PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Teror


__ADS_3

Sosok itu terus mendekat, lantas meremas perut Riani dengan kuku-kukunya yang panjang nan tajam.


Rasanya sangat sakit, seperti disayat tanpa dibius terlebih dahulu.


Meskipun pandangannya buram, Riani bisa melihat sosok itu tersengum begitu lebar hingga hampir mencapai telinga.


Tidak ada rasa takut dalam hati Riani, rasa itu terkalahkan oleh rasa kesal terhadap sosok tersebut.


"PERGI!!!"


Riani hanya bisa meneriakkan kata tersebut dalam hati, berulang kali Riani mencoba berteriak namun tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya.


Air mata mulai berderai membasahi kedua pipi Riani. Rasa sakit di kepala dan juga perutnya tak bisa Riani tahan lebih lama.


Hingga akhirnya Riani tak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya, ia tak sadarkan diri.


Suara alarm yang sudah diatur pada jam setengah lima pagi membangunkan Riani. Kedua matanya terbuka perlahan dan tangannya berusaha untuk menggapai smartphone yang sedang berdering.


Riani berhasil mematikan smartphone tersebut, ia kembali ambruk ke atas tempat tidur karena masih merasa sakit di sekujur tubuhnya.


Baru beberapa saat terpejam, Riani kembali tersadar. Ia teringat jika semalam melewatkan ibadah sholat isya. Kali ini ia tidak ingin melewatkannya lagi.


Meskipun kepalanya terasa pening, namun Riani tetap tertatih-tatih menuju ke toilet untuk mengambil wudhu. Tubuhnya terasa panas terkena air yang dingin, meskipun begitu Riani tetap berusaha untuk menahannya.


Sajadah digelar tidak jauh dari ranjang, Riani mengenakan mukenah dan mulai sholat dua rakaat. Saat pertama kali mengangkat kedua tangan, Riani merasakan telinganya berdengung keras.


'Kenapa ini?'


Gangguan itu membuat Riani tak dapat berkonsentrasi dalam ibadahnya. Telinganya terus berdengung hingga Riani menyelesaikan sholatnya.


Sakit di kepalanya masih tetap terasa meskipun hari sudah berganti pagi dan sinar matahari sudah mulai menyinari. Riani masih terbaring di atas ranjang dengan mukena yang masih melekat pada tubuhnya.


"Riani ... Riani ...."


Suara Sella terdengar jelas, semakin lama suara itu semakin mendekat.


Pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Sella yang kini berdiri di ambang pintu.


"Riani, kamu kok pucet banget?" tanya Sella yang kemudian melangkah mendekat.

__ADS_1


Tangannya memegang pelipis Riani, Sella merasa suhu badan yang sangat panas.


"Kamu makan ya, abis itu minum obatnya." Sella beranjak dari sisi ranjang. "Kamu simpan di mana obatnya?"


Riani menunjuk ke arah kotak obat yang ada di dekat meja rias.


"Kamu nggak mau makan nasinya?"


Riani menggelengkan kepala. "Ini aja, nasinya buat ibu aja." Ia kembali menggigit roti isi selai coklat di tangannya.


"Nih obatnya, ini minumnya. Aku ke kamar Tante Rita dulu ya."


Riani menganggukkan kepala melihat Sella yang pergi dari kamarnya.


Satu potong roti isi selai coklat sudah habis tak tersisa. Riani mengambil satu obat untuk sakit kepala dan mulai meminumnya.


Sembari menunggu Sella kembali, Riani merebahkan diri di atas tempat tidur.


Tidak lama kemudian, perut Riani terasa mual, bagian dalamya seperti sedang diaduk dan diremas. Tidak tahan dengan rasa yang ada dalam perutnya, Riani berlari ke dalam toilet, ia memuntahkan kembali makanan dan obat yang sudah ia konsumsi.


"Riani, kamu nggak papa?" suara Sella terdengar khawatir, beberapa detik kemudian terasa tangannya memijat tengkuk Riani.


"Udah, udah, ke sini dulu." Sella membawa Riani untuk kembali ke atas tempat tidurnya.


Kedua mata Riani terpejam, meskipun ia masih terjaga. Sella yang sedang membantu Riani tak sengaja melihat perut Riani karena pakaian yang dikenakannya tersingkap. Kedua alis Sella mengernyit.


"Loh, Ri, kamu--"


Kedua mata Riani kembali terbuka. "Kenapa, Sel?" tanya Riani dengan nada suara yang lemas.


"Perut kamu ...." Sella tak melanjutkan kalimatnya.


Riani yang juga merasa penasaran turut melihat ke bagian perut, ia melihat ada bekas cakaran merah di beberapa bagian. Seketika ia teringat dengan kejadian tadi malam yang sebelumnya tak pernah terlintas di pikiran.


"Ja--jadi se--semalam itu bukan mimpi?" Riani menatap ke arah Sella yang tentu saja ia semakin mengernyitkan dahi.


"Emangnya semalam kenapa, Ri?"


Semua yang terjadi semalam diceritakan oleh Riani, ia masih ingat jelas dan bahkan kini gambaran sosok yang dilihatnya tergambar jelas dalam pikirannya.

__ADS_1


"Aku kira cuma mimpi, lagian aku pas bangun tuh udah pagi."


"Kayanya mulai nanti malam kamu jangan tidur sendirian deh, Ri."


"Tapi sama siapa lagi, Sel? Aku nggak enak kalau harus tidur sama ibu."


"Udah, biar nanti malem aku temenin kamu tidur."


"Emangnya nggak papa?"


"Santai aja, lagian di rumah juga udah ada ayah aku."


Selama seharian penuh, rasa sakit di kepala Riani masih tetap terasa tidak seperti dua hari sebelumnya yang menghilang entah kemana.


Riani mulai membuka laptop, ia mulai mengerjakan pekerjaannya sedikit demi sedikit. Meskipun begitu, Riani masih tetap berusaha untuk profesional dalam pekerjaannya.


Tidak ada asupan makanan membuat Riani tak memiliki tenaga yang ekstra. Riani mengerjakan pekerjaannya di atas tempat tidur dan kebanyakan beristirahat sehingga hingga sore menjelang ia belum selesai dalam mengedit sebuah video iklan.


Sementara itu, Sella yang sudah selesai masak di rumahnya masuk ke dalam rumah Riani dengan membawa sebungkus plastik putih berisi hasil masakannya. Ia tidak langsung ke atas menuju kamar Riani atau Rita melainkan terlebih dahulu menuju dapur karena ia juga melihat Riani sedang ada di sana.


"Kamu masak apa? Aku bawain makanan nih," ujar Sella sembari mendekat ke dapur, Riani nampak sedang berdiri di depan kompor.


Sella menyerngitkan dahi karena pertanyaannya tak kunjung dijawab oleh Riani. Namun ia masih berusaha berpikir positif, mungkin saja sakit kepala yang dirasakan oleh Riani membuatnya menjadi sedikit lebih pendiam daripada biasanya.


Tiba-tiba dari arah lantai dua terdengar suara seperti benda jatuh. Sella yang sedang sibuk memindahkan beberapa lauk dari dalam plastik ke dalam mangkuk segera berlari mendekat ke arah tangga.


"Tante Rita ...? Tante baik-baik aja, kan?"


"Ya."


Sella mengangguk pelan, ia kembali menuju ke dapur namun tak menemukan Riani.


Dari sudut mata, ia melihat seseorang yang masuk ke dalam kamar mandi dan pasti itu adalah Riani.


Sella mendekat ke arah dapur, tak ada apapun di kompor atau sekitarnya. Merasa aneh, Sella mengernyitkan dahi.


"Oh, mungkin dia lagi nyuci sayurannya." Sella mengangguk pelan, ia melangkah kembali ke meja makan. Namun baru dua kali melangkah, Sella menghentikan langkah kakinya. "Ngapain nyuci sayur di kamar mandi ya? Perasaan di sini juga ada wastafel." Kedua bahu Sella diangkat secara bersamaan, ia tidak ingin memikirkannya terlalu lama.


Meskipun begitu, Sella tetap merasa penasaran. "Ri, kamu di dalam kan?"

__ADS_1


__ADS_2