PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Siluet Hitam


__ADS_3

"AAA!!!"


Riani menjerit histeris tatkala ia merasakan ada sesuatu yang merambat pada punggung kaki. Tanpa sengaja saklar lampu ditekan ke bawah mengakibatkan lampu pada bagian ruang makan dan dapur menyala.


"AAA!!!"


Saat masih sedang ketakutan, Riani juga mendengar suara orang lain yang berteriak membuat pandangan matanya melihat ke arah sumber suara.


"AAAAA!!!"


Keduanya berteriak secara bersamaan.


Beberapa menit berlalu dan kini Riani sudah duduk di salah satu bangku yang ada di sekitar meja makan. Ia menikmati mie rebus lengkap dengan telur setengah matang kesukaannya.


"Kenapa tadi kamu diam aja pas aku mau nyalain lampu?" kesal Riani yang kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulut.


Bayu menghela nafas. "Aku juga lagi ketakutan makannya aku diam aja nggak gerak itu ya karena aku lihat bayangan kamu. Aku pikir kamu kunti penunggu rumah ini."


"Ya ampun, Bay, di rumah ini mah nggak ada penunggunya. Lagian kamu masak mie kaya gini kenapa gelap-gelapan? Mba Dwi dimana?"


"Mba Dwi masih di rumah sakit kan jagain Tante Rita. Aku ke sini mau ngambil pakaian ganti sama HP-nya Tante Rita, terus dia juga yang nyuruh aku kalau laper bikin mie aja di dapur di lemari gitu. Tapi dia nggak ngejelasin dimana saklar lampunya, akhirnya aku masak pakai senter HP."


"Hahahaha." Riani tertawa membayangkan bagaimana Bayu memasak dengan keadaan lampu yang tidak menyala.


"Kamu nggak kepikiran buat telepon Mba Dwi gitu buat nanyain di mana saklar lampunya?"


Bayu menggelengkan kepala. "Aku nggak ada paket internet."


"Kan di rumah ini ada WiFi," ujar Riani yang lantas menyeruput kuah mie.


"Kan aku nggak tahu kodenya, Ri."


"Oh iya ya." Riani mengangguk menyadari kesalahannya. "Terus habis ini kamu mau ke rumah sakit lagi?"


Bayu mengangguk, ia beranjak dari duduknya dengan membawa mangkuk kotor bekas mie. "Iya, kamu mau ikut?"


"Nggak ah, aku capek. Nggak papa kan kalau aku nggak ikut ke rumah sakit lagi? Besok aja sekalian aku berangkat kerja."


"Ya nggak papa kan lagian ada Mba Dwi yang udah jagain Tante Rita."

__ADS_1


"Terus kamu di mana, Bay?"


"Tadi sore aku udah dapat kost-an."


"Di mana?"


"Sebelah," ujar Bayu yang menggerakkan kepalanya ke arah kanan.


"Oh, kost putra milik Pak Abdul ya?"


Bayu mengangguk. "Tapi tadi sore yang nganterin cewe. Namanya ... e .... nama--"


"Sella?" potong Riani segera.


"Nah, iya, namanya Sella. Kamu kenal?"


"Kenal, dia tetanggaku yang paling dekat masa nggak kenal."


"Biasanya orang kota nggak kenal sama tetangganya."


"Beberapa ada yang seperti itu, aku juga tahu Sella karena dulu ibunya sama ibuku sering ajak main bareng."


Riani mengangguk karena ia sedang meneguk air. "Iya."


"Kalau kamu udah selesai makan anterin aku ke atas buat ambil HP Tante Rita, yuk," pinta Bayu.


Sembari melangkahkan kaki menuju ke westafel, Riani terkekeh. "Kamu nggak berani ke atas sendirian, Bay?"


"Nggak gitu, Ri, tadi aku udah ke atas sendirian kok buat ngambil baju ganti Tante Rita di lemari, tapi aku buru-buru turun soalnya merinding banget di atas aku nggak berani lama-lama."


Riani semakin terkekeh mendengar penjelasan dari Bayu. "Hahaha, dasar penakut."


Keduanya lantas bersama-sama menuju ke lantai atas. Bayu yang berjalan terlebih dahulu menyinari anak tangga dengan senter yang ada di smartphone miliknya. Sementara itu sembari terus menaiki anak tangga, Riani juga menekan beberapa saklar lampu yang membuat ruangan di lantai dua menjadi terang.


"Oh, ternyata di situ saklar lampunya," ujar Bayu yang terus melangkahkan kedua kakinya. "Pantesan aja aku nggak lihat."


Saklar lampu tersebut memang terletak di sisi tembok yang jarang dilihat, jika tidak mengetahui keberadaannya pasti akan kesulitan mencari saklar lampu tersebut.


"Iya emang katanya sih biar tembok yang lain enak dipandang nggak ada saklar lampunya."

__ADS_1


Keduanya masuk ke dalam kamar yang gelap dan pengap. Wajar saja, seharian ini jendela kamar tidak dibuka karena tidak ada seorangpun di rumah.


"Ini HP ibu," ujar Riani yang menemukannya di dekat bantal. "Tapi baterainya sisa lima persen aja."


"Kalau gitu bawa juga charger-nya."


"Ehm, sebentar," ujar Riani yang lantas mencari keberadaan charger ponsel tersebut. "In--"


Betapa terkejutnya Riani saat berbalik badan dan mendapati dada laki-laki di hadapannya, Riani mundur beberapa langkah namun kedua kakinya tak seimbang menapaki lantai kamar. Hal itu mengakibatkan Riani hampir terjatuh, untungnya dengan sangat cekatan kedua tangan Bayu menangkap tubuh perempuan itu.


"Makasih," ujar Riani dengan perasaan canggung yang menyelimuti.


Tidak hanya Riani, namun Bayu juga merasakan hal yang sama. "I--iya."


Mereka hanya berdua saja di dalam rumah ini, apalagi posisi mereka berdua juga sedang berada dalam kamar. Ada perasaan takut dalam diri Riani yang membuat perempuan itu segera beranjak dan berdiri sempurna, namun jantungnya juga berdegup kencang merasakan sesuatu yang aneh dalam dada.


"Ka--kalau gitu aku pergi sekarang," ujar Bayu yang lantas berjalan keluar dari kamar.


Bayu meninggalkan Riani yang masih mematung di tempat yang sama. Hingga beberapa detik berlalu, Riani mulai melangkahkan kaki untuk mengejar langkah Bayu.


Dari lantai dua rumahnya Riani bisa mendengar suara langkah kaki di lantai bawah. Ia juga mendengar sayup-sayup gemericik air yang mengalir dan juga suara alat makan yang bertemu menciptakan suara dentingan.


"Kamu pergi dengan apa, Bay?" tanya Riani seraya menuruni anak tangga. "Bay ... Bayu? Bayu, kamu masih di sini, kan?"


Riani segera melangkah ke bawah anak tangga untuk menuju ke ruang makan. Kosong, tidak ada Bayu di sana. Langkah Riani berlanjut menuju ke westafel yang berada di dekat kamar mandi, namun Riani juga tidak menemukan Bayu di dalam sana. Padahal jelas-jelas ia mendengar suara gemericik air dan alat makan yang berdenting beberapa detik yang lalu.


Suasana rumah seketika terasa sangat senyap. Hening tanpa ada sedikitpun suara yang terdengar. Bahkan Riani bisa mendengar suara nafasnya sendiri yang cukup berat dan tidak beraturan.


Riani mengedarkan pandangan matanya. Entah kenapa ia merasa sangat yakin jika Bayu masih ada di dalam rumah ini.


Langkah kaki Riani kembali berlanjut, ia melewati meja makan dan menuju ke ruang santai. Tidak ada apapun di dalam sana selain tenis meja milik ayahnya, piano yang dulu sering ia mainkan dan sound system kecil yang biasa digunakan oleh Mba Dwi untuk memutar musik dangdut.


Lagi-lagi Riani hanya menemukan keheningan. Pandangan mata Riani melihat ke arah pintu terakhir menuju ruang penyimpanan barang yang sudah tidak terpakai. Rasanya sangat tidak mungkin jika ternyata Bayu bersembunyi di dalam sana. Namun sayup-sayup Riani mendengar suara dari dalam ruangan itu.


"Bayu, keluar! Ini nggak lucu, Bay!" kesal Riani.


Sepasang mata dengan manik yang berwarna hitam lema itu terus menatap ke arah pintu berwarna coklat tua dengan ukiran yang menghiasinya. Pintu dengan sarang laba-laba yang ada di bagian sudutnya berukuran kecil.


Tangan kanan Riani memegang gagang pintu tersebut. Ia mendorongnya dengan kuat. "Bayu! Nggak lucu!"

__ADS_1


__ADS_2