PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Pening


__ADS_3

Dengan dibantu oleh Bayu, Riani masuk ke dalam kamar kembali.


Rasa pening di kepalanya tak bisa ia tahan lebih lama. Apalagi saat suara bass terdengar menggelegar membuat rasa pening itu semakin menyerang kepalanya.


"Tiduran di sini," ujar Bayu dengan begitu lembut membantu Riani.


Bayu menidurkan Riani di atas tempat tidur dengan kelopak mawar yang sudah mulai layu.


Rasa pening itu masih tetap ada, Riani meringis kesakitan menahannya.


"Ka--kamu ngapain, Bay?" tanya Riani yang mendapati Bayu tak kunjung beranjak setelah membantu dirinya.


Kini Riani sudah terbaring di atas tempat tidur, sementara Bayu juga berada di atas tempat yang sama. Ia bertumpu pada kedua lengan agar tubuhnya tidak jatuh ke atas tubuh Riani.


Tak ada jawaban yang didapatkan oleh Riani dari Bayu, justru laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya.


"Ka--kamu ngapain, Bay?" tanya Riani sekali lagi, jantungnya mulai berdebar ketakutan.


Hembusan nafas Bayu sudah bisa dirasakan oleh Riani saat ini, angin kecil itu menerpa wajah Raini dengan lembut.


"Izinkan aku sekali saja, Sayang."


Riani terdiam, ia tahu apa yang dimaksud oleh Bayu. Dengan segera Riani menggelengkan kepalanya cepat, bahkan dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada Riani berusaha untuk beranjak dari posisinya.


Kedua tangan Bayu dengan cepat meraih tangan Riani. Laki-laki itu kini hanya bertumpu pada satu tangan saja untuk menahan tubuhnya.


"Please, Ri," ujar Bayu dengan suara yang lembut. "Kamu cinta sama aku, kan?"


Mendengar pertanyaan itu, Riani kembali terdiam. Kedua mata Riani bertemu pandang dengan manik mata coklat tua milik Bayu.


"Please, Ri, anggap saja ini sebagai bentuk cinta kamu untukku," lanjut Bayu.


Riani benar-benar dibuat tak bisa berkata-kata dan tidak bisa berkutik lagi oleh kata-kata lembut dari Bayu. Dalam pandangan mata yang buram, Riani melihat wajah Bayu yang kembali mendekati wajahnya.


Pada beberapa detik kemudian, keduanya sudah saling terhubung.


Bayu begitu menikmati kecantikan wajah Riani, tangannya mengusap lembut wajah gadis itu dan begitu pula dengan Riani yang menikmati setiap inchi dari sentuhan jari-jemari Bayu terhadap wajahnya.

__ADS_1


Seketika Riani melepaskan hubungan itu, ia menjauhkan wajahnya dari wajah Bayu. "Kalau aku sampai hamil gimana?"


Mendengar pertanyaan demikian, Bayu justru terkekeh. "Kamu tahu aku sangat mencintaimu, Sayang. Kamu tidak perlu khawatir karena aku pasti akan bertanggung jawab. Ya?"


Riani menganggukkan kepala.


Setiap kali tangan Bayu menyentuh tubuhnya, Riani merasaada kenikmatan tersendiri. Seluruh bagian tubuhnya menginginkan disentuh oleh tangan laki-laki itu. Hal ini juga yang membuat keraguan Riani terhempas, digantikan dengan rasa ingin dan ingin.


***


Konser musik sudah selesai sejak beberapa jam yang lalu. Sudah tidak ada lagi suara musik dengan bass yang menggelegar.


Riani terbangun dengan suasana pagi yang sepi, ia beranjak dari tidurnya dan merasakan beberapa bagian tubuhnya terasa sakit.


Kedua mata Riani terbelalak melihat Bayu yang terbaring di sebelahnya tanpa mengenakan pakaian. Selimut yang menutupi tubuhnya segera disingkap dan Riani menghela nafas lega. Seluruh pakaian yang ia kenakan semalam masih melekat pada tubuhnya tanpa ada yang terlepas satupun.


Namun Riani tetap merasa ada yang aneh karena mimpi semalam terasa begitu nyata. Hembusan nafas Bayu pada wajahnya masih terasa jelas, apa yang Bayu katakan kepadanya juga masih ia ingat meskipun Riani tidak berhasil mengetahui apa yang selanjutnya terjadi.


"Ah, aneh banget mimpi aku semalam," ujar Riani sembari beranjak dari duduknya.


Korden yang menutupi dinding kaca dalam kamar ia singkap lebar-lebar dan membuat cahaya matahari menyeruak masuk ke dalam ruangan. Di bawah sana terlihat orang-orang yang sibuk membongkar panggung sisa konser musik semalam.


Riani menoleh dan mendapati Bayu dengan kedua mata yang sedang menyesuaikan cahaya. "Oh, maaf, aku nggak sengaja, Bay."


"It's ok, jam berapa ini?"


"Jam delapan," jawab Riani usai melirik ke arah jam dinding yang ada dalam kamar.


Bayu beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam toilet, sementara itu Riani masih tetap berada di balkon untuk menikmati udara pagi hari sembari melihat orang-orang yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Setelah membersihkan diri dan sedikit berdandan, Riani dan Bayu keluar dari kamar. Pada waktu yang sama, Manda juga membuka pintu kamarnya.


Laki-laki itu melangkah mendekat ke arah Bayu dan Riani. "Kita mau sarapan di resto aja?"


"Iya, sambil lihat-lihat juga ada menu apa aja," jawab Bayu sembari menganggukkan kepala.


Ketiganya berjalan bersama menuju lift yang akan membawa mereka menuju restoran yang ada di lantai dua hotel tersebut.

__ADS_1


Saat sedang berjalan, Riani merasakan beberapa tubuhnya terasa sakit. Namun ia menghiraukannya saja karena ia pikir bahwa ini adalah efek kelelahan karena ia sedang liburan saja. Di sisi lain, Riani juga tidak ingin merepotkan Bayu dan Manda serta membuat liburan kali ini berantakan karenanya.


Suasana restoran pagi ini masih cukup ramai, terlihat beberapa orang yang sudah duduk sembari menikmati makanan masing-masing bersama keluarga, pasangan ataupun kerabat dekat, ada pula yang masih sedang memilih menu yang cocok untuk sarapan mereka.


"Kamu duduk aja dulu, Sayang, biar aku sama Manda yang pesen sarapannya."


Riani menganggukkan kepala dan berjalan menuju salah satu meja terdekat. Pandangan mata Riani terus tertuju pada dua laki-laki itu karena ia tidak ingin kehilangan mereka berdua.


Beberapa saat beralalu, mereka berdua kembali dan duduk di meja yang sama dengan Riani. Ketiganya saling berbincang sembari menunggu makanan yang dipesan datang.


"Habis ini kita mau ke mana?" tanya Manda, pandangan matanya melihat ke arah Riani dan Bayu secara bergantian.


"Terserah Riani." Bayu menjawab singkat.


"Loh, kok aku?" tanya Riani heran.


"Ya kamu yang nentuin."


"Aku terserah kamu."


"Aku juga terserah kamu."


"Kalau kaya gini terus kapan selesainya?!" ujar Manda dengan kesal. "Gimana kalau kita pergi ke pusat oleh-oleh dulu?"


"Boleh." Bayu dan Riani menjawab dalam waktu yang hampir bersamaan.


Usai melangsungkan sarapan, ketiganya kembali ke kamar untuk merapikan barang bawaan sebelum akhirnya keluar dari hotel.


Sementara Bayu sedang merapikan beberapa pakaiannya di dalam koper, Riani merapikan skincare yang ada di atas meja.


Semuanya sudah selesai dan Riani beranjak dari duduknya sembari menahan nyeri. Riani memegangi pinggangnya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Bayu yang tak sengaja melihat kekasihnya sedang kesakitan.


Riani menggelengkan kepala. "Nggak papa, kok, biasa kalau abis perjalanan lama duduk terus emang suka sakit."


"Kalau gitu nanti kursinya diatur biar kamu bisa agak rebahan aja."

__ADS_1


Riani mengangguk mengiyakan saran dari Bayu. "Tapi semalam aku mimpi aneh banget tahu, mana kaya nyata banget lagi mimpinya."


__ADS_2