PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Kedatangan Fella


__ADS_3

Rambut panjang sosok Fella menutupi wajahnya. Entahlah dia sedang bersedih atau justru tersenyum di balik rambut panjang nan hitam legam itu.


Sementara Riani memandang ke arah Fella dengan penuh kebencian. Ia teringat dengan obrolan dua perempuan yang ia dengar saat baru menginjakkan kaki di tempat kerja tadi.


Riani berbalik badan, ia tidak ingin menemui sosok Fella lagi. Perempuan itu kemudian berjalan keluar dari ruang karyawan.


"Maaf."


Suara itu terdengar saat tangan Riani sudah memegang gagang pintu. Riani tak menghiraukan Fella, ia melanjutkan langkahnya keluar dari ruang karyawan untuk bekerja.


Beberapa baju berserakan sisa dari pegawai sebelumnya. Terlihat di sana sudah ada Nindira dan Riani mulai mendekatinya.


"Apa kamu butuh bantuan?" tanya Riani menawarkan diri.


"Boleh, ini belum dikasih harga," ujar Nindira yang lantas memberikan satu plasti berisi pakaian anak.


Riani mengambil plastik tersebut dan beberapa barang lain yang dia butuhkan. Ia membawanya ke dekat stok baju anak dan mulai melakukan pekerjaan.


'"Riani," panggil seseorang.


Sejenak kedua tangan Riani berhenti melakukan pekerjaan. Ia tidak segera menoleh melainkan terlebih dahulu terdiam.


Suaara yang didengarnya sangat tidak asing. Tanpa melihat ke arah sumber suara, Riani bisa melihat sesuatu yang janggal berdiri tepat di sebelahnya, berwarna hitam seperti sebuah celana namun Riani tak dapat melihat kedua kaki atau sebatas sandal maupun sepatu yang dikenakannya.


Seketika Riani tahu jika itu adalah Fella, ia juga teringat dengan suara sedikit serak yang dimiliki perempuan itu.


"Riani, aku minta maaf."


Riani tetap tidak menghiraukan sosok perempuan itu.


"Riani aku mohon."


Sepertinya Fella memang sangat merasa bersalah, namun Riani tidak ingin berbicara dengannya lagi. Riani enggan jika nanti ada orang atau pegawai lain yang melihatnya berbicara sendirian dan menganggap dirinya gila.


Seiring waktu berjalan, Fella terus mengatakan hal yang sama. Ia terus meminta maaf kepada Riani atas kesalahannya.


Tentu saja suara-suara yang diucapkan Fella membuat telinga Riani terasa panas, ia merasa terganggu dengan kedatangan sosok perempuan itu.


"Nggak usah bicara sama aku lagi, Fel, aku udah memaafkan kamu. Kalau kamu bicara terus, bisa-bisa aku dilihat orang jika aku sedang bicara sendirian. Ingat, Fel, kita udah beda alam, mereka nggak bisa lihat aku yang bisa ngomong sama kamu!"


Sepertinya perkataan Riani sedikit mengena di hati Fella. Perlahan terdengar suara tangisan yang lirih.

__ADS_1


Riani menoleh, ia mendapati Fella yang sedang terisak dengan rambut panjang yang masih terus menutupi wajahnya. Tak ada lagi rasa perduli dalam hati Riani, justru ia merasa kesal dengan Fella yang masih terus berada di dekatnya dan tidak kunjung pergi.


"Maaf, Riani. Kamu benar kita memang sudah beda alam. Tapi emangnya nggak boleh ya kalau aku pengin punya teman? Aku senang banget pas tahu kamu bisa lihat aku. Dari dulu aku sendirian, aku kesepian, aku kira kamu bisa menjadi temanku, bisa aku ajak bicara. Maaf kalau aku hanya menjadi masalah bagimu, aku pergi."


Kalimat dari Fella terdengar sangat menyedihkan, apalagi Riani juga pernah mengalami hal serupa saat di sekolah dulu.


Teman-teman kelas enggan berteman dengan Riani karena mereka merasa minder dengan Riani yang selalu juara kelas dan memiliki apapun yang sedang trending pada saat itu. Mereka yang tidak mampu membeli dan mengejar peringkat Riani membenci dan meghasut teman-teman yang lain untuk turut membenci Riani.


Dua tahun masa kelam saat ia sekolah menengah atas itu masih terekam jelas di kepala. Pada saat itu hampir setiap hari Riani menangis sendiri, ia kesepian, ia butuh teman.


Riani beranjak dari duduknya, pandangan mata perempuan itu menyapu ke sekitar mencari keberadaan Fella. Sayangnya, sosok itu sudah tidak ada lagi dimana-mana,


"Fella, aku tahu kamu masih di sini," lirih Riani.


Kedua kakinya mulai melangkah untuk mencari keberadaan sosok Fella.


"Riani," panggil Nindira yang membuat Riani terpaksa menoleh. "Udah semua belum?"


"Oh." Riani melihat ke pekerjaannya yang masih kurang sedikit lagi. Ia mengurungkan niat untuk mencari sosok Fella dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Jam sembilan malam Riani keluar dari ruang karyawan dengan pandangan yang beredar mencari Nindira.


"Difki," panggil Riani yang mendapati laki-lai itu tengah bersama dengan Bagas. "Kamu lihat Ira?"


"Tadi aku lihat dia ke toilet," ujar Bagas menambahi.


"Oh, thanks ya, Gas," ujar Riani yang segera menuju ke toilet perempuan.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Bagas. Saat langkah kaki Riani baru sampai di pintu masuk toilet, ia sudah melihat Nindira yang sedang memperbaiki make up di dalam sana.


"Nin, kita jadi balikin tas?"


Nindira mengangguk. "Jadi, tapi kayanya aku sama Tri deh tadi aku udah bilang soalnya biar pakai motor aja kan biar lebih cepet."


"Oh, iya juga ya. Kalau gitu berarti aku ke kost kamu buat ngambil barang-barangku aja, kan?"


"Oke, maaf ya, Ri." Nindira mengambil kacamata dan mengenakannya.


"Santai aja, lagipula aku juga mau ke rumah sakit habis ini."


"Oh, Tante Rita belum pulang?"

__ADS_1


Riani menggelengkan kepala. "Belum, mungkin besok."


Sesampainya di tempat kost, Riani segera mengemasi barang-barangnya yang kemarin ia titipkan. Saat berangkat tadi siang, Riani membawa tas yang cukup besar untuk membawa brang-barang yang sudah ia tinggal.


"Thanks ya, Ra, aku pulang dulu." Riani beralih kepada Tri. "Aku pulang dulu ya, Tri."


"Sama-sama, Ri, kamu hati-hati ya pulangnya."


Riani menganggukkan kepala dan tersenyum. "Kalian juga hati-hati ya, maaf nggak bisa ikut balikin tasnya." Pandangan mata Riani melihat ke arah Nindira dan Tri secara bergantian.


"Santai aja, lagipula aku juga berdua sama Ira nggak sendirian," jelas Tri.


Cahaya lampu kendaraan sepeda motor yang menyilaukan mata membuat tiga pasang mata itu menyipit.


"Siapa sih itu motornya silau banget?!" kesal Tri.


Sepeda motor tersebut lantas berhenti di depan bangunan kost. Lampu yang begitu silau seketika mati seiring dengan mesin motor yang dinyalakan.


Dari bawah remang cahaya lampu, seorang laki-laki terlihat mengenakan jaket hitam dengan sedikit warna hijau. Tangannya nampak mencari sesuatu dalam tas yang melingkar pada pinggangnya.


"Kayanya dia ojek online yang aku pesan deh," ujar Riani yang lantas melangkah mendekat.


"Kak Riani?"


Riani menganggukkan kepala. Ia lantas beralih ke kedua temannya. "Aku pulang dulu ya, Ra, Tri."


Keadaan rumah masih sama, sepi dan bahkan lampunya juga mati. Riani membuka pagar pintu rumah dan mengucinya kembali dari dalam.


Tangannya sudah berada di gagang pintu saat ia teringat sesuatu. "Oh, aku lupa ambil kunci." Pintu utama rumahnya terbuka. "Eh, nggak dikunci ya?"


Riani mengernyitkan dahi, ia merasa sudah mengunci pintu rumah saat berangkat tadi. Namun melihat kondisi ruangan yang masih gelap, Riani setidaknya menyadari kesalahan yang telah ia lakukan.


"Untung aja nggak ada yang masuk," ujar Riani melangkah masuk ke dalam rumah yang masih tetap terlihat rapih.


Ia menyalakan lampu ruangan satu persatu, namun saat ia hendak menyalakan lampu yang ada di dapur seketika Riani memicingkan mata. Ia melihat seperti ada seorang laki-laki yang duduk di meja makan.


Indra penglihatannya yang sudah cukup terbiasa dengan kegelapan bisa melihat bayangan hitam itu duduk di bangku yang biasanya diduduki oleh kepala keluarga. Seketika peluh mengalir dari pelipis Riani.


"Apa aku pergi aja ya?" lirih Riani.


Tangannya sudah berada di saklar lampu yang jika ditekan ke bawah lampu di ruang makan dan dapur akan menyala, namun Riani merasa ragu.

__ADS_1


Ia kembali menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas apakah itu manusia atau bukan. Mengingat akhir-akhir ini ia bisa melihat hal-hal yang sebelumnya tidak bisa ia lihat.


"AAAA!!!"


__ADS_2