
Sampai di mall, Riani segera menuju ke lantai tempat ia bekerja. Di sana barang-barang sudah berserakan, banyak orang yang berteriak dan berlarian.
Dari tempat Riani berdiri, ia melihat Fella yang sedang mengangkat satu ikat pakaian dan dilemparkan ke cermin yang ada di dalam kamar pas. Cermin itu jatuh dan pecah.
"FELLA, BERHENTI!!!" Riani berteriak sembari berlari ke arahnya.
Namun yang terjadi adalah Fella berlari, kemudian menembus ke tubuh Nindira. Seketika Nindira yang sedari tadi berteriak kini berubah menjadi diam.
Riani mendektinya. "Ra, Nindira?"
Nindira tersenyum, pandangan matanya menatap Riani dengan tatapan tajam nan menyeramkan.
"Fella? Ini Fella, kan?" tanya Riani kemudian.
Nindira tak menjawab apa-apa, pandangan matanya masih tetap menatap tajam ke arah Riani dengan senyum yang sangat menyeramkan.
Suara orang-orang tertawa dan menangis menggema dalam indra pendengaran Riani membuat ia menoleh ke sekitar. Terlihat beberapa perempuan yang juga kerasukan, beberapa menangis histeris, beberapa yang lain tertawa cekikikan seperti suara hantu perempuan yang biasa dilihat pada kebanyakan film.
"Fella, kumohon hentikan ini."
"Aku senang kamu datang kembali ke sini, Riani, aku ingin kamu tetap bekerja di sini."
Riani menggelengkan kepala. "Tapi aku sudah dipecat, Ri, tidak mungkin aku bekerja di sini lagi."
"Aku membuat kekacauan ini agar kamu kembali kepadaku, Riani. Kembali ke sini."
"Maaf," ujar Riani lembut. "Aku tidak bisa kembali ke sini jika bukan perintah dari atasan. Aku sudah dipecat, Fel, kamu pasti tahu itu."
Tiba-tiba pundak Riani ditepuk oleh seseorang. Saat menoleh, Riani mendapati atasannya yang sudah berdiri di belakangnya.
"Demi kenyamanan bersama, lebih baik kamu bekerja lagi di sini, Ri. Maafkan aku yang sudah memecatmu."
Riani terdiam, jika ia kembali bekerja lagi di sini mungkin sekarang semua orang yang akan membencinya. Semua orang sudah tahu jika kekacauan ini disebabkan oleh Fella dan satu-satunya orang yang bisa melihat Fella adalah dirinya.
Belum sempat Riani menjawab pertanyaan dari atasannya, Riani mendengar bunyi notifikasi yang masuk ke dalam smartphone-nya.
Smartphone yang ada di dalam tas selempang dikeluarkan, pada bilah notifikasi terdapat sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh nomor asing.
__ADS_1
Riani membukanya, rupanya isi pesan singkat tersebut adalah pemberitahuan interview yang akan dilakukan besok siang.
Kedatangan pesan singkat tersebut membuat Riani semakin yakin untuk menolak tawaran dari atasannya. Ia menggelengkan kepala, lantas beralih kembali kepada Nindira yang sedang dirasuki oleh Fella.
"Maaf, Fella, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu yang ini."
Senyum Nindira seketika berubah menjadi raut wajah yang menyedihkan. Kepala Nindira menunduk hingga rambut panjangnya menutupi seluruh wajah.
"Aku sudah membantumu tapi kamu tidak mau menemaniku."
Tubuh Nindira seketika ambruk ke arah Riani, dengan cekatan Riani berusaha untuk menangkap tubuh itu meskipun ia tak begitu kuat.
Atasan yang berada di dekat Riani turut membantu. Tubuh Nindira kini dipapah oleh kedua perempuan itu untuk sejenak diistirahatkan.
"Apa yang terjadi, Ri?"
"Ibu ... kenapa Ibu ada di sini?"
***
Suara sendok terdengar meriah saat bertemu dengan piring. Rita tidak lagi mengundanh Bayu untuk menyantap makan malam bersama sehingga Riani bisa menyantap makan malam hari ini.
"Jadi bener kamu udah nggak kerja di sana lagi, Ri?"
Riani mengangguk, kepalanya menunduk tak berani melihat ke arah ibunya yang duduk tepat di depannya.
"Karena ada orang yang bully kamu?"
Riani kembali mengangguk.
Suara Rita yang menghembuskan nafas dengan kasar terdengar jelas. Sendok di genggamannya juga turut dilepaskan, diletakkan begitu saja di atas piring.
"Kenapa kamu nggak ngomong ke Ibu sih, Ni?" Rita menatap ke arah anak perempuannya masih masih terus menunduk. "Kalau kamu ngomong kan Ibu bisa bantu kamu." Rita menghentikan kalimatnya sejenak. "Emangnya siapa yang udah bully kamu, Ni?"
"Udahlah, Bu, nggak usah dibahas. Masalahnya kan juga udah selesai, aku juga udah nggak kerja di sana lagi. Besok aku mau wawancara di restoran."
"Tapi tetep aja nggak bisa dibiarin, Ni. Orang kaya mereka harus dikasih pelajaran."
__ADS_1
"Udah kok," ujar Riani. "Fella udah ngasih pelajaran ke mereka." Riani beranjak dari duduknya. "Aku uda selesai."
Langkah kaki Riani berjalan menuju ke dalam kamar. Ia mendudukkan tubuh di atas tempat tidur, memandang ke sekitar, Riani melihat kamarnya yang begitu kotor.
Beberapa hari ini ia juga tidak mendapati Dwi yang menyapu kamar atau ruangan yang lain. Merasa risih karena tepat ternyamannya menjadi kotor seperti ini, Riani beranjak dan kembali keluar dari dalam kamar.
"Mba Dwi," panggil Riani dengan suara yang keras sembari berjalan menuruni tangga.
Dari arah dapur terdengar suara Dwi yang menyahut.
"Mba Dwi udah lama nggak sapu kamar aku ya? Udah kotor banget tahu!"
"Oh iya, saya nggak sempat, Non. Nanti habis nyuci piring deh saya sapu kamarnya Non."
Riani melihat beberapa tumpuk piring kotor yang belum dicuci sama sekali, akan sangat lama jika harus menunggu dia menyelesaikan pekerjaannya. Sementara Riani ingin segera berada di dalam kamar dan beristirahat.
"Aih, kelamaan." Riani berbalik badan menuju ke ruang penyimpanan alat-alat kebersihan.
Sebuah lebih sapu dan pengki dibawa ke atas, ke kamar Riani. Ia ingin agar kamarnya segera bersih.
Hingga ke bagian bawah meja dan kasur tak luput dari sapu itu. Saat menyapu di bagian bawah tempat tidur, Riani mendapati banyak tanah.
"Loh, kok banyak banget tanah kaya gini?" Riani mengernyitkan dahi, ia melongok ke bagiah bawah tempat tidur, namun sudah bersih. "Jangan-jangan ada semut bikin sarang di sana."
Sebelumnya memang pernah ada sekelompok semut yang membuat sarang di bawah lemari, namun saat disapu banyak juga semut yang terbawa keluar.
Sekarang aneh, hanya ada tanah saja tanpa ada hewan apapun yang mungkin membuat sarang dengan menggali tanah.
Meskipun begitu Riani tetap menghiraukannya.
Usai lantai kamarnya bersih, Riani merebahkan diri di atas tempat tidur. Pandangan matanya menatap ke arah langit-langit ruangan selama beberapa saat.
Dalam pikirannya membayangkan masa-masa indah bersama Bayu, saat berada di danau, di rumah sakit ....
"Aduh, kenapa sih malah mikirin Bayu," kesal Riani sembari merubah posisi tidurnya.
Kedua matanya memilih untuk terpejam, namun semakin terpejam Riani semakin terpikirkan akan Bayu.
__ADS_1
Laki-laki itu sangat mengganggu Riani malam ini. Smartphone yang berada di atas nakas diambil, Riani menyalakannya, beberapa detik kemudian mematikan layarnya kembali karena tidak ada sebuah notifikasipun di sana.
Riani menghela nafas. "Sebelum ada Bayu juga aku biasa aja, nggak pernah merasa kesepian. Tapi kenapa sekarang kaya gini? Padahal kan yang mutusin hubungannya juga aku. Please, please, Riani ... jangan galau, jangan galau!"