PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Jatuh Sakit


__ADS_3

Dengan sisa-sisa tenaga, Riani akhirnya berhasil masuk ke dalam kamar. Tubuhnya terbaring terlentang dengan sedikit melihat ke arah pintu kamar.


Beberapa saat berlalu, rasa pening itu semakin terasa kuat hingga Riani tak bisa menahannya lagi.


***


Suara berisik seperti ada sebuah aktifitas langit-langit kamar mengganggu Riani yang sedang terlelap. Dengan sakit kepala yang masih terasa, Riani melihat ke bagian atas namun tak menemukan apapun.


Akan tetapi, suara berisik seperti orang yang sedang memotong kayu terdengar jelas.


"Berisik banget sih itu tikus," ujar Riani yang masih berusaha untuk berpositif thinking.


Dari sudut mata, Riani melihat ada seseorang yang berjalan melewati kamarnya. Pintu kamar yang masih terbuka lebar membuat Riani sangat yakin dengan apa yang dia lihat.


"Ibu ngapain turun malem-malem?" lirih Riani.


Tangannya berpegangan pada apapun untuk membantu kedua kakinya berjalan. Riani membuka pintu kamar untuk memastikan ibunya tidak ada di dalam sana.


Benar saja, kamar itu kosong. Langkah kedua kaki Riani tertatih-tatih menuruni tangga. Menoleh ke kanan dan ke kiri, Riani tak mendapati ibunya di ruang tamu atau ruang keluarga.


Berjalan ke balik tangga, Riani melihat ibunya berada di ruang makan.


"Ibu," panggil Riani sembari terus mengikuti langkah kaki ibunya yang masih berjalan.


Keduanya sampai di depan pintu gudang, jarak Riani dan ibunya hanya sekitar dua meter saja.


"Ibu mau apa ke--"


Diam, hening, sepi.


Pandangan mata Riani terpaku ke arah satu titik yang sama sedari tadi. Ibunya berjalan menembus pintu gudang dan menghilang.


'Ini nggak bener, tadi pasti bukan ibu.' Riani berkata dalam hatinya.


Sampai di depan kamar utama, pintu yang tadi dibuka masih belum ditutup kembali. Riani berdiri di ambang pintunya sembari melihat ke dalam ruangan.


Rita terlihat tengah terbaring meringkuk di atas tempat tidur, ia sedang tertidur pulas.


Tangan Riani memegangi kepala, sakit itu semakin kuat terasa.


"Please, jangan ganggu. Kalian mau apa? Jangan ganggu aku atau ibuku, kumohon."


Seketika suara benda di langit-langit kamar semakin terdengar jelas. Entah apa yang ada di atas sana, tapi Riani yakin jika itu bukanlah aktifitas biasa.


Pagi harinya, Riani terbangun dengan keadaan yang baik-baik saja. Ia mendapati dirinya masih di ambang pintu kamar utama.

__ADS_1


"Kamu kenapa tidur di situ, Ni?"


"Ibu udah lama bangun?"


Rita menggelengkan kepala. "Baru aja."


"Semalem Riani lihat Ibu ke bawah, Riani ikutin tapi malah Ibu nembus ke pintu gudang. Pas Riani balik ke kamar, ternyata Ibu udah ada di atas kasur."


"Lah emang Ibu nggak kemana-mana dari kapan lalu, buat gerak aja pegel-pegel nih badan."


Riani mendekat dan duduk di sisi ranjang. "Bu, ternyata Ibu sudah lebih tahu tentang Bayu?"


"Terus kenapa?" Rita memalingkan wajah. "Ibu dan ayah ngelakuin ini semua juga demi kamu, Ri."


Riani tertunduk, haruskan ia juga mengikuti kata-kata ibunya?


"Maaf, Bu." Riani berkata lirih. "Maaf kalau kelahiranku hanya bikin Ibu dan Ayah sengsara."


"Memang seperti itu."


Kalimat tersebut bukanlah kalimat biasa menurut Riani. Tajamnya lebih dari sembilu yang dibakar di atas bara api panas, lantas dihujamkan sedalam-dalamnya ke dalam hati.


Sakit, sesak, Riani berusaha menahan tangisannya.


Mendengar namanya disebut, Riani beranjak dari tempat tidur. Sembari berjalan keluar, Riani mengusap air mata yang menetes dari salah satu ujung matanya.


"Ya, Sel."


"Aku bawain kamu nasi kuning, aku bikin sendiri tadi."


"Woah, beneran?" Riani melihat Sella yang berjalan menaiki tangga.


"Heem, semoga aja rasanya enak dan kalian suka."


Sella menyerahkans satu kotak untuk Riani, lantas masuk ke dalam kamar untuk memberikan kotak nasi kuning lainnya untuk Rita.


"Di makan ya, Tante," ujar Sella sembari tersenyum.


"Makasih banyak ya, Sel."


"Sama-sama, Tante."


"Sella," panggil Riani. Sella menoleh dan pandangan mata mereka bertemu. "Aku ... kita keluar bentar, yuk."


Sella kembali menoleh ke arah Rita, ia tersenyum sembari menganggukkan sedikit kepala.

__ADS_1


Keduanya berjalan keluar dari kamar menuju ke ruang keluarga, lantas duduk bersebelahan.


"Ada apa, Ri?"


Riani merasa ragu, namun ia juga tidak ingin menyimpannya sendirian. "Ehm, aku mau minta pendapat kamu."


"Pendapat apa?"


"Jadi ... kan kamu tahu juga kenapa orangtuaku pake pesugihan, nah, tadi ibuku kaya nyindir-nyindir gitu, Sel."


"Nyindir gimana?"


"Ya kaya ibuku bilang mereka sampai rela ngelakuin itu buat aku, jadi kesannya kaya aku yang bersalah atas semua ini."


"Heem, terus?"


"Apa aku turutin aja ya permintaan ibu buat nikah sama Bayu? Lagian kemarin Pak Suwiryo juga minta itu biar ibuku sembuh dan perjanjian itu batal, kan?"


"Kamu yakin, Ri?"


Riani terdiam sesaat, sebenarnya ia juga tidak begitu yakin. "Aku jadi merasa bersalah kalau nggak nurutin permintaan ibu, Sel. Apalagi kan pas itu ayah sama ibu juga ngelakuin hal ini demi aku. Menurut kamu gimana?"


Sepertinya tidak hanya Riani, namun Sella juga turut memikirkan hal ini.


"Mendingan kamu pikir-pikir lagi aja deh, Ri." Sella memberikan pendapat. "Kamu coba tanya lagi sama hati kamu. Pokoknya lebih baik kamu nggak buru-buru ngambil keputusan dan harus dipikirin dulu matang-matang."


Riani mengangguk beberapa kali. "Terus menurut kamu sendiri aku harus gimana, Sel?" Riani merasa putus asa dengan pikirannya. "Apa aku turutin aja kemuan ibu? Ibu bakal sembuh dan anakku juga bisa lahir dengan adanya ayah."


"Duh, aku juga jadi bingung ya, Ri. Terus juga kan kamu yang bakal ngejalanin ini semua, bukan aku. Kalau aku yang nentuin pilihan takutnya bakalan jadi pilihan yang buruk buat kamu." Sella terlihat begitu perduli. "Menurut aku sih lebih baik kamu pikirin matang-matang aja dulu."


Riani mengangguk lemah. "Makasih sarannya ya, Sel. Nanti aku pikirin dulu baik-baik." Seulas senyum terlihat pada bibirnya. "Oh ya, hari ini kamu sibuk?"


"Lumayan sih, aku harus belanja bahan minuman yang buat dijual besok terus juga gantiin cowokku jaga stand," jelas Sella. "Emangnya kenapa? Kamu butuh apa?'


"Ehm ... niatnya aku pengin ke rumah sakit."


"Rumah sakit? Ngapain?"


"Aku mau periksa, biar jelas juga aku sakit apa. Soalnya kan kemarin aku minum obat buat sakit kepala tapi pas malem masih kambuh lagi. Gimana, kamu bisa nganterin?"


"Yah ... Ri," ujar Sella, air mukanya tampak bersedih. "Maaf banget ya, tapi hari ini aku lebih sibuk dari biasanya. Hari ini juga ada menu baru jadi kayanya stand jadi lebih rame, biasanya gitu soalnya banyak yang penasaran sama rasa menu baru itu."


Riani mengangguk lemah, ada sedikit kecewa dalam hatinya. Tapi ia sadar jika Sella bukanlah asisten pribadi yang selalu siap sedia. "Ya udah deh, Sel, nggak papa."


"Sekali lagi maaf ya, Ri," ujar Sella tidak enak hati. "Tapi kok sakit kamu kaya aneh ya, Ri. Sekarang aja kamu kelihatan sehat-sehat aja."

__ADS_1


__ADS_2