
Hening, sunyi, sepi seakan tak ada kehidupan.
Pandangan mata Riani menyapu ke sekitar, hanya ada hijau daun-daun di pepohonan.
"A--aku di--di mana?" lirih Riani sembari terus memperhatikan sekelilingnya.
Riani merasa telah mengunjungi tempat ini sebelumnya. Hijau daun-daun yang menenangkan, langit jingga sore hari yang menakjubkan dan suasana yang hening tak tertandingkan. Tapi di mana? Riani benar-benar tidak bisa mengingat kapan dia pernah datang ke sini sebelumnya.
"Riani." Suara itu menggema.
Mendengar namanya dipanggil, Riani segera menoleh ke belakang. Ia tak mendapati apapun.
"Riani." Suara itu menggema, membuat Riani merasa kebingungan sebenarnya darimana suara itu berasal.
Kembali menoleh ke arah sebelumnya, Riani juga tak mendapati apa-apa.
"Hahahaha ... hahahaha ...."
Tawa melengking itu hampir terdengar dari segala penjuru arah. Seketika Riani merasa bulu kuduknya berdiri seiring dengan jantung yang berdetak hebat.
"Hahahaha ... kamu cari aku ya? Kamu ketakutan ya ...?"
Kedua tangan Riani menutup kedua telinganya sendiri. Ia memejamkan mata, merasa tidak tahan dengan suara yang terus datang dan menggema di dalam telinga.
Meskipun ragu karena ketakutan, namun ia tetap berusaha mengumpulkan keberanian. "Ka--kamu siapa? Jangan main-main denganku!" suara Riani bergetar.
"Hahahaha ...." Tawa itu kembali terdengar dari segala penjuru arah. "Menolehlah ke belakang!"
Rasa takut dalam diri terkalahkan oleh rasa penasaran dan kekesalan yang tinggi. Riani segera menoleh, ia ingin tahu siapa yang telah berani mempermainkannya seperti ini.
Dua orang perempuan berdiri berdekatan, tidak, mereka tidak bersebelahan melainkan dalam posisi depan dan belakang. Salah satu dari mereka hanya terlihat setengah wajah saja, yaitu dari telinga hingga ke hidung, setelahnya tertutup oleh perempyan yang ada di depan.
Langkah kaki Riani mundur secara perlahan. Ia waspada. "Si--siapa kalian?!"
__ADS_1
Kedua perempuan itu sama sekali tidak menyeramkan, justru mereka terlihat sangat cantik. Kebaya berwarna merah dengan jarik batik dilenakan oleh mereka, motif dan modelnya sama. Anehnya, mereka berdua tak mengenakan alas kaki.
Riasan make up yang tidak terlalu tebal ada pada wajah mereka, hanya saja lipstik yang mereka gunakan memiliki warna yang merah merona menambah ketegasan dalam senyuman yang mereka berikan.
Cantik, murah senyum, ramah, lemah lembut dan terlihat penyayang. Namun entah mengapa Riani tetap memilih untuk waspada.
"Jangan takut, Riani." Perempuan yang berdiri di depan berbicara. "Kami tidak akan menyakitimu, justru kami akan menolongmu."
Suaranya terdengar sangat lembut, namun Riani justru menggelengkan kepala. "Kalian siapa?!"
"PERGI!!!"
Riani menoleh ke arah sumber suara. Dalam jarak sekitar sepuluh meter dari tempat Riani berdiri, ia melihat seorang perempuan mengenakan gaun terusan berwarna putih.
Pakaian yang dia kenakan terlihat sangat kusam, ada banyak noda pada warna putihnya. Rambut hitam itu sedikit coklat dan acak-acakan, wajahnya pucat dengan lingkar hitam di sekitar mata yang terlihat sangat jelas.
"I--ibu?" Riani mengenali perempuan itu. Tidak lain dia adalah Rita. Merasa ada tempat yang lebih aman untuk berlindung, Riani berhambur ke arah ibunya datang. "Ibu!"
"Jangan!" tegas Rita, ia mengangkat tangan kanannya yang terbuka. "Jangan mendekat, Nak, pergilah."
"PERGI!" perintah Rita, kedua matanya terbuka lebih lebar daripada biasanya. "PERGI KAMU DARI SINI, NI, PERGI!"
Bagi Riani, berada di dekat ibu adalah satu-satunya tempat yang paling aman. Tidak ada tempat lain yang paling aman jika ia masih memiliki ibu yang bisa menjadi rumah untuk berlindung. Riani melanjutkan langkah kakinya.
Namun apa yang hendak dilakukan oleh Riani sepertinya akan membuat Rita benar-benar marah.
"JANGAN MENDEKAT, RIANI, PERGI!!!"
Tak pernah sebelumnya Riani melihat ibunya sedang diliputi amarah seperti ini. Tiba-tiba saja terbesit perasaan takut untuk mendekat ke arah Rita yang sedang terselimuti amarah.
Menoleh ke arah dua perempuan yang sebelumnya ia lihat, mereka masih berdiri di tempat yang sama. Tidak hanya itu, mereka juga masih tersenyum dengan ramah kepada Riani. Dari tatapan mata keduanya, Riani bisa melihat jika mereka seperti mengajak Riani untuk mendekat ke arahnya.
"PERGI!!!" pekik Rita.
__ADS_1
Riani tersadar oleh teriakan ibunya. Sepertinya memang hal terbaik yang harus dia lakukan sekarang adalah pergi meninggalkan tempat ini secepatnya.
Tidak segera pergi sejauh mungkin, Riani memilih untuk bersembunyi di balik sebuah batu besar. Dari tempat persembunyiannya Riani bisa melihat dua perempuan cantik itu berubah menjadi menyeramkan.
Tidak ada lagi riasan pada wajahnya yang perlahan tergantikan dengan kulit keriput yang menyeramkan. Tidak ada lagi senyum ramah karena tergantikan dengan bibir yang meringis menunjukkan taring yang panjang. Tidak ada lagi sepasang mata sendu karena kedua mata itu kini telah terbuka lebar.
"BERANINYA KAMU MENYURUH DIA PERGI!"
Masih dari tempat yang sama Riani melihat ibunya yang seketika berlutut dengan kedua tangan di depan dada. Rita menggelengkan kepalanya. "Tolong jangan dia ... kumohon, jangan ... biar aku saja."
"DASAR BODOH! AKU TIDAK AKAN MELEPASKAN DIA BEGITU SAJA! AKAN AKU JADIKAN DIA SEBAGAI BUDAKKU!"
Riani hanya bisa terduduk lemas di balik batu besar. Ia berusaha menahan tangisannya agar tidak terdengar dengan tubuh yang bergetar.
Sayangnya hal itu hanya bisa terjadi beberapa detik saja.
Bagaimana jika dua perempuan itu menyakiti ibu? Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu terhadap ibu? Bagaimana jika mereka memperlakukan ibu dengan buruk? Bagaimana jika ... harus hidup tanpa ibu? Tidak!
"TIDAK!" teriak Riani dari balik persembunyiannya setelah pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul dalam kepala. "JANGAN SENTUH IBU SEDIKIT PUN! BIAR ... BIAR AKU SAJA YANG MENGGANTIKANNYA!" Meskipun ketakutan, Riani tetap berusaha tegar meskipun ia menyadari jika kalimatnya itu terdengar bergetar.
"HAHAHAHA." Tawa melengking itu bergema. "KAMU MASIH DI SINI RUPANYA." Dua perempuan itu mendekat.
"LARI! PERGI DARI SINI, RIANI ... LARI ...!"
***
"Mimpi buruk lagi?" Riani mengusap peluh di pelipis. Pandangan matanya kemudian melihat ke arah Rita, perempuan itu masih terbaring di atas ranjang khusus pasien dengan kedua mata yang terpejam.
Usai mengatur nafasnya agar kembali berhembus normal, Riani beranjak dari sofa tempat ia membaringkan badan.
Jam masih menunjukkan pukul dua dini hari, tapi Riani merasa sudah tidak mengantuk lagi.
Dengan sebotol air mineral di tangan, Riani menatap ke arah ibunya yang masih terpejam.
__ADS_1
Semua mimpi yang tadi ia alami masih tetap terbayang jelas dalam pikiran.
"Ini aneh, siapa dua perempuan itu? Rasanya aku pernah melihat mereka sebelumnya." Riani berkutat dengan pikirannya. "Terus juga, sebenarnya ibu ini sakit apa? Kenapa cuma di kasih obat penenang aja? Kenapa dokter bilang kalau semua organ dalam tubuh ibu normal dan tidak ditemukan penyakit apapun? Apa ... ibu kena santet?"