semakin terasa di permukaan kulit tangannya.


"Aduh ... duh, panas."


Riani meletakkannya di atas meja makan. Hening, sepi, sunyi, tidak ada lagi suara yang terdengar hingga membuat suara nafasnya sendiri pun bisa terdengar jelas.


Usai mengisi perutnya, Riani kembali ke kamar. Sebelum tidur, ia berkutat dengan smartphone-nya yang sepi. Tidak ada pesan dari siapapun yang dia dapatkan lagi.


Riani memutuskan untuk membuka sebuah kanal, berseluncur melihat video-video yang menarik untuk dia tonton. Kali ini, ia menghindari menonton video horor, tidak seperti biasanya.


***


Suara kokok ayam jantan membangunkan Riani dari tidurnya. Ia merasa seperti sedang berada di sebuah desa alih-alih di pinggiran kota.


Perlahan ia beranjak dari tidurnya, melirik ke arah jam dinding yang menggantung pada salah satu dinding, waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Rasa kantuk masih menyerang, andai saja ia tidak harus bekerja hari ini, pasti ia memilih untuk tidur lagi.

__ADS_1


Namun seketika Riani tersadar jika sekarang dia sudah tidak lagi ada di rumahnya sendiri. Ada beberapa hal tambahan yang harus ia lakukan dan akan menjadi rutinitas selama berada di sini.


Riani mengambil handuk yang masih ia simpan di dalam lemari. Tidak hanya itu, sebuah gayung berwarna hijau muda dengan pasta gigi, sikat gigi, sabun muka dan body wash serta liquid juga ia bawa menuju ke kamar mandi.


Keadaan rumah masih sepi, lampu-lampu belum dimatikan sehingga Riani yang melakukannya sembari terus melangkah menuju ke kamar mandi.


Area toilet dan kamar mandi di bagi menjadi dua, terdapat lorong di tengah untuk lalu-lalang. Dari tempat Riani berdiri, kamar mandi berada di sebelah kiri berderet sebanyak empat kamar mandi sementara di sebelah kanan adalah toilet yang berderet berjumlah tiga toilet dan di ujung depan terdapat sebuah sumur tua yang di atasnya sudah ditutup menggunakan lempengan kayu.


Riani masuk ke dalam kamar mandi yang cukup bersih meskipun tidak dicat dan juga tidak berkeramik. Ia mulai mengerjakan apa yang harus ia kerjakan di dalam sana.


Satu jam berlalu, tepat pukul setengah delapan pagi Riani sudah berada di dapur. Ia membuka kulkas kecil yang ada di sana, kosong.


"Apa penghuni kost di sini nggak suka nyimpen makanan di kulkas ya? Jangan-jangan ada yang suka mencuri jadi mereka milih nyimpen makanan di kamar masing-masing." Riani menghembuskan nafas. "Kayanya pulang kerja nanti aku harus beli beberapa bahan makanan deh."


Kembali ke kamarnya, Riani mengambil mie goreng instan untuk sarapan. Seperti saat makan malam, Riani menyantap sarapan paginya sendirian.


"Kira-kira penghuni kost di sini pada kerja apa ya, masih pagi udah pergi pulangnya pas larut malam. Orang-orang kaya gitu nggak capek apa?" Riani bermonolog dengan dirinya sendiri sepanjang menyantap sarapan.


Waktu berlalu cukup cepat dan tiba-tiba sudah jam delapan kurang seperempat. Riani keluar dari rumah tua yang menjadi tempat kost-nya, tak lupa ia juga sudah mengunci pintu kamar serta pintu rumah itu.


Riani berhenti sejenak, tangan kirinya masih menggenggam gagang pintu sementara tangan kanannya mengunci pintu tersebut. "Hm, kalau aku kunci, anak kost lain gimana dong kalau mau keluar?" Riani terdiam sejenak. "Ehm, mungkin saja satu-persatu anak kost udah dikasih kunci masing-masing kali." Riani melanjutkan mengunci rumah itu.


Kedua kaki Riani terayun dengan cepat menyusuri jalanan, langkah kakinya kini sudah berada di area perumahan yang sepertinya keamanan di sini tidak begitu bagus karena siapapun boleh keluar masuk.


Suara sepeda motor yang mendekat membuat Riani menoleh, ia mendapati seorang yang sangat tidak asing baginya.


"Loh, dia bukannya--"

__ADS_1


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, seseorang itu menghentikan sepeda motornya tepat di sebelah Riani dan bertanya, "Mau bareng nggak?"


__ADS_2