
"Tidak," ucap Bhanu tegas. "Kita tidak boleh mengikuti apa kata mereka dan keinginan mereka. Mereka adalah iblis yang harus dimusnahkan!"
Nindira dan Sella terdiam, keduanya melihat ke arah Bhanu.
"Aku akan memanggil ayah dan meminta bantuannya," lanjut Bhanu sembari melihat ke arah Nindira.
"Apa Bang Bhanu yakin?"
Bhanu menganggukkan kepala dengan tegas. "Sudah seharusnya kita menolong seseorang yang sedang kesulitan. Kalian berdua temani Riani biar aku telepon ayahku. Aku dan ayah yang akan membacakan ayat-ayat di seluruh rumah ini."
Ketiganya beranjak dari duduk mereka masing-masing. Bhanu pergi ke luar sementara Nindira dan Sella naik ke kamar Riani. Di ruang keluarga masih ada Difki dan Pak Abdul yang sedang berbincang santai membicarakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Riani ... apa aku boleh masuk?"
"Kamu lagi apa di dalam?"
Riani menghapus air mata yang membasahi kedua pipi. Tak menjawab apapun, Riani membuka kunci pintu agar keduanya bisa masuk.
Pintu kamar dibuka entah oleh Sella ataupun Nindira. Keduanya masuk ke dalam kamar hampir bersamaan.
"Ri," ujar Sella yang kemudian memeluk Riani. "Kamu yang sabar ya."
Ketiganya lantas duduk di sisi ranjang, Riani sudah lebih tenang daripada saat mereka berdua baru menginjakkan kaki di dalam kamar Riani.
"Kayanya emang aku harus nikah sama Bayu deh, Sel, Ra." Riani melihat ke arah dua perempuan yang duduk di sisi kanan dan kirinya.
"Pikirlan lagi, Ri." Sella menimpali.
Nindira mengangguk kepala. "Bener kata dia, lagian kakakku juga lagi ngusahain buat kamu dan Tante Rita terbebas dari belenggu iblis ini, Ri. Kamu tenang aja."
"Makasih banyak ya, Ra, Sel."
Ketiganya kembali berpelukan.
Pukul sepuluh malam, Riani merasa kepalanya pening tak tertahankan tak seperti sebelumnya. Telinganya berisik, entah orang-orang berbicara apa.
"Diam ... diam!!!" bentak Riani dan tak berselang lama pintu kamar diketuk.
Nindira beranjak untuk membukakan pintu. Ia melihat kakaknya sedang berdiri dengan kitab suci berukuran kecil di tangannya.
"Permisi," ujarnya sembari memasuki kamar Riani.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu teriakan Riani semakin histeris. Menangis, meminta ampun dan berteriak-teriak keras sembari menutup telinganya. Pernah sesekali Riani juga hendak memukul Bhanu yang masih terus membacakan ayat suci.
Bahkan Nindira dan Sella saja tak mampu menahan kekuatan Riani. Keduanya dibantu oleh Pak Abdul dan Difki yang akhirnya Rita yang juga kembali kesurupan sesosok perempuan yang sama ditinggal sendiri.
Beberapa menit berlalu, Bhanu menghentikan bacaannya. Riani juga berhenti bereaksi.
Saat tersadar, Riani segera memeluk kedua teman baiknya kembali.
"Sabar ya, Ri, kamu pasti bisa terbebas dari semua ini," bisik Nindira yakin.
"Doakan ya, Ra, Sel."
"Pasti aku doakan, Ri. Kamu yang kuat ya." Sella menambahi.
***
Riani membuka matanya, ia tak mendapati siapapun di dalam kamar. Sepertinya hari masih malam karena suasana di dalam kamar Riani juga masih gelap.
"Duh, haus banget lagi lupa nggak bawa minum ke kamar."
Meskipun merasa malas, Riani tetap beranjak dari duduknya. Kerongkongannya terasa sangat kering dan ia membutuhkan cairan.
Bersamaan dengan itu, lirikan matanya melihat ke arah ruang santai dengan pintu menuju gudang yang tertutup.
Seperti malam-malam biasanya, lampu di ruang bersantai itu selalu dimatikan dan hanya mendapat penerangan dari lampu dapur saja.
Tok ... tok ... tok ....
Suara itu terus berbunyi, seperti memang ada yang iseng hendak menakut-nakuti Riani.
Gelas yang kini sudah kembali kosong tak berisi apa-apa diletakkan di atas meja makan. Riani melangkah mendekat ke arah ruang santai.
"Apaan sih itu? Iseng banget!" Riani mengangkat kedua bahunya bersamaan. "Ah, mungkin tikus."
Entah kenapa kali ini Riani tidak merasa penasaran, mungkin karena ia juga masih merasa mengantuk.
Riani kembali menaiki satu persatu anak tangga. Tangannya memegang gagang pintu kamar hendak membukanya, namun ... ia menghentikan aksinya.
Indra pendengarannya menangkap sebuah suara yang tidak asing, namun aneh jika didengar tengah malah seperti ini.
"Apa Ibu kelaparan sampai makan tengah malam gini?"
__ADS_1
Riani melepaskan genggaman tangannya pada gagang pintu kamar dan beralih ke pintu kamar ibunya. Pintu itu dibuka perlahan.
"Bu," panggil Riani, tak ada seseorang pun di dalam kamar tersebut. Hening dan kosong. Suara itu bukan berasal dari kamar utama. "Kayanya dari sini deh suaranya, jangan-jangan ibu ada di dalam."
Riani membuka pintu ruang kerja mendiang ayahnya yang berada di tengah antara kamarnya dan kamar utama. Keadaan di dalam gelap, namun suara itu terdengar makin jelas.
"Bu," panggil Riani, untuk memastikan bahwa itu ibunya.
Namun yang didengar olehnya adalah suara seperti seseorang yang sedang menyantap makanan dengan begitu rakus. Tidak hanya itu, ia juga mendengar suara gumaman yang menyeramkan.
Merasa penasaran, Riani menyalakan lampu ruangan itu. Ia melihat ada seorang laki-laki dengan kedua tangan yang direntangkan dan diikat dengan rantai, tidak jauh darinya Riani melihat dua sosok perempuan dengan kepala yanh dipenuhi tanduk besar dan runcing.
Dua sosok itu menoleh ke arah Riani, mereka lalu menyeringai dengan gigi-gigi runcing yang penuh dengan darah.
Pandangan mata Riani melihay ke arah seseorang yang terbaring di depan dua sosok itu yang rupanya adalah Rita. Tubuhnya sudah tidak lagi utuh, kedua matanya terbuka dengan bibir yang menganga.
"AAA!!!" Riani berteriak melihat pemandangan yang sangat menyeramkan itu.
Masih sembari berteriak, Riani kembali terbangun. Menoleh ke kanan dan ke kiri, ia mendapati dirinya berada di dalam ruang kerja mendiang ayahnya, hanya saja saat ini keadaan ruangan sudah terang, bukan karena lampu tapi karena adanya sinar matahari yang masuk.
Nafas Riani tak beraturan, ia beranjak dan berharap jika apa yang terjadi tadi hanyalah mimpi.
Berusaha membuka pintu, Riani mendapati pintu ruangan ini terkunci.
"TOLONG ... TO--LONG ....! SELLA, IRA ... KAK BHANU ... DIFKI ... PAK ABDUL ... IBU, TOLONG AKU ...! TOLONG AKU DI SINI!!!" Riani terus memanggil-manggil nama siapapun yang dia ingat sembari memukul-mukul pintu dengan keras.
Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki yang mendekat.
"Riani, kamu di dalam?"
"IYA, TOLONG BUKA PINTUNYA!"
Semua orang berkumpul di ruang tengah. Riani sudah lebih tenang apalagi setelah menyesap teh manis yang dibuatkan oleh Sella.
"Pas aku bangun tadi kamu udah nggak ada di kamar, Ri. Ini aneh banget." Sella angkat bicara.
"Kita bahkan udah cari kamu ke semua ruangan tapi kamu nggak ada di mana-mana, sampai kita semua cari di halaman belakang," tambah Nindira.
"Pas Bang Bhanu sama Pak Kuncoro baca Al-Qur'an, nggak lama kita semua denger suara kamu di ruangan itu. Padahal sebelumnya kita juga udah cari ke situ dan tadi pintunya nggak kekunci. Iya kan?" ujar Difki, ia juga meminta validasi dari semua yang hadir.
Sementara Riani mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Setelah beberapa saat ia teringat dengan ibunya. "I--ibu mana? Aku harus lihat ibu sekarang juga. Di mana ibu?!"
__ADS_1