
Dalam persembunyiannya, Riani menunggu dan mengamati rumah tua itu.
Kebingungan mendera pikirannya, akankah ia kembali kamar dan beristirahat serta berpura-pura tidak ada yang sedang terjadi atau haruskah ia pergi? Tapi jika ia memilih pergi, kemana Riani harus pergi?
Riani masih tetap diam di balik sebuah pohon besar hingga ia menyadari ada sesuatu yang janggal. Kedua tangan yang memeluk pohon itu tak merasakan kasar dari batang kayu melainkan kelembutan, Tiani melihay ke arah batang pohon besar di hadapannya. Kedua dahinya mengernyit.
"Pohon apa ini? Perasaan aku belum pernah lihat pohon sebesar ini di depan rumah sebelum-sebelumnya.
Riani mendongakkan kepalanya, ia melihat kegelapan dengan bulu-bulu yang sedikit bergerak. Sadar dengan sesuatu, Riani menjauhkan diri dari pohon yang ternyata bukan pohon itu.
Langkah kedua kakinya berjalan mundur. Dikarenakan tidak memperhatikan jalan, ia menginjak sebuah batu besar yang lantas membuatnya terjatuh.
Pandangan mata Riani masih melihat ke atas sosok hitam dengan buku yang lebat itu, ia menyeringai seakan menertawakan Riani yang baru saja jatuh.
Kedua matanya terbuka lebar dan berwarna merah bahkan seakan mengeluarkan cahaya, ia menyeringai menunjukkan gigi-giginya yang runcing dengan dua gigi taring yang besar nan menyeramkan.
Tidak tahan lagi dengan apa yang sudah ia lihat, Riani memutuskan untuk pergi dari rumah itu meski tanpa tujuan.
Kedua kakinya terus berlari menjauhi rumah kost-annya, Riani sama sekali tidak ada keinginan untuk kembali masuk ke dalam sana. Ia terus berlari hingga akhirnya ....
"Itukan tempat tinggal kakaknya Ira," ujar Riani dalam nafasnya yang tak beraruran.
Riani mengetuk-ngetuk pintu tersebut dengan keras. Rasa tidak enak hati ia singkirkan jauh-jauh dalam dirinya, yang terpenting sekarang adalah ia bisa beristirahat malam ini entah dimanapun itu asalkan tidak ada gangguan.
"Siapa?!" suara itu terdengar kesal, lampu depan dinyalakan dan tidak lama kemudian pintu rumah dibuka.
"Kakaknya Ira, tolongin aku, please," ujar Riani, kedua tangannya hendak memegang lengan laki-laki itu.
Namun dengan segera ia menghindar dari kedua tangan Riani. "Nggak usah pegang-pegang!" tegasnya. "Kenapa kamu ke sini malam-malam gini? Kamu nggak lihat ini jam berapa?!"
"A--aku lihat, Kakaknya Ira, ta--tapi ini--"
"Kakaknya Ira ... Kakaknya Ira, namaku Bhanu!" tegasnya, ekspresi wajahnya begitu dingin.
Riani menunduk sejenak. "Maaf."
"Pertama, kamu nggak lihat ini jam berapa? Kedua, yakali kamu mau tidur di dalem, aku di sini sendirian!"
Pintu rumah itu ditutup tepat di hadapan wajah Riani. Riani yang melihatnya hanya bisa terdiam sesaat, beberapa detik kemudian ia kembali berusaha mengetuk-ngetuk pintu tersebut.
"Kakaknya Ira ... eh," ujar Riani terhenti setelah menyadari sesuatu. "Bhanu ...." Riani kembali terdiam. "Nggak sopan banget, dia kan lebih tua dari aku. Harusnya aku manggil dia apa ya? Mas Bhanu? Kak Bhanu?" lirih Riani
__ADS_1
Saat masih menimbang-nimbang mana yang lebih baik, pintu rumah kembali terbuka. Riani menyeringai senang, kemungkinan besar Bhanu berubah pikiran.
Namun yang terjadi justru Bhanu melemparkan selimut dan bantal ke luar. Tanpa mengatakan apapun dia kembali menutup pintu rumah tersebut.
"Masa aku disuruh tidur di luar sih, yang bener aja?!" ujar Riani kesal.
"Kalau nggak mau pergi aja!"
Mendengar suara tersebut dari dalam rumah, kekesalan Riani kian memuncak. "Erghh, andai aja ada orang lain yang deket di sini aku juga nggak bakal ke sini, dasar es batu!"
Dengan amat sangat terpaksa Riani mulai merebahkan tubuhnya di atas teras rumah. Selimut yang diberikan cukup lebar sehingga sebagian bisa digunakan sebagai alas tidur dan sebagian yang lain sebagai penutup tubuh. Meskipun hawa dingin tetap saja terasa, tapi ini lebih baik dari pada harus luntang-lantung di jalanan tanpa tujuan.
"Ri, bangun." Seseorang menepuk-nepuk lengan Riani. "Riani."
Mendengar namanya disebut, Riani membuka mata. Rupanya hari sudah pagi dan kini Nindira sudah ada di hadapannya.
"Jahat banget abang ngebiarin kamu tidur di emperan," kesal Nindira yang lantas beranjak dari duduknya.
Pintu rumah terbuka beberapa saat setelah Nindira mengetuk dan memanggil-manggil nama kakaknya. Bhanu mengenakan kaos putih polos dengan celana hitam, ia nampak sedang memakan sesuatu karena mulutnya tengah mengunyah. Hanya membukakan pintu saja, tanpa mengatakan apapun dia kembali masuk ke dalam rumah.
"Masuk, Ri," ujar Nindira, langkah kakinya menyusul kakaknya masuk ke dalam rumah. "Jahat banget kamu, Bang, biarin Riani tidur di emperan!"
"Ya masa mau di dalam rumah, gimana kata tetangga?"
"Lagian ngapain sih malam-malam ke sini? Jam dua ke sini loh dia."
Nindira menoleh ke arah Riani yang tengah duduk di kursi tamu. "Bener, Ri?"
Riani menganggukkan kepalanya, ia menceritakan semua yang telah terjadi semalam.
"APA?!"
Suara sendok yang dilempar ke atas piring terdengar begitu jelas. Nindira yang terkejut semakin kesal dengan kakaknya.
"Apa sih, Bang?!"
"Temenmu ngekost di rumah tua itu?"
"Namanya Riani," kesal Nindira.
"Rumah tua yang di belakang perumahan ini kan?"
__ADS_1
"Iya, emangnya kenapa, Kak?" tanya Riani yang penasaran.
Sementara Bhanu mengusap wajahnya dengan salah satu tangan. "Kenapa bisa kamu kost di situ?"
"Iya aku lagi cari tempat kost terus ketemu di situ."
"Siapa yang nunjukin? Ira?"
Nindira melihat ke arah kakaknya, ia menggelengkan kepala. "Nggak, Riani dapat info dari postingan di sosmen." Pandangan matanya beralih ke arah Riani. "Tunjukkin, Ri!"
"Ehm ... HP aku ketinggalan di sana," lirih Riani, ia baru sadar jika ia keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun. "Coba kamu cari di sosmed, ada kok."
Smartphone dalam tas selempang Nindira dikeluarkan, selama beberapa saat Nindira sibuk dengan smartphone-nya.
"Mana, Ri? Nggak ada," ujar Nindira yang sudah mencari unggahan info kost itu tapi belum juga ketemu.
"Coba sini lihat, aku yang cari," ujar Riani.
Smartphone itu berpindah tangan.
"Iya, kok nggak ada ya?" Riani masih berusaha untuk mencari, ia menggulir layar terus ke atas. "Emangnya kenapa sih, Kak, rumah itu? Kenapa kaya kaget banget tadi?"
"Permisi."
Semua orang melihat ke arah pintu rumah, di sana sudah terdapat seorang laki-laki yang berdiri dengan pakaian yang rapih. Ia mengenakan kemeja putih, celana jeans biru tua dan sebuah tas selempang menggantung pada salah satu bahunya.
"Difki?" ujar Riani dan Nindira hampir bersamaan.
"Eh, kalian ngapain di sini?"
"Aku yang harusnya nanya kamu ngapain ke sini, Dif, ini kost-an kakak aku." Nindira menimpali.
"Dia adik tingkat aku," jawah Bhanu, sementara Difki masih terdiam.
Nindira meremas rambutnya pelan. "Kok dunia kaya sempit banget sih, di kerjaan ketemu Difki, di sini ketemu Difki juga."
"Lah kamu ngapain di sini?" tanya Difki.
"Ini kakakku," jawab Nindira.
"Kok kamu nggak pernah bilang punya kakak?"
__ADS_1
"Lah kamu juga nggak nanya."
"Udah, udah," ujar Riani menengahi. Pandangan matanya lantas melihat ke arah Bhanu. "Gimana, Kak? Pertanyaan aku tadi belum sempat dijawab."