PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Terlambat


__ADS_3

"Cepat kerja!"


Perempuan itu menghembuskan nafas seraya memutar bola matanya.


Benar dugaan Riani sebelumnya, atasannya itu tak akan menerima apapun alasan yang diberikan oleh pegawainya jika ia terlambat.


Riani bergegas masuk ke dalam ruang karyawan. Seperti biasanya ia terlebih dahulu menyimpan barang bawaannya di dalam loker penyimpanan sebelum menuju ke tempat kerja.


Dari sudut mata Riani kini tak lagi terlihat sosok Fella seperti sebelumnya. Ada perasaan kehilangan dalam hati Riani, namun mau bagaimanan lagi? Ini adalah pilihan yang dia ambil.


Langkah kedua kaki Riani perlahan memasuki area mall. Pandangan matanya langsung tertuju ke arah Tri yang sedang tertawa bersama dua orang pegawai yang kemarin mengatakan dirinya gila. Sesekali satu dari ketiga perempuan itu juga melirik ke arah Riani berada, membuat Riani merasa semain yakin jika mereka memang sedang menertawakan dirinya.


Riani berusaha untuk tidak memperdulikan ketiganya, ia berdiri dalam jarak yang cukup jauh dari mereka bertiga agar tidak lagi melihat mereka yang sedang menertawakannya.


Rasa sakit dan kecewa bergemuruh dalam hati Riani. Kemarin saat hanya mereka berdua yang membicarakan Riani, ia masih bisa menerimanya, namun hari ini Tri yang sudah cukup dekat dengannya justru bergabung dengan dua perempuan itu menertawakan dirinya.


"Tahu nggak sih kemarin kita gagal muncak gara-gara dia. Mana pas malem dia kesurupan segala. Pas di perjalanan juga dia ngeluh capek mulu. Perempuan lemah kaya Riani yang bikin masalah doang bisanya mah mending nggak usah diajakin kemana-mana deh, nggak usah ditemenin sekalian biar dia sendirian aja."


Perkataan yang mungkin dikataan oleh Tri menggema dalam pikiran Riani. Hal itu membuat rasa sakit dan kecewa dalam hati Riani semakin besar. Ia tak tahan, ingin rasanya berteriak sekencang mungkin namun sekarang ia sedang dalam jam kerja dan dituntut harus profesional.


"Fella," lirih Riani, ia memanggil sosok yang biasanya selalu menemani kesendiriannya.


Meskipun sebenarnya kedatangan Fella juga sedikit membuat masalah bagi dirinya karena jadi dianggap gila. Namun setidaknya, jika teman satu kerjaannya tidak bisa menjadi teman, Riani masih punya Fella yang akan setia menemaninya. Namun sekarang ... Fella entah ada di mana.


Riani menangis sembari memeluk kedua lututnya. Jam istirahat tersisa setengah jam lagi dan sedari tadi Riani menghabiskan waktu di bagian belakang mall untuk menangis.


Ia tidak ingin ada seorang pun yang melihat dirinya tengah menangis dan halaman belakang mall adalah tempat yang tepat menurut Riani untuk meluapkan segala emosi dalam dadanya dengan menangis.


"Riani," panggil seseroang.


Riani menoleh ke arah sumber suara. Segera ia mengusap kedua mata dan pipipnya yang basah sebelum perempuan itu semakin mendekat.

__ADS_1


"Dicariin dari tadi juga, kamu lagi ngapain di sini, Ri?"


Riani memalingkan wajahnya, ia tidak ingin Nindira tahu jika ia tengah menangis.


"Cari angin aja," ujar Riani, namun ia tak bisa menahan apa yang dia rasakan karena seiring dengan ia berbicara, suaranya bergetar dan tangisnya kembali pecah.


"Loh, Ri, kamu nangis?" tanya Nindira yang berusaha melihat eskpresi wajah Riani. "Kamu nangis kenapa, Ri?"


Mendapat pertanyaan demikian, tangis Riani justru semakin tak tertahankan. Riani yang semula bisa menangis dalam diam kini justru menangis sesenggukan.


Nindira yang sedikit banyak mengerti tidak langsung memberikan pertanyaan lagi, justru ia memberikan pelukan untuk Riani.


Pelukan yang erat itu sedikitnya mampu membuat Riani merasa sedikit tenang dalam beberapa saat. Ia melepaskan pelukannya saat sudah tidak lagi menangis sesenggukkan seperti sebelumnya.


"Aku ... aku kangen Fella," ujar Riani sedikit ragu.


"Fella?!" Nindira mengernyitkan dahi, ia terkejut sekaligus kebingungan dengan kalimat yang baru saja Riani katakan.


Tangis Riani kembali pecah, namun tak sesenggukkan seperti sebelumnya. Hanya saja air mata kembali mengalir membasahi kedua pipi perempuan itu saja.


"Terus kamu nggak lihat dia lagi?" tanya Nindira, suaranya begitu lembut, mungkin takut menggores hati Riani yang sebelumnya sudah terluka.


Riani menggelengkan kepala. "Biasanya aku lihat dia di ruang karyawan, tapi sekarang dia nggak ada lagi di situ. Biasanya juga dia suka bantuin aku kerja dengan bisikin sesuatu, tapi hari ini aku nggak denger bisikannya lagi. Aku nyesel udah ngomong kaya gitu ke dia, Ra, aku nyesel dan sekarang aku ngerasa kehilangan."


Suara angin yang berdesir terdengar begitu jelas. Beberapa helai rambut keduanya juga terlihat terbawa angin sehingga mereka harus merapikan mahkotanya kembali.


"Aku juga bingung, Ri, aku nggak bisa lihat Fella seperti kamu bisa lihat dia, apalagi ngomong ke dia. Kalau aja Fella masih hidup mungkin aku bisa ngasih tahu dia kalau kamu nyesel, aku bisa bujuk dia buat nemenin kamu lagi. Maaf ya, Ri."


Riani menoleh ke arah Nindira. "Nggak perlu minta maaf lah, Ra." Seulas senyum tercipta pada bibirnya. "Kamu nggak salah apa-apa, kok, kamu juga nggak terlibat dalam masalah aku ini."


"Tapikan aku nggak bisa bantu kamu, Riani, aku minta maaf untuk itu."

__ADS_1


"Santai aja lagi, aku memang biang masalah, jadi aku harus bisa menyelesaikan masalah itu sendiri."


"Ri!" tegas Nindira yang tidak setuju saat Riani mengatakan dirinya sendiri sebagai biang masalah.


Sementara itu Nindira hanya memberikan senyum palsu. Tanpa sengaja pandangan matanya mendarat pada jam tangan berwarna merah muda yang melingkar pada pergelangan tangan Nindira.


"Udah jam satu kurang lima menit, ayo kita masuk."


Riani beranjak dari duduknya tanpa menunggu jawaban dari NIndira.


Waktu pulang kerja terasa sangat lama. Berkali-kali Riani melihat ke arah jam dinding ia mendapati waktu yang bergerak sangat lambat.


"Ini jam mau mati apa gimana sih?!" kesal Riani yang sudah tidak sabar untuk pulang.


Pekerjaan ini sudah tidak terasa menyenangkan lagi setelah Riani mendapatkan perlakuan buruk dan teman kerjanya sendiri. Riani tidak semangat lagi untuk berangkat bekerja dan saat sedang bekerja hal utama yang paling ia tunggu adalah waktu pulang.


"Yo ... yo ... yo!"


Riani melihat teman satu shiftnya yang sudah berjalan menuju ruang karyawan yang ada di bagian belakang. Riani turut ikut dengan meraka yang sedang asyik bercanda sementara Riani diam sendirian.


"Pulang kerja mau kemana?" tanya Nindira yang seketika sudah merangkulkan tangannya pada leher Riani.


Riani tersenyum kaku. "Emangnya kamu mau ajak aku ke mana?" Alih-alih menjawab pertanyaan Nindira, Riani justru balik bertanya."


"Ehm, gimana kalau kita mampir ke danau dulu? Yah, beli jajan gitu sambil nunggu sore."


Riani terdiam sejenak memikirkan ajakan Nindira. Tak lama setelahnya, ia menganggukkan kepala. "Boleh juga."


Keduanya keluar dari mall dengan berjalan beriringan.


"Eh, tunggu, tunggu, lihat itu." Nindira menunjuk ke sebuah arah. "Dia kayanya manggil kamu deh, kamu kenal?"

__ADS_1


__ADS_2