PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Naik Pitam


__ADS_3

Rita berbalik badan dalam kemarahannya. "PERGI DARI SINI SEKARANG!!! IBU NGGAK MAU LIHAT KAMU LAGI!!!"


Dengan sekuat mungkin Riani berusaha menahan air matanya agar tidak keluar, namun pertahanannya belum cukup kuat. Tangannya mengusap air mata yang mulai menetes dari ujung mata.


Saat berbalik badan, Riani melihat sebuah smartphone yang tergeletak di atas nakas. Ia menoleh ke arah ibunya dan ia masih membelakangi Riani, kesempatan ini membuat Riani memutuskan untuk mengambil smartphone itu.


Sembari menangis tersedu-sedu, Riani menyantap makanannya yang sudah tidak lagi hangat. Perutnya terasa keroncongan, apalagi ia tengah mengandung dan telah melakukan pekerjaan yang cukup melelahkan.


"Apa paswordnya ya?" lirih Riani, suaranya masih bergetar.


Smartphone dengan wallpaper bergambar foto ibunya yang sedang berada di pantai itu menggunakan finger lock dan face lock serta password yang tidak Riani ketahui. Beberapa kali Riani mengetikkan angka-angka yang kemungkinan menjadi password smartphone tersebut, namun hasilnya salah.


Terdengar suara notifikasi dari arah smartphone milik Riani sendiri, saat dilihat rupanya daya baterainya sudah penuh.


Smartphone itu dinyalakan, Riani sudah sangat penasaran dengan siapa yang mengirimkan pesan singkat kepadanya saat tiga jam yang lalu.


Sebuah notifikasi memunculkan pesan singkat dari Nindira dan juga Dwi. Riani membuka pesan terbaru yang tidak lain berasal dari Dwi.


Pesan singkat di dalamnya berisi kalimat yang cukup panjang, tidak hanya itu juga ada beberapa foto dan video juga yang dikirimkan oleh Dwi dan beberapa pesan singkat lain di bawahnya.


"Apa ini?" lirih Riani.


Dwi: Nona Riani, sekarang aku udah nggak kerja di rumah lagi. Ibu sekarang di rumah sendirian, kabarnya dia sakit.


Dwi: [mengirim foto]


Dwi: [mengirim video]


Dwi: Nyonya Rita pecat aku sekitar dua minggu yang lalu, aku langsung pulang ke kampung.

__ADS_1


Dwi: Aku sakit hati sama Nyonya Rita, aku udah kerja lama tapi abis itu gini doang kaya dibuang gitu aja. Aku nggak terima.


Belum sempat Riani membaca semua pesan yang dikirimkan oleh Dwi, sebuah panggilan suara masuk ke dalam smartphone Riani.


"Halo," ujar Riani lirih, suaranya serak dan berat karena habis menangis.


"Riani, bilangin ke ibumu kalau aku sakit hati sama dia! Mampus kalau ternyata dia sakit sekarang. Dia itu jahat, semua yang dia katakan itu bohong. Dia bilang nggak punya banyak uang, padahal aslinya dia punya banyak uang yang ngalir udah kaya sungai. Aku pengin kerja lagi di situ, sekarang aku kaya gini nggak punya kerja nggak dapat uang. Lagian dulu ibumu juga udah janji akan memperkerjakan aku selamanya. Tapi apa sekarang buktinya?! Ibu sama ayahmu itu pake pesugihan Nyi Kembar!"


"Dari mana Mba Dwi tahu?"


Dwi terdengar terkekeh di sana. "Orang mereka yang mohon-mohon ke aku buat di antar ke dukunnya, aku yang bantuin mereka. Dengan gantian, mereka bakal memperkerjakan aku selamanya. Tapi sekarang mana? Dia malah pecat aku. Mampus, mampus dah tuh sakit, biar sekalian jadi tumbal buat Nyi Kembar."


"Mba Dwi kok jahat banget ngomongnya. Lagian kan Mba Dwi udah kerja di sini cukup lama."


"Tapi ibumu itu janjiin buat memperkerjakan aku selamanya, Riani!"


Riani sebenarnya merasa tidak dihormati saat ini. Dwi terus menyebut namanya, ia juga tidak menyebut ibu dengan Nyonya Rita seperti biasanya, Dwi memilih untuk menggunakan kata ibumu dan itu memiliki kesan yang sangat merendahkan Rita dan juga Riani.


"Halah, omong kosong! Mana ada orang pake pesugihan nggak punya uang?!"


Keduanya sama-sama terdiam, Dwi menunggu tanggapan Riani sementara Riani tak tahu harus berbicara apa lagi.


"Aku kasih waktu satu minggu, kalau dalam waktu itu dia masih belum ngundang aku buat kerja lagi aku bakal bikin dia mati sekalian!"


"Mba Dwi jangan gitu," suara Riani bergetar, ia tak terima ibunya diperlakukan demikian. "Mba Dwi? Mba ... Mba Dwi?!"


Smartphone yang sedari tadi didekatkan ke salah satu telinga kini dijauhkan. Riani melihat ke arah smartphone-nya dan sudah tidak ada lagi panggilan suara yang terhubung dengannya.


Riani kembali masuk ke dalam aplikasi perpesanan, tapi akun perpesanannya juga sepertinya sudah diblok oleh Dwi.

__ADS_1


Hembusan nafas berat terdengar jelas, Riani terkapar di atas ranjang merasakan semua kekacauan yang terjadi terhadap dirinya.


Sudah tidak ada lagi harapan untuk tetap bertahan. Riani beranjak setelah beberapa saat terbaring, ia melangkah menuju dapur dan mengambil pisau.


Tangan, leher atau perut? Mana yang tidak begitu sakit? Riani terhenyi memandangi pisau yang tajam di tangannya. Akankah kehidupannya akan berakhir pada sebilah pisau itu?


Bukankah tidak ada lagi gunanya Riani hidup di dunia ini? Akankah lebih baik jika ia memilih untuk menyusul kepergian ayah?


Riani mencoba mengingat kembali memori baik yang tersimpan di dalam pikirannya, kenangan tentang kebahagiaan bersama keluarga, tapi ... ia melupakan suatu hal. Kenangan baik itu sama sekali tidak ada, ia tidak pernah bercanda dan tertawa bahagia bersama kedua orangtuanya. Bahkan saat sedang menyantap makanan bersama pun hanya ada sedikit basa-basi yang dilakukan, itu pun sangat formal, selebihnya akan sibuk dengan gawai masing-masing.


Semakin diingat semakin menyedihkan, Riani tak bisa menahan ini lebih lama. Gejolak dalam dirinya semakin membuatnya ingin segera menggoreskan pisau itu atau menancapkannya ke tubuh.


Riani benar-benar kehilangan akal, tatapan matanya kosong melihat ke arah pisau itu. Dipandanginya benda tersebut lekat-lekat.


"Apakah dengan tali akan lebih baik?" lirih Riani. "Apa saat itu Gendhis juga tidak merasakan sakit?"


Tiba-tiba saja tubuh Riani didorong oleh seseorang, pisau itu terlepas dari genggaman tangan Riani dan terlempar cukup jauh.


"Riani! Kamu mau ngapain, hah?!"


Pandangan mata Riani menatap ke arah seseorang tersebut, ia tak mengatakan apapun. Sorot matanya menggambarkan keputus-asaan yang sudah menguasai dirinya.


Riani bahkan berjalan maju ke depan untuk mengambil pisau itu, ia ingin benar-benar menyudahi semuanya.


"Riani, jangan gila!!!"


Tubuh Riani ditahan dengan sedemikian rupa. Meskipun begitu Riani tetap melawan, pandangannya terus melihat ke arah pisau itu berada.


"Riani, kamu ... kamu jangan seperti ini, Ri, please." Ia terus berusaha membujuk. "Jangan kaya gini dong, Ri. Kalau ada apa-apa tuh cerita." Suaranya terdengar bergetar. "Aku nggak mau kamu ngelakuin hal bodoh itu, Ri. Nggak mau, nggak akan rela."

__ADS_1


Segala kalimat itu tak membuat Riani tenang sedikitpun, justru nafasnya semakin memburu. Riani ingin sesegera mungkin mengakhiri semua ini.


"RIANI, PLEASE. ADA APA DENGANMU? KAMU KENAPA? CERITA SAMA AKU, RI. AKU BISA DENGERIN SEMUA KELUH KESAH KAMU, AKU BISA BIKIN KAMU TENANG, AKU BISA BANTU KAMU KELUAR DARI SEMUA MASALAH KAMU. PLEASE, CERITA SAMA AKU, RI. PLEASE, JANGAN NGELAKUIN HAL BODOH INI. APA YANG MAU KAMU LAKUIN NGGAK BAKAL BIKIN SEMUANYA SELESAI JUGA." Ia mulai berbicara dengan nada suara yang tinggi karena sedari tadi Riani sama sekali tidak mendengarkannya. "LIHAT AKU, RI." Tangannya menggerakkan dagu Riani agar wajah Riani melihat ke arahnya. "AKU SIAP BUAT DENGERIN SEMUA KELUH KESAH KAMU, AKU BAKAL KASIH KAMU SOLUSI KALAU KAMU MAU, AKU TEMENIN KAMU KELUAR DARI MASALAH KAMU. JANGAN NGELAKUIN ITU, RI, ITU NGGAK AKAN MENYELESAIKAN MASALAH JUGA. PLEASE, DENGERIN AKU, RI."


__ADS_2