
Apa yang terjadi jam setengah dua malam tadi masih teringat jelas dalam pikiran Riani. Dalam hati ia sedikit menyesali perbuatannya, namun ia juga merasa sakit hati atas perlakuan keluarganya.
Pintu kamar kost terbuka dan Nindira masuk ke dalam membawa sebungkus plastik berisi sarapan yang baru saja ia beli di warung nasi langganan.
"Sarapan dulu, Ri," ujar Nindira sembari mengambil piring, sendok dan gelas yang masing-masing berjumlah dua.
"Makasih ya, Ra." Riani tersenyum. "Makasih juga kamu udah mau nampung aku."
"Sama-sama, udah sih kaya sama siapa aja kamu, Ra."
Riani tersenyum. "Aku nggak enak sama kamu."
"Santai aja lagi, aku paham kok kesulitan kamu."
Sejak tadi malam keduanya tidak melanjutkan tidur dan beristirahat melainkan berbincang. Riani menangis menceritakan kejadian yang baru ia alami sementara Nindira dengan seksama mendengarkannya.
Riani merasa sangat beruntung bisa kenal dengan Nindira, andai saja dulu ia mendengarkan perkataannya, mungkin ia tidak akan menyesali semua yang terjadi sekarang.
"Ra," panggil Riani, raut wajahnya melihat ke arah Nindira dengan serius. "Maaf."
Sementara Nindira mengernyitkan dahi. "Maaf kenapa?"
"Maaf karena ... aku nggak dengerin omongan kamu waktu itu."
"Oh, itu." Nindira tersenyum tipis. "Santai aja kali, Ri. Apalagi pas itu juga kayanya kamu udah kena deh."
"Mungkin."
Keduanya melanjutkan sarapan pagi tanpa membicarakan apapun lagi.
Baju-baju Riani masih ada di dalam koper, rencananya Riani akan mencari tempat kost sore nanti yang bukan milik ibunya sendiri atau Pak Abdul.
Dengan membonceng sepeda motor Nindira, Riani berangkat bekerja hari ini.
Matahari pagi sudah menunjukkan kegagahan sinarnya membuat silau mata yang memandang. Pandangan mata Riani melihat ke sekitar, memperhatikan orang-orang yang juga sedang berkendara atau berjalan kaki.
Lima belas menit berkendara, sepeda motor Nindira sampai di halaman deoan restoran.
"Makasih ya, Ra." Riani melepas helmnya. "Maaf, aku jadi ngerepotin kamu."
"Santai aja, aku seneng kok bisa bantu kamu."
__ADS_1
Riani mengangguk senang.
"Nanti sore aku jemput kamu lagi." Nindira tersenyum. "Oh, ya, kamu juga jangan lupa cari-cari info kamar kost biar nanti sore aku anterin kamu ke situ. Sebenarnya kalau kamu mau tinggal sekamar sama aku juga nggak papa loh, Ri, malah aku seneng jadi ada temennya."
"Ehm, tapi aku yang nggak enak sama kamu, Ra. Iya nanti aku cari-cari info kost deh di sosial media barangkali ada." Riani tersenyum. "Kamu hati-hati ya."
Nindira mengangguk senang. "Pasti dong, kalau gitu aku berangkat dulu, Ri."
Lambaian tangan Nindira mengakhiri percakapan mereka pagi ini. Dari tempatnya berdiri, Riani membalas lambaian tangan Nindira, mengiring kepergian perempuan itu.
"Kamu udah baikan, Ri?"
Langkah kedua kaki Riani mendekat ke arah Gendhis yang tengah duduk di bagian depan restoran menunggu atasan mereka datang.
"Emangnya kenapa?" Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, Riani justru kembali bertanya.
"Bukannya kemarin kamu sakit ya?"
Seketika Riani teringat dengan kejadian aneh yang menimpa dirinya kemarin. "Oh, ya, ada yang mau aku tanyain juga ke kamu, Ndhis."
"Tanya apa?"
Gendhis menganggukkan kepala dengan mantap. "Iya, kan, yang kamu pucet banget terus diem aja. Kamu juga minta izin buat pulang duluan. Kamu kemarin kenapa sih, Ri, sakit?"
"Aku juga nggak tahu, Ndhis."
"Lah, kenapa bisa nggak tahu?" Gendhis mengernyitkan dahi. "Kan kamu yang jalanin, masa jalanin sendiri nggak tahu."
"Nah itu, Ndhis, aku juga bingung. Jadi kemarin aku beneran balik ke sini?"
Gendhis mengangguk mantap. "Iya, kalau nggak percaya kamu minta lihat rekaman CCTV aja ke atasan. Jelas-jelas kamu balik ke sini, kamu juga pulangnya dianterin sama siapa itu pacarmu--"
"Bayu," potong Riani. "Tapi sekarang udah jadi mantan."
"Hah? Kenapa bisa putus, Ri?"
"Ternyata dia nggak sebaik yang aku bayangkan, Ndhis." Riani terdiam sejenak. "Emangnya beneran kemarin aku balik ke sini dulu?"
"Ya ampun, Ri, harus berapa kali sih aku bilang?!" Gendhis mulai kesal, nada suaranya mulai naik sedikit. "Kalau kamu nggak percaya kamu ngomong aja deh ke atasan buat lihat rekaman CCTV-nya. Masa kamu nggak inget sih, Ri?"
Riani menggelengkan kepala. "Itu dia, Ndhis. Aku sama sekali nggak inget, yang aku inget tuh aku lagi di makam ayah aku terus aku nemuin ...." Riani terdiam, ia menghentikan kalimatnya.
__ADS_1
Pandangan mata Riani menatap ke arah Gendhis yang sedang seksama mendengarkan ia bercerita. Jika dilihat dari air mukanya, Gendhis begitu penasaran dan menunggu Riani melanjutkan perkataannya.
Beberapa detik berlalu, Riani masih tetap diam dan tidak kunjung melanjutkan kalimatnya yang terhenti.
"Kamu nemuin apa, Ri?" tanya Gendhis penasaran.
"Ayo masuk, kerja, kerja, kerja."
Sebuah keberuntungan berpihak kepada Riani. Sebelum ia membuka mulut untuk menjawab perkataan dari Gendhis, atasannya terlebih dahulu datang untuk membuka pintu restoran dan menyuruh semua pekerjanya untuk melaksanakan pekerjaan hari ini.
Seperti hari-hari sebelumnya, Riani dan beberapa pekerja lain memulai hari dengan membersihkan restoran sebelum menyiapkan bahan makanan dan menunggu para pelanggan berdatangan.
Hari ini tidak ada banyak hal-hal yang terjadi, semuanya terkendali dan berjalan dengan normal. Riani membalas pesan para pelanggan yang memesan secara online, menyiapkan pesanan mereka dan mengantarkan pesanan itu ke tempat tujuan.
Semuanya berjalan dengan baik tanpa ada satu kendala apapun hingga matahari bergerak ke ujung barat dan jam kerja Riani sudah selesai digantikan oleh pengantar makanan lain yang akan menggantikan tugasnya di malam hari.
Seperti yang sudah dikatakan oleh Nindira pagi tadi, saat Riani berjalan keluar dari restoran pandangan matanya segera tertuju ke arah sepeda motor matic berwarna merah dengan seorang perempuan yang sangat Riani kenali sedang duduk di atasnya.
Langkah kedua kaki Riani mendekat ke arah Nindira yang mungkin sudah menunggunya sejak tadi. "Udah lama, Ra?' tanya Riani. "Maaf, ya."
"Belum lama banget kok, baru sekitar lima menitan." Nindira tersenyum melihat kedatangan seseorang yang dia tunggu. "Kamu udah nemu kost-annya?"
Riani menggelengkan kepala. "Belum, nih, kalau kita balik ke kost-an kamu dulu gimana?"
"Boleh," jawab Nindira sembari menganggukkan kepala.
"Tadi siang aku sibuk banget jadi nggak sempet cek sosial media buat lihat info kost."
Sepeda motor yang dikendarai oleh Nindira melaju dengan perlahan menuju ke tempat kost.
***
Di hadapan Riani dan Nindira sekarang sudah ada sepiring kentang goreng lengkap dengan saus sambal dan saus tomatnya dan dua mangkuk bakso yang sebelumnya sudah mereka habiskan.
Meskipun sedang bersama dan dalam jarak yang cukup dekat, namun tidak ada perbincangan di antara mereka berdua. Keduanya sama-sama sibuk dengan smartphone masing-masing.
Tak ada suara apapun selain suara gigi-gigi mereka yang tengah mengunyah kentang goreng.
Riani sibuk melihat isi sosial medianya, mencoba mencari tahu sebuah informasi mengenai sebuah tempat kost dengan jarak yang tidak begitu jauh dari restoran tempatnya bekerja.
"Gimana, Ri? Udah ketemu belum?"
__ADS_1