PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Rumah Mbah Wir


__ADS_3

Riani terdiam, ia juga membisu. Kini, perempuan itu selayaknya sebuah patung, akan tetapi bisa bernafas.


Bagaimana Rita bisa tahu kemana Riani pergi? Oke, jika Rita hanya tahu Riani pergi, tapi Rita juga tahu kemana tujuan anak perempuannya itu pergi. Padahal sama sekali Riani tidak berpamitan pada Rita, apalagi Riani juga hanya pergi selama satu hari saja, meskipun itu juga cukup lama.


Riani menggelengkan kepalanya ragu. Dalam hati ia merasa takut karena Rita menatapnya tajam nan menyeramkan.


"JANGAN BOHONG!" bentak Rita, kedua matanya terbuka lebar.


Mendapati dirinya dibentak, hari Riani langsung merasa sesak. Apalagi Riani melihat ibunya seperti marah besar terhadapnya. Tak ada sepatah-kata pun yang diucapkan oleh bibirnya, Riani membisu dalam kesedihan yang menderu.


"JAWAB, NI!" Rita masih meminta jawaban, namun Riani enggan memberikan.


Riani memilih untuk diam, lagipula apa yang dikatakan oleh ibunya adalah kebenaran.


"Kamu sudah tahu semuanya, Ni," suara Rita lebih rendah. Kepalanya menunduk melihat ke arah bantal yang ada dalam pangkuannya. "Kamu sudah tahu juga alasannya kan?"


"Alasan ...?"


"Tak perlu kujawab, kamu pasti sudah tahu."


Langkah kedua kaki Riani berjalan mendekat, ia lantas meletakkan nampan berisi makanan untuk ibunya di atas nakas.


"Siapa yang ngajak Ibu terjun ke dunia itu, Bu?" tanya Riani penasaran.


"Dwi," jawah Rita tanpa basa-basi.


Seketika jantung Riani seakan berhenti berdetak. Ia sama sekali tidak menyangka jika asisten rumah tangganya itu yang merayu kedua orangtuanya melakukan hal ini.


"Dwi?" tanya Riani tak percaya.


Rita mengangguk dengan pasti, pandangan matanya melihat jauh ke depan. "Aku dan Mas Agus bodoh banget waktu itu."


Mendengar ibunya berkata buruk pada dirinya sendiri, Riani memeluk perempuan paling hebat dalam hidupnya. "Sudahlah, Bu, mungkin saat itu keadaan Ibu juga sedang sangat buruk jadi Ibu menerima tawaran itu."


Melepaskan pelukannya, Riani mendapati Rita yang tengah menangis tersedu-sedu.


***


Terbangun dari tidur, Riani merasa perutnya sangat mual. Tidak mampu menahan rasa itu lebih lama, Riani berlari menuju toilet untuk mengeluarkan semua isi di dalam lambungnya.


Seketika lututnya terasa lemas, kepalanya pening dan bahkan Riani tak sanggup untuk berdiri dan kembali ke atas tempat tidurnya sendiri.


Pandangannya buram seiring dengan kepala yang semakin terasa pening.


'Apa aku mau pingsan?' batin Riani, tapi ia tak kunjung tak sadarkan diriku. "To--lo--ng," rintihnya.

__ADS_1


Riani tak sadarkan diri selama beberapa saat. Ketika membuka mata, Riani masih merasa pening di kepalanya, namun tidak terlalu berat seperti tadi.


Menyadari dirinya masih berada di depan kamar mandi, Riani segera beranjak. Langkah kakinya sempoyongan menuju ke tempat tidur.


"Aduh, kok pusing ya," lirih Riani yang lantas menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur begitu saja.


Ia merasakan tubuhnya begitu berat seakan ada yang menindih. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Riani selain terbaring lemah di atas ranjang.


Hingga akhirnya hari mulai berganti malam, Riani membuka mata dan mendapati ruang kamar yang masih gelap gulita.


Rasa pening masih menyerang kepala, tangannya meraba-raba ke sekitar mencari keberadaan smartphone-nya.


"Argh ...." Riani berhasil mengambil benda pipih itu. Pandangan matanya yang buram dipaksa sedemikian rupa untuk melihat ke arah layar kecil di depannya. Terlihat ada beberapa pesan masuk ke dalam smartphone-nya, namun yang ia cari sekarang adalah akun perpesanan milik Sella.


Panggilan suara dilakukan sekali, namun tak ada jawaban. Sedangkan Riani sudah tidak tahan lagi. Rasa pening di kepalanya telah kembali, tubuhnya juga terasa berat seperti ada yang menindih.


"Riani ... Riani ...."


Sayup-sayup Riani mendengar suara yang memanggilnya. Tidak hanya satu, tapi ada banyak suara yang menyebut namanya.


Kedua mata Riani perlahan terbuka, ia masih melihat kegelapan di sekitarnya. Namun tidak hanya itu, ada yang aneh di sudut kamar.


Riani melihat dua sosok yang hampir sama, tubuhnya terlihat merah dan membara seperti api. Tidak ada rasa takut dalam diri Riani, namun ia merasa penasaran.


Akan tetapi, Riani tak bisa beranjak dari tidurnya. Tubuhnya seakan terikat dan tidak bisa bergerak sedikitpun, Riani hanya bisa menggerakkan bola matanya saja, melirik ke kiri dan ke kanan untuk memperhatikan ke sekitar.


"Ka--kalian siapa?!"


"SIAPA KALIAN?!"


Tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut Riani, ia bahkan tak bisa menggerakkan bibirnya untuk berbicara.


***


BRAK!!!


Pintu dibuka dan Riani terbangun, ia melihat Sella yang berada di ambang pintu kamarnya.


"Riani ... kamu nggak papa kan?!"


"Agak pusing aja, Sel."


"Ya ampun, kok bisa?!" Sella terlihat begitu khawatir.


Tangannya memeriksa suhu badan Riani.

__ADS_1


Riani menggeleng pelan. "Nggak tahu juga, tapi ini udah agak mendingan." Riani beranjak dari duduknya.


"Maaf ya semalam aku ketiduran, Ri. Kamu ngapain telpon aku jam satu malam?"


"Jam satu malam?" Riani mengernyit dahi.


Sementara itu, Sella sibuk mengambil smartphone dan menyalakannya. Layar yang menujukkan riwayat panggilan ditunjukkan kepada Riani.


"Lihat, kamu telepon aku jam satu malam, Ri." Sella menyimpan kembali smartphone-nya. "Emangnya ada apa?"


"Kukira masih jam delapan malam."


"Aih, ya udah. Kamu istirahat aja dulu. Aku beliin kamu sama Tante Rita sarapan sekalian beli obat ya."


Riani mengangguk. "Uangnya ada di dompet."


"Nggak usah, pake uang aku aja dulu nggak papa."


"Makasih banyak, Sel."


Setengah jam berlalu, Riani mendapati pintu rumah yang terbuka. Riani yang sudah merasa lebih baik kini sudah berada di dapur untuk merebus air yang akan dia gunakan untuk membuat teh hangat.


"Eh, kok udah di dapur aja, Ri. Kamu istirahat aja."


"Nggak papa kok, Sel, aku udah baikan. Kamu abis beli apa?"


"Beli nasi uduk."


Riani mengambil piring dan menyajikan makanan tersebut. "Kok cuma dua?"


"Ya buat kamu sama Tante Rita aja, Ri."


"Kamu nggak?"


"Udah kok, aku udah makan di rumah." Sella tersenyum. "Ri, maaf, aku nggak bisa lama-lama."


"Oh, ya udah nggak papa, Sel. Maaf juga ya pagi-pagi udah repotin kamu."


"Santai aja, selagi bisa pasti aku bantu kok. Lagian hitung-hitung ini juga sebagai penyesalan karena ayahku dulu ngebiarin Om Agus sama Tante Rita pake pesugihan, soalnya kan waktu itu ayahku nggak bisa bantu mereka."


Riani tersenyum haru, pandangan matanya memburam. Ia jatuh ke dalam pelukan Sella. "Makasih banyak ya, Sel."


"Udah, nggak usah nangis." Sella mengusap air mata Riani. "Kamu harus kuat, kamu satu-satunya harapan ibumu saat ini."


Satu hari berlalu tanpa ada sesuatu yang menarik. Riani duduk di sofa panjang sembari menonton sebuah acara di televisi.

__ADS_1


Namun tiba-tiba saja rasa pening mulai menyerang, tubuhnya terasa berat dan bahkan Riani susah untuk menggerakkan anggota tubuhnya sendiri.


"Kenapa jadi pusing lagi? Perasaan tadi siang setelah minum obat juga udah mendingan, malah udah kerasa baik-baik aja."


__ADS_2