PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Ritual


__ADS_3

Keadaan rumah sudah ramai, beberapa sanak saudara sudah mulai berdatangan. Anak-anak bermain bersama di halaman depan dengan tawa yang ceria.


"Oh, ini calonnya Bayu?"


Riani tersenyum, ia sedikit beranjak dari duduknya untuk menyalami peremuan yang baru saja datang.


Ia mengenakan pakaian serba putih dengan kerudung yang hanya dililitkan di leher saja. Dari sekian banyak orang, penampilannya yang paling mentereng. Wangi parfum yang dia gunakan seketika menyeruak ke seluruh penjuru ruangan.


"Riani," panggil Utari dari dalam rumah, ia melambaikan tangan.


Mendengar namanya dipanggil, Riani berjalan mendekat. "Ada apa, Bu?"


"Nanti selama ritual kamu masuk ke dalam kamar."


"Oh, aku nggak ikut ritualnya?" Riani melihat ke arah orang-orang yang semakin banyak berdatangan.


"Kamu ikut ritualnya, Ri, cuma tugas kamu itu di dalam kamar," jelas Utari.


"Aku ngapain aja nanti di kamar, Bu?"


"Nggak ada yang perlu kamu lakuin, kamu cukup nunggu sampai ritualnya selesai."


Riani menganggukkan kepala, mengerti. "Sekarang apa nanti, Bu?"


"Sekarang juga nggak papa, sebentar lagi juga ritualnya udah mau dimulai." Utari merapikan rambut Riani. Ia tersenyum. "Nanti segala hal jahat yang ada di diri kamu hilang setelah ritual ini selesai. Kamu dan Bayu juga bisa makin langgeng."


"Iya, Bu, aamiin," ujar Riani yang tersenyum. "Kalau gitu, aku masuk ke kamar sekarang ya, Bu."


Utari mengangguk. "Silahkan, Nduk."


Dari sudut mata Riani, ia bisa melihat satu penampi yang berisi bunga dengan berbagai warna sebelum ia melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Di dalam kamar, Riani mendudukkan tubuhnya. Ia mengambil smartphone dengan daya yang masih tersisa delapan puluh persen sejak pertama kemarin karena sangat jarang digunakan.


Smartphone itu dinyalakan. Riani mulai memainkan game tebak kata yang bisa dimainkan secara offline meskipun cukup membosankan.


Klik!


Riani melihat ke arah pintu kamar. Hatinya merasa sangat yakin jika pintu itu telah dikunci. Ingin membuktikannya sendiri, Riani beranjak dari duduknya.


Ia berjalan mendekat ke arah pintu dan memutar gagang pintu kamarnya. Benar, pintu itu tak bisa dibuka.


Riani mengernyitkan dahi seiring dengan terdengarnya suara-suara dari luar. Entah mereka sedang merapalkan apa, tapi Riani tak bisa mengetahui apa yang mereka katakan.


Semakin lama Riani merasa bulu kuduknya semakin berdiri. Riani segera menjauh dari pintu, berdiri diujung kamar sembari menutup kedua telinga, tidak ingin mendengar suara-suara dari luar.


Saat membuka mata, Riani melihat seorang perempuan dengan baju kebaya berwarna merah. Penampilannya sangat cantik dan anggun. Ia berdiri dengan kedua tangan yang berada di depan tubuhnya sembari menujukkan senyum yang semakin membuat wajahnya terlihat cantik.

__ADS_1


"Ka--kamu siapa? Ka--kapan kamu masuk?" tanya Riani, ia melihat sejenak ke arah pintu kamar yang masih terkunci.


"Riani," panggilnya dengan suara yang sedikit bergema. "Kamu tidak merasa nyaman di sini, kan?" tanyanya dengan senyuman yang terus ada.


Riani menganggukkan kepala.


"Aku bisa membantumu."


"Membantu apa?"


"Kamu ingin keluar dari sini, kan?"


Riani menganggukkan kepala.


"Genggam tanganku," ujarnya sembari mengulurkan tangan.


Perlahan Riani melangkah mendekat. Tangannya mulai terangkat untuk menerima uluran tangan perempuan itu.


"Tapi kamu harus mengikhlaskan ibumu untuk ikut denganku."


Seketika Riani menarik kembali tangannya. Riani menggelengkan kepala kuat. "Nggak, aku nggak mau!"


"Aku berikan kamu kesempatan sekali lagi." Ia masih terus mengulurkan tangan. Pandangan matanya melihat sejenak ke arah telapak tangannya yang terbuka. "Hm?"


Riani tetap menggelengkan kepala. "Nggak!"


Perempuan itu mendekat dengan cepat, bahkan saat Riani belum sempat menghindar.


Riani merasa tubuhnya bergetar saat perempuan itu menabrak tubuhnya.


"Aaa!!!"


Menoleh ke kanan dan ke kiri, Riani tak melihat perempuan berkebaya merah itu lagi. Bahkan hingga pandangan matanya menyapu ke seluruh penjuru ruangan, Riani tak bisa melihat perempuan itu lagi. Entah kemana dia pergi.


"Dia bukan manusia ... dia bukan manusia," ujar Riani dengan suara yang bergetar.


Tiba-tiba saja lampu di dalam ruangan mati, tidak lama kemudian kembali hidup dan mati lagi.


Saat lampu mati, Riani melihat seorang laki-laki dengan rantai di tangan dan kakinya di sudut ruangan. Seketika ia teringat dengan mimpi yang beberapa waktu lalu sempat ia alami. Riani teringat dengan ayahnya.


"AAA ...! BUKA PINTUNYA! BUKA PINTUNYA ... TOLONG. TOLONG ...!"


Riani berlari ke arah pintu, ia memukul-mukul pintu kamar yang dikunci dari luar tersebut. Namun tak ada yang membukakannya.


Suara orang-orang yang merapalkan hal-hal aneh masih terus terdengar, menggema dalam ruang kamar.


Suara benda yang jatuh membuat Riani menoleh. Saat lampu menyala dalam sekian detik, ia bisa melihat produk kecantikan dan barang-barangnya di atas meja yang telah berserakan di lantai.

__ADS_1


Jantung Riani berdebar kencang, ia masih bisa melihat laki-laki di sudut ruangan yang dirantai itu saat lampu padam.


Tangan Riani terus menggedor pintu. Ia meminta orang-orang di luar untuk membukakan pintu kamar untuknya. Namun pintu tak kunjung terbuka.


Sebuah tangan dingin terasa pada pergelengan kaki Riani. Ia melihat ke bawah dan mendapati tangan putih pucat dengan kuku-kuku yang panjang.


"TOLONG ...!!!"


Tubuh Riani terjatuh saat tangan itu menarik kakinya. Riani tak bisa menahan tubuhnya lagi. Kekuatannya seketika menghilang.


Ia hanya bisa pasrah saat tubuhnya seketika terbentur ke dinding dengan sangat keras. Riani terjatuh dengan tubuh yang lemas.


Pandangan matanya buram. Ia melihat sosok laki-laki yang dirantai itu saat lampu mati, tak hanya itu saja, ia juga melihat perempuan dengan kebaya merah yang tertawa tanpa suara.


Tangan putih dengan kuku-kuku panjang itu keluar dari dalam tanah, mengenggam dan mengangkat kaki Riani hingga menyentuh langit-langit rumah.


"Aaa!!!"


Posisi tubuh Riani kini terbalik selama beberapa detik. Sebelum akhirnya tubuhnya kembali dihempaskan lagi ke permukaan lantai.


"Tolong ...." Riani berkata dalam ketidak berdayaan.


Pandangan matanya buram melihat ke arah sekitar. Setiap kali lampu menyala beberapa detik, ia bisa melihat kamar yang sudah berantakan.


Lampu yang terus mati dan menyala juga membuat kepalanya terasa semakin pusing. Riani berusaha beranjak, ia masih belum putus asa.


Dengan pandangan mata yang buram dan tubuh yang kesakitan, Riani menarik tubuhnya yang masih terduduk ke arah pintu.


Tangannya menggenggam gagang pintu dengan erat, memutarnya berkali-kali berharap orang-orang di luar bisa melihat ke arah pintu kamarnya.


Namun sepertinya apa yang dia lakukan sia-sia. Beberapa saat tidak ada yang membukakan pintu untuknya.


"Siapapun tolong aku ... aku nggak bisa di sini terus, tolong ...," ujar Riani dengan suara yang lirih.


Ia melihat ke belakang, perempuan berkebaya merah mendekat dengan mata yang merah dan gigi taring yang panjang hingga ke bagian luar mulut.


"AAA!!!"


Perempuan berkebaya merah itu kembali menembus tubuh Riani dan Riani merasakan hal yang sama.


Riani merasakan tubuhnya yang semakin lemas tak berdaya. Ia hanya bisa menatap ke langit-langit dengan lampu yang masih terus nyala dan mati.


"Riani ... Riani ...."


Kedua mata Riani mengerjap, ia mendengar suara yang mungkin akan memunculkan sebuah asa.


"Fe--Fella ... Fella, kamu di mana? Tolong aku, Fel, kumohon!"

__ADS_1


__ADS_2