
Hari keberangkatan telah tiba. Di dalam kamar, Riani menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
"Apa secepat ini?" ia bermonolog dengan dirinya sendiri dalam keraguan. "Perasaan baru kemarin lulus sekolah, terus nganggur sebentar, kerja juga baru beberapa bulan, masa mau langsung nikah aja?" Riani mengusap pipinya. "Aku masih muda, masih sangat muda."
"Nona Riani," panggil Dwi yang tiba-tiba membuka pintu kamar.
Riani tersentak mendapati kedatangan Dwi yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu kamarnya. Ia melihat ke arah perempuan itu yang nampak tersenyum, lantas masuk ke dalam kamar meskipun belum mendapat izin dari pemiliknya.
"Aduh, aduh ... Nona Riani kok belum siap-siap? Bayu udah nunggu di bawah itu loh, Non."
"Apa?!" Kedua mata Riani sedikit terbelalak. "Kok cepet banget?!"
"Kan katanya keretanya bakal jalan jam sebelas siang, biar nggak ketinggalan. "
"Tapikan ini juga masih jam delapan, Mba." Riani melirik ke arah jam dinding di dalam kamarnya, memastikan bahwa waktu yang ditunjukkan oleh jam bergambar kartun kesukaannya itu menunjukkan angka yang benar.
"Iya, ya biar siap-siap dulu, Non. Ada yang mau aku bantu nggak?"
Riani menggelengkan kepala. "Nggak ada, kok, Mba Dwi, udah siap semua. Mba Dwi ke bawah aja nemenin Bayu sama ibu, ya."
"Ya udah deh kalau nggak ada yang perlu aku kerjain. Aku turun lagi ya," ujar Dwi yang lantas berjalan menuju pintu kamar yang sedari tadi masih terbuka.
Riani memperhatikan perempuan itu pergi hingga menghilang di balik pintu yang tertutup kembali.
Ia menghembuskan nafasnya kasar. "Kenapa dia cepet banget sih datangnya?!"
Setengah jam lebih dihabiskan oleh Riani untuk merias wajahnya, ia ingin terlihat secantik mungkin hari ini karena hendak bertemu dengan calon mertuanya.
Pukul sembilan kurang, Riani menuruni tangga dan mendengar suara Bayu serta ibunya yang sedang asyik berbincang. Terdengar mereka terkekeh, entah membicarakan apa sebelumnya.
"Riani," panggil Bayu, kedua matanya tak berkedip melihat Riani yang sudah berdiri tidak jauh darinya.
Sementara Riani hanya tersenyum, ia melihat ke arah dirinya sendiri, merasakan apakah pakaian yang dikenakannya saat ini sudah cukup baik atau belum.
Mendengar Bayu menyebut nama Riani, Rita menoleh ke arah pandangan mata Bayu. Ia mendapati anak perempuannya yang berdiri didekatnya.
"Riani, kamu cantik banget," lanjut Bayu masih dengan kedua mata yang terbuka, takjub melihat ke arah perempuan itu.
"Bay ...," tegur Riani, ia merasa malu karena Bayu mengatakan hal itu saat masih ada ibunya.
"Tapi bener kok apa yang dikatakan Bayu, kamu mirip Ibu waktu masih muda." Rita beranjak dari duduknya. "Nah, duduklah di dekat Bayu."
__ADS_1
Riani menuruti perkataan ibunya, ia mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah Bayu duduk.
"Kayanya bagus deh kalau difoto dulu."
"Bu," tegur Riani, ia menutupi wajahnya, malu.
"Nggak papa, Ri, biar ada kenang-kenangannya," bujuk Bayu, ia memindahkan kedua tangan Riani dalam genggaman tangannya.
Sementara Rita sibuk membuka kamera yang ada di dalam smartphone miliknya. "Nah ya, kaya gitu bagus. Satu ... dua ... tiga." Rita tersenyum, ia nampak puas dengan hasil jepretannya. "Satu kali lagi, satu kali lagi."
"Yang banyak juga nggak papa, kok, Bu," celutuk Bayu sebelum Rita kembali menghitung mundur.
"Dwi ... Dwi, kesini sebentar," ujar Rita, ia memanggil asisten rumah tangga yang sepertinya sedang mencuci pakaian itu.
"Iya, Nyonya ... sebentar." Dwi tergopoh-gopoh mendekat, kedua tangannya yang masih basah ia usap-usapkan di kaos merah yang sedang dia kenakan.
"Tolong fotoin aku sama mereka," ujar Rita yang lantas memberikan smartphone itu kepada Dwi, sementara dirinya duduk di sebelah Bayu.
"Sudah siap?" Dwi tak mendapat jawaban apa-apa karena majikannya sibuk bergaya. "Satu ... dua ... tiga."
"Lagi dong Dwi," pinta Rita. Ia lantas beralih ke arah Riani dan juga Bayu. "Aku yang di tengah dong."
"Alah, alah, Bay ... beruntung banget kamu baru ke kota bisa langsung bawa calon mantu buat ibu bapakmu," ucap Dwi, sepertinya ia merasa iri dengan pencapaian saudaranya sendiri.
Bayu terkekeh mendengar ucapan itu. "Bulan depan giliran Mba Dwi ya."
"Nanti Mba Dwi sama tukang sayur aja, biar Tante yang jodohinnya."
"Aduh, jangan sama tukang sayur dong, Nyonya Rita."
"Terus sama siapa?" tanya Rita, ia nampak berpikir sejenak. "Sama Mang Sol yang dulu pernah kerja di sini."
Kedua pipi Dwi seketika memerah. "Nah, sama dia aja nggak papa, Nyonya, tapi jangan bilang aku yang suka sama dia ya."
"Duh, kenapa harus gengsi sih, Mba?" tanya Bayu dengan nada suara yang meledek. "Kan cinta itu harus diperjuangin, jangan cuma disimpan di dalam hati aja, bikin empet tahu."
Ruang tamu rumah tersebut penuh dengan kekehan tawa.
Hingga akhirnya jam menunjukkan pukul sepuluh, Bayu dan Riani harus segera pergi ke stasiun agar tidak ketinggalan kereta.
Keduanya masuk ke dalam gerbong ekonomi dan mulai mencari tempat duduk dengan nomor yang sesuai dengan tiket yang ada dalam genggaman tangan keduanya.
__ADS_1
"Di sini, Sayang," ujar Bayu yang lantas menyuruh Riani untuk duduk terlebih dahulu.
Mereka duduk berhadapan dengan seorang penumpang perempuan yang usianya mungkin hampir tiga puluh tahunan. Di tangan kirinya melingkar sebuah cincin emas yang berhias inisial huruf H dan terdapat empat permata pada huruf tersebut. Perutnya nampak membesar, sepertinya ia sedang mengandung dalam usia tujuh atau delapan bulan. Entah kenapa dia naik kereta ini sendirian. Seharusnya ada suami atau keluarga lain yang mendampinginya, apalagi dia sedang hamil tua.
Riani sedikit membungkukkan badan, ia lantas duduk tepat di samping jendela dan Bayu di sebelahnya.
Setelah beberapa saat, kereta mulai melaju. Pandangan mata Riani melihat ke arah luar. Ia memandangi kota kelahirannya yang akan dia tinggalkan sementara.
"Kita sampai di sana jam berapa, Bay?" tanya Riani, ia menoleh ke arah kekasihnya yang nampak sedang menyimak obrolan grup dalam smartphone yang is genggam.
"Ehm, empat jam, paling kita sampai di sana sore, kenapa?"
"Lama juga ya," ujar Riani, pandangan matanya melihat ke arah penumpang-penumpang yang lain.
"Iya, kalau kamu nanti ngantuk, kamu senderan aja di bahu aku."
Riani menganggukkan kepala. Ia tersenyum. "Thanks, Bay, tapi aku mau menikmati perjalanan dulu."
Beberapa saat berlalu, Riani menoleh ke sebelahnya dan Bayu sudah terlebih dahulu terlelap.
"Hati-hati," ujar perempuan hamil yang duduk tepat di hadapan mereka.
Riani menoleh. "Maksudnya?"
Perempuan itu hanya tersenyum.
Riani juga membalas senyumannya, namun perempuan yang tengah hamil tua itu tak mengatakan apapun lagi.
'Oh, mungkin dia tadi dengerin obrolan kita kali ya, jadi dia bilang hati-hati, soalnya kan perjalanan ini membutuhkan waktu yang cukup lama.'
Tiba-tiba saja, Bayu mengubah posisinya. Ia mengangkat kedua kakinya ke atas bangku yang ada di depannya.
"Bayu," panggil Riani membuat laki-laki itu membuka mata.
"Kenapa, Ri? Kamu ngantuk juga?"
"Kaki kamu, Bay," ujar Riani memperingati.
Bayu melihat ke arah kedua kakinya. Ia mengernyitkan dahi. "Kaki aku kenapa emangnya?"
"Kaki kamu jangan diangkat ke situ, nggak sopan tahu nggak?!" kesal Riani karena Bayu tak kunjung mengerti. "Turunin, Bay, kamu nggak sopan banget!"
__ADS_1