
Jantung Riani berdegup kencang menunggu tanggapan dari Rita, bahkan hingga nafasnya terasa berat.
Namun justru yang ada Rita memberikan senyuman yang menbuat kerutan di sekitar pipinya terlihat semakin jelas. Tidak hanya itu, kedua mata Rita juga terlihat berbinar memancarkan sedikit sinar.
Tentu saja Riani mengernyitkan dahi melihat hal tersebut, ia bingung.
"Ka--kamu hamil?" tanya Rita, kedua tangannya mengenggam Riani erat dengan pandangan mata yang masih menatap ke arah Riani lekat-lekat.
Tidak ada sepatah kata pun yang bisa diucapkan oleh Riani membuatnya hanya bisa menganggukkan kepala saja. Riani mengiyakan pertanyaan ibunya.
Alih-alih mendapat amukan dari Rita, Riani justru mendapatkah sebuah pelukan. Rita terlihat begitu senang mendengar kabar ini.
"Ibu bakal ngasih tahu ke Bayu secepatnya, kita adakan pesta pernikahan yang meriah nanti, Ni."
Riani mengernyitkan dahi, ia merasa semakin bingung. "Bayu?" lirihnya. Pikirannya lantas melihat ke beberapa hari yang lalu.
Kedua mata Riani terbelalak sejenak saat ia telah mengingat sebuah hal.
"Kamu sayang kan sama aku?"
Kalimat itu terus terngiang dalam pikiran Riani, ia masih bisa mengingatnya jelas saat Bayu berada di atas tubuhnya meskipun setelahnya Riani sudah tidak tahu lagi apa yang selanjutnya terjadi.
Namun dari situ juga Riani bisa mengetahui dengan jelas jika Bayu sudah membuatnya menjadil hamil seperti saat ini, kalimat yang Riani dengan menjadi bukti.
"Nggak, jangan, Bu!" tegas Riani menolak.
"Loh, kamu ini gimana, Ni?!" Senyuman pada wajah ibunya seketika menghilang. "Kamu sudah hamil anaknya."
"Kenapa Ibu bisa langsung berpikir bahwa Bayu yang melakukannya?"
__ADS_1
"Bukannya terakhir berpacaran kamu berpacaran dengan Bayu?"
"Bohong!" bentak Riani karena emosinya sudah semakin tersulut. "Ibu kan yang nyuruh Bayu buat ngelakuin itu ke aku?"
Rita menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Mana ada Ibu kaya gitu, Ni? Sama sekali Ibu nggak pernah kaya gitu."
"Terus kenapa Ibu langsung mikir kalau aku lagi hamil anak Bayu?"
"Karena kamu terkahir kali berpacaran sama Bayu, Ni."
Riani menggelengkan kepala. "Nggak mungkin, nggak mungkin Ibu langsung berpikir kaya gini. Kalaupun aku terakhir kali pacaran sama Bayu, tapi nggak mungkin juga aku bia hamil anak dia, Bu."
"Kamu itu gimana sih, Ni? Kan wajar aja kalau Ibu pikir itu anak Bayu, terus emangnya anak siapa lagi, ha? Emangnya kamu deket sama berapa laki-laki?"
Deg!
"Maksud Ibu apa? Ibu mau punya anak murahan? Aku cuma deket sama Bayu itupun aku merasa udah ditipu, Bu, mana sekarang juga aku hamil. Aku merasa sudah gagal jadi perempuan, aku merasa gagal menjadi anak perempuan Ibu yang baik, aku menyesal, aku kecewa, tapi apa?" Riani terdiam sejenak, suaranya sedari tadi sudah bergetar dan kini air mata mulai membasahi kedua pipinya kembali.
Riani menghirup nafas dalam-dalam mengharapkan ketenangan yang mungkin akan ia dapatkan dalam sesaat. "Tapi Ibu malah dukung Bayu buat ngelakuin itu semua ke aku? Mau Ibu apa sih? Ibu nggak kasihan sama aku? Ibu nggak merasa sedih anaknya udah ditipu?"
Pandangan mata Riani melihat ke arah Rita yang kini tertunduk. Dalam hati Riani merasa lebih lega, dengan ibunya yang menunduk kemungkinan besar dia mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Riani, memahami dan mengertinya dengan baik.
"Kenapa Ibu sejahat itu sama aku, Bu?" lanjut Riani, ia ingin mendengar jawabannya dari mulut ibunya sendiri.
"Ibu nggak jahat sama kamu, Ni. Kalau Bayu udah ngelakuin itu ke kamu, ya dia harus tanggung jawab, kan?" Rita terdiam sejenak. "Kalau bukan Bayu lalu siapa lagi? Katakan kepada Ibu, Nak."
Riani menggelengkan kepala, karena kemungkinan terbesar adalah Bayu yang melakukannya. Apalagi ia juga tidak pernah dekat dengan siapapun selain dengan Bayu.
"Tapi nggak harus menikah juga kan, Bu?"
__ADS_1
"Riani, kamu itu gimana sih? Otak kamu di mana? Kamu sekarang hamil karena Bayu ya dia harus bertanggung jawab, kalian menikah."
"Tapi itu bukan jalan satu-satunya, Bu, itu bukan solusi satu-satunya. Ibu cuma mikirin kebahagiaan Ibu aja, dari dulu selalu begitu, Ibu nggak pernah tahu dan bahkan nggak mau tahu apakah aku bahagia atau nggak!"
"Riani!" bentak Rita. "Bukankah dengan Bayu kamu juga bahagia? Dia udah berusaha bikin kamu senang, dia tampan, kerja di rumah sakit, punya sawah dan kebun di kampungnya, apa lagi yang kurang dari dia, Ni? Dia sempurna, kamu seharusnya tidak menyia-nyiakannya, kamu nurut omongan Ibu biar hidup kamu bahagia!"
Riani beranjak dari duduknya, ia terkekeh mendengar setiap kata yang diucapkan Rita. "Seharusnya Ibu juga mikir dong, dia ngelakuin itu pakai cara yang salah. Seharusnya kalau dia mau bikin aku bahagia, dia biarin aku pergi, dia jauhin aku, Bu!"
"Kurang ajar kamu, Riani!" Rita naik pitam. "Dari dulu Ibu sudah mikirin kamu, mikirin kebahagiaan kamu, mikirin kamu nanti jadi apa kalau sudah dewasa, mikirin kebutuhan dan keinginan kamu, semua tentang kamu Ibu pikirin. Sekarang mulutmu itu gampang banget nyuruh Ibu mikir. Ibu udah mikir, Ni, Ibu juga punya otak yang masih bisa dipake!"
Riani terdiam, apakah kalimatnya sudah kelewat batas?
"Terserah, Ibu, yang penting Riani nggak mau nikah sama laki-laki baj***** itu!"
"Riani, kamu nurut dong sama Ibu! Gimana kamu bisa bahagia kalau kamu aja nggak nurut sama ibumu sendiri?! Padahal surgamu ada di telapak kakiku, Riani!"
Langkah kedua kaki Riani berjalan keluar dari kamar, ia tak lagi menanggapi ocehan ibunya.
Riani masuk ke dalam kamarnya sendiri, gelap, pengap dan berdebu tidak masalah bagi Riani saat ini. Tubuhnya dijatuhkan begitu saja ke atas tempat tidur, Riani menangis sejadinya di atas bantal.
Tenggorokannya terasa kering, sementara air kata tak kunjung berhenti dan terus mengalir deras dari kedua ujung matanya. Riani benar-benar tidak menyangka dengan semua kalimat yang sudah diucapkan oleh ibunya.
"Bahkan saat kaya gini pun ibu masih belain Bayu. Apa sih yang dipake Bayu sampe ibu bisa sesayang ini sama dia melebihi sayangnya ibu ke anaknya sendiri?"
Kedua tangan Riani meremas seprei, ia mengacak-acaknya membuat sprei itu kini berantakan. Riani tidak perduli, yang dia inginkam sekarang hanya meluapkan semua emosinya yang terpendam.
Riani merasakan saku celananya bergetar dan smartphone-nya berdering dari balik sana. Tangan Riani merogoh saku celananya untuk mengambil smartphone itu, sementara tangan yang lain mengusap kedua pipinya.
Sebuah pesan masuk terluhat pada notifikasi bar, Riani melihat dan membukanya. Sebuah pesan yang cukup panjang dari seseorang terdekatnya.
__ADS_1