
"Aku ke sana dulu ya." Difki menunjuk ke sebuah arah.
Riani mengernyitkan dahi. "Ngapain?"
"Beli minum, sebentar aja."
Usai mendapatkan anggukkan kepala dari Riani, Difki berjalan menjauh. Ia melangkah ke arah yang baru saja ua tunjukkan lagi sementara Riani kembali melanjutkan menyantap es krim roll stroberi yang masih tersisa setengah.
Tiba-tiba saja Riani merasakan ada yang duduk di sebelahnya. Dia adalah seorang perempuan dengan hijab berwarna krem dan kemeja putih. Ia terlihat cantik meskipun riasan pada wajahnya sama sekali tidak membuat ia terlihat segar.
Kulitnya putih sedikit pucat, pemilihan lipstik yang berwarna pink pucat membuat ia terlihat seperti orang sakit. Apalagi lingkaran hitam yang ada di bawah matanya itu tudak tercover sempurna membuat Riani bisa menebak jika ia adalah perempuan yang kurang tidur, entah karena pekerjaan atau memang dia suka begadang.
Riani tersenyum dan perempuan itu juga membalas senyuman dari Riani.
"Sendiri?" lirihnya, suaranya hampir tak terdengar oleh Riani karena banyaknya orang yang berlalu-lalang.
Tidak sering diajak bicara orang asing sebelumnya, Riani menganggukkan kepala dalam kecanggungan. Ia merasa sedikit tidak nyaman sebenarnya.
"Ka--kamu ... siapa?" tanya Riani memberanikan diri, ia merasa penasaran dengan perempuan ini.
Alih-alih menjawab pertanyaan dari Riani, perempuan itu justru menujuk ke arah jalan raya dengan orang-orang yang berlalu-lalang di sana. Ia tak mengatakan apa-apa.
"Ma--"
"Riani," panggil Difki memotong kalimat Riani. "Kamu ngomong sama siapa, Ri?" tanya Difki kemudian.
Menoleh ke arah perempuan tadi berada, ia sudah tidak ada di tempatnya. Riani menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan perempuan tadi, namun ia tak mendapati apapun selain keramaian orang-orang yang berlalu-lalang menikmati sore ini.
"Tadi ada cewek di sini, dia pakai kerudung krem kemeja putih. Kamu nggak lihat?"
Difki mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah Riani. Ia memberikan sebotol air mineral untuk perempuan itu sembari menggelengkan kepala. "Nggak, aku malah lihatnya kamu ngomong sendiri makannya tadi aku tanya kamu ngomong sama siapa."
Mendengar jawaban dari Difki, Riani hanya terdiam. Ia sudah paham, mungkin perempuan tadi bukanlah manusia sehingga Difki tak dapat melihatnya.
Sedikit banyak Riani sudah bisa berdamai dengan keadaannya yang sekarang. Asalkan sosok-sosok itu tidak menunjukkan wujud yang menyeramkan, Riani masih bisa menerima kedatangan mereka meskipun sedikit menyebalkan.
"Gila, serem banget!"
"Iya, aku juga lihatnya serem banget gila. Udahlah nggak usah ke sana dulu, aku nggak mau lihat lagi."
"Duh mana motor aku diparkir di sana lagi, gimana ya?"
Riani menoleh dan mendapati empat orang yang berjalan ke arah selatan. Mereka terlihat buru-buru dan ketakutan. Setelah memperhatikan orang-orang yang lain, Riani juga melihat mereka seakan membicarakan sesuatu.
Pandangan mata Riani melihat jauh ke depan, di sana terdapat kerumunan orang-orang yang entah sedang apa dan ia juga melihat Bayu ada di sana.
__ADS_1
"Dif ... Difki," panggil Riani tanpa melihat ke arah laki-laki itu. "Kita ke sana yuk."
"Kenapa, Ri?"
"Aku mau ke sana."
"Ada apa sih kok rame banget?" tanya Difki seraya mengikuti langkah kaki Riani.
Sementara Riani hanya menggelengkan kepala. Ia juga tidak tahu dan merasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi di sana.
Kerumunan di depan sana semakin ramai, beberapa orang pergi namun beberapa yang lain datang dengan rasa penasaran.
Tangan Riani menepuk punggung laki-laki yang ia duga sebagai Bayu. Laki-laki itu menoleh dan tampak terkejut melihat kedatangan Riani.
"Ya ampun, Ri, kamu ke mana tadi?" tanya Bayu dengan penuh khawatir. Laki-laki itu lantas memeluk tubuh Riani. "Aku nyariin kamu tadi."
Di dalam dekapan Bayu, seketika tubuh Riani membeku. Ia selayaknya sebuah patung namun kedua matanya masih bisa melihat.
"Kamu ke mana tadi, Ri?" tanya Bayu untuk kedua kalinya, ia telah melepaskan pelukan pada tubuh Riani.
Namun Riani masih saja membeku, hal tersebut membuatnya hanya bisa diam membisu. Ia hanya bisa menatap wajah Bayu yang tengah mengkhawatirkannya.
"Riani sama aku tadi," ujar Difki dengan nada suara yang dingin.
Bayu menoleh ke arah laki-laki itu, tidak begitu lama ia kembali melihat ke arah Riani. "Beneran, Ri?"
Perasaan kaget menyelimuti diri perempuan itu menjadi kecanggungan yang nyata. Namun dalam hati terdalam ada perasaan bahagia yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Suara ambulan yang mendekat terdengar sayup-sayup. Semakin dekat ambulan tersebut, suara itu semakin keras dan jelas terdengar.
Seketika Riani tersadar dengan apa yang menjadi tujuannya datang ke kerumunan ini.
"I--ini ada apa, Bay? Ke--kenapa ramai banget gini?"
"Kecelakaan, Ri," ujar Bayu yang kembali melihat ke arah TKP.
"Kecelakaan?" Riani mengernyitkan dahi.
Sementara Bayu menganggukkan kepala.
"Ya ampun kasihan banget."
"Ergh, nggak, nggak, nggak bisa, aku nggak bisa lihat ini." Salah satu perempuan keluar dari kerumunan.
"Gila banget kepalanya hancur, argh!"
__ADS_1
Mendengar perkataan orang-orang membuat Riani semakin penasaran. Ia berjinjit berusaha untuk melihat ke tengah kerumunan.
Korban kecelakaan sudah tidak lagi tergeletak di tengah jalan. Riani bisa lihat dia yang sudah ditutupi kain dan dimasukkan ke dalam ambulan.
Kerumunan tersebut perlahan semakin menghilang seiring dengan orang-orang yang perlahan mulai keluar dan pergi meninggalkan keramaian. Begitu juga dengan Riani, Bayu dan juga Difki.
Ambulan membawa pergi korban kecelakaan tersebut. Beberapa petugas keamanan masih berjaga di sekitar area TKP dan beberapa warga turut membantu membersihkan sisa-sisa kecelakaan yang merenggut satu nyawa tadi.
"Ira mana?" tanya Riani yang menyadari temannya tidak ada bersama dirinya.
"Itu," jawab Bayu menunjuk ke salah satu kedai.
Terlihat Nindira yang tengah duduk sembari melihat ke arah pemanggang.
"Udah selesai?" tanya Bayu.
Nindira menoleh, ia menggelengkan kepala. "Belum." Pandangan matanya melihat ke arah Difki dan Nindira. "Kalian kemana tadi? Aku sama Bayu cariin kalian tahu!"
"Kamu sama Bayu jalannya kecepetan jadi kita ketinggalan," jawab Difki dengan nada suara yang sedikit kesal.
Bayu memesan kembali makanan itu lebih banyak. Sosis, chikuwa, scallop dan bakso bakar dalam jumlah tidak sedikit. Aroma yang dihasilkan dalam proses pembakaran membuat perut yang kosong ini keroncongan.
Keempatnya duduk di tepi danau menikmati makanan itu dengan langit yang sudah mulai gelap. Satu bintang tampak ada di sebelah barat bersinar sendirian.
"Kamu tadi lihat kejadiannya, Bay?" tanya Riani yang masih penasaran dengan kecelakaan tadi.
Bayu menganggukkan kepala. "Jadi tuh dia mau nyalip truk tapi malah jatuh terus kepalanya kena ban belakang sih kayanya makannya bisa hancur gitu."
"Bay! Lagi makan tahu!" kesal Nindira.
Riani terkekeh melihat Nindira yang tengah menyantap chikuwa. "Mati di tempat?"
"Ya iyalah, kamu gimana sih, Ri?!" kesal Difki.
"Barangkali aja masih bisa di selamatkan." Riani berkata santai.
"Gimana bisa diselamatkan, kepalanya udah gepeng gitu," sanggah Bayu.
"Bayu!" kesal Nindira. "Lagi makan ih!"
Ketiga orang lain terkekeh melihat Nindira yang kesal.
"Kasihan banget mana masih muda," celutuk Bayu.
Sosis bakar yang tersisa satu diambil oleh Riani. "Emang masih muda banget?"
__ADS_1
"Iya." Bayu mengangguk. "Bajunya darah semua, mana putih lagi."