
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Riani masih terduduk di salah satu bangku panjang yang berada di depan salah satu ruangan. Tidak ada siapapun di sekitarnya, Riani hanya sendirian.
Wajahnya lembab dengan kedua mata yang sembab. Sesekali air mata masih terus mengalir saat Riani membayangkan apa yang telah terjadi terhadap dirinya di rumah beberapa waktu tadi.
Suara langkah kaki terdengar jelas dalam lorong yang sepi. Melihat ke arah sumber suara, di sana nampak seorang laki-laki yang sedang melangkahkan kaki.
Laki-laki yang tidak lain adalah Bayu itu berjalan dengan sedikit lebih cepat daripada biasanya. Beberapa detik kemudian, ia sudah berada tepat di samping Riani yang masih terduduk dan terdiam.
"Nih," ujar Bayu sembari menyodorkan sebotol air mineral. "Minum dulu biar tenang."
Tangan kanan Riani terangkat untuk menerima sebotol air mineral dari Bayu. Botol air mineral itu sudah tidak lagi tertutup rapat sehingga Riani bisa dengan mudah membuka lantas meneguk isinya.
Sementara itu disaat Riani sedang meneguk air mineral pemberiannya, Bayu mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah perempuan itu.
"Jadi ... tadi kamu ngerasa kalau aku ngerjain kamu di rumah?" tanya Bayu yang menerima kembali botol air mineral yang sudah diminum seperempatnya.
Riani mengangguk. "Emang kamu kan, Bay?!" kesal Riani dengan suaranya yang sedikit serak karena telah menangis.
"Sumpah, bukan aku, Ri," ujar Bayu mengangkat tangan dengan jari telunjuk dan jari tengah yang diacungkan. "Aku nggak bakal berani kaya gitu ke kamu, apalagi kamu tadi di rumah sendirian."
"Terus siapa dong?" Riani mengernyitkan dahi.
Bayu menggelengkan kepalanya. "Perasaan kamu aja kali."
"Nggak, Bay," tegas Riani menolak asumsi Bayu. "Semua itu nyata banget. Aku denger suara orang kaya lagi nyuci piring di dapur, aku juga denger suara orang di dalam gudang. Aku kira itu kamu sembunyi di gudang. Terus pas aku lagi di dalam gudang juga pintu gudang ketutup sendiri, aku lihat bayangan kamu sebelum pintu itu ketutup, Bay. Kamu ngaku aja deh mendingan, jadi aku nggak semakin ketakutan kaya gini."
"Tapi beneran bukan aku, Ri. Sumpah, aku berani sumpah kalau itu bukan aku."
Lorong tersebut semakin hening tatkala Riani dan Bayu sama-sama terdiam.
Riani berkutat dengan pikirannya sendiri. Ia masih tidak percaya jika bukan Bayu yang tadi mengerjainya.
__ADS_1
Lirikan mata Riani melihat sinis ke arah Bayu, entah bagaimana caranya agar Bayu bisa mengakui perbuatannya secepat mungkin agar rasa takut dalam dirinya tak semakin kuat.
Seketika Riani teringat dengan kejadian beberapa menit yang lalu saat ia sedang melangkah masuk ke dalam rumah sakit. "Kalau bukan kamu yang ngerjai aku tadi, kenapa kamu datang ke rumah sakit ini terlambat? Aku yang duluan sampai di sini, padahal aku dari rumah jalan kaki."
"Jalan kaki?!" Kedua mata Bayu terbelalak memperhatikan Riani. "Kamu ke sini jalan kaki?!"
Riani menganggukkan kepala. "Kamu nggak usah ngalihin pembicaraan, Bay."
"Aku nggak ngalihin pembicaraan kok, Ri, aku bener-bener kaget pas tahu kamu ke sini jalan kaki dari rumah." Bayu menghentikan kalimatnya sejenak. "Aku kan udah bilang tadi aku ke sini pakai bus terakhir, aku juga udah masuk ke ruang rawat inap Tante Rita, kok, kalau kamu nggak percaya kamu bisa tanya ke Tante Rita atau Mba Dwi. Udah gitu aku belum ngantuk makannya aku keluar rumah sakit, aku ngerasa suntuk di sini, pengin cari udara segar."
"Kamu bohong kan, Bay?"
Bayu menghela nafasnya. "Ya ampun, Riani, aku nggak bohong, Ri. Aku harus jelasin kaya gimana lagi biar kamu percaya? Apa aku harus bohong kalau aku yang ngerjain kamu gitu?"
"Iya!" kesal Riani.
"Oke, oke, Ri. Aku yang ngerjain kamu di rumah tadi."
Suara langkah orang-orang yang berlalu-lalang membangunkan Riani. Ia merasa tubuhnya sakit di banyak bagian. Malam ini, tidurnya sama sekali tidak nyaman.
Riani menoleh ke kanan dan ke kiri, ia mendapati ujung lorong yang terlihat terang meskipun cahaya lampu masih tetap menyala untuk menerangi. Sudah ada beberapa orang yang berlalu-lalang melewati lorong tersebut, pagi ini mereka tengah sibuk dengan kesibukan masing-masing.
"Bay ... Bayu," ujar Riani membangunkan laki-laki itu sembari menepuk-nepuk pahanya.
Bayu tertidur begitu lelap. Bahkan hingga Riani memanggil-manggil namanya beberapa kali, Bayu masih tetap belum membuka matanya.
"Bayu," panggil Riani dengan lebih keras, ia juga tidak lagi menepuk paha laki-laki iu melainkan pindah ke pipinya.
"Hah?" Bayu membuka mata, ia menoleh ke kanan dan ke kiri seakan mencari sesuatu. "A--ada apa, Ri?"
"Bangun, Bay, udah pagi." Riani beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Dengan langkah gontai Riani berjalan meninggalkan Bayu yang masih sedang mengumpulkan nyawa karena baru saja terbangun dari tidurnya. Masuk ke dalam ruang rawat ibunya, Riani melihat kedua perempuan itu masih tertidur pulas.
Langkah kaki Riani menghampiri Dwi yang sedang tertidur lelap di atas sofa. "Mba ... Mba Dwi."
Perempuan itu terbangun dengan sedikit terkejut karena mendapati Riani yang membangunkannya. "Ma--maaf, Non."
"Mba Dwi beli bubur ayam gih di depan," ujar Riani sembari mencari dompetnya.
Dompet berwarna peach yang berukuran kecil dikeluarkan dari dalam tas selempang. Selembar uang berwarna biru dikeluarkan dan diserahkan kepada Dwi.
"Beli ...." Riani menghitung jumlah orang dalam pikirannya. "Empat."
"Baik, Non." Dwi lantas beranjak dari kursi usai menerima selembar uang itu.
Sementara Dwi pergi dari ruang rawat inap, Bayu melangkah masuk ke dalam dengan kedua mata yang masih terlihat mengantuk.
"Aku tadi nyuruh Mba Dwi buat beli bubur ayam, nanti kita sarapan bareng. Aku mau siap-siap dulu, kamu jagain ibuku bentar ya."
Bayu mengangguk lemah. "Tadi Mba Dwi juga udah bilang. Ya udah kamu siap-siap aja dulu, Ri, kamu mau berangkat pagi kan?"
"Iya, sekarang jam berapa?" Pandangan mata Riani mengedar ke seluruh ruangan dan menemukan jam dinding kecil yang menggantung pada salah satu bagian dinding dalam ruangan tersebut. "Satu jam lagi."
Usai membersikan badan dan menggunakan baju yang sama seperti sebelumnya, Riani mendapati Dwi yang baru saja kembali. Sementara ibunya masih terlelap sehingga hanya mereka bertiga saja yang menyantap sarapan pagi bersama.
"Mba Dwi, mau nggak anterin aku pulang buat ambil seragam?" tanya Riani, ia tak berani untuk pulang sendirian.
"Oh, ayo, Non. Tapi aku bersihin rumahnya nanti aja ya, Non, kalau nyonya udah pulang ke rumah juga."
Riani yang mengerti dengan ketakutan Dwi lantas menganggukkan kepala. Ia juga tidak berani berada di rumah sendirian seperti biasanya lagi.
Jam delapan kurang lima menit, Riani terjebak macetnya lalu lintas. Ia tidak bisa tenang dan selalu gelisah. Baru kali ini ia terlambat bekerja, apalagi dirinya belum lama bekerja di mall, Riani takut jika atasannya akan marah besar terhadapnya dan tidak mau menerima apapun alasan yang membuat Riani terlambat hari ini.
__ADS_1
Kedua kaki Riani diayunkan dengan cepat. Ia memasuki area mall dan bergegas menuju ke tempat ia bekerja. Terlihat di sana atasannya sudah berdiri dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada. Dari kejauhan, Riani bisa melihat tatapan mata tajam itu, ia juga bisa merasakan adanya amarah yang siap diluapkan oleh atasannya itu kepada dirinya.
"Ma--maaf saya terlambat, Bu. Ibu saya sakit jadi saya harus menjaganya dulu di rumah sakit."