
"Ibu kamu di kamar, Ri." Pak Abdul menjawab.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Riani segera berlari ke atas menuju kamar utama. Pintu kamarnya ia buka secara tergesa-gesa.
Tentu saja semua orang tidak membiarkan Riani sendirian, mereka menyusulnya.
"I ... BU ...." Riani berhambur memeluk tubuh ibunya. "Bu, Ibu bangun, Bu. Ibu cuma tidur, kan?" Riani menggoyang-goyangkan tubuh perempuan itu, tapi tidak ada respon yang didapatkan.
Semuanya melihat hal ini, namun hanya Pak Abdul yang berani mendekat. "Biar Bapak lihat, Nak," ujarnya lembut pada Riani. "Innalilahi wa innailaihi raaji'un," sambungnya setelah memeriksa nafas Rita.
Seketika itu juga lutut Riani terasa lemas dan tak bisa lagi menopang beban tubuhnya. Riani ambruk ke atas lantai dengan air mata yang berderai membasahi kedua pipi.
Proses pemakaman berjalan dengan lancar, dikarenakan terlalu lemah, Riani dibiarkan menunggu di rumah dengan ditemani oleh Nindira, Sella dan beberap warga serta keluarga.
***
Satu minggu sejak hari paling menyedihkan itu berlalu, Riani memandangi pantulan dirinya di cermin. Matanya sembab dan wajahnya nampak layu.
Sebuah kain berbentuk persegi ia lipat menjadi bentuk segitiga, kain dengan motif bunga yang indah di letakkan di atas kepala dan dikencangkan dengan sebuah jarum. Cantik, Riani melihat ke arah pantulan dirinya sendiri.
Suara pintu kamar yang diketuk membuatnya menoleh.
"Ri ... kamu udah bangun? Aku bawain kamu sarapan nih."
Riani tersenyum mendengar suara Sella yang memanggilnya. Langkah kakinya berjalan menuju pintu untuk membukanya.
"Masyaallah, Riani ... ka--kamu--"
Sella tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Ada perasaan bersyukur, terharu sekaligus iri karena ia belum bisa merubah penampilannya seperti Riani.
Pukul sembilan pagi, Difki, Pak Abdul, Sella, Nindira, Bhanu sudah berkumpul dalam rumah Riani. Selama seminggu ini, mereka semua akan datang untuk membantu pengobatan Riani.
Bhanu mulai membacakan ayat-ayat Al-Qur'an seperti hari-hari sebelumnya dan semua orang diam mendengarkan. Tidak ada reaksi apapun lagi yang dialami Riani.
"Kamu ... pernah punya teman dari dunia lain?"
Riani diam sejenak, ia lantas mengangguk. "Waktu aku kerja di mall, namanya Fella."
__ADS_1
"Apa kamu mau menghilangkan semua gangguannya?"
Riani mengangguk. "Aku mau kembali seperti semula, aku yang seperti manusia normal pada umumnya."
"Kamu mau bertemu dengannya?"
Riani tak menjawab, sementara Bhanu kembali membacakan ayat-ayat.
Semakin lama Riani merasa mengantuk, bahkan tanpa disadari Riani sudah tergeletak di atas lantai dengan kedua mata terpejam dan terdengar suara dengkuran dari arahnya.
Sementara itu yang Riani rasakan adalah ia berada dalam sebuah tempat yang semuanya berwarna putih. Tiba-tiba saja Fella mendekat entah datang dari mana, ia tersenyum sembari menyodorkan tangannya.
Ada banyak benda-benda aneh dalam genggaman tangan Fella yang tentu saja membuat Riani mengernyitkan dahinya. "Apa ini?" tanya Riani, air mukanya terlihat sangat penasaran.
"Bayu mencoba untuk mengubur ini di sekitar rumah dan makam mendiang ayah. Aku berhasil mengambilnya lagi."
"Ja--jadi--"
"Ya," potong Fella. "Bayu sudah melakukan semua itu."
"Terima kasih, Fella." Riani memeluknya.
"Maafkan aku, Riani."
"Maaf untuk apa?" Riani mengernyitkan dahi.
"Aku tidak bisa mempertahankan ibumu, dia memang sudah seharusnya menjadi tumbal Nyi Kembar. Tapi kamu sudah bebas sekarang." Fella memberikan senyuman. "Aku juga mengembalikan semua yang Bayu lakukan kepadamu, sekarang dia sedang sekarat, begitu juga dengan Tri."
"Tri?"
Fella mengangguk. "Mereka berdua bersekongkol untuk menghancurkan kamu, Riani. Tapi tenanglah, semua ancaman mereka sudak ada gunanya lagi, begitu juga dengan ancaman Dwi."
"Fella, ka--kamu ta--tahu--"
"Ya." Lagi-lagi ucapan Riani dipotong begitu saja. "Selamat tinggal, Riani. Aku mungkin sudah tak bisa berinteraksi denganmu lagi, dan kamu juga tidak bisa melihatku lagi setelah ini. Tapi terima kasih karena kamu sudah mau menjadi temanku."
"Fella," panggil Riani, ia merasa ragu untuk menutup kemampuannya karena dengan begitu ia tak akan pernah bertemu dengan Fella lagi. Fella sudah sangat baik kepadanya.
__ADS_1
"Itu yang terbaik untukmu, Riani." Fella memberikan senyum yang tulus. "Kamu tidak perlu khawatir, aku masih berada di sekelilingmu dan berusaha menjagamu sekuat yang aku mampu."
Belum sempat Riani berbicara, Fella sudah melambaikan tangan dan perlahan mulai menghilang.
"Fella!"
Riani terbangun dan mendapati dirinya masih berada di antara Pak Abdul, Sella, Nindira dan juga Bhanu yang sepertinya baru saja hendak menyimpan kitab sucinya.
***
Layar smartphone-nya memperlihatkan sebuah tiket penerbangan dengan jadwal penerbangan jam tiga sore. Riani meletakkan smartphone di atas nakas, lantas mengambil sebuah buku bersampul merah dan sebuah pulen.
Perlahan, Riani menggoreskan tinta pulpen itu di permukaan buku. Ia menuliskan sebuah kalimat terima kasih yang kira-kira isinya seperti ini:
Ayah, Ibu, terlalu banyak kenangan di rumah ini bersama kalian membuat aku merasa cukup berat untuk pergi dari sini. Meskipun begitu, aku harus tetap pergi karena ini adalah pilihanku sendiri.
Aku tidak sedang berusaha melupakan kalian, Yah, Bu, hanya saja aku ingin mencoba untuk ikhlas.
Maafkan aku ya, Yah, Bu, aku nggak bisa bantu kalian biar tetep sama-sama hidup di dunia. Setelah kepergian kalian, aku jadi makin rajin beribadah, aku juga berdoa untuk kebahagiaan Ayah dan Ibu di surga.
Sampai ketemu nanti ya, Yah, Bu, di sana. Doain aku agar selalu sukses dan bahagia dari sana. Riani sayang Ayah dan Ibu.
Oh, teruntuk Fella, terima kasih banyak sudah menjadi teman yang baik untukku. Ternyata saat kamu jarang muncul di hadapanku hingga aku hampir melupakanmu, kamu sedang berjuang untuk menjagaku.
Terima kasih banyak, Fella, tanpamu mungkin semua hal buruk akan terjadi. Aku benar-benar merasa berhutang budi padamu.
Tak lupa juga kepada Sella, Pak Abdul, Nindira dan Kak Bhanu yang udah bantuin aku. Doakan aku agar terus kuat, ya, sayang kalian banyak-banyak.
Maaf aku menghilang lagi dari kalian, aku nggak siap kalau harus pamit dan bersedih-sedih karena berpisah dengan kalian. Kalau salah satu dari kalian nemuin ini, mungkin aku udah lagi di pesawat atau tiba di tempat tujuan, hehe.
Kupastikan kita akan bertemu lagi suatu saat nanti.
Riani.
Usai menuliskan hal tersebut, Riani meninggalkan buku bersampul merah dengan pulpen di atasnya begitu saja. Tangannya menyeret koper dan berjalan keluar dari kamar.
Di depan rumah, sebuah taksi yang dia pesan secara online sudah menunggunya. Riani tak mengunci pintu rumah ataupun pintu gerbang, ia langsung masuk ke dalam taksi yang akan mengantarkannya menuju ke bandara.
__ADS_1
Langkah kedua kaki Riani memasuki pesawat yang akan menerbangkan dia ke tempat tujuan. Dari kursi tempat duduknya, Riani melihat ke bagian luar.
"Selamat tinggal kota kelahiran, selamat tinggal Pak Abdul, Sella, Ira, Difki dan ... Kak Bhanu." Riani tersenyum menyebut nama itu. Nama laki-laki misterius tetapi baik yang sudah mau membantunya. "Aku pergi dulu."